Anulika duduk bagai seorang terdakwa, tertunduk dalam, di depan kedua orang tuanya yang menatap tajam tak percaya. Kedua jari kakinya saling mengait di bawah meja, menutupi rasa gugup. Garis wajah Hadi mengeras, rahangnya mengetat tajam dengan tatap mata nyalang memperhatikan putrinya yang tertunduk diam. Sementara Kinanti duduk lemas dengan pandangan tak percaya menatap Anulika. Bibir wanita itu bergetar, ingin mengeluarkan suara, tetapi tertahan di tenggorokan. "Sudah berapa bulan, kehamilanmu?" tanya Hadi, suaranya terdengar parau, berusaha menahan kemarahan yang mengelegak di d**a. "Dua bulan, Yah," jawab Anulika pelan, nyaris tak terdengar, tetapi di telinga Hadi jawaban anaknya seperti petir yang menggelegar. Kinanti sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, wanita itu terlihat pa

