Dua hari berlalu sejak kejadian di mana Rian yang 'kencan' dengan Angel tiba-tiba. Semuanya berjalan seperti biasanya. Kesibukan sehari-hari mengenai dunia kuliah kembali dirasakan si kembar. Belum lagi kesibukan lainnya. Seperti halnya Rian sekarang. Lelaki itu sedang sibuk mengatur jadwal pada ponselnya. Memeriksa apakah ada hal penting yang harus ia lakukan saat ini atau tidak. Hanya tinggal 2 kelas lagi setelahnya pulang dan tampil di cafe sampai malam. Tak percaya dengan apa yang ia lihat, Rian kembali melirik ponselnya. Benar, hanya itu acara hari ini. Ia bernapas lega. Setidaknya hari ini ia masih bisa berdiam diri di ruang musik nanti malam.
"Lo gak pesen makan?" Tanya Akbar yang baru saja sampai dengan satu mangkuk bakso dan satu piring siomay. Belum lagi jus mangga dan satu botol mineral yang lelaki itu kembali ambil di meja saji.
"Sumpah, kalau lo makan segini banyak, penjual di sini laris manis." Akbar tertawa mendengar ucapan Agung. Lelaki yang duduk tak jauh darinya itu menggelengkan kepala melihat porsi makan Akbar yang tidak berubah sejak pertama kuliah. Lelaki itu memang monster makan. Semua yang ada langsung diambil dan dimakan dalam sekejap. Seolah tidak akan ada hari esok untuknya memakan makanan itu. Tapi anehnya tubuh lelaki itu terbentuk dengan sempurna tanpa ada yang membuncit.
"Itulah gunanya gua hidup. Membantu para pengrajin makanan dalam mencari rupiah." Marcel tertawa kecil seraya menggelengkan kepala. Rian ikut tertawa mendengar jawaban Akbar. Keempat lelaki itu sibuk dengan obrolannya sampai melupakan jika di meja mereka masih ada seorang gadis yang sibuk dengan satu porsi katsunya.
"Iya bener. Lo gak mesen makan, Yan?" Tanya Agung
"Nggak. Mama buat bekel."
"Masih jaman?" Tanya Fera ketus.
"Bukan masalah masih jaman apa nggaknya sih. Sayang aja Mama buat banyak. Di rumah juga gak akan ada yang makan. Jadi gua bawa," jawab Rian jelas. Ia mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna ungu tua dari dalam tasnya dan mulai membuka tutup bekalnya saat semua mata temannya tertuju. Gerakan tangannya memelan begitu melihat semua mata tertuju pad akotak bekalnya. "Pada penasaran, kan?"
"Sialan!" Umpat Marcel kaget, karena ia yang kebetulan duduknya dekat dengan Rian. Alhasil suara Rian berhasil mengejutkannya yang penasaran dengan isi kotak bekal lelaki itu. Yang lain ikut mendengkus sebal mendengarnya.
"Sorry, Bang. Nyantai." Rian tertawa kecil seraya menepuk bahu Marcel yang terkejut dengan suaranya di tengah keheningan tadi.
"Kaget gua," ujar Marcel seraya membenarkan letak kacamatanya.
"Uwih!! Nasi bento gais!" Seru Agung seraya menatap binar pada makanan yang Rian bawa.
"Anjir! Gua kira mie goreng yang udah ngebentuk omprengnya," kelakar Akbar yang takjub melihat bentuk-bentuk lucu di dalam kotak bekal Rian.
“What is ompreng?” Tanya Agung sok inggris. Lelaki itu menatap Akbar dengan tatapan jijik. Akbar yang mendengar itu langsung tertawa kecil dan menyuapkan makanan yang ia miliki pada Agung.
“Gak usah banyak ngoceh.”
"Mama lo kreatif banget," puji Marcel seraya tersenyum.
"Sebenernya dari dulu Mama suka banget buat kaya gini. Karena kebetulan gua sama Gean kan mau punya adik cewek. Tapi ternyata gak jadi. Makanya gua bawa aja. Soalnya sering Mama buang kalau keliatan masih di meja."
"Besok-besok kayanya lo harus buat Kartu Keluarga baru, Yan," saran Agung.
"Buat apa?" Rian bertanya seraya mengernyit.
"Masih nanya buat apa. Yang buat masukin Akbar ke anggota keluarga lo. Sayang ‘kan makanan sebagus itu dibuang. Kan kalau ada Akbar di keluarga lo lumayan. Membantu agar tidak mubazir," ujar Agung yang diakhiri tawa.
"Sialan lo!" Gerutu Akbar seraya menepak kecil kepala Agung. Marcel yang mendengar lelucon Agung hanya bisa tersenyum, begitupun dengan Rian. Kepala Rian bergerak melihat Fera yang sejak tadi sibuk sendiri. Gadis itu juga hanya menanggapi seperlunya. Sepertinya sedang sibuk dengan hal lain.
"Lo lagi apa, Fer?" Tanya Agung seakan mewakili apa yang kini ada di otak Rian. Fera menolehkan kepala sesaat lalu menunjukkan ponselnya pada teman-temannya. Di sana terdapat satu room chat dengan salah satu pemilik cafe yang ada di dekat kampus. Karena penasaran, Rian menscroll dari atas lalu membaca di dalam hati. Begitupun dengan yang lain. Semuanya sesaat sibuk menatap ponsel Fera sebelum bertatapan satu sama lain.
"Beliau minta tampil," ujar Fera menyebutkan inti dari percakapannya dengan sang pemilik cafe.
"Kapan?" Tanya Rian. Lelaki itu menyantap bekalnya seraya memberikan kembali ponselnya pada Fera.
"Hari ini."
"Kelas tinggal 2 lagi kan?" Tanya Akbar memastikan. Rian dan Marcel mengangguk mengiyakan. Memang sih, kelas mereka hanya tinggal dua. Dan kemungkinan selesai sekitar jam 2 siang nanti. Lalu tampil di cafe terakhir sore hari. Masih ada jeda sekitar 3 jam.
"Gua masih ada 3 kelas," ujar Fera. Benar juga. Fera tahun ini mengambil kelas tambahan untuk semester depan. Gadis itu terlampau pintar sampai mengambil mata kuliah yang seharusnya di kerjakan semester depan menjadi semester sekarang. Dan pasti akan sedikit memakan waktu. Kelas terakhir Fera cukup lama. Apalagi setahu Rian dan Marcel, dosen yang mengajar cukup membosankan.
"Lo semua tampil duluan," saran gadis itu seraya memainkan ponselnya lagi tanpa melihat kea rah teman-temannya satu persatu.
"Maksudnya?" Agung bertanya tak paham.
"Lo semua tampil di cafe dekam. Gua nggak dulu," jelas Fera. Gadis itu sudah selesai makan dan bangkit dari kursinya.
"Tapi gak bisa gitu dong, Fer."
"Sayang, Yan. Lo tau kan gimana pendapatan kalau di cafe dekam?" Jawab Marcel yang sesaat membaca pikiran Fera.
"Lo semua bahas aja dulu. Gua mau ambil buku ke perpus. Duluan!" Pamit gadis itu sebelum berlalu pergi meninggalkan teman-teman seangkatan plus satu bandnya. Gadis dengan jaket denim dan celana kulotnya itu benar-benar menghilang ditelan gerbang ketika para lelaki menatap punggungnya yang menjauh.
"Tapi gak mungkin kita tampil tanpa Fera, Cel," ujar Akbar menengahi.
Apa yang Akbar katakan memang benar. Posisi Fera di grup band mereka cukup penting. Sebagai pemegang gitar listrik, Fera sangat mahir membaca situasi. Terkadang gadis itu juga bisa mengalihkan nada yang sumbang hanya dengan petikan gitarnya. Namun, kalaupun Fera tidak ada bukan masalah besar. Rian dan Agung bisa memainkan gitar. Tapi bukan gitar listrik. Dan lagi, cafe dekam (dekat kampus) sangat royal pada mereka. Tak jarang saat mereka menjadi pelanggan di sana, semua pesanan digratiskan. Ditambah bayaran yang bahkan bisa dua kali lipat dari bayaran cafe biasa. Mungkin karena anak-anak kampus sering beristirahat di sana dibanding kantin kampus yang jaraknya cukup jauh dijangkau.
"Lagian kalau kita maksa Fera ikut, dia mending batalin aja. Lo semua tahu kan Fera gimana. Udahlah, terima aja. Kalau Fera kagak sibuk juga dia pasti sempetin," saran Agung bijak.
"Bener kata Agung. Kalau emang komisinya gede, bagi buat Fera. Atau beliin sesuatu buat dia. Gampang, kan?" Tambah Akbar lagi. Semua terdiam sesaat sebelum akhirnya menyetujui pendapat Agung. Fera juga bukan anak yang mudah terbawa situasi. Dan lagi, Fera pasti paham.
"Ya udah. Gua ngikut aja," ujar Marcel.
"Ini katsu punya Fera kagak diabisin apa? Buat gua aja dah," sambar Akbar dan menarik piring Fera yang ada di seberangnya sebelum memasukkan beberapa sisa potongan katsu Fera ke dalam piringnya.
"Perut karet."
Akbar hanya tertawa. Lelaki berbadan besar itu nyatanya tidak tersinggung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh temannya. Toh, memang benar perutnya bisa menampung semua makanan.
***
"Chat Fera dulu. Nanti gua kasih tau yang lain buat langsung ke parkiran," ujar Rian pada Marcel yang berada di sebelahnya. Lelaki itu lantas keluar dari kelas begitu melihat teman-temannya yang melambai di depan sana. Sepertinya kedua orang itu sudah lebih dulu keluar dari kelas.
"Gimana? Jadi?"
"Jadi. Marcel lagi chat Fera. Langsung ke parkiran aja. Kayanya langsung tampil juga."
Agung dan Akbar mengangguk serentak. Kedua manusia itu berlari di sepanjang koridor bagai anak kecil. Saling memegang bahu dan menyamakan langkah. Rian yang melihat itu semua hanya mampu menggeleng maklum. Tingkah tidak jelas teman-temannya kembali kambuh. Walau begitu, nyatanya tanpa kedua manusia tadi, semuanya terlihat monoton. Agung dan Akbar adalah pasangan yang mudah mencairkan suasana. Apalagi mengenai humor mereka yang kadang anjlok.
"Udah gua chat. Katanya duluan. Beres kelas, dia ke cafe."
Rian mengangguk sekali dan berjalan berbarengan dengan Marcel. Banyak pasang mata yang menatapnya dan juga Marcel. Dirinya yang terkenal ramah membuat Rian menebar senyum manis ke sekitar. Begitupun Marcel. Sesekali lelaki itu melempar senyum pada teman yang ia kenal atau mungkin dosen muda yang lewat. Keduanya berhasil menjadi pusat perhatian anak-anak kampus. Rian yang tampan dan Marcel yang tenang. Perpaduan hebat yang tak bisa dikalahkan.
"Kata Fera, cafe dekam punya ayahnya temen kembaran lo," kata Marcel seraya menunjukkan ponselnya. "Siapa?"
"Nih, Fera dapet di status beliau."
"Eh, ini.."
"Bener temennya Gean?" Tanya Marcel. Rian mengangguk sekali.
"Kayanya iya. Tapi gua lupa namanya."
"Namanya Viona."
"Lo hapal?" Tanya Rian. Marcel menggeleng.
"Nggak. Dari Fera. Kayanya dia hapal waktu main ke rumah lo. Dia yang lerai anak ini sama Angel kan waktu itu?"
"Oh iya, bener. Baguslah. Jadi gampang deket sama beliau kalau tahu itu anaknya." Marcel mengangguk setuju. Lelaki itu memasukkan ponselnya dan bergegas menuju motornya ketika sampai di parkiran. Sedangkan Akbar dan Agung sedang ribut masalah helm. Karena Agung yang tidak membawa motor, anak itu sepertinya nebeng pada Akbar. Tapi Akbar tidak mau sebab helm pasti akan dipakai oleh Agung.
"Lo pada mau diem di sini sampe kapan?" Tanya Rian dari balik helmnya. Agung dan Akbar menyengir lebar sebelum akhirnya naik ke atas motor secara bersamaan. Alhasil motor ninja berwarna hitam itu terguling bersama dengan tubuh keduanya. Tawa anak-anak yang sedang lewat menjadi pengisi bakcsound siang itu.