- 10

1637 Kata
Sesampainya di cafe Garden, Gean, Ciama, Rian, Reza, dan tentu saja Angel langsung turun dari mobil dan menunggu teman-teman Ciama datang. Masih dengan posisi yang sama di mana Ciama bersandar pada bahu Rian, dan Reza digendongan Gean, para teman gadis remaja itu akhirnya datang. Ada sekitar 5 orang perempuan. Atau mungkin 4? Yang pasti salah satunya masih dipertanyakan gendernya. "Itu perempuan semua, Ciama?" Tanya Angel blak-blakkan sekaligus mewakilkan dua orang dewasa lainnya yang tengah memerhatikan teman Ciama. "Liat aja dadanya," jawab Ciama ketus. Rian, Gean, dan Angel refleks melihat ke arah lima orang yang masih berjalan menghampiri mereka. Jelas saja hal itu membuat Ciama membelalak tak percaya dan mencubit tangan Gean serta Rian. "Ciama suruh Kak Angel doang yang liat! Bukan Abang!" Sentak Ciama seraya menatap tajam kedua lelaki di depannya. Rian hanya mampu menyengir, sedangkan Gean mengedip beberapa kali. Merasa bodoh dengan apa yang baru saja ia lakukan. Benar. Bukankah Ciama hanya menyuruh Angel? Tapi kenapa juga mereka ikut melihat? Dasar! Jawaban Ciama terlalu ambigu! "Ciama!" Panggil salah satu dari mereka yang sialnya adalah orang yang sempat mereka pertanyakan gendernya. "Hey!" Ciama dengan riang menyapa. Terlihat jika Ciama sedang menyembunyikan kekesalannya. Padahal sudah jelas perempuan itu marah pada Gean dan Rian. "Lo ngapain ikut?" Tanya Gean pada Angel dengan nada marahnya. Terlihat sekali jika lelaki itu tidak menyukai Angel yang sejak tadi seperti anak ayam. Mengikuti dirinya ataupun Rian. Bukannya tak senang, hanya saja bagi Gean, Angel adalah orang luar. Dan ini adalah waktu bermain 'keluarga'. Ya walau ada teman Ciama di sini. Setidaknya itu tidak akan mengganggu Rian maupun Gean saat ini. "Tadinya mau mampir aja ke rumah. Sekalian mau ketemu Tante. Tapi Tante ajak Angel. Katanya Angel juga harus ikut." Angel menatap Gean dengan wajah polosnya. Lelaki yang masih menggendong Reza itu menatap Angel dengan tatapan tidak sukanya. Terlihat sekali jika lelaki itu tidak suka dengan apa yang Angel katakan tadi. Memangnya apa yang Gean suka dari sosok Angel? Tidak ada! "Ngapain ketemu Mama?" Tanya Gean lagi. Kali ini dengan mata yang menatap tajam Angel. "Mau latihan masak," jawab Angel seadanya. Gean menggeram kecil. "Lo bisa latihan sama orang lain,” decak Gean yang sudah semakin kesal dengan apa yang Angel lakukan. Gadis itu seolah memiliki alasan di balik alasan lainnya. Dan Gean benci dengan orang yang selalu beralasan. "Gak mau. Maunya sama Tante." "Ck! Lo--" "Abang! Kita mau ngapain ke sini?!" Sentak Ciama yang sejak tadi diabaikan oleh Gean. "Gak usah teriak!" Balas Gean dengan tajam. Ciama menelan salivanya kasar, kenapa malah jadi dirinya yang ciut seperti ini? Seharusnya kan Gean yang merasa bersalah. Memang ya, Gean selalu membuat kesal! "Ya Abang dipanggil gak nyaut!" Cicit Ciama sebal. Gadis itu menatap Gean yang kini masih setia dengan wajah datarnya. "Maaf. Kenapa?" "Ngapain kita ke sini? Ngopi?" Tanya salah satu teman Ciama yang paling tinggi. Sejauh mata memandang, sepertinya hanya perempuan ini yang memiliki tinggi lebih dan rambut pendek. Karena sisanya berkerudung serta berambut panjang. "Kumpul semua?" Ciama mengangguk seraya kembali menghitung jumlah temannya. "Iya. Udah semua." "Naik ke mobil," titah Gean seraya menunjuk mobil dengan gerakan kepalanya. "Eh? Gak ke dalem cafe?" Tanya teman Ciama yang lain. Kelima gadis itu merasa bingung bukan main. Setelah di telepon tiba-tiba oleh Ciama tapi dengan suara yang lain, kini mereka seolah dipaksa oleh penculik untuk masuk ke dalam mobil dan tidak boleh membantah. "Naik ke mobil," ujar Gean lagi. Ciama menghela napas dan menyuruh teman-temannya masuk ke dalam mobil kembali. Tidak akan ada gunanya juga ia membantah apa yang Gean katakan. Pria itu sudah memiliki segalanya. Dan mungkin ini salah satu cara menebus kesalahannya? "Dikira mau ngopi, Ma. Gua udah bawa rokok aja," bisik salah satu teman Ciama yang lain. Ciama mengangguk dan berdecak pelan. Angel yang mendengar hal itu sontak membulatkan mata dan menatap pada Rian yang ada di sampingnya. Ia tahu Rian mendengar hal itu juga. Namun siapa sangka Rian malah menggeleng seraya menatapnya. Seakan berbicara mereka cukup diam saja. "Mau ke dufan, kan? Nih." "Eh?" "Tiket full seharian VIP?!" Teriak Ciama saat Gean melemparkan sebuah kartu khusus yang ia tahu hanya beberapa orang yang bisa mendapatkannya. "Dan ini." Gean kembali melemparkan sebuah kartu. Kali ini kartu masuk hotel. "Apaan ini?!" "Sana. Ke dufan." "Gean!" Rian memegang bahu Gean dan membalikkan tubuh kembarannya karena tak paham dengan apa yang Gean rencanakan. Apa-apaan semua ini? Tidak! Bukan ini yang mereka rencanakan sebelumnya. Dan apa tadi? Membiarkan Ciama pergi dengan teman-temannya tanpa pengawasan? Orang tua gadis itu menitipkannya pada Rian dan juga Gean karena ingin Ciama mendapat pengawasan lebih. Bukan dilepas begitu saja! "Sesuai dugaan. Lo bakal marah, kan? Sayangnya gak bisa. Kalian berangkat sama sopir dan dua penjaga," ujar Gean seolah apa yang ia perintahkan pada Ciama bukan masalah besar. "Abang ini apa maksudnya?!" Tanya Ciama yang tidak paham dengan kartu hotel yang Gean berikan. "Penebusan kesalahan." "Kan Ciama bilang udah gak mau ke dufan! Ini apa? Kapan juga Abang beli ini?" Rian mengurut keningnya. Gean pasti tidak mau membuang ucapannya secara sia-sia. Dan membuat keributan di saat seperti ini bukan hal yang baik. "Sudah. Pergi saja. Penjaganya juga sudah datang." "Tapi Ciama mau sama Abang!" "Nanti sore Abang nyusul ke sana. Sekalian mantau sama ngejelasin semuanya, ya?" Rian yang mendengar itu akhirnya menghela napas. Percuma saja ia menghalangi Gean dan apa yang sudah lelaki itu putuskan. Karena jika ia masih keras kepala seperti Gean, yang ada mereka akan berbuat yang tidak-tidak saat di rumah. Rian mengusap kepala Ciama. "Gih, berangkat. Nanti keburu tutup. Gak jadi lagi." "Iya, Ma. Udah deh gak papa siang-siang juga. Lumayan seharian full gratis." "Iya, Ma, yuk! Gua mager balik ke rumah lagi." "Oke. Ya udah, Ciama berangkat. Abang nanti susul ya?" Tanya Ciama seraya menunjukkan wajah khawatirnya. Terbiasa pergi dengan keluarga atau penjagaan khusus, Ciama sedikit takut untuk pergi bebas. Tidak seperti anak lain yang jelas lebih bahagia bebas, Ciama justru merasa was-was. "Iya. Udah sana." Ciama mengangguk dan mulai memasuki mobil kembali. Kali ini bersama dengan teman-temannya. Sesuai dengan apa yang Gean katakan. Mereka akan seharian full berada di dalam tempat permainan itu. Dan di sana mereka tidak perlu membayar tiket setiap permainan. Cukup memberikan kartu member tersebut. Yang mana biasanya hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Anehnya, Gean bisa mendapatkan hal itu di waktu padat seperti sekarang. Ciama sih sudah tidak aneh dengan kegilaan Abang sepupunya satu itu. Tapi.. bagaimana dengan adiknya Reza? "Huaa!! Eja mau ikut!" Gean berdecak kesal. Ia melupakan masalah satu lagi. Reza. Dengan hati yang mencoba sabar, Gean memilih mencari hiburan untuk Reza agar anak itu melupakan jalan-jalan yang sudah dijanjikan. Meninggalkan Rian dan Angel berdua di depan cafe. "Ehm, sorry. Kayanya gak jadi main," ucap Rian canggung seraya menyengir lebar. Sedangkan matanya menatap Gean tajam. Lelaki itu memang laknat! Sudah tidak mengatakan apapun, sekarang malah pergi meninggalkannya dengan Angel berdua. Apa otaknya masih ada di kasur?! "Eh? Gak papa." Rian menggaruk tengkuknya merasa malu. Ia lalu berjalan ke pintu cafe seraya mengajak Angel. "Kita minum kopi dulu sebelum pulang?" Tawar Rian. "Tapi Gean.." "Nanti gua chat, kalau kita di dalem cafe." Dengan ragu akhirnya Angel mengangguk. Toh ia juga tidak mungkin terus berdiam di depan cafe, kan? Bisa mati perlahan karena terbakar matahari nanti. Melihat Angel yang ikut masuk, Rian tersenyum. Ia jadi teringat bagaimana Angel yang datang ke rumahnya seraya membawa sebuah satu kantung penuh berisikan bahan-bahan memasak. Karena kemarin Rian sudah memberitahu pada Viona kalau Tantenya mau membantu Viona kursus masak, Angel juga berniat ikut. Hanya saja salah hari. Sepertinya Viona lupa memberitahu pada Angel masalah harinya. Atau memang Viona yang tidak mau memberitahu? "Mau duduk di mana?" Tanya Rian. Angel menatap sekeliling sebelum akhirnya mendongkak. "Di lantai dua?" "Boleh. Kebetulan ada tempat nyaman yang gua tahu. Tempatnya juga cukup bagus." Angel tersenyum lebar dan mulai menunjukkan rasa nyamannya. Awalnya Angel merasa ragu dan takut jika nanti Gean marah karena ia yang pergi ke dalam cafe duluan bersama Rian. Tapi kalau dipikir kembali, untuk apa Gean marah. Angel bukan siapa-siapa untuk Gean. "Mau duduk di sofa atau di kursi biasa?" Tanya Rian lagi saat keduanya sudah berada di lantai dua. "Tempat yang nyamannya di mana?" "Mau ke tempat itu aja?" Angel mengangguk cepat. Melihat itu Rian semakin melebarkan senyumnya. Tak lupa dengan telinga yang memerah. Namun buru-buru ia berbalik badan. Menutupi senyumnya dari Angel yang kembali melihat ke arahnya. "Emm.. i-itu di sana." Rian menunjuk salah satu meja di bagian balkon. Di sana terlihat dengan jelas satu meja yang jaraknya jauh dari sekitar. Karena lantai dua jarang ada pengunjung, membuat tempat itu lebih damai. Mungkin karena tempatnya yang cukup sepi dan jarang orang tempati, membuat lantai dua itu selalu menjadi perbincangan. Namun ketika siang, bagi Rian lantai dua itu cafe ini bagai surga kelimanya. Sebab di tempat ini biasanya ia bisa bermain gitar sesuka hati tanpa merasa terganggu atau menganggu siapapun. Angel langsung berjalan menuju kursi yang Rian tunjuk. Dan ketika ia duduk di sana, pemandangan sekitar jalan yang tidak terlalu padat menjadi objek yang menakjubkan. Angel bahkan sampai terpukau. Karena dari atas juga Angel bisa melihat gedung-gedung sekitar yang cukup banyak. Ada rumah makan, lalu tempat perbelanjaan, pom bensin terdekat, gedung sekolah, dan beberapa bangunan yang sepertinya rumah warga. Karena jarak lantai satu dengan lantai dua cukup jauh, membuat lantai dua tersebut lebih tinggi dari lantai dua gedung lainnya. Pemandangan orang-orang berlalu lalang juga terlihat. "Bagaimana? Suka?" Tanya Rian. Angel spontan mengangguk seraya mengangguk. Rian terkekeh, tangannya menarik kursi besi untuk ia duduki. "Eh itu Gean. Gean! Sini! Di atas!" Teriak Angel dengan tangan yang melambai. Rian menengok ke bawah. Senyumnya luntur perlahan. Baiklah, mungkin ini memang bukan waktunya. "Eh, kok Gean malah ke tempat permainan?!" Rian mengernyit. Lelaki itu ikut melihat ke bawah. Benar, Rian tidak memasuki cafe dan malah mendatangi sebuah toko mainan. Kenapa Gean tidak menyusul? "Ka-kayanya mau nenangin Eja dulu." "Eh, iya kayanya. Oh iya, Rian sering ke sini ya? Kayanya tau spot paling nyaman."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN