"Berisik! Abisin makan aja harus banget pake ngoceh," sarkas Fera yang baru saja selesai menghabiskan satu mangkuk besar tomyam. Rian dan Marcel tertawa pelan melihat bagaimana risihnya Fera pada dua teman Gean. Bukan tidak suka, hanya saja Fera tidak suka jika ada yang bicara apalagi sampai tersedak ketika makan. Gadis itu memiliki tatakrama yang ketat di dalam dirinya sendiri. Dan itu terkadang cukup menganggu bagi orang-orang yang tidak mengenal Fera.
"Sorry," ujar Viona pada Fera yang sudah berlalu membawa mangkuk kosong.
"Biarin, Vio. Fera emang suka gitu," ujar Agung santai.
"Iya. Biarin aja," tambah Akbar seraya menatap Agung dengan kedua halis yang terangkat. Viona tersenyum kecil dan mengangguk.
"Eh iya, buat pertanyaan Rian tadi. Iya. Gua butuh guru masak."
"Oh, iya. Gua punya guru bagus. Masih saudara sih. Nanti gua tanya dulu, ya. Kalau beliau bisa, gua kasih nomornya." Wajah Viona langsung bersinar dengan rona merah di wajahnya. Gadis itu menunduk kecil. Menyembunyikan senyum manisnya mendengar suara Rian yang baru saja menjawab ucapannya.
"Oke. Makasih," cicitnya pelan.
"Sip, sama-sama."
"Assalamualaikum," salam seseorang yang baru saja masuk ke area ruang makan.
"Waalaikumsalam," jawab beberapa dari mereka serentak.
"Papa udah pulang?" Tanya Rian bingung.
"Belum," jawab Geo dengan wajah datarnya. Yang lain sontak tertawa mendengar jawaban Geo atas pertanyaan Rian.
"Ya, maksudnya tumben Papa pulang jam segini."
"Gak ada acara makan siang," jawab Geo lagi. Namun kini disertai senyuman ketika Riana berbalik dan menampilkan senyum. Rian dan Gean yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya malas. Papanya memang sebucin itu dengan sang mama. Entah apa alasannya. Tapi jujur saja itu terkadang membuat Rian dan Gean malas melihatnya. Lihat saja tadi, kan? Datang-datang gak ada raut bahagia. Kusam, datar, dingin. Eh, nengok dikit, disenyumin, meleleh.
"Mama sama Papa Gean romantis ya," celetuk Angel dengan wajah tanpa dosanya. Si kembar sontak kembali memutar bola matanya malas. Apalagi saat mereka tak sengaja melihat bagaimana wajah Mamanya yang tersipu di dapur sana. Begitupun sang papa yang berdehem canggung. Sedangkan temannya yang lain hanya bisa tertawa kecil.
"Papa ke atas dulu," pamit Geo dan pergi berlalu.
Drrt. Drrt. Drrt.
"Hape siapa yang bunyi?" Tanya Marcel ketika merasakan meja makan bergetar kecil.
"Eh punya Angel. Maaf," kata Angel. Gadis itu membenarkan sebentar letak roknya sebelum akhirnya berlalu untuk menerima telepon. Satu persatu teman Gean dan Rian juga sudah selesai. Begitupun dengan Gean. Tersisa Rian dan Agung yang masih sibuk memakan penutup berupa puding mangga yang tersedia di dalam piring besar.
"Lo gak ada kenyangnya ya, Gung," ujar Rian memecah keheningan. Bukannya merasa tersinggung, Agung malah menepuk dadanya bangga.
"Lo kalau jadi gua juga bahagia, Yan. Perut gua ini selalu berada di situasi yang tepat." Rian yang mendengar itu sontak tertawa. Lelaki yang lahir di Russia itu membereskan piring dan mangkuk kosongnya untuk ia bawa ke dapur. Tapi baru saja Rian bangkit, mangkuk dan piringnya sudah melayang, terangkat ke atas. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Agung.
"Udah, sama gua aja sekalian. Lo beresin meja depan aja. Takutnya adek lo sama temen-temennya mau kerkom, kan?"
Rian mengangguk pelan. Ia lantas segera berlalu menuju ruang tengah. Keningnya mengernyit begitu melihat Angel yang sedang sibuk membereskan tasnya. Gadis itu juga sibuk memakai sepatunya kembali yang sempat ditaruh ke dalam rak sepatu.
"Mau kemana, Ngel?" Tanya Rian.
"Eh, ini mau pulang. Udah dijemput Mama. Maaf, ya..?"
"Rian," jawab Rian ketika Angel merasa bingung melihatnya.
"Ah ya! Maaf ya, Rian. Angel mau pamit duluan. Sampaikan juga sama yang lain, ya." Rian mengangguk pelan.
"Oke. Hati-hati," pesan Rian seraya tersenyum kecil.
"Eh, iya!" Angel yang baru berjalan beberapa langkah ke depan, kembali berbalik dan memberikan sebuah undangan berwarna pink.
"Itu undangan ulang tahun Angel. Masih lama sih, dua mingguan lagi. Tadinya mau dikasih ke Gean, tapi kayanya Gean gak akan suka. Jadi, Rian mau kan terima undangan buat orang pertama?" Tanya Angel. Tangannya masih menyodorkan undangan tadi. Rian yang notabenenya adalah sosok yang ramah jelas langsung menerima undangan itu seraya tersenyum. Tanpa bisa ia sadari, sebuah rasa yang dulu sempat Rian simpan dalam-dalam itu kini mulai tumbuh kembali.
"Iya. Makasih," ujarnya lembut. Senyum Angel mengembang lebar. Gadis itu kembali melangkah pergi keluar karena teleponnya terus berdering. Membiarkan Rian yang diam-diam memegang erat undangan itu.
Orang pertama, heh?
***
"Undangan dari siapa?"
Rian yang sedang fokus memetik senar gitarnya langsung mendongkak begitu mendengar suara sang mama di dalam ruang musiknya. Matanya menatap ke arah undangan berwarna merah muda yang dipegang wanita itu. Rian yang memang sedang dalam mode malas bangkit hanya tersenyum pelan. Merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Lho, kok malah senyum-senyum gitu. Dari pacar Abang?" Tanya Mamanya lagi dengan nada menggoda. Wanita itu juga melangkah mendekat ke arah Rian yang masih memangku gitar. "Hayo, dari siapa ini?"
"Temen, Ma," jawab Rian dengan wajah yang menatap sang mama.
"Temen apa temen?" Goda Riana lagi. Kali ini wajahnya terlihat sedikit bahagia melihat Rian yang mulai terpancing dengan ucapannya.
"Astagfirullah, temen, Mama. Temen Gean juga. Itu undangan dari Angel." Riana tertawa mendengar bantahan dari anaknya. Mulut memang bisa berkata seperti itu, tapi wajah tidak bisa membohongi, kan? Terlihat sekali jika sekarang wajah Rian memerah dan terasa panas. Apalagi telinga lelaki itu yang benar-benar kontras dengan kulitnya yang seputih s**u.
"Angel yang cantik itu?" Tanya Riana mencoba mengingat gadis yang tadi siang datang ke rumahnya bersama teman-teman anaknya yang lain. Di bayangannya hanya ada satu Angel. Dan Angel yang ia tahu adalah Angel yang sempat duduk berhadapan dengan anaknya kala ia membawakan dua kotak s**u putih besar.
"Semuanya cantik, Ma," ujar Rian yang semakin menutupi apa yang sebenarnya tengah ia rasakan. Dan Riana bisa melihat itu. Hati seorang ibu biasanya lebih peka dari apapun, kan? Jadi, maklumi saja Riana yang sangat tahu dengan tabiat putranya yang satu ini. Mengurusnya selama 20 tahun dan membesarkannya dengan tangan sendiri, membuat Riana tahu kebiasaan anak pertamanya.
"Abang suka sama Angel?" Tanya Riana penuh arti. Wanita itu tersenyum lembut kala Rian menolehkan kepala dan melihat ke arahnya. Namun baru sedetik melihat, lelaki yang baru menginjak dewasa itu langsung membuang wajahnya ke samping. Membuat Riana tidak bisa menahan senyumnya.
"Gak, Mama. Kalau Mama nanya kaya gitu karena Mama liat Abang senyum, kan Abang memang suka senyum,” elaknya dengan mudah.
"Beneran? Gak papa, kok. Abang bisa cerita sama Mama."
Rian tersenyum. Bibirnya mengukir sebuah matahari yang terang. Membuat Riana terdiam. Anaknya yang satu ini memang sedikit sulit mengungkap perasaan. Pernah sekali ketika Gean dan Rian bertengkar semasa SMP, Riana sangat bingung harus melakukan apa saat itu. Sebab, setelah bertengkar hebat dan pulang dalam keadaan basah kuyup, keduanya sama-sama jatuh sakit. Walau begitu, tidak ada satupun dari mereka yang berniat meminta maaf. Padahal Rian adalah sosok yang mudah meminta maaf saja enggan mengalah ketika itu. Tidak ada perubahan sampai keduanya sembuh dan Riana dekati dengan baik.
Bertanya apa yang terjadi dan kenapa keduanya bisa bertengkar sehebat itu. Dan ketika itu yang Riana tahu, keduanya terlibat pertengkaran karena Gean yang mendapat nilai lebih satu dari Rian. Sedangkan ketika itu mereka mempertaruhkan uang jajan sebulan. Dan Rian yang saat itu sedang dalam masa krisis uang karena baru saja membayar kas sekolah langsung meminta Gean untuk bersabar selama sehari. Tapi siapa sangka Gean malah memukulnya karena marah. Ternyata lelaki yang menjadi adiknya itu sudah menanti-nanti uang taruhan untuk membeli coklat pada adik kelasnya. Alhasil, mereka bertengkar hebat ketika itu.
Rian yang merasa Gean tidak mau mengalah, dan Gean yang merasa Rian tidak menepati janji. Dan masalah baju mereka yang basah kuyup, itu karena Geo lupa menjemput keduanya. Alhasil si kembar pulang dengan keadaan hujan deras dan wajah babak belur. Mengingat hal itu, rasanya Riana ingin tertawa sekaligus kesal. Bisa-bisanya kedua anaknya itu bertengkar hanya karena hal sepele. Beruntungnya setelah 3 hari demam, mereka kembali berbaikkan dan tidak lagi bermusuhan seperti sebelumnya.
"Nanti ya, Ma. Kalau Abang siap, nanti Abang pasti bilang sama Mama," ujar Rian dengan nada lembutnya. Wanita yang menjadi ibu kandungnya itu hanya mampu memperlihatkan wajah tenangnya. Tangan mungilnya terangkat dan mengusap kepala anaknya sayang.
"Tapi, Mama belum liat di kamar Adek. Baru Abang yang dapat, ya?" Tanya Riana seraya mengangkat undangan di tangannya saat Rian mengernyit tidak mengerti. Lelaki itu lantas mengangguk dan tersenyum kecil.
"Iya. Tadinya mau kasih Gean, cuman kan Mama tahu kalau dia gak mungkin mau simpen undangan kaya gini."
"Oh, jadi ini tadinya buat Gean?" Tanya Riana. Tangannya melihat dengan seksama surat undangan tersebut.
"Emm.. ya, gitu."
"Tapi Abang tetep jadi orang pertama yang dapet?" Rian terkekeh kecil seraya menggaruk tengkuknya. Sang mama yang melihat hal itu kini menggelengkan kepala. Apalagi ketika melihat telinga Rian yang ikut memerah.
"Emm, Mama jangan kasih tahu Gean ya?"
"Eh, kasih tahu apa?" Tanya sang mama bingung. Rian tersenyum pelan sebelum tangannya memetik salah satu senar gitar seraya berdehem pelan.
"Abang yakin Mama tahu."
Mendengar empat kata itu dari bibir sang putra, Riana tentu saja mengangguk. Ia memang tidak sedang ingin bermain atau berlagak bodoh. Riana tahu kenapa lelaki itu mengatakan hal tersebut. Sepertinya Rian masih kurang yakin dengan apa yang dirasakannya. Sedangkan Gean adalah orang yang ekspresif. Kalau memang Rian siap, lelaki itu pasti memberitahukannya pada Gean tanpa harus sembunyi-sembunyi. Dan Gean jelas mendukung. Namun sepertinya situasi kali ini cukup sulit. Karena tanpa sadar, Riana yang notabenennya sebagai Mama dari si kembar saja tahu apa yang sudah terjadi. Dan hal ini bukan hanya masalah mengalah atau maju seperti sebelumnya.
"Oke. Tapi harus ada bayaran buat tutup mulutnya," ujar Riana seraya duduk di belakang sang anak dan mulai menekan beberapa tuts piano.
"Apa?" Rian menolehkan kepala. Bertanya pada Mamanya yang kini ada di belakangnya.
"Kamu harus mau nyanyi sama Mama malam ini." Rian tertawa kecil.
"Tentu."
Ceklek.
"Kok berdua aja? Papa juga mau ikutan, dong! Papa yang nyanyi!" Seru seorang pria paruh baya yang baru saja datang dengan piyama biru tuanya. Melihat itu Rian dan sang mama serentak menggeleng tegas. Tidak! Papanya adalah perusak lagu dari semua lantunan nada yang Rian tahu.
"Jahat banget sama Papa," ujarnya dengan nada sedih. Rian tertawa.
"Papa main drum aja."
"Iya. Gean nyanyi," tambah lelaki berkaos putih di belakang sang papa.
"Wah, semuanya ada! Ayo, kita buat lagu lagi!" Seru Riana bahagia. Wanita itu kini berjalan mengambil mikrofon yang letaknya berada di tengah. Karena ada dua, sang mama memberikannya pada Gean satu.
"Papa pengen nyanyi.."
"Jangan Papa!!" Tolak Rian, Gean, dan Riana dengan tegas. Membuat Geo menghela napas lesu. Mereka lalu tertawa bersama.
“Penistaan yang terencana!”