"It's up to you..
And it's up to me.."
Lirik demi lirik lagu terucap dari bibir Rian. Lelaki itu begitu menghayati lagu yang sedang ia nyanyikan. Tak lupa gitar di pangkuannya kembali ia petik dengan nada yang sesuai. Begitu terus sampai lagu tersebut habis. Diakhiri dengan senyum manis Rian dan tepukan dari pada pendengar maupun penonton.
"Terima kasih," kata Rian dan yang lain seraya turun dari panggung. Keempat lelaki itu langsung menuju meja khusus di belakang panggung yang berada di area luar. Lebih tepatnya area yang menghadap ke arah taman. Di sana ternyata sudah ada Fera yang sedang memainkan laptop dengan serius. Ditemani dengan seseorang yang rasanya tidak asing bagi Rian dan yang lain.
"Itu.. anaknya pemilik cafe ini, kan?" Tanya Agung yang merasa familiar dengan gadis di sebelah Fera.
"Iya. Yang kemaren ke rumah lo juga kan, Yan?" Tambah Akbar. Rian mengangguk sebelum menatap Marcel yang juga tengah menatapnya. Sedang apa gadis itu? Kenapa menemani Fera? Dan.. Sepertinya Fera juga tidak menerima gadis itu di mejanya. Terlihat dari wajah dan sikap Fera yang acuh pada gadis itu.
"Udah nunggu lama?" Tanya Rian setelah menarik kursi. Yang mampu menyita perhatian Fera dan juga Viona. Kedua gadis itu menoleh bersamaan. Menatap ke arah Rian dengan tatapan berbeda. Fera yang menatap biasa dan Viona yang tersimpan arti dibaliknya.
"5 menit di sini," jawab Fera setelah melihat jam di tangannya. Perempuan yang akurat dan sangat memperhitungkan waktu. Tidak aneh lagi bagi sosok Fera yang sangat disiplin dan enggan membuat masalah sekecil apapun.
"Kelasnya udah beres, Fer?" Tanya Agung.
"Udah,"jawab Fera seadanya.
"Kalau gitu bisa ikut ke cafe nanti jam 5 kan?" Fera mengangguk sekali seraya mengeluarkan permen dari kantung celananya saat Akbar dan Rian menyodorkan tangannya. Kebiasaan kedua lelaki itu yang akan selalu meminta permen sehabis tampil di depan sana.
"Ini bukan rasa sirop kan?" Tanya Akbar memastikan. Fera tersenyum tipis sebelum menggeleng. Gadis itu kemudian menyimpan file di laptopnya yang sempat ia buat sebelum menatap para temannya. Fera yang memang acuh dan tidak suka ada orang asing, membiarkan gadis lain berada di sebelahnya. Ia tidak banyak bicara. Dan lagi, Fera yakin gadis di sampingnya tidak mendadak bisu atau mungkin tidak bisa bicara? Sebab lima menit yang lalu, gadis itu terus mengoceh dan bertanya pada Fera. Hanya saja Fera tidak menanggapi dan memilih diam.
"Yan," bisik Agung seraya menyenggol lengan Rian yang kini tengah sibuk mengunyah permen karetnya. Lelaki itu seakan paham dengan tatapan mata lain yang kini sedang ada di samping Fera. Ia juga sadar jika ada sesuatu yang sedang ditunggu gadis itu sejak tadi.
"Eh, iya. Emm, Viona?" Tanya Rian memastikan. Gadis di samping Fera itu tersenyum dan melambai kecil pada Rian. Yang dibalas dengan senyuman manis dari Rian. Sontak saja gadis bernama Viona itu tertegun. Walau bukan sekali dua kali dirinya melihat senyum lelaki itu, tetap saja rasanya tak biasa. Apalagi saat lelaki itu juga menyapanya penuh kehangatan.
"Dari tadi?" Tanya Rian berbasa-basi.
"Eh, enggak kok. Bareng sama Fera tadi."
Marcel mendongkak sesaat dan menatap wajah Viona beberapa detik sebelum bibirnya mengusung senyum miring. Berbeda dengan Rian dan Agung yang mulai membuka obrolan bersama dengan Viona, Akbar dan Marcel malah saling menyenggol siku satu sama lain. Merasa pintar karena mengetahui sesuatu yang baru. Keduanya saling menatap sebelum akhirnya berdehem bersamaan. Fera yang awalnya acuh kini mulai merasa bingung. Apalagi saat Marcel yang termasuk anak-anak cuek mulai tertawa kecil bersama dengan Akbar. Ada apa?
"Kenapa?" Tanya Fera penasaran.
"Kepo banget," balas Akbar dan Marcel bersamaan. Fera berdecih pelan. Gadis itu lantas kembali sibuk bermain ponsel.
"Gua baru tahu kalau ini cafe bokap lo," ujar Rian dengan senyum ramahnya. Senyuman andalannya yang selalu dipakai pada semua orang. Semua orang.
"Sama. Gua juga baru tahu kalau band yang ngisi tiap minggu ternyata bandnya lo." Rian tersenyum lagi. Alamak! Ini senyum apa sih?! Kok bisa buat hati Viona meleleh.
"Jangan banyak senyum, Yan. Nanti disangka gila," celetuk Marcel bercanda. Lelaki itu menyenggol lengan Rian kecil.
"Iya, Yan. Kita sih udah biasa. Yang lain sih belum tentu," timpal Akbar. Rian hanya tertawa kecil menanggapi. Membuat lesung pipi kecil yang berada di dekat bibir itu terlihat. Viona yang melihat hal itu buru-buru memegangi dadanya yang berdentum cepat. Rasanya seperti ada yang mau meledak. Merasa sangat tak biasa melihat bagaimana manisnya kembaran temannya itu.
Keseharian yang selalu mantap wajah Gean, membuat Viona terhenyak. Wajah Gean itu macam papan triplek. Datar. Mulus. Tidak ada ekspresi lebih. Sampai-sampai Viona merasa bosan melihatnya. Seperti hati lelaki itu beku dan ada perasaan apapun. Berbeda sekali dengan sosok yang tengah Viona pandang sekarang. Benar juga, pandangan pertama memang tidak pernah salah.
"Eh iya. Papa chat gua tadi. Katanya minta Rian ke ruangannya."
"Oh, komisi, Yan! Cepet!" Titah Akbar, Agung, Marcel dan Fera dengan semangat. Jelas saja Rian langsung menatap teman-temannya dengan kesal. Memang ya, bagian komisi semua orang akan langsung menjadi bersemangat.
"Oh iya. Kalau gitu, gua ke sana dulu."
"Bareng aja. Gua juga mau ketemu sama Papa," ujar Viona ikut bangkit. Rian hanya mengangguk singkat. Lagipula Viona hanya ingin bertemu dengan ayahnya, kan? Dan dirinya juga hanya mau mengambil uang.
"Lo udah lama nge-band?" Tanya Viona membuka obrolan di tengah perjalanan keduanya menuju ruangan Papa Viona. Rian menoleh sesaat seraya mengangkat kedua halisnya menatap Viona.
"Lumayan. Dari SMA udah suka main musik. Kalau nge-band baru dari kuliah," jawab Rian. Viona mengangguk. Gadis itu kembali diam. Merasa canggung karena hanya diam dan tidak kembali mengobrol. Anehnya, Rian malah terlihat biasa saja. Lelaki itu juga tidak terlihat mau membuka obrolan.
"Emm, Rian."
"Hem?" Rian menggumam kecil. Keduanya sudah sampai di depan pintu ruangan Papa Viona. Namun Viona buru-buru menahan knop pintu yang baru akan Rian buka.
"Besok ada waktu?" Tanya Viona tanpa malu. Rian mengedip beberapa kali. Memastikan jika Viona bertanya padanya. Setelah melihat sekeliling yang kosong, Rian langsung menunjuk dirinya.
"Gua? Oh, ada." Viona tersenyum tipis.
"Jam?"
"Hah?"
"Besok ada waktu jam berapa?"
"Ya, emang?"
"Jalan, yuk?"
***
Di lain tempat Gean tengah duduk dengan rokok yang diapit jari telunjuk dan jari tengahnya. Lelaki itu sibuk menghisap asap nikotin dari pembakaran rokok. Beberapa kali kepalanya bersandar pada kepala kursi. Tangannya yang lain memegang stir mobil. Di telinganya tersumpal sebuah earphone berwarna putih. Sebuah lagu tak lupa ia setel untuk ia dengarkan.
"Kamu gak ada acara besok, Dek?" Tanya sang mama dari kursi belakang.
"Gak ada," tanya Gean dingin. Beberapa kali lelaki itu membuka jendelanya untuk mengeluarkan asap keluar. Begitu melewati jalanan lenggang, mereka akhirnya sampai di depan sebuah supermarket. Gean lalu membuka kunci pintu mobil dan membiarkan sang mama keluar bersama dengan asisten rumah tangganya.
Ya, sepulang dari kampus tadi Riana menelepon dan meminta diantarkan ke supermarket karena sang papa sedang berada di kantor dan Rian yang belum pulang. Alhasil Gean mengiyakan walau harus izin beberapa jam ke depan pada pelatih basketnya. Sebab beberapa minggu lagi universitasnya akan mengadakan pertandingan basket besar-besaran. Dan beberapa hari ke depan pelatihnya menginginkan agar mereka sparing dengan beberapa universitas lain dahulu. Dan hari ini adalah jadwal latihan. Demi sang mama, Gean harus menurunkan ego dan meminta maaf karena izin beberapa jam ke depan.
"Kamu gak turun?" Tanya sang mama seraya memberikan beberapa lembar uang pada Gean.
"Gak." Gean menerima uang itu dan kembali pergi. Tadi Mamanya juga berpesan agar Gean mengisi bensin selama menunggu dirinya pergi membeli keperluan rumah.
Drrt. Drrt. Drrt.
"Halo?"
"Lo di mana?" Tanya Rian dari seberang sana. Gean membelokkan stir mobilnya memasuki pom bensin terdekat.
"Ada di pom."
"Bisa jemput gua?"
"Lo di mana?" Tanya Gean balik. "Mas, semuanya." Gean memberikan beberapa lembar uang pada pegawai pom bensin di depannya.
"Cafe dekam. Nanti gua shareloc."
"Gak bawa motor?" Tanya Gean seraya menghisap rokoknya lagi.
"Bukan anterin gua. Lo mau balik ke kampus, kan?"
“Sudah selesai, Mas,” ujar petugas pom dengan ramah.
"Heem. Makasih, Mas." Gean kembali melajukan mobilnya. Lelaki itu membuka ponselnya saat merasakan getaran. Ternyata Rian sudah mengirimkan titik lokasinya.
"Siapa?"
"Ada temen gua. Kebetulan rumahnya deket sama kampus lo. Gua gak bisa anter. Ciama tiba-tiba telepon. Dia minta gua ke rumah Om Revan."
"Bentar gua ke sana."
"Oke. Makasih."
Panggilan berakhir. Gean sebenarnya tidak masalah jika harus menjemput atau bahkan mengantar siapapun itu. Asal tujuannya jelas dan tidak memakan waktu yang banyak. Dan lagi, Gean rasa itu bisa menjadi alasan pada Mamanya agar wanita itu cepat dalam berbelanja. Setidaknya tidak memakan waktu berharganya.
Sebentar.. teman Rian, ya? Siapa? Bukankah teman Kakak kembarnya itu laki-laki? Ah, ada satu perempuan.
Takut sang mama mencarinya atau ada hal yang terlupa, Gean bergegas memberi pesan online pada Mamanya. Mengatakan bahwa ia akan menjemput teman Rian dahulu. Yang langsung dibalas oleh sang mama dengan kalimat hati-hati. Tak butuh waktu lama bagi Gean sampai di tempat tujuan. Pastinya karena kebiasaanya yang selalu membawa kendaraan dengan kecepatan tak tahu diri. Layaknya jalanan milik dirinya sendiri. Mata Gean menatap sekitar. Tidak ada yang sedang menunggu. Dan di mana Rian?
Tok. Tok. Tok.
Gean menurunkan kaca mobilnya dan membuang rokok yang tersisa seujung kelingking. Matanya menatap gadis dengan hoodie hitamnya itu dengan tatapan tajam.
"Lo Gean?" Tanya gadis itu seraya menatap Gean balik. Jenis tatapan serius. Belum sempat menjawab, gadis itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang.
"Lo--"
"Gua temen Rian yang mau lo jemput. Jalan."