"Hey!" Agung menolehkan kepalanya pada Akbar yang saat ini sedang menatapnya juga. Keduanya sama-sama tidak tahu bagaimana harus membuat lelaki yang kini sedang melamun itu agar segera tersadar. Karena sejak tadi mereka sudah berusaha membuat lelaki di bangku depannya untuk berhenti melamun. Sebab ini adalah pertama kalinya Akbar dan juga Agung melihat lelaki itu melamun dan seperti tidak memiliki kegairah untuk hidup. “Beban apaan sih yang dibawa temen lo, Bar?” Bisik Agung yang kemudian dijawab dengan tawa kecil dari Marcel dan juga Akbar. “Kagak tahu gua. Kagetin lagi aja coba. Ya kali kupingnya mendadak tuli?” Agung mengangguk. Lelaki itu bersiap untuk memanggil lelaki itu lagi. Namun terhalang oleh Marcel yang memilih memanggil Rian. "Woy! Rian!" Agung menggelengkan kepalanya

