Rian POV
"Makasih, Rian," kata gadis di depanku dengan manis. Benar, gadis yang kini tengah tersenyum padaku adalah sosok yang manis. Dari segi manapun gadis ini adalah orang yang manis. Bagi pandanganku tentunya.
Entah sejak kapan aku memandangnya semanis itu. Tapi, yang pasti aku rasa ini tidak bisa dibiarkan. Rasanya, ada sesuatu yang semakin berkembang ketika berhadapan langsung dengannya. Seberapa besarpun aku berusaha untuk tidak menunjukkan bagaimana rasa sukaku padanya, itu tidak berhasil. Yang ada, hati ini malah semakin terbuka lebar menerimanya. Dan aku selalu merasa perasaan ini tidak wajar. Tidak baik bagiku maupun orang lain. Walau Gean-- kembaranku yang sudah kalian tahu-- mengatakan itu adalah hal yang wajar dan biasa, tetap saja bagiku ini terlalu berlebihan. Bagaimana caraku menatapnya saja sudah salah buatku.
Aku ingat, kapan aku merasa bahagia melihatnya. Kapan hatiku tertegun ketika mengetahuinya. Dan kapan mataku terpaku saat melihat sosoknya.
Sejak hari itu. Ketika hari pertama dia datang ke rumahku. Tentunya bersama dengan Gean dan teman-temannya. Hari itu dia tidak tahu kalau aku juga ada di sana. Hari pertama setelah kami selesai melakukan orientasi penerimaan mahasiswa baru (MABA). Kampusku dan kampus Gean memang berbeda, maka dari itu aku tidak tahu kalau ternyata Gean satu kampus dengan gadis itu. Gadis yang pernah aku temui di jalan.
Benar! Sebelum melihatnya di rumah. Aku pernah bertemu dengannya sekali di jalan. Lebih tepatnya ketika di lampu merah. Aku menatapnya, melihat ketika gadis di depanku ini pernah menolong seekor kucing yang tengah menyebrang. Tapi hari itu, perasaanku hanya kagum karena perbuatannya. Tidak lebih dari itu. Karena aku tahu, mungkin saja setelah itu aku tidak akan pernah menemuinya lagi. Namun dugaanku ternyata salah. Aku bertemu dengannya lagi di rumah. Dan yang mengejutkan adalah, dia teman Gean.
Tidak banyak yang aku lihat hari itu. Tapi senyum manisnya yang membuat siapapun tertegun saat melihatnya, aku mendapatkannya hari itu. Walau saat itu dirinya menganggapku Gean. Toh, ketika itu kami belum berkenalan. Itu adalah hari pertama mereka bertamu ke rumah sekaligus hari pertama aku menyadari jika ada yang salah dengan diriku. Bagaimana tatapannya ketika menatapku hari itu, aku tidak merasa jika itu sebenarnya bukan untukku. Tatapan memuja yang terlihat sangat menyukai sosok yang wujudnya sama denganku.
Setelah hari itu, dia sering berkunjung ke rumah. Hanya untuk bertamu dan bermain atau sekedar menemani Gean mengerjakan tugas kelompoknya. Karena ternyata jurusannya dengan Gean sama, tapi tidak selalu satu kelompok. Alasannya? Ya karena Gean yang pastinya tidak mau. Beberapa bulan setelah pertemuan kedua, aku tidak memunculkan diri untuk mengatakan bahwa aku adalah kembaran Gean. Aku masih bersembunyi dan hanya menjawab seadanya ketika ia menyangka aku adalah Gean. Aku tidak bisa berbuat banyak. Terlalu merasa takut kalau nanti gadis itu tahu aku bukanlah Gean dan tidak bertanya padaku lagi.
Begitu terus sampai lima bulan lamanya. Ya, selama lima bulan itu aku mengakui diriku sebagai Gean agar dia tidak menjauh. Aku menahan apapun yang ada di hatiku ketika diri ini meminta agar aku mengatakan yang sebenarnya. Aku terlalu merasa senang. Sampai akhirnya aku sadar. Kalau perlakuan baiknya, perlakuan manisnya, perlakuan sayangnya adalah untuk Gean. KARENA DIA MENYANGKA DIRIKU ADALAH GEAN.
Miris.
Aku tersadar dengan apa yang aku rasakan hari itu. Hanya karena dirinya yang berucap seraya menyebutkan nama Gean.
"Gean baik. Angel suka."
Benar. Yang dia sukai adalah Gean. Bukan sosok Rian. Sejak hari itu, aku tidak memunculkan diri lagi di depannya. Entah sebagai Gean atau sebagai diriku sendiri. Ketika tahu Gean dan temannya akan datang, aku pulang larut malam dan berdiam diri di rumah Akbar. Sekedar menunggu sampai Gean selesai atau membuat lagu baru karya band kami. Sebab aku terlalu takut saat bertemu dengannya. Takut jika nanti gadis itu mengganggapku sebagai Gean lagi. Karena ternyata rasanya sesakit itu. Seperti ada sesuatu yang tak kasat mata menusuk tepat di bagian harapan terbesarku. Memangnya apa yang akan aku lakukan seklaipun gadis itu tahu harapan terbesarku?
Terus begitu sampai hari di mana Gean memenangkan sparing pertamanya di olahraga basket. Gean memang menyukai jenis olahraga itu. Gean juga sudah menekuninya sejak SMA. Tapi aku tidak tahu kalau dia juga meneruskannya sampai jenjang kuliah. Dan hari itu, aku akhirnya kembali melihatnya. Ya, melihat sosok yang aku hindari selama ini. Dan mengejutkannya, hari itu Gean memperkenalkan diriku padanya. Memberitahu bahwa ia memiliki kembaran dan itu aku.
"Ini Rian. Kembaran gua," ujarnya saat itu seraya memegang lenganku.
Sesuai perkiraanku, mereka berdatangan dan merasa kaget. Ada yang terpukau, takjub, bahkan meminta kami berdiri berdampingan saking tidak percayanya. Tapi 'dia' tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Sepertinya 'dia' juga merasa terkejut. Tapi yang membuatnya semakin terkejut adalah ketika tahu jika sosok kembaran Gean atau aku, adalah orang yang ramah dan baik. Aku yakin dia pasti merasa menyesal. Dan mungkin tak suka?
"Maaf," gumamnya yang didengar semua orang.
"Maaf. A-Angel kira itu.." .
"Lo kenapa?" Tanya salah satu teman Gean saat itu.
"Angel pernah bertemu dengan kembaran Gean. Tapi, menganggap kalau itu Gean. Maaf."
Terkejut?
Jelas. Aku bahkan tidak memiliki ekspetasi seperti tadi sama sekali tentang gadis itu. Bagaimana bisa dia meminta maaf dan bukan merasa kesal?! Bagaimana gadis itu terlihat sangat polos?
"It's okay. Bukan masalah besar," jawabku saat itu. Yang menjadi kalimat rutin tidak apa-apa saat gadis itu salah menyebutkan nama. Berusaha tenang. Padahal jelas hatiku tengah berguncang.
Setelah hari itu, sedikit demi sedikit aku tidak lagi menjauhinya. Berusaha tidak memikirkan apapun tentangnya dan menjalani hidup seperti biasanya. Walau akhirnya aku harus memendam perasaan itu dua tahun lamanya. Mungkin lebih? Aku tidak ingat. Yang pasti, aku masih merasakannya sampai saat ini. Benar. Sampai sekarang perasaan itu tidak hilang. Semoga saja tidak terluka dan bertahan sampai dia menyadarinya.
"Kok Gean lama, ya?" Tanyanya dengan nada yang mulai kesal. Aku tersenyum melihat wajahnya. Bibirnya yang tipis mengerucut ke depan dengan pipi yang semakin mengembung. Pesanan kami sudah datang 5 menit yang lalu. Tapi Gean belum juga datang. Sepertinya ada yang salah di sini. Apa anak itu menyadari jika aku butuh waktu dengan gadis ini? Jika benar, Tuhan sedang berbaik hati ternyata. Bisa juga Gean bersikap peka. Setidaknya untuk saat ini hal itu lebih baik.
"Eh? Iya juga," jawabku seolah baru tersadar. Padahal sejak tadi aku sudah merasa ada yang Gean rencanakan.
"Padahal Angel tadinya mau nanya sama Gean."
Aku menutup mulut. Menahan diri untuk tidak bertanya apa yang ingin Angel bicarakan dengan adikku. Ya, memang terkesan lebay. Tapi rasanya sesak saat gadis ini terus menyebut nama Gean. Memang sih, daripada aku yang terlalu lembut, Gean adalah sosok lelaki yang misterius. Kadang, akupun berfikir apakah semua teman perempuannya akan suka dengan Gean? Atau mungkin sebaliknya? Mengingat Gean terlalu kaku.
"Menurut Rian, Gean itu suka cewek kaya gimana?" Tanya Angel tiba-tiba. Aku tertegun beberapa saat. Sialan! Kenapa rasanya menyesakkan sekali? Apa ini yang dinamakan cinta? Kenapa rasanya terlalu nyeri sampai aku bisa merasakan ada yang menghimpit dadaku.
"Ehm, gak tau?" Jawabku tidak yakin.
Karena setahuku Gean berpacaran dengan perempuan yang random. Kadang baik, jutek, galak, lembut..? Aku tidak tahu. Bagaimana tipe perempuan ideal untuk Gean. Lelaki itu sangat tertutup. Kalaupun aku beritahu, aku tidak yakin itu benar pilihan Gean. Dan lagi, jarang sekali Gean membawa perempuan yang menjadi kekasihnya ke rumah. Ditambah dengan hubungan kami tidak sedekat itu sebagai kembaran. Ada kalanya kami merasa jauh satu sama lain dalam hal tertentu. Seperti hal percintaan misalnya.
"Rian yakin gak tau?" Tanya Angel merasa putus asa.
"I-iya. Gean pacarannya random," jawabku seadanya. Angel menopang dagu dengan tangannya. Mungkin gadis itu merasa gagal dalam mencari informasi?
"Coba tanya sama Mama," saranku.
"Mama? Tante Riana?"
"Iya. Kayanya Mama tahu Gean suka tipe cewek kaya gimana."
"Tapi.. malu," cicitnya pelan. Aku terhenyak menatap wajahnya yang perlahan merona. Merona untuk lelaki asing yang tak lain adalah adikku sendiri. Bibirku tertarik membentuk senyum simpul.
"Mama asyik, kok. Tanya aja. Mau belajar masak juga, kan?"
"Iya juga sih. Tapi, beneran gak papa? Nanti kalau Tante mikir yang aneh tentang Angel gimana?" Gadis itu memberenggut kecewa. Takut akan pemikirannya yang aneh.
"Aneh? Maksudnya?" Tanyaku tak paham. Memangnya Mama akan menganggap Angel seperti apa jika gadis itu bertanya pada Mamaku?
"Ya, aneh. Soalnya nanya kaya gitu."
"Daripada dapet informasi dari orang luar, kan? Kalau salah gimana? Terus nanti malah kebalikan dari yang Gean suka," ujarku yang berhaisl membuatnya mengangguk paham.
"Iya sih.."
Aku tidak yakin sampai kapan bisa tahan dengan rasa sesak ini. Semoga saja Gean cepat kembali. Sepertinya waktu berdua kami sudah cukup. Kalau dibiarkan lebih lama lagi, aku rasa semuanya malah menjadi kacau.
Help me, Gean.. kembalilah segera!
Drrk.
Angel mendongkak. Melihat siapa yang menarik kursi di sebelah mereka seraya menunduk. "Duduk," titah seseorang yang datang pada meja kami secara tiba-tiba. Aku ikut mendongkak, melihat siapa yang baru saja berbicara. Gean di sini. Tapi.. kenapa Fera juga ada di sini. Apa ada sesuatu yang terjadi? Dan kenapa keduanya terlihat sedang tidak baik?
"Gak perlu. Makasih," ujar Fera dengan nada ketusnya. Aku bisa melihat Gean tersenyum. Sebentar.. sebenarnya ada apa?
Aku berdiri, baru akan membuka suara dan bertanya. Gean sudah lebih dulu menatapku untuk diam. Ya, baiklah. Sepertinya memang harus diam. Yang terpenting aku sudah selamat dari situasi tidak mengenakan ini. membiarkan Gean dan juga Fera untuk duduk di antara kami. Namun, bisa aku sadari jika ada seseorang yang kini tampak tak nyaman.