bc

Anulika

book_age18+
846
IKUTI
5.0K
BACA
others
drama
sweet
YA Fiction Writing Contest
Fantasy Romance Ⅱ Writing Contest
Girlpower Revenge Writing Contest
Supreme Me Fiction Writing Contest
like
intro-logo
Uraian

Kehidupan Anulika beubah drastis, masa remaja yang seharusnya dilewati dengan banyak cerita bahagia menjadi kisah pelik yang harus ia jalani. Akibat kelalaian seorang dokter, Anulika harus menerima kenyataan bahwa dirinya hamil tanpa suami dan di usia yang masih sangat muda. Ia harus berjuang mempertahankan anak yang dikandungnya di bawah tatapan mata menuduh masyarakat dan tudingan buruk tentang dirinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kesalahan yang Tak di Sengaja
Suara rintihan dari sebuah kamar tidur di rumah sederhana terdengar memilukan. Seorang gadis remaja meringkuk di atas kasur sambil memegang perutnya yang terasa sangat nyeri. Rambut sebahunya basah oleh keringat, akibat tidak kuat menahan rasa sakit yang menyiksa, sedangkan tubuh mungilnya menggigil merasakan dinginnya AC yang berhasil membuat bibirnya yang kecil menjadi pucat. Ini bukan kali pertama ia mengalami nyeri haid yang menyiksa, sejak usianya tiga belas tahun, setiap bulan ia harus berjuang keras menahan nyeri perut. Sering kali dia tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah, dan hanya tertidur di UKS untuk meredakan rasa sakit tersebut. Soal malu jangan ditanya lagi, ia sampai lelah menjadi bahan olok-olokan teman sekolahnya. “Anulika, cepat bangun sarapan. Ayah sudah mau berangkat ke kantor, nanti ditinggal ayah,” teriak ibu dari bawah tangga, memaksa Anulika segera bangkit menuju kamar mandi. “Iya, Bu,” jawab Anulika lirih. Berusaha bergerak secepat yang ia bisa, tetapi rasa nyeri di perut tidak dapat ia tahan, membuatnya menyerah, naik kembali ke atas kasur membaringkan tubuhnya. Ketukan yang terdengar seiring dengan terbukanya pintu kamar, mengejutkan Anulika yang baru saja dapat memejamkan mata. Kinanti hampir saja mengeluarkan ribuan kata mutiara, tetapi tertahan saat ia melihat bagian belakang tubuh Anulika terdapat bercak merah. Wanita itu mendekati putrinya, membelai rambutnya dengan sayang. “Sakit lagi? kenapa nggak bilang Ibu, kalau lagi datang bulan?” tanya Kinanti, menyesalkan sifat anaknya yang suka memendam penyakit sendiri. Anulika meringis, memandang ibunya dengan pandangan memelas, “Perih, Bu,” keluhnya pelan. Perutnya terasa seperti ditusuk seribu jarum, kadanng seperti di iris-iris benda tajam. “Kalau gitu istirahat aja dulu. Ibu turun ke bawah, bilang sama ayah, kalau kamu hari ini izin sekolah.” Kinanti menenangkan putrinya. Anulika mengangguk pelan, menurut dengan semua perkataan ibunya. Ia bangun, memaksakan diri menuju kamar mandi. Rasa basah yang melekat di bagian bawah tubuh membuat Anulika merasa jijik. Di bawah guyuran air hangat, rasa nyeri di perut Anulika sedikit berkurang. Sudah tiga tahun ia menderita nyeri haid seperti ini, sepertinya ia harus meminta ibu untuk membawanya ke rumah sakit. *** Pohon Akasia yang rindang memenuhi halaman rumah sakit, membuat sekitarnya tampak teduh. Angin menghembus lembut, menggugurkan dedaunan yang telah menguning, dan menerbangkan beberapa daun yang menghampar di tanah. Anulika melangkah ragu memasuki lobby rumah sakit. Tiba-tiba saja ketakutan mengetuk pintu hati gadis remaja itu, bagaimana jika hasil tes laboratorium menyatakan jika di perutnya ada penyakit berbahaya. Ia bergidik ngeri membayangkan semua kemungkinan buruk yang akan didengar nanti. “Anulika!” seorang perawat memanggil namanya, membawa Anulika menuju ruangan dokter ahli kandungan. Kaki gadis itu semakin gemetar, seharusnya ia ditemani Kinanti ke rumah sakit, tetapi karena ibu harus keluar kota menjenguk nenek yang sedang sakit, terpaksa ia datang sendiri. Sementara itu, setelah Anulika keluar dari ruangan Dokter Kandungan, seorang wanita bertubuh kurus dan berwajah pucat, serta seorang pria tampan, masuk untuk melaksanakan program hamil dengan jalan Inseminasi, mereka juga dilayani oleh dokter kandungan yang sama, dengan yang menangani kesehatan Anulika *** Livia merasa heran, saat dibawa perawat menuju ke ruangan dokter ahli kandungan yang lain, sedangkan janji temu sebelumnya sudah ia jadwalkan agar ditangani oleh sahabatnya. “Dokter Kalila, Kemana, Dok?” tanya Livia, sejak pertama ia masuk ke dalam ruangan itu, tidak melihat sahabatnya. Awalnya ia berpikir jika Kalila, sahabatnya berpindah ruangan. Dokter yang membantu Kalila menangani pasien, menoleh sesaat, tersenyum di balik masker kesehatan yang ia pakai. “Dokter Kalila sedang ada tugas mendadak ke luar kota, jadi sementara saya yang menggantikan beliau,” jawab dokter itu. Livia mengangguk perlahan, ia percaya saja dengan semua keputusan Kalila yang menyerahkannya pada dokter lain. Walaupun dirinya lebih mempercayai Kalila, tetapi selama mengikuti prosedur yang benar, ia akan baik-baik saja. Ashraf menggenggam tangan istrinya lembut, mencium kening wanita yang telah menemaninya mengarungi mahligai rumah tangga lebih kurang lima tahun. Selama lima tahun ini pula mereka berdua telah berjuang keras untuk memiliki permata hati, tetapi hingga saat ini Tuhan masih belum memberikan izinnya untuk mereka. Segala daya upaya telah mereka lakukan, hingga mereka mendapat saran Kalila untuk mengikuti program inseminasi. Namun, di saat mereka sudah siap, sahabatnya itu justru mendadak dinas keluar kota. “Semangat, Sayang, semua pasti berjalan lancar,” Ashraf menghibur Livia yang tampak was-was, menguatkan istrinya yang begitu mendambakan kehadiran seorang anak ditengah mereka. Livia membalas genggaman tangan Ashraf, sebelum menuruti permintaan dokter agar ia berbaring di ranjang. Livia merasa beruntung memiliki suami yang begitu mencintainya dengan tulus, walaupun memiliki banyak kekurangan, karena itulah Livia bersikeras ingin memberikan suaminya seorang permata hati, buah cinta mereka berdua. *** Tubuh Anulika terasa lemas, bagian bawah perutnya terasa ngilu dan belum mereda setelah di periksa oleh dokter. Entah alat apa yang dimasukkan dokter itu ke dalam perutnya, ngilu dan kebas menjadi satu, membuat pergerakannya terasa tidak enak. Mata bulat Anulika meredup, mulutnya menguap lebar, melepaskan rasa kantuk yang mulai menyerang, menyandarkan tubuh mungilnya yang kelelahan pada sofa ruang tamu. Perlahan mata gadis remaja itu mulai terpejam, terbawa mimpi indah, membaur dalam tidur nyenyaknya. Di dalam tidurnya Anulika bermimpi tentang kelahiran seorang bayi mungil. Meskipun samar, tetapi mimpi itu terasa sangat nyata. Di dalam mimpinya Anulika melahirkan seorang bayi perempuan yang tidak pernah ia inginkan. Tangisnya pecah, menolak kehadiran anak yang baru saja keluar dari rahimnya. Sekuat tenaga Anulika berusaha mengatakan pada orang-orang, bahwa bayi itu bukan anaknya, dirinya belum menikah, bagaimana bisa melahirkan seorang bayi. Namun, sekuat apa pun ia membantah, semua orang tetap menudingkan jari padanya. Di dalam mimpi tangis Anulika pecah, dan tanpa di sadari menembus kesadarannya. Air mata yang mengalir dari kedua matanya yang terpejam membasahi bantal kursi yang dijadikan sebagai alas kepala olehnya. suara tangis yang terdengar begitu memilukan, terdengar sampai ke teras yang gelap gulita, menyambut kepulangan Hadi dan Kinanti dari luar kota. “Ayah, dengar suara orang menangis?” tanya Kinanti pada Hadi. Pintu yang sudah terbuka kuncinya, tertahan oleh gerakan Kinanti yang mencari sumber suara tangisan. “Dengar, bukannya dari dalem rumah suara orang menangis?” Hadi balik bertanya pada istrinya. Tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang, suara hari telah lewat maghrib dan mereka mendengar suara tangisan yang memilukan. “Cepet buka pintu, Bu. Bulu kuduk ayah merinding!” perintah Hadi, matanya awas memperhatikan keadaan sekeliling yang gelap gulita. “Huuu, dasar Ayah, penakut,” Kinanti membuka pintu, keadaan di dalam rumah sama gelapnya dengan di teras, Namun, lampu rumah tetangga di kiri dan kanan rumah mereka menyala terang “Lampu rumah, kenapa padam semua? Anulika kemana?” Hadi meraih sakelar lampu, menekan tombolnya hingga menampakkan sosok Anulika yang meringkuk di atas sofa yang sedang menangis dengan kedua mata terpejam. Kinanti menghela napas pelan, melihat putrinya tertidur hingga lewat maghrib, sementara Hadi tersenyum, mentertawakan kebodohannya yang ketakutan dengan suara igauan anak gadisnya sendiri. “Anulika, bangun Nak.” Kinanti mengguncang pelan pundak putrinya yang tertidur sangat pulas. Tubuh mungil Anulika menggeliat, sisa tangis yang tadi keluar dari mulut mungilnya masih meninggalkan jejak basah di kedua ujung matanya yang bulat. Remaja itu kaget saat mendapati kedua orang tuanya telah pulang ke rumah dan berdiri di hadapannya. “Ayah dan Ibu, sudah pulang? Aku ketiduran dari sore, capek banget.” Anulika menutup mulutnya yang sedang menguap lebar, wajah imutnya tersenyum malu. Hadi duduk menghadap televisi, menyalakan benda pipih tersebut dan melayari channel yang ada hingga pilihannya jatuh pada acara yang menayangkan berita nasional. “Baru saja sampai,” jawab Kinanti sambil bergerak duduk di samping suaminya, wajahnya tampak lelah setelah melakukan perjalanan jauh seharian. “Pamali tidur waktu maghrib, apalagi anak gadis, sampai malam begini belum mandi. Buruan mandi dulu!” tegur Hadi, matanya tak lepas menatap layar kaca televisi. Anulika tersenyum kecil, tidak berani membantah perkataan ayahnya. Ia bergerak bangun perlahan, menuju anak tangga, tetapi langkahnya terhenti saat Kinanti meemanggil dan memintanya duduk kembali. “Mimpi apa tadi? suara tangismu terdengar sampai ke teras,” tanya Kinanti penasaran, mimpi apa yang mengacak-ngacak perasaan putrinya hingga bisa mengigau sekeras itu. Anulika tercenung, ia berusaha mengingat mimpi aneh yang tadi di alaminya. Mimpi yang tidak begitu jelas, tetapi terasa sangat nyata. “Aku mimpi melahirkan seorang bayi, tetapi anehnya, aku nggak merasa hamil cuma langsung lahiran gitu aja,” jelas Anulika. “Tapi dalam mimpiku, semua orang tidak menyukai anak yang aku lahirkan.” Anulika mencoba menjelaskan secara rinci tentang mimpi yang ia alami, tetapi semua terasa absurd, sehingga penjelasannya pun terdengar aneh. “Dasar anak gadis! Besok-besok jangan tidur menjelang maghrib, di gangguin setan, jadi nangiskan?” Kinanti menjewer telinga anaknya lembut, sudah ratusan kali ia menegur agar Anulika tidak tidur saat menjelang maghrib, tetapi anaknya tetap saja bandel. Beruntung hari ini mereka pulang lebih cepat dari rencana semula, kalau tidak anak gadisnya akan tidur dalam gelap sepanjang malam. Anulika memeluk pinggang ibunya, mencium pipi wanita yang usianya baru saja menjelang angka tiga puluh delapan tahun. “Maaf Bu, aku pulang udah sore banget tadi, trus bagian bawah perutku juga sakit. Niatnya tadi cuma mau tiduran aja, eeeh malah tidur beneran,” jelas Anulika sambil tersenyum manja. “ya sudah, buruan mandi, ibu mau pesan go food buat makan malam!” perintah Kinanti. Anulika menjawil dagu ibunya, jahil. Melihat Kinanti mulai mendelikan matanya, ia segera berlari menuju anak tangga sambil tertawa kecil, sementara itu, Kinanti tercenung mendengar cerita Anulika. Dulu saat dirinya hamil Anulika, juga pernah mendapatkan mimpi yang sama. Apakah putrinya juga sedang hamil? Tetapi tidak mungkin, Anulika termasuk anak rumahan dan semua kegiatannya di luar rumah terpantau dengan baik oleh dirinya dan Hadi. Kinanti mencoba menghalau kecemasan yang tiba-tiba saja hadir menakut-nakuti pikirannya. Ia mempercayai kejujuran Anulika dalam bergaul, anak gadisnya tidak akan pernah mencoreng arang pada wajah mereka berdua.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Simpanan CEO

read
214.5K
bc

Bukan Calon Kakak Ipar

read
146.6K
bc

Long Road

read
148.3K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.0K
bc

DIA UNTUK KAMU

read
39.9K
bc

Noda Masa Lalu

read
205.7K
bc

UN Perfect Wedding [Indonesia]

read
80.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook