- 9

1584 Kata
"Abang!! Katanya ada kelas jam 10! Bangun!!" Bruk. Bruk. Tubuh Gean yang masih terlelap di atas kasur itu terombang-ambing ke sana kemari karena seseorang kini tengah meloncat riang di atas kasurnya. Tak lupa teriakan khas anak kecilnya terdengar memenuhi kamar. Gean yang memang sedang dalam masa kemageran tinggi, hanya mampu berdehem pelan. Mengambil bantal lain berwarna hitam di sisinya, Gean menutup telinga dengan bantal tersebut. "Abang!! Bangun!" Teriak anak itu lagi dengan kaki yang terus meloncat di atas kasur Gean. "Hmm.." Gumam Gean tanpa minat. Lelaki itu malah menarik selimut yang mana dengan jahilnya ditarik oleh anak yang sejak tadi berteriak tanpa henti. "Abang! Ini Eja!! Bangun!!" "Ck, apa sih?!" Ujar Gean dengan nada kesal. Reza, atau yang biasa dipanggil Eja itu memberenggut kesal. Tangannya terangkat untuk membuka kelopak mata Gean yang masih setia menutup walau halisnya mulai mengernyit dalam. "Bangun.. Abang.." bisik Eja dengan suara yang dibuat tajam. Namun tidak ada pergerakan apapun dari lelaki yang masih terbaring di atas kasur itu. Reza berdecak pelan seraya memikirkan apa yang harus ia lakukan pada lelaki di sampingnya ini. "Abang! BANGUN!" Teriaknya keras seraya menarik telinga kanan Gean. Hingga akhirnya Gean terpaksa bangun karena suara itu berhasil memenuhi telinganya. Rasa pengang mulai menjalar di telinganya. "Astagfirullah, kenapa sih, Ja?" Tanya Gean yang masih dalam keadaan setengah sadar. Reza menghela napas lelah. Memang benar apa yang diucapkan Tante Riana, Gean adalah si kebluk yang sulit dibangunkan. Sekalipun alasannya ada kelas pagi. "Abang susah banget bangunnya," ujar Reza seraya turun dari kasur berwarna abu itu. Tangannya memencet tombol yang ada di sebelah ranjang Gean dua kali. Dan gorden kamar Gean terbuka. Menampilkan cahaya matahari pagi yang menyorot tajam ke arah Gean. Sontak saja Gean mengerang kesal. Belum lagi tangannya harus menghalangi sinar matahari itu agar tidak masuk ke matanya. Perlahan, ia membuka kedua netra birunya dan berdecak pelan saat menemukan Reza di samping kamarnya. "Kenapa kamu?" Tanya Gean yang bermaksud menanyakan keadaan Reza. Sebab anak lelaki tujuh tahun itu tengah berkacak pinggang dan menatapnya tajam. "Abang lupa, ya?!" Sentak Reza dengan nada kesal. "Lupa apa?" "Katanya mau ikut main sama Kak Ciama sama Abang Iyan!" Sesaat Gean mengernyit. Tangannya juga sudah berada di bawah. Membiarkan cahaya matahari menyorot wajah bantalnya. Otaknya tiba-tiba lambat. Apa? Ikut kemana? "Ish! Kak Ciama sama Abang Iyan kan mau main! Sama Kak Angel!" Mata Gean membulat. Benar! Hari ini adalah hari di mana Rian yang akan mengajak Ciama pergi bersama teman-temannya untuk menemani libur panjang Ciama. Bagaimana ia bisa lupa?! Bukankah ia sudah menyalakan alarm? Segera Gean mengambil ponsel di nakas dan menatap ponselnya. Alarmnya sudah berdering, dan ia masih tidur?! Sial! Ini pasti karena tanding basket semalaman bersama sang papa. Kalau tahu Gean akan tidur selama ini Gean pasti menolak ajakan sang papa. Belum lagi tadi pagi Papanya juga meminta ia untuk lari keliling taman rumahnya. Yang pasti kalian tahu luasnya sudah seperti taman kota. Dan berakhir dengan dirinya yang lelah lalu sarapan dengan porsi jumbo, kekenyangan, dan tidur. Sialnya sang mama juga tidak membangunkan! "Mereka udah berangkat?" Tanya Gean seraya bangkit dan mulai membereskan kasurnya cepat. "Belum. Kan Eja bilang mau ikut, jadi belum berangkat." God! Terima kasih karena Engkau menciptakan si rusuh Reza! "Angel ikut?" Tanya Gean. Tangannya menggapai handuk yang terdapat di gantungan besi panjang. Tanpa melirik, Gean tahu jawabannya saat Reza menggumam iya. Tak ingin ambil pusing lebih lama, Gean segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Gean menyelesaikan acara mandinya. Sekitar 30 menit lamanya lelaki itu menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Entah apa yang ia lakukan di sana, yang pasti Reza saja sampai tertidur saking bosannya menunggu. Gean yang melihat Reza tertidur langsung tersenyum kecil, tangannya menaikkan kembali selimut yang sebelumnya sudah ia rapikan. Ia juga tak lupa mengelus kepala Reza sayang lalu mulai berpakaian. Gean mengeluarkan satu kemeja polos dan celana jeans panjang serta kaos berwarna hitam. Tak lupa sebuah sneakers juga Gean keluarkan dari lemari khusus sepatunya. Ia langsung memakai pakaiannya dengan cepat ketika mendengar pintunya diketuk seseorang. Gean yakin itu Ciama. Terdengar dari suara ketukannya yang tidak biasa. Bahkan Reza sampai terbangun dari tidur pulasnya. "Bang!! Woy! Cepetan!" Teriak Ciama dari luar dengan keras. Gean mendengkus. Ia yang sedang menyemprotkan minyak wangi di bagian ketiak jadi lupa dan akhirnya terlalu banyak. Membuat bagian ketiaknya terlihat basah. Ciama memang tidak ada lembut-lembutnya! "Abang, udah?" Tanya Reza serak. Anak lelaki itu terlihat masih mengantuk. Tangannya juga mengucek matanya yang mungkin masih terasa buram. "Sudah. Ayo!" Jawab Gean seraya mengeringkan bagian ketiaknya yang masih terlihat sedikit basah. Beruntungnya baju yang ia pakai tidak menyerap keringat dengan cepat. Jadi masih bisa ia keringkan sedikit. Gean dengan sigap mengangkat Reza setelah memasukkan dompet ke dalam saku celananya. Membawa bocah lelaki itu keluar bersama dengannya. Dan ketika membuka pintu, Gean dikejutkan dengan wajah kesal Ciama. Sepertinya gadis SMA itu sedang marah besar. Jelas saja! Mereka akan pergi pagi-pagi, tapi karena lelaki ini Ciama dan yang lain harus berangkat tengah hari. "Maaf," sesal Gean seraya mengusung senyum tipis. Mata Ciama sudah memerah karena ingin menangis. "Gak tau ah! Gak jadi!" Bentak gadis itu serak dan berbalik seraya pergi menuju kamar Rian. Gean mengernyit. Kenapa dengan gadis itu? Mencoba membiarkan Ciama yang mungkin akan mengambil sesuatu di kamar Rian, Gean memilih pergi ke bawah. Di sana sudah berkumpul keluarganya dan orang tua Reza serta Ciama. Atau lebih tepatnya Kakek dan Neneknya. Ada Rian, Angel, Riana-- Mamanya, Geo-- Papanya, Chandra--Mama Reza, dan Revano-- Papa Reza. Semuanya terlihat biasa saja dan saling bercanda tawa. Gean mengedikkan bahu, mungkin dugaannya benar. Ciama hanya ingin mengambil barang yang tertinggal. Namun, begitu Gean sampai, semua pasang mata langsung menatapnya tajam. Tak terkecuali Rian. "Lo abis ngapain sih?! Semedi?!" Sentak Rian sebagai permulaan. Baru akan menjawab, ucapan Gean langsung dipotong. "Iya! Mainnya jadi gak jadi kan!" Tambah Riana-- sang mama. "Gak jadi?" "Iyalah! Siapa yang mau ke dufan tengah hari begini?" Jawab sang papa dengan nada jutek. "Ciama juga jadi marah," sambung Chandra-- Mama Reza dan Ciama. "Marah?" Beo Geo tak paham. "Ck! Jalan-jalannya gak jadi! Lo lama banget. Udah dibilangin jangan mandi lama-lama! Bangun kesiangan, mandi lama, ya siapa yang gak kesel? Kalau lo emang niat ikut, jangan gitu dong," sewot Rian marah. Gean tersentak. Lelaki itu memundurkan wajahnya tidak paham. Kenapa juga Rian harus marah berlebihan seperti itu? Ini hanya masalah tidak jadi berangkat pergi, kan? Bukan tentang hal besar? "Sewot banget," balas Gean santai. "Dek, Ciama udah janjian sama temen-temennya. Dia juga udah janji banyak hal. Gara-gara kamu, semuanya gagal. Temen Ciama marah semua, dan bilang dia bohong. Padahal semuanya emang mau Ciama lakuin." "Kan bisa berangkat duluan," jawab Gean lagi. "Abang gak ngerti!" Bentak Ciama dari arah tangga. Gadis itu sudah bercucuran air mata. Gean memutar bola matanya malas. Menurunkan Reza dari pangkuannya, Gean bergegas mendekati Ciama. Ia menyodorkan tangannya pada Ciama yang justru langsung ditepis oleh Ciama. "Gak mau! Ciama marah sama Abang!" Jerit gadis itu seraya bersedekap d**a dan membuang wajahnya ke samping. Gean yang melihat itu jelas saja langsung menghela napas panjang seraya berdecak. "Ck, hape kamu mana?" Tanya Gean. Ciama yang masih menangis kini mengernyit tak paham. "Bu-buat apa?" Tanya Ciama dengan isak tangisnya. "Cepetan," ujar Gean. Ciama lantas mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Gean. Mengetahui ponsel Ciama terkunci, Gean dengan sigap mengambil tangan Ciama dan menempelkan ibu jari kecil itu pada ponsel. Dan kuncinya terbuka otomatis. Mata Gean terlihat mencari sesuatu. Membuka aplikasi chatting, Gean langsung melihat kontak yang ada di room chat Ciama. Penuh. Sangat penuh. Gean bahkan hanya mampu mendengkus melihatnya. Namun, ketika ia akan memencet satu grup paling atas, mata Gean terpaku pada satu nama. Kak Marcel. Marcel di sini bukan Marcel teman Rian, kan? Entah mengapa, Gean merasa sangat penasaran. Dibukanya foto profil yang tertera dan melihatnya dengan seksama. Benar, itu Marcel. Teman satu band dan satu kampus Rian. Mau apa lelaki ini bertukar pesan dengan Ciama. Gean harus selidiki hal ini. Ciama terlalu polos, Ciama terlalu naif, Ciama juga bukan gadis yang sering membawa pacar atau terang-terangan berhubungan dengan seorang lelaki. Gean tahu Ciama pernah menyukai seseorang yang katanya adalah salah satu teman Rian dan Gean. Tapi mereka tidak tahu siapa itu. Jangan bilang.. Marcel? "Abang ngapain sih!" Seakan tersadar, Gean segera melanjutkan tujuannya. Menelepon semua anggota grup yang sepertinya teman-teman Ciama yang akan pergi ke dufan hari ini. Satu persatu terhubung. Dan ketika semuanya terhubung, Gean langsung menjauh dari Ciama dan juga membawa ponsel Ciama. "Abang! Ngapain?!" Teriak Ciama seraya ikut berlari mendekat pada Gean yan semakin menjauh. Seolah tidak ingin Ciama mendengar apa yang akan ia ucapkan nantinya. "Halo? Ini benar teman Ciama?" Tanya Gean begitu mendengar suara teman Ciama yang mulai menggerutu. Beberapa detik senyap. Sebelum akhirnya Gean kembali mengulang pertanyaannya dan satu persatu orang di seberang sana menjawab ya. "Saya minta maaf karena acara kalian gagal. Ini bukan salah Ciama. Saya, Kakak keponakan Ciama meminta maaf atas hal itu. Sebab saya yang membuat semuanya gagal. Dan untuk permohonan maaf saya, tolong datang ke Cafe Garden hari ini sekarang. Terima kasih." Tut. Tut. Tut. Dug. "Abang abis ngapain?!" "Nih. Selesai," ujar Gean dan memberikan kembali ponsel Ciama. Lelaki itu lalu berjalan menuju ruang keluarga. "Ayo, pergi!" Ajak Gean tiba-tiba. "Kemana?" Tanya mereka serentak. Tak terkecuali para orang tua di sana. Rian mengernyit mendengar keputusan Gean yang tiba-tiba. Apa yang sudah dilakukan adik kembarnya itu? Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi, kan? "Kalau tidak mau ya, tidak apa-apa." "Abang! Abang abis ngapain?! Ini temen Ciama kok pada seneng?" Gean hanya mengedik kecil. Membuat semua orang memandangnya dengan penuh tanda tanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN