Keesokan harinya, Rian disibukkan dengan masalah Ciama yang memintanya jalan-jalan. Masalah pagi yang membuat Rian sakit kepala dan merasa rumit. "Gak bisa, Ciama. Abang ada janji sama orang lain."
"Gak mau! Ciama besok ke Arab, Abang! Masa Abang gak mau nemenin Ciama jalan-jalan?!" Gerutu Ciama seraya menatap Rian dengan wajah kesalnya.
"Sore aja gimana? Abang sekarang harus berangkat," saran Rian yang masih berusaha tenang dan tidak terpancing emosi.
"Ish! Maunya sekarang! Siapa sih emang yang janjian sama Abang?! Pacar Abang?" Tanya Ciama ngotot.
"Bukan. Tapi—“
"Tuuh! Pacar juga bukan!" Potong Ciama seraya menatap Rian dengan tajam.
"Ciama!" Bentak pria paruh baya yang baru saja keluar dari kamar dengan jasnya. Matanya menatap tajam pada anak pertamanya itu. Menggeleng pelan, pria itu meminta agar gadis yang kini bersedekap d**a diam.
"Tapi, Pa.."
"Biarin Rian berangkat. Waktu masih banyak. Besok juga berangkat siang, kan?" Usul pria itu dengan wajah tenangnya dan terlihat senyum manis dari bibir pria itu. meihat anaknya yang tidak bisa menolak ucapannya, pria yang tak lain adalah Ayah dari Ciama itu akhirnya bisa bernapas lega dan tersenyum kecil pada Rian.
"Ck!" Ciama, gadis SMA itu berdecak sebal. Sebenarnya ia tahu Rian—Abang yang ia sebut sejak tadi itu akan berangkat ke mana dan menemui siapa. Ia juga sebenarnya tahu alasan Rian pergi menuju taman. Ciama tidak suka gadis yang akan bertemu dengan Rian. Dibanding gadis itu, Ciama lebih suka Angel. Walaupun dirinya tidak suka dengan Angel. Setidaknya Angel lebih baik daripada gadis yang tiba-tiba mengajak Rian jalan.
Darimana Ciama tahu? Itu bukan hal yang penting. Sebab kemarin pun Rian sudah menceritakannya. Hanya saja tidak menyebut siapa yang akan lelaki itu temui. Dan lagi Rian sepertinya tidak ingin membuat mengatakannya pada Ciama. Selain karena lelaki itu merasa tidak enak pada Ciama, Rian juga memang sudah memutuskan untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Namun sayangnya, Ciama cukup pintar untuk tahu apa yang memang Rian sembunyikan.
"Rian, berangkat saja. Ciama biar sama Om," ujar pria paruh baya itu memperbolehkan Rian untuk pergi.
"Eh, gak papa, Om?"
"Gak boleh! Papa kenapa sih?!" Sentak Ciama kesal. Rian yang enggan Ciama kembali keras kepala dan marah pada Revano—Om sekaligus Kakeknya itu mulai mendekat pada Ciama.
"Kenapa gak mau banget Abang ketemu sama dia? Abang tahu kamu pasti cari tahu tentang dia, kan?" Tanya Rian penuh selidik seraya menatap Ciama dengan senyum miringnya. Ciama mendengkus sebal. Anak itu menyambar ponselnya di atas meja dan mulai mengutak-atik dengan cepat. Sepertinya ada hal yang ingin gadis itu tunjukan pada Rian.
"Liat!" Tunjuk Ciama menunjuk foto-foto yang terunggah di instragam perempuan yang akan Rian temui. "Abang yakin mau ketemu orang kaya dia?!"
Rian menatap puluhan foto di ponsel Ciama. Bibirnya menarik senyum manis. Dengan gemas, tangan Rian terangkat guna mengusap kepala Ciama lembut. Tak lupa tangannya juga mencubit gemas pipi Ciama. Membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Bibir Ciama langsung maju ke depan dengan wajahnya yang muram. Terlihat sekali jika gadis itu kesal pada Rian.
"Ya kan dia juga gak mungkin ketemu Abang pake baju kaya gini, Ciama," ujar Rian memberi Ciama pengertian.
"Tapi dia kaya pel--"
"Ciama!" Peringat Rian disertai tatapan tajamnya. Ciama mencebik kesal. Padahal ia sudah menunjukkan aib-aib gadis itu. Kenapa Rian hanya bereaksi seadanya sih?!
"Abang gak suka sama dia, Ciama. Abang cuman mau ketemuan aja."
"Ya, tapi dia gak pantes ketemu Abang!" Seru Ciama menolak. Gadis itu tampaknya masih kekeh dengan apa yang menjadi argumentnya. Membiarkan Rian yang sudah merasa pusing dengan segala yang Ciama tunjukkan saat ini. Ia sudah tidak punya banyak waktu sekarang. Ia harus segera pergi.
"Terus yang pantas siapa?" Tanya Rian penasaran. Senyum di bibirnya masih terlihat. Hal itu malah semakin membuat Ciama kesal. "Abang tahu kamu khawatir. Tapi Abang gak suka sama dia kok. Jadi tenang aja. Mau dia kaya gimana sehari-harinya juga Abang gak masalah. Toh Abang gak suka sama dia."
"Tapi dia suka sama Abang!" Tukas Ciama keras. Gadis itu berdecak sebal.
"Ya emang kenapa? Suka itu fitrah. Wajar dong kalau dia suka sama Abang. Abang kan ganteng,” jawab Rian percaya diri.
"Idih! Jijik! Gantengan juga Mar.."
"Mar siapa?" Tanya Rian penasaran dengan kelanjutan ucapan Ciama.
"Tau ah! Udah sana berangkat aja." Rian terkekeh pelan dan mengusap kepala Ciama sekali lagi sebelum berpamitan dengan Tante dan Omnya juga Reza. Setelahnya lelaki itu pergi menuju taman kota. Yang mungkin saja gadis itu sudah menunggu sejak tadi.
Rian tahu apa yang Ciama khawatirkan. Tapi baginya itu tidak beralasan. Bagaimanapun gadis itu, Rian hanya memenuhi janjinya untuk menemani gadis itu. Dan lagi seperti yang ia katakan, Rian hanya menyukai gadis yang kini berdiam di hatinya. Jadi baginya itu bukan masalah besar. Sekalipun gadis itu memiliki masalah dengan kehidupannya, toh Rian tidak ikut campur. Dan masalah rasa suka, itu semua fitrah dari Tuhan. Kita tidak bisa membatasi atau menghalanginya. Biarkan mereka menyukai kita selama tanggapan dan perilaku yang diberikan tidak berlebihan.
Bukan begitu?
***
Rian menaruh helmnya. Sesekali lelaki itu mencari keberadaan gadis yang sudah ia tunggu sejak lima belas menit yang lalu. Taman kota terlihat lebih lenggang dari sebelumnya. Mungkin karena hari ini bukan weekend. Dan lagi, ini bukan jam istirahat atau pulang kantor. Jadi aman-aman saja untuk bertemu, kan?
Kaki panjangnya berjalan menyusuri sekitar taman. Enggan membuka ponsel yang terus bergetar, Rian memilih mencari dengan mata kepalanya sendiri. Sebab ia tahu siapa yang saat ini tengah sibuk meneleponnya. Tak lain dan tak bukan pastinya Ciama. Gadis itu pasti meminta dirinya untuk terus memberi kabar. Alhasil seharian itu akan jadi percakapannya dengan Ciama. Bukan dengan gadis itu.
Tapi, Rian memaklumi hal tersebut. Sebab yang Ciama lakukan adalah hal yang wajar bagi Rian. Itu semua karena Rian yang pernah sekali bertemu dengan gadis yang menjadi Kakak tingkatnya dan berakhir mengenaskan. Rian bahkan masih ingat bagaimana semuanya terjadi. Tapi Ciama sudah mengingatkan sehari sebelum dirinya pergi. Persis seperti tadi, bahkan Ciama meretas akun instragam kakak tingkatnya saat itu. Namun Rian tidak menggubris dan malah menyalahkan Ciama karena sudah mengorek-ngorek informasi pribadi milik orang lain.
Hari itu, Ciama keukeuh meyakinkan Rian bahwa wanita itu bukan orang baik. Dan dia ingin bertemu dengan Rian karena membutuhkan Rian yang saat itu sebagai salah satu orang yang berpengaruh di universitas. Bagaimana tidak? Sudah beasiswa sejak awal masuk, memiliki kepintaran yang luar biasa, Ayahnya seorang pengusaha, Ibunya mantan model sekaligus pemilik butik, adik kembar yang tampan dan wibawa yang sangat kentara. Semua orang pasti tertuju padanya. Walau masih baru menjadi mahasiswa baru kala itu, Rian sudah terkenal dengan sendirinya. Dan itulah yang membuat 'wanita ular'-- julukan yang diberikan Ciama saat itu-- mendekati Rian. Semuanya sudah Ciama jabarkan. Tapi ya, namanya juga Rian, tetap akan menemui sekalipun dijahati.
Benar saja, hari itu kesialan menimpa Rian. Lelaki itu sudah menunggu di taman sejam yang lalu dan wanita ular yang katanya akan menemui Rian belum juga datang. Dan seperti ditempa karma hebat, wanita itu datang. Tapi dengan cara yang salah. Mungkin bukan salah, tapi.. emm, murahan? Karena di depan Rian, wanita itu berciuman dengan santai. Seperti tanpa ada masalah. Yang bahayanya adalah Rian saat itu sedang menjomblo. Ditambah wanita itu seakan-akan tidak tahu keberadaan Rian ketika itu. Menyedihkan bukan? Memang terkadang analisis Ciama tidak pernah salah.
Kita kembali ke waktu saat ini. Rian masih sibuk mencari keberadaan Viona. Benar! Setelah kemarin Viona mengajaknya jalan dengan gamblang, Rian yang tak enak hati langsung menyetujui dan mengirimkan nomornya pada Viona. Tentu saja dengan tampang yang tidak tahu apa-apa. Karena memang Rian tidak tahu maksud gadis itu mengajaknya jalan untuk apa.
"Aku udah bilang kan, Kak. Aku gak suka sama Kakak!" Bentak seseorang dari arah jam tujuh. Rian mengernyit pelan, sepertinya itu suara gadis yang kemarin mengajaknya jalan. Spontan Rian menolehkan kepala. Benar saja di sana ada Viona yang sedang bertengkar?
"Tapi gak harus di depan semua mahasiswa, kan?!"
"Apa salahnya? Aku gak suka sama Kakak. Dan aku udah bilang sebelum Kakak buat keribuatan di lapangan kemarin."
"Tapi kamu bisa nerima dulu, kan?! Setelah semua orang bubar, kamu bisa tolak aku lagi!" Bentak lelaki di depan Viona.
Entah kenapa Rian merasa jika ucapan Ciama selalu benar. Hari ini juga sama. Dirinya yang tidak beruntung atau memang takdir ucapan Ciama selalu manjur? Yang pasti sekarang Rian bingung harus ikut campur atau tetap diam di tempatnya. Karena dari penglihatan dan pendengarannya saat ini, bisa dikatakan Viona dalam posisi kurang mengenakan. Para pengunjung taman juga mulai mengalihkan atensinya pada dua orang yang tengah bertengkar tersebut.
"Dan menurut Kakak, aku sebodoh itu?" Tanya Viona marah.
"Apa maksud kamu?"
"Jelas setelah aku terima, Kakak gak mungkin diam aja kan? Pasti Kakak gak akan terima kalau sampe aku tolak setelahnya. Iya, kan?" Ujar Viona memojokkan lelaki itu. Rian memiringkan kepala. Mencoba memastikan lelaki itu bereaksi. Tapi yang ada lelaki itu malah diam dan gugup. Kedua halis Rian menyatu. Hei! Lelaki itu skak hanya karena ucapan Viona? Rian rasanya ingin tertawa keras.
"Udahlah, Kak. Aku udah bilang semuanya kalau kita udah selesai. Dan aku gak mau lagi kalau Kakak sampe buat masalah kaya gini. Karena bukan aku yang malu. Tapi Kakak."
Viona mendelik tajam sekali sebelum akhirnya berbalik pergi. Mata Rian langsung terpaku pada mata Viona yang juga tengah melihatnya. Dengan gaya santainya, Rian melambai kecil seraya tersenyum.
"Rian?"