Satu jam berlalu, tapi belum ada yang kalah dari mereka. Tersisa Angel, Agung, Rian, Gean dan Marcel. Kelima orang itu sibuk melihat kartu masing-masing. Belum ada yang menunjukkan kemenangannya. Apalagi melihat kartu di tangan mereka yang cukup banyak. Terutama Angel dan Rian. Keduanya bahkan kesusahan mencari kartu yang akan ditaruh di meja. Beberapa kali kartu yang keluar tidak ada kartu yang sama dengan apa yang mereka miliki.
"Ini sampe kapan beresnya?" Gerutu Viona yang sudah bosan melihat kelima orang itu belum juga selesai-selesai. Gadis itu sudah bosan sendiri melihat kelima temannya yang masih asyik menaruh kartu dna mnegambil yang baru. Begitu terus tidak ada kemajuan sama sekali.
"Taun depan keknya," jawab Simon sekenanya. Lelaki itu sama bosannya dengan Viona.
"Sabar aja sih," ujar Agung yang mulai kesal. Sebab sejak tadi kartunya berisi angka saja. Dan sialnya, setiap ada angka atau warna yang sama, pasti selalu di skip oleh sang maha raja Gean.
"Udahlah. Kalian semua makan aja bareng-bareng. Nunggu satu doang yang kalah Simon keburu jenggotan, entar," ujar Viona jengah.
"Wey! Bisa-bisanya lo bilang gitu!" Ujar Simon sewot. Viona tertawa kecil sebelum akhirnya mengangkat piring besar berisikan mie pedas yang kini menggunung tinggi.
Gean dan Rian sama-sama menelan ludah kasar. Keduanya tidak bisa makan pedas. Terutama yang berbahan mie. Kalaupun mau, paling satu sendok saus. Itupun sudah kepedasan dengan bercucuran keringat. Macam sudah berlari marathon keliling rumah enam kali. Dan ini? Jika saja bisa menyerah duluan, maka Gean dan Rian jelas akan melakukan hal itu lebih dulu.
"Angel gak bisa makan pedas," ujar Angel seraya bergidik. Tak lupa gadis itu menatap ngeri pada setumpukan mie yang kini berada di tengah meja.
"Agung juga.. gimana dong?" Ujar Agung alay. Lelaki itu menggoyangkan lengannya geli. Mempraktikan apa yang Angel lakukan sebelumnya. Memang pada dasarnya Agung terlalu julid jadi manusia, Angel saja sampai mendelik melihat itu. Dan Agung dengan tanpa rasa bersalahnya menyengir ke arah Angel begitu melihat gadis itu tampak tak suka dengan apa yang baru saja Agung peragakan.
"Najisun! Lo kalau ngebakso aja sambel si abang diabisin. Kaya gini doang ya kali gak bisa," celetuk Akbar. Lelaki itu menatap remeh pada Agung yang kini menyengir.
"Ya, ini kan mie.." lirih Rian dan Gean bersamaan. Tangan keduanya sudah gemetar begitu Viona memberikan garpu pada kelima orang di depannya. Dingin di sekujur tubuhnya Rian rasakan. Sama halnya dengan sang kakak kembar, Gean juga tidak bisa menutupi kengeriannya pada makanan di depan sana.
"Oh ya, Marcel bisa makan pedes?" Tanya Viona. Gadis itu memberikan garpu bersih pada Marcel yang baru melepaskan kacamata dan menaruhnya di atas meja.
"Marcel ditanyain, temennya sendiri kagak." Carrel menyenggol lengan Gean yang ternyata sudah berkeringat. Padahal belum apa-apa. Terlihat sekali lelaki itu sudah takut tidka karuan. "Jir, tangan Gean udah keringetan aja, sumpah!"
"Udahlah, makannya pada sesuap aja. Sisanya gua yang abisin," ujar Agung sombong. Rian dan Gean langsung mengangguk semangat. Kedua lelaki itu mulai menggulung mie dan menyuapkannya. Baru mengunyah sekali, keduanya sudah berdiri dan memasuki kamar mandi bersama-sama seraya memuntahkan apa yang sempat dimakan. Semua orang langsung tertawa mendengarnya. Terutama Viona. Merasa rencananya berhasil.
"Angel juga satu sendok?" Tanya Angel begitu memasukkan garpunya ke dalam tumpukan mie. Viona mengangguk kecil. Takut jika nanti terlalu banyak menggulung mie, Angel mengangkat garpunya tinggi-tinggi agar mie jatuh dan hanya sedikit. Ketika sudah hanya beberapa helai, Angel mulai menggulungnya dan memakannya. Semua orang di sana melihat dengan seksama. Berusaha tidak mengalihkan pandangannya karena Angel yang tengah mengunyah adalah hal yang tengah di tunggu-tunggu. Apalagi ketika wajah Angel berubah merah karena pedas.
"Gak usah ditelan. Buang aja," ujar Rian begitu sampai. Di tangannya ada dua gelas s**u putih. Yang satu masih penuh, yang satu sisa setengah. Ditaruh di meja di hadapan Angel yang masih sibuk mengunyah. Gean yang melihat itu semua bergidik ngeri. Ia memang tidak tahu Angel suka pedas atau tidak, karena kebanyakan Angel selalu membawa bekal. Dan isi bekalnya makanan seperti soup dan nasi dengan beberapa lauk khusus. Tidak pernah sekalipun Gean melihat Angel memakan makanan di kantin. Kecuali jika di luar kampus. Seperti di cafe dan tempat makan fast food biasa.
Yang lain menatap Angel berbinar. Tidak percaya Angel bisa memakan satu sendok dengan mudahnya. Apalagi ketika Angel akan menyuapkan kembali mie yang entah sejak kapan sudah gadis itu gulung pada garpunya. Baru akan memasukkannya, sebuah tangan sudah mencegahnya. Garpu itu ditarik kasar dan dijatuhkan ke meja sebelum akhirnya tangannya yang lain memberikan segelas s**u.
"Cukup. Minum ini," titahnya dengan tegas. Semua orang di sana termasuk Gean mengedip tidak percaya. Tidak menyangka jika lelaki itu akan bertindak tegas di hadapan yang lain.
"Angel masih kuat, kok," tolak Angel seraya menatap lelaki di depannya dengan kesal.
"Minum ini Angel," paksa lelaki itu dengan nada yang sama. Angel memberenggut. "Gean, Angel masih kuat kok. Bener. Serius!"
"Ge-Gean?" Beo semua orang yang ada di sana dengan terbata. Sedangkan lelaki yang sejak tadi memaksa Angel minum s**u hanya bisa tersenyum miris. Merasa tidak dikenali sama sekali oleh gadis yang… ah, rasanya tidak perlu ia jabarkan bagaimana posisi gadis itu untuknya, kan?
"Gua Rian. Bukan Gean," ujarnya dengan senyum yang masih terpatri. Tangannya masih memegang dua gelas s**u putih. Terlihat biasa saja, padahal di dalam sana, rasanya sudah seperti dibakar habis.
Sial! Entah kenapa Gean merasakan hatinya panas. Marah dan kesal bersamaan menghantam hatinya. Kenapa Rian masih bisa terlihat baik-baik saja? Kalau ia yang ada di posisi Rian, sudah dipastikan s**u di gelas itu Gean tumpahkan ke bawah. Atau mungkin ia akan langsung menyembur dan menyiramnya ke arah wajah itu. Tapi jelas hal itu tidak akan Rian lakukan. Lelaki dengan gelar ramah dan sangat baik hati memangnya bisa melakukan itu semua?
"Eh? Bukan Gean?" Tanya Angel dengan nada terkejut. Gadis itu menatap tak percaya pada lelaki yang kini berdiri di depannya. Padahal sudah jelas dari pakaian saja Gean dan Rian berbeda. Tapi karena wajah yang sama dan suara yang 100% mirip, membuat Angel tidak bisa membedakannya dengan sekilas.
Rian mengangguk sekali. "Gean di sana. Udah, ayo minum dulu. Lo punya asam lambung kronis, kan? Jangan sampe itu kambuh sekarang. Abisin."
"Kok.. Rian bisa tahu?"
"Dia sering belajar sama Kakeknya. Iya kan, Gean?" Ujar Viona tiba-tiba. "Kakek Gean dokter. Beberapa kali juga Rian belajar hal-hal dasar."
"Lo tau dari mana?"
"Lo lupa kalau Kakak gua pernah visit di rumah sakit Kakek lo?" Gean mengangguk kecil seraya mengingat. "Oh ya."
"Eh, pada kenapa? Kok pada diem?"
Serentak semua anak muda di sana menolehkan kepala pada Riana yang datang dengan dua kotak besar s**u. Karena tadi Rian sempat meminta s**u putih di keluarkan, Riana berfikir semua teman anaknya membutuhkannya. Tapi ketika ia datang, semuanya malah terdiam seraya menatap Rian dan Angel yang masih berhadapan.
"Tante.." Agung sigap berdiri dengan mulut penuh mie. Tangannya terulur ke arah Riana dan mencium punggung tangan wanita muda itu. "Maaf Tante, baru sempet *'anun'."
"Eh iya, gak papa. Ini susunya. Oh iya, Gean Papa tadi telepon. Bisa telepon balik dulu?" Ujar Riana seraya menatap telepon rumah yang ada di pojok ruangan.
"Bisa, Ma," Gean langsung bangkit dan pergi.
"Yang lain udah laper, kan? Yuk, makan siang dulu. Tante kebetulan masak banyak." Riana tersenyum kecil melihat teman-teman anaknya yang tampak antusias.
"Asyik!!" Marcel, Carrel, Akbar dan Sebastian kompak berseru dan langsung bangkit. Keempatnya berlari menuju ruang makan seperti anak kecil. Disusul oleh Fera yang baru melepas earphonenya. Sedangkan Viona, Angel dan Rian masih di tempat yang sama.
"Emm.. Rian, sorry. Angel gak tau kalau ternyata tadi Rian bukan Gean."
"It's okay. Jangan lupa di minum susunya dulu. Gua duluan ke belakang, ya. Yuk, Vio."
"Eh iya." Viona ikut berdiri. Tapi sebelum berjalan, gadis itu menatap dalam pada Angel. Matanya masih menunggu Angel yang juga akan menatapnya. Dan ketika Angel balik melihat retina matanya, tatapan Viona berubah tajam. Sangat tajam sampai Angel merasakan tengkuk belakangnya tertiup angin.
"Manja," lirih Viona dan berjalan menyusul Rian. Angel masih bisa melihat dengan jelas bagaimana mulut Viona bergerak. Walau tidak bisa mendengar, Angel tahu Viona mengejeknya. Dan itu cukup membuat Angel terdiam sedih.
"Kenapa di sini?"
"Eh, Gean."
"Makan," titah Gean dengan kepalanya yang bergerak ke arah ruang makan. Angel tersenyum tipis sebelum mengangguk dan membawa segelas s**u yang masih utuh bersamanya ke ruang makan.
***
"Gak ada lagi emang. Masakan Tante Riana paling enak!" Puji Agung seraya mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi.
"Alhamdulillah kalau kamu suka."
"Iya, enak banget. Kayanya nanti pas di ulang tahun Angel, Tante yang harus masak," ujarr Angel seraya menyuapkan satu bakso ikan kecil ke dalam mulutnya.
"Bisa aja, Angel." Riana terkekeh pelan. Ibu dua anak itu sibuk membereskan kekacauan yang ada di dapur akibat ulahnya sendiri.
"Tante, jadi guru les privat Viona aja ya? Biar Vio bisa masak," ujar Viona serius.
"Aduh, gak bisa. Tante juga masih belajar. Belum semahir chef," jawab Riana dengan nada bercanda.
"Lo butuh guru les masak?" Tanya Rian. Viona langsung tersedak dan menyambar minum di depannya.
"Eh, kenapa? Kepedesan, ya?" Pekik Riana yang mendengar suara batuk Viona.
"Bukan kok, Tante. Keselek tadi."
"Tepuk punggungnya, Bang. Hati-hati, ya." Viona tersenyum canggung. Perempuan itu mengambil tisu di depan dan mulai mengusap bibirnya. Ia yang sempat fokus pada dirinya sendiri tidak sadar jika yang lain sudah melihatnya penuh arti. Terutama Simon dan Carrel. Kedua teman sekampusnya itu tersenyum miring dengan wajah yang cukup.. seram?
"Ekhemm! Batuknya elegan sekali.." goda Simon dengan suara yang keras.
"Jadi pengen kaya gitu. Nanti kalau lo ngomong kode ya, Mon. Gua mau keselek juga," tambah Carrel dengan tangan yang bersedia mengambil gelas.
"Berisik! Abisin makan aja harus banget pake ngoceh," sarkas Fera yang baru saja selesai menghabiskan satu mangkuk besar tomyam. Rian dan Marcel tertawa pelan melihat bagaimana risihnya Fera pada dua teman Gean. Bukan tidak suka, hanya saja Fera tidak suka jika ada yang bicara apalagi sampai tersedak ketika makan. Gadis itu memiliki tatakrama yang ketat di dalam dirinya sendiri. Dan itu terkadang cukup menganggu bagi orang-orang yang tidak mengenal Fera.