- 11

1601 Kata
"Eh, iya kayanya. Oh iya, Rian sering ke sini ya? Kayanya tau spot paling nyaman." Angel menatap Rian dengan seksama. Gadis yang umurnya bahkan hanya terpaut beberapa bulan dari Rian dan Gean itu melipat tangannya seraya menopang dagu. Berusaha menatap Rian dengan teliti. Angel memang lumayan dekat dengan Gean, tapi ia tidak begitu dekat dengan Rian. Dan lagi sepertinya Rian berbeda dari Gean. Dari hari pertama bertemupun-- ketika Angel pertama kalinya memiliki urusan bersama Gean dan bertamu ke rumah lelaki itu-- Rian tidak sedingin Gean. Lelaki itu bahkan langsung tersenyum cerah saat menatap teman-teman Gean yang lain. Rian sepertinya memang beda. Dan kalau dilihat lebih dekat lagi, Gean dan Rian seperti benar-benar cetakan yang sempurna. Sama. Tidak ada celah yang membedakan kedua lelaki itu. Mata yang kecil dengan bola mata biru, lalu hidung mancung yang sedikit besar, pipi berahang tegas, mulut kecil dengan bibir bawah tebal, dan halis hitam yang rapi serta penuh. Tidak ada sedikitpun kekurangan dalam wajah keduanya. Hanya satu yang membedakan. Rian memiliki dua t**i lalat di kening. Sedangkan Gean hanya satu. Tepatnya Rian di atas halis kanan dan dekat dengan poni satu. Sedangkan Gean hanya berada di ujung poni. "Lumayan. Paling kalau mau main gitar." "Eh, Rian bukannya vokalis?" Tanya Angel bingung. "Emang kalau vokalis gak boleh bisa gitar?" Tanya Rian seraya menahan senyumnya. Apalagi melihat wajah Angel yang polos dan seolah tidak memiliki beban sama sekali. Angel mengedip sesekali. "Eh? Emang gak papa, ya?" Tawa kecil Rian menguar. Terlihat natural dan sangat bebas. Berbeda sekali dengan hati lelaki itu yang berdegup kian kencang. Apalagi saat tatapan gadis di depannya berubah polos serta penuh tanda tanya. Tolong jantung.. harap tenang. Otak dan mulut sedang dalam ujian. "Ya gak masalah. Kalaupun mau main alat musik lain gak masalah." "Kirain kalau vokalis harus bisa nyanyi aja," jawab Angel polos. Rian kembali tertawa. Seperti humor lelaki itu mudah sekali turun. "Gak gitu juga, Ngel." Rian menggelengkan kepalanya perlahan dan menatap Angel yang kini ikut tertawa kecil. Tawa manis yang berhasil membuat Rian terdiam dan memandang maha karya Tuhan di depannya dengan seksama. Tawa kecil yang membaut telinga dan sekitar leher Rian memanas bahkan sampai memerah. "Eh, iya. Angel denger katanya Gean mau dibeliin sepatu, ya? Kalau boleh tahu, itu beli di mana?" Tanya Angel setelah menghentikan tawanya. Rian memandang sebentar wajah Angel. Sepertinya sosok Angel mudah berbaur. Terlihat dari bagaimana dirinya yang mencari topik pembicaraan dengan sangat cepat. Dan Angel juga sepertinya orang yang humble. Tapi, kenapa Angel malah dekat dengan adiknya yang bahkan bicara panjang saja harus ketika marah dulu? Apa tingkat kesabaran Angel banyak? Yang jelas, Rian saja rasanya sudah ingin memaki kembarannya itu jika sifat dinginnya keluar. "Mesen di temen gua. Kebetulan ada kenalan yang tahu toko bagus. Kenapa? Mau beli juga?" Tanya Rian. Angel mengangguk semangat. "Iya. Buat Gean juga. Rian tahu gak, model sepatu yang Gean suka?" Tanya Angel. Lagi-lagi dengan raut wajah polosnya yang semakin membuat Rian tidak bisa mengatakan apa-apa. Speechless. Rian terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum kecil. Ia mengangguk pelan dan mengeluarkan ponselnya. Baru akan menunjukkan beberapa sepatu yang pernah Gean pakai, seorang pelayan datang seraya menanyakan apa yang mau mereka pesan. "Angel matcha tea satu ya, Mbak. Kalau bisa dikasih es krim stroberi di atasnya," pesan Angel saat melihat buku menu di depannya. Rian memang sedang fokus membuka ponselnya tidak sadar jika sang pelayan bertanya pesanannya. "Rian! Mau pesan apa?" Tanya Angel seraya memegang lengan Rian yang kini berada di atas meja. Rian mengerjap pelan. Lelaki itu terkejut sekaligus tertegun. Telinganya memerah merasakan sentuhan kulit lain di atas kulit tangannya. Seperti ada sentruman listrik yang kuat pada tubuhnya ketika Angel menggoyangkan lengannya. "Mas?" Tanya pelayan itu lagi. "Ah, iya?" "Mau pesan apa?" Rian mengerjap layaknya orang bodoh. "Eh, es americano aja. Sa-sama satu cheese cake." "Baik. Saya ulangi pesanannya Mas, satu matcha tea dengan es krim stroberi, satu es americano dan satu cheese cake." "Iya. Benar, Mbak," jawab Angel santai. Gadis itu tampaknya tidak memiliki masalah apa-apa, ya, dalam hidupnya? Kenapa wajahnya bisa setenang itu? "Kalau begitu tunggu sebentar ya, Mas, Mbak." Angel mengangguk pelan. Fokusnya kembali pada Rian yang terlihat tidak fokus. "Rian?" "Eh, ya?" "Rian gak papa?" Tanya Angel. Rian mengangguk mantap. Teringat dengan tujuannya tadi, Rian kemudian menunjukkan layar ponselnya yang di mana terdapat gambar-gambar sepatu Gean. Kumpulan sepatu yang biasa adik kembarnya pakai. Ia juga sedikit menjelaskan pada Angel mengenai model dan bentuk yang Gean sukai. "Oh, pantes kalau Angel mau beli, Gean selalu nolak." "Maksudnya?" "Iya, suka nolak. Katanya bentuknya gak sesuai. Modelnya juga buruk." Rian menghela napas seraya mengusung senyum. Dalam hatinya ia sudah memaki Gean yang entah kenapa selalu saja berkata kasar. Lelaki yang beberapa menit lahir setelahnya itu cukup membuat semua orang jengkel. Tidak hanya Angel yang 'mungkin' sering mendapatkan ucapan kasar atau pendapat yang buruk dari Gean, keluarganya dan bahkan dirinya sendiripun pernah merasakan hal itu. Namun, mendengar gadis di depannya mengadu bahwa Gean pernah mencaci dan tidak menghargai apa yang dibelikannya, cukup membuat Rian ingin bergelut saja dengan adik kembarnya tersebut. "Rian gak papa?" Tanya Angel lagi seraya melambaikan tangannya di depan wajah Rian yang menatapnya kosong. Rian tersentak. Sial! Sudah berapa kali ia melamun?! Dan lagi, kenapa harus di depan Angel?! "Eh iya, gak papa." Angel tersenyum kecil. "Oh ya, Rian." "Kenapa?" "Angel belum minta nomor Rian. Mau nomor Rian boleh? Kemarin minta lewat Gean, malah disuruh minta langsung. Jadi, Angel boleh minta nomor Rian?" Tanya Angel. Perempuan itu juga ikut mengeluarkan ponsel dari kantung roknya. "Boleh. Buat apa?" "Tadinya mau buat chatting biasa soal undangan. Rencananya Angel mau nitip undangan yang kemarin ke temen-temen Rian. Soalnya Angel gak tau temen Rian kuliah di mana sama jurusannya apa. Dan lagi, Angel juga gak terlalu deket." Rian mengangguk memaklumi. Ya, memang seharusnya tidak ada maksud lainkan Angel meminta nomornya?! Kenapa dirinya malah berharap lebih? Ada apa dengan otaknya hari ini, sih? Apa tidak bisa tenang sedikit begitu. Calm. Sepertinya mulai besok Rian harus bertanya bagaimana caranya calm pada Gean. "Tapi, kayanya chatting masalah lain ke Rian juga gak papa, kan?" Tanya Angel seraya menatap lelaki di depannya dengan senyuman. Jantung Rian seakan berhenti. Lelaki itu mengedip beberapa kali seraya berdehem pelan. Mencoba meyakinkan hati dan telinganya jika yang ia dengar tidak salah. Efeknya gak ada yang bisa mengalahkan! "Ma-maksudnya?" Tanya Rian gugup. Bukannya ingin mendengar hal yang tidak-tidak. Rian hanya ingin memastikan saja. Iya, begitu. "Ya, kayanya enak kalau curhat sama Rian. Hehe.." "O-oh.." Rian tersenyum kecil. "Rian orangnya enak. Bisa buat Angel nyaman kalau ngobrol." Masyaallah!!! Hati, tahan, Ti. Jangan meleleh dulu! Apa yang sudah Rian lakukan sampai bisa membuat orang di depannya nyaman mengobrol dengannya?! Keep calm, Rian. Jangan terlalu bahagia. "Oh, iya. Makasih..?" "Lho? Kenapa Rian yang bilang makasih?" Angel tertawa. Tanpa mereka sadari, Gean yang menjadi saksi kebucinan Kakak kembarnya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Dirinya susah-susah menenangkan Reza yang mengamuk bagai singa kelaparan, Kakaknya dan si rusuh malah lunch romantis. Sedih sekali hidupmu, Gean.. "Abang, kenapa diem di sini?" Tanya Reza yang masih sesekali terisak dan memeluk leher Gean. "Aura bucin membunuh," ujar Gean sebelum akhirnya kembali turun ke bawah. Memang lebih baik membiarkan mereka berdua mengobrol. Karena sudah cukup ia melihat Rian yang selalu merasakan sayang namun tak terbalas. Kali ini, Gean tidak ingin merusaknya seperti yang sudah-sudah. Rian berhak memiliki orang yang lelaki itu sukai. Percayalah, meskipun Rian mengelak hari itu, Gean tahu kalau lelaki itu menyukai temannya. Itu semua bahkan terlihat dengan jelas beberapa hari lalu ketika ada teman-temannya yang bertandang ke rumah. Bagaimana khawatirnya Rian pada sosok menyebalkan itu. Bagaimana senyum manis Rian terpatri ketika Angel berterima kasih. Bagimana terbangnya Rian saat menerima undangan pertama dari Angel-- walau awalnya ia yang akan diberi. Semuanya sudah menjadi bukti kuat, bukan? Rian memang tidak pandai menyembunyikan perasaanya. Bruk. "Ck, mata gak dipake!" Gerutu seorang gadis yang tak sengaja ditabrak Gean. Baju putih yang dipakai gadis itu kini berubah warna menjadi hitam karena kopi yang tumpah. Gean membulatkan mata melihatnya. "Sorry." "Hem. Bisa minggir?" Jawaban yang keluar seperti tidak kesal tapi juga bukan berarti gadis itu tidak marah. Aneh. Biasanya jika orang lain yang tertabrak dan tumpah sebanyak itu, akan menimbulkan keributan yang panjang. Tapi gadis ini malah terlihat santai dan memaafkan Gean dengan mudah. Tentu saja hal itu membuat kening Gean mengernyit. "Maaf, tapi baju Anda kotor." "Tau," balasnya judes. Gean semakin penasaran siapa gadis di depannya ini. "Saya akan ganti." "Gak usah. Bawel banget si-- lho? Rian?" Kaget gadis itu. "Temennya Rian?" Tanya Gean yang sama-sama terkejut melihatnya. Karena posisi mereka yang sudah berada di meja tempat gadis itu, membuat mereka tidak perlu sibuk menggeser tubuh ketika ada orang lain yang lewat. "Temennya Rian?" Beo gadis itu tidak paham. "Oh.. lo bukan Rian. Siapa namanya.." "Gean." "Ya! Gua kira Rian, tadinya mau ditampol," bisik gadis itu pelan saat menyadari orang di depannya bukanlah target yang tepat untuk ia jadikan sasaran empuk. "Lo?" Tanya Gean. Ia mendengar dengan jelas apa yang gadis itu sempat gumamkan sebelumnya. "Fera." "Oh, si judes." "Maaf, lo bilang apa?" Tanya gadis yang mengaku jika namanya adalah Fera seraya menatap Gean dengan tatapan tidak sukanya. Gean mengangkat halisnya. Ia menggeleng pelan. Reza yang ada di gendongannya mulai menggeliat tak nyaman. Sepertinya anak lelaki itu sempat tertidur dan sekarang kembali bangun. "Kayanya gua harus ganti." "No problem." "Gak bisa," tukas Gean keras kepala. Fera menghela napas kesal. Memang yang namanya kembar, akan sama semua. Sama-sama keras kepala! "Gak perlu." "Kita ke toko baju." Andai di depannya adalah Rian, sudah pasti Fera jejalkan permen karet rasa taro ke mulut lelaki itu agar diam. Namun nasibnya tidak seberuntung itu. Di depannya bukanlah Rian. Namun kembaran lelaki itu. Gean.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN