Awal Kehamilan

1515 Kata
Bau harum roti panggang yang dioles mentega dan selai kacang menguar dari arah dapur, mengundang rasa lapar siapa saja yang mencium aromanya. Livia menyusun menu sarapan pagi di atas meja makan, menuangkan segelas air hangat dan secangkir kopi s**u untuk Ashraf, sementara untuk dirinya, ia menyiapkan s**u hamil. “Pagi sayang,” sapa Ashraf sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang dan mencium mesra pipi Livia. “Pagi Mas,” balas Livia, berbalik mencium pipi suaminya. “Aku belum mandi, masih bau iler.” goda Livia saat suaminya ingin menciumnya lagi. Ashraf duduk di ujung meja, meletakkan briefcase dan kunci mobil di kursi kosong yang ada di sampingnya. Ia  menyeruput kopi s**u dengan khusyuk, beruntung ia memiliki istri seperti Livia, cantik, sederhana, dan pintar memasak. Ashraf yakin perempuan yang pintar memasak saat ini sudah sangat langka, itu sebabnya ia merasa bangga bisa memperistrikan Livia. Sedangkan untuk Livia, keluaraga selalu prioritas utama, itu sebabnya semua pekerjaan rumah ia bisa lakukan walaupun hidup bergelimang harta. Selama tujuh tahun pernikahan mereka, semua kebutuhan Ashraf selalu dikerjakan oleh Livia. Istrinya tidak akan mengizinkan pembantu mereka melayani keperluan Ashraf walau hanya sekadar menyediakan secangkir kopi, atau mencuci sebuah baju kemeja miliknya. “Mas, hari ini aku izin ke rumah sakit, ya. Kalila kemarin telepon, katanya ada yang mau dibicarakan tentang program kemarin.” Livia duduk di samping Ashraf, menunggu respon suaminya, dengan mengunyah perlahan roti yang tadi di olesi selai, menikmati tiap gigitan garingnya roti panggang dan lumernya rasa selai kacang. “Mau Mas anter atau mas suruh sopir kantor antar jemput, kamu?” tanya Ashraf menawarkan diri. Tubuh istrinya yang lemah dan mudah terkena penyakit membuat Ashraf selalu khawatir jika Livia pergi kemana-mana seorang diri. “Aku naik taksi aja, boleh?” tawar Livia, sedikit memohon. Lesung pipi Livia tercetak jelas, saat senyum merekah di bibirnya yang pucat. Ashraf memandang istrinya sendu, “Mas suruh sopir kantor aja yang antar jemput,” tegas Ashraf. Livia mengangguk, senyumnya melebar merasakan sikap protektif ashraf yang dirasanya berlebihan. “Mas, berangkat ya, sudah siang.” Ashraf meraih briefcase dan kunci mobil, mencium pucuk kepala Livia sebelum bergerak menuju ke pintu utama. Livia ikut bangun, mengantar Ashraf hingga di depan pintu, merapikan sedikit dasi suaminya. “Hati-hati di jalan,” ucapnya sambil mencium punggung tangan Asfraf. Setelah kepergian Ashraf, ia masuk ke dalam, mulai membersihkan diri, bersiap untuk pergi ke rumah sakit. langkahnya terhenti di ruang makan, perut Livia terasa sangat sakit, seperti di gulung dengan gada berduri. Panas, nyeri dan perih mengaduk-aduk perutnya di bagian bawah. Ia duduk di salah satu kursi, meremas perutnya yang semakin terasa sakit. wajahnya memucat dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi wajah Livia. Sakit yang mulai menjalar hingga ke panggul kini mulai menimbulkan rasa mual pada wanita itu. Tertatih Livia membawa tubuhnya menuju kamar mandi, memuntahkan seluruh makanan yang baru saja tadi ditelan olehnya. Wajahnya semakin tampak pucat menahan  rasa sakit yang mendera kian kuat. Perempuan itu menguatkan diri menapak tangga menuju kamar, obat yang biasa diminum ada di dalam sana, dan dia harus menguatkan diri agar dapat menggapai obat itu.   *** Siswa SMU Nusantara berhamburan keluar kelas saat bel istirahat berbunyi, sekolah yang tadinya lengang sontak ramai dan riuh dengan ribuan suara murid yang berteriak juga berlarian menuju lapangan dan kantin sekolah. Di antara ribuan murid yang tampak ceria berlari-larian, dua orang remaja justru duduk santai sambil membaca buku dan menikmati makanan ringan dengan sebotol air putih yang mereka bawa dari rumah. Keduanya duduk saling bersandar punggung di kursi kayu, di bawah rindangnya pohon mahoni. “Kamu makan apa sih, Sha, baunya nggak enak banget!” tanya Anulika sambil menutup hidungnya. Rasa mual mulai mengaduk-ngaduk lambung Anulika. “Makan apaan? Cuma snack rumput laut yang biasa kita beli, kamu juga suka ‘kan?” Asha balik bertanya, aneh melihat Anulika yang tidak menyukai bau snack yang biasa mereka makan, padahal sebelumnya baik-baik saja. Anulika memutar tubuhnya, mengambil snack yang ada di tangan Asha dan mencoba mendekatkannya ke hidung, menghidu kembali makanan yang biasa mereka makan tetapi kembali lambungnya seperti terbalik. Anulika nyaris saja muntah mencium bau makanan tersebut. “Aneh, ya. Kenapa aku jadi  mual, biasanya juga enak?” Anulika bergumam, heran dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. “Kamu punya sakit magh?” tanya Asha menyelidik, sedikit mengkhawatirkan keadaan sahabatnya. Gadis remaja itu mencoba mengingat apakah dirinya pernah bermasalah dengan lambung, tetapi nihil, dirinya memang tidak pernah ada keluhan. Lebih mengherankan kenapa indra penciumannya sepakat dengan lambungnya, tidak bisa menerima snack favorit yang biasa ia makan. “Selama ini belum pernah berurusan dengan penyakit lambung,” jawab Anulika asal. Asha terkekeh pelan mendengar jawaban Anulika, sekaligus merasa aneh. Hidung sahabatnya mendadak jadi lebih tajam dari biasa, nafsu makannya juga lebih besar, dan yang paling menakjubkan, sejak kemarin, Anulika menolak hampir semua makanan favoritnya. “Kamu udah ke dokter? Coba diperiksa siapa tahu ada penyakit tersembunyi yang baru muncul,” seloroh Asha, menggoda Anulika yang mendelik kesal. “Eeeh, pulang sekolah nanti, temenin aku minum teh chamomile di cafe depan, ya. Sekalian mampir beli rujak buah di simpang jalan depan sana,” pinta Anulika, sambil meneruskan bacaannya dan mulai melupakan masalah mual serta penciumannya yang semakin tajam. Asha mengangguk pelan, tetapi raut wajahnya tidak dapat menutupi rasa keheranan yang menelusp pelan di hatinya. Anulika tidak suka teh chamomile, karena itu bukan teh asli, hanya bunga chamomile yang di seduh air panas. Sahabatnya lebih menyukai lemon tea, teh asli yang dicampur dengan irisan lemon. Seharian ini, sudah tiga keanehan yang ditampakkan Anulika, penciuman yang mendadak tajam, tidak menyukai snack rumput laut favoritnya, dan tiba-tiba ingin minum teh chamomile yang sangat dia benci. Asha mengkhawatirkan keadaan sahabatnya, terpikir jika anulika sedang mengalami penyakit berat yang sulit disembuhkan membuat mood serta kondisi sahabatnya jungkir balik.   *** Kalila menatap Livia dengan perasaan bersalah juga iba. Kondisi wanita itu ibarat sudah di ujung tanduk, tetapi Livia sangat hebat itu bisa menyembunyika semua keadaannya dari Ashraf  dengan baik, ia bahkan bisa meyakinkan suaminya untuk mengikuti program inseminasi agar bisa hamil. Rasa cinta Livia yang begitu besar untuk Ashraf, mampu membuat wanita itu menjadi sosok kuat melawan penyakit yang telah menggerogotinya selama setahun terakhir. Namun, usaha sahabatnya untuk memberikan anak pada Ashraf, berada di ambang kehancuran. s****a yang seharusnya disuntikkan ke dalam rahim wanita itu, tertukar ke rahim wanita lain. “Bagaimana bisa tertukar Kalila, kenapa bisa keliru?” suara Livia bergetar menanyakan kebenaran yang sangat tidak diduganya. Mata cekung Livia berkilau, menahan air mata yang nyaris tumpah. Kesedihan memenuhi hati Livia, memikirkan impiannya meninggalkan seorang buah hati untuk Ashraf nyaris gagal. “Semua karena kelalaianku, untuk menutupi kondisimu yang tidak memungkinkan bisa hamil, aku menggunakan data pasien lain dan di saat terakhir aku harus ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Aku menitipkan semua pasienku pada Anya dan terlupa mengambil datamu yang terselip di sana.” Kalila menjelaskan panjang lebar. Berapa banyak kesalahan yang telah dilakukan Kalila demi memenuhi keinginan terakhir sahabatnya. Mungkin ini hukuman dari perbuatannya yang memanipulasi data. Niat baik ingin menolong tapi dibungkus dengan kebohongan yang bisa membuat nyawa sahabatnya semakin terbentur pada malaikat maut, dan kini dosanya semakin bertambah dengan kesalahan fatal yang ia lakukan. Akibat kelalaiannya, kalila bisa menyebabkan seorang gadis remaja hamil di luar nikah. Jika hal tersebut sampai tersebar keluar, karier Kalila akan jatuh saat ini juga dan dia tidak akan memiliki harapan untuk bangkit kembali. Namun, itu bukan masalah utama, ketakutan terbesar Kalila ia telah menghancurkan hidup seorang perempuan muda yang tidak bersalah. “Kau tahu siapa orangnya dan di mana ia tinggal?” tanya Livia lebih lanjut. Ia merasa ikut bertanggung jawab dengan kejadian ini. “Seorang gadis remaja, usia enam tahun, kelas dua SMU dan dari keluarga sederhana, alamat lengkapnya ada di sini.” Kalila menyerahkan selembar kertas berisikan alamat Anulika. Livia menghela napas berat, di ruangan sahabatnya ini, dunia Livia terasa semakin sempit. Seorang gadis remaja polos, mungkin sedang mengandung anak Ashraf, padahal anak remaja itu tidak pernah mengetahui apa yang sedang terjadi pada tubuhnya sendiri. Remaja itu bisa saja bergerak sesuka hatinya dan berakhir dengan keguguran, kemudian seluruh dunia akan mencemoohnya, menuduh remaja itu tekah berbuat asusila. Livia tidak sanggup membayangkan kejadian buruk itu, karena sikap egoisnya telah menyakiti banyak orang. “Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan gadis itu?” Livia menatap kosong pada Kalila, dia harus menepikan keegoisannya ingin memiliki anak, agar tidak membuat orang lain terluka. “Kau tenang saja, aku akan mengurus semuanya. Jika sudah berhasil menemukan anak itu, aku akan menghubungimu.” Kalila mencoba menenangkan Livia yang terlihat semakin pucat. “Aku antar kau pulang, wajahmu sangat pucat.” ujar Kalila sambil meraih kunci mobil. “Aku hubungi mas Ashraf dulu, kasih tau, kalau kau yang mengantarku pulang.” jawab Livia. Suaranya gemetar menahan berbagai perasaan yang campur aduk, dan juga rasa sakit yang tiba-tiba menghampiri. Kalila prihatin dengan keadaan sahabatnya saat ini, di balik kelalaian yang ia lakukan, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Kondisi Livia yang tidak memungkinnya untuk hamil di restui Tuhan dengan memberikan kekeliruan kerja pada Kalila walaupun berpotensi besar merusak kariernya. Hanya satu cara yang bisa diusahakan kalila untuk membantu sahabatnya, menemui gadis remaja yang telah tertanam benih Ashraf dan memintanya mempertahankan kandungan itu sampai melahirkan. Semoga saja usaha Kalila mendapat restu dari Tuhan, semua dimudahkan seperti Tuhan ikut bermain peran dalam kesalahan yang ia lakukan kemarin. Jika Tuhan berkenan ikut campur tangan demi kebahagiaan sahabatnya menjemput hari-hari terakhir, Kalila ikhlas mengorbankan semua yang ia miliki. Jika Tuhan membutuhkan imbalan, kalila rela menukar semua miliknya dengan nyawa Livia, atau jika keluarga gadis remaja itu menuntut anaknya dinikahi, Kalila akan meminta suaminya berpoligami, asalkan anak dalam kandungan gadis itu bisa diselamatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN