Anulika berlari menuju kamar mandi, bau telur balado masakan Kinanti yang selalu menggoda nafsu makannya berubah menjadi bau menyengat yang membuat lambung Anulika jungkir balik. Ia memuntahkan semua isi perutnya yang bahkan belum terisi makanan sejak dari sekolah tadi.
Rasa lapar semakin tambah menyiksa dengan cairan kuning yang keluar dari mulut Anulika. Bagaimana dia bisa makan, jika hampir setiap saat mencium bau menyengat dirinya sudah muntah-muntah. Gadis remaja itu menutup kembali tudung saji, beralih mengambil segelas air hangat untuk menetralkan perutnya.
“Ibu dengar dari dalam kamar, kamu muntah-muntah. Masuk angin?” tanya Kinanti, duduk di kursi memperhatikan wajah Anulika yang pucat.
“Nggak tau, Bu, dari kemarin aku nggak bisa cium bau yang menyengat, bawaannya mau muntah aja.” jawab Anulika lemas, sambil memainkan gelas berisi air hangat.
“Kamu masuk angin, tuh. Ganti baju sekolah dulu, Ibu masakin bubur sebentar!” perintah Kinanti. Sambil bergerak menuju kompor, bersiap memasakkan bubur untuk putri semata wayangnya.
Anulika beranjak meninggalkan Kinanti sendirian, masuk ke kamar mandi mencuci wajah dan kaki, “Nggak usah masak bubur, Bu. Aku mau tidur aja dulu, nanti sore bangun pasti udah bisa makan,” tolak Anulika halus.
Kinanti melihat ke arah putrinya, wajah Anulika terlihat pucat tetapi semakin berseri, tubuhnya juga semakin terlihat sekal. Wanita itu tercenung, apakah firasatnya satu bulan lalu benar? Mimpi Anulika tentang melahirkan adalah petunjuk kehamilannya?
Kinanti mengibaskan tangan ke udara, menepis pikiran buruk yang merasuk dan menghasut sisi hati wanita itu, meragukan kesucian putrinya yang polos. Ia membuka tutup saji, mendekatkan hidungnya pada semua masakan, mencium apakah sudah ada yang berubah rasa atau aroma.
Masih bagus semua, nggak ada yang basi. batin Kinanti.
Ia menutup kembali tudung saji, merapikan lagi meja makan dan mencuci gelas bekas Anulika minum. Sekali lagi Kinanti meyakinkan dirinya, bahwa Anulika hanya masuk angin. Putrinya gadis yang baik, tidak pernah keluyuran kemana pun, dan pikiran buruk yang menghantui bukanlah firasat yang akan menjadi nyata.
Sementara di dalam kamar, Anulika berbaring terlentang menatap langit-langit. Kamar dengan dominan warna pink, khas remaja dengan segala pernak pernik sederhana memenuhi ruangan itu. Di samping pintu kamar, terdapat meja belajar dan seperangkat komputer untuk tugas sekolah Anulika, di atas ranjang terdapat satu pasang boneka beruang Teddy warna coklat.
Anulika menarik napas panjang, memikirkan perubahanyang terjadi pada dirinya, secara sadar ia mengetahui ada yang tidak beres pada tubuhnya, tetapi apa penyebabnya ia belum tahu. Mood yang berubah secepat kilat, rasa lelah yang mudah menghampiri dan menyukai sesuatu yang dulu ia benci, perlahan menjadi tanda tanya besar dalam hati gadis remaja itu.
Gawai Anulika bergetar, sebuah panggilan telepon dari orang yang tidak di kenal, dengan susunan angka yang cantik meneleponnya berulang kali. Dalam satu hari ini, sudah empat kali, nomor tak di kenal itu menghubunginya, bahkan saat dirinya sedang berada di dalam kelas. Anulika menggeser tanda hijau di layar gawai, penasaran siapa yang begitu bersemangat meneleponnya hingga berulang kali.
“Hallo?” sapa Anulika
“Maaf, bisa saya bicara dengan Anulika?” tanya suara di seberang sana.
“Iya, saya Anulika,” jawab Anulika, bingung dengan cara bicara formal orang di seberang sana.
“Saya dokter Kalila, dari rumah sakit Kasih Bunda, bisa minta waktunya sebentar?” pintanya perlahan.
“Iya, silahkan.” Jawab Anulika lemas, seakan sudah dapat menduga apa yang akan terjadi
“Begini Mbak Anulika, ada kesalahan pada hasil pemeriksaan kemarin, jika Mbak berkenan mungkin kita bisa adakan janji temu,” jelas suara di seberang sana terdengar berwibawa.
Tubuh Anulika kian lemas mendengar penjelasan yang mengarah pada kesehatannya. Dalam pikiran polos gadis remaja itu, dirinya pasti sedang menderita penyakit berat.
“Kapan saya harus ke rumah sakit lagi, Dok?” tanya Anulika.
“Bisa kita bertemu di luar besok? Ehm—maksudnya, saya besok tidak ada di rumah sakit, jadi kita bicara di luar saja.” Tergagap suara Kalila dari seberang sana.
“Besok sepulang sekolah di Aqila Cafe, lima puluh meter dari SMU Nusantara.” Anulika menyetujui keinginan Kalila, janji temu di cafe tempat Anulika bisa bersantai dengan teman-temannya sepulang sekolah.
Anulika mendekap gawainya, bimbang apakah harus menceritakan pada Kinanti tentang pembicaraannya dan Kalila, ataukah harus menunggu hingga esok setelah semuanya jelas. Ketakutan akan penyakit berbahaya menghantui hati remaja itu, tetapi ia juga tidak mau membuat ibunya khawatir. Lelah dengan pikirannya sendiri, Anulika akhirnya jatuh tertidur.
***
Kalila menyesap minuman kemasan berperasa jeruk, duduk tenang di halte bus menunggu Deon, yang berjanji akan menjemputnya. Hati Kalila sedikit lega setelah ia berbicara dengan Anulika, walaupun ia belum pernah bertemu dengan gadis remaja itu, tetapi mendengar suaranya, ia tau kalau Anulika gadis yang pintar.
Sekarang yang menjadi pikiran Kalila, bagaimana harus memberitahu anak remaja itu bahwa dirinya sedang hamil, haruskah ia bicara empat mata dengan Anulika atau mengajak serta Livia? Akan ada banyak masalah yang menghadang di depan seputar kelalaiannya dan pastinya itu akan berpengaruh pada pekerjaan juga kehidupan pribadi Kalila. Namun, itu sudah menjadi resiko yang harus Kalila tanggung, harga dari sebuah kebohongan yang ia dna Livia ciptakan.
Suara Klakson mobil Deon mengejutkan Kalila, pipinya bersemu merah saat pria dibalik kemudi itu memberinya flying kiss. Suami yang sangat romantis, bisik hati Kalila.
“Aku cemburu melihat bidadari hati melamun di pinggir jalan, sehingga tak menyadari kedatanganku,” keluh Deon manja, sembari mencium pipi Kalila yang selalu berwarna kemerahan.
Kalila tersenyum manis, suaminya pria yang sangat romantis, setiap ucapannya mampu membuat hati dokter muda itu berbunga-bunga. Ia balas mencium pipi kiri Deon, kemudian menarik selembar tisu dan membersihkan cermin kacamatanya yang mulai buram berembun.
“Aku ingin membuat pengakuan, tolong jangan menghakimi dan berikan saran!” pinta Kalila, menatap suaminya yang telah mengeluarkan seringai jahil. “Maass, Aku serius. Aku sedang dalam masalah besar.” Kalila mengeluh manja, saat melihat Deon hanya mengangguk kecil tetapi mulutnya menirukan tiap kata yang di ucapkan Kalila.
“Baiklah bidadari hatiku, kesalahan apa yang sudah kau lakukan?”tanya Deon tenang, matanya menatap lurus pada jalan di depan.
“Aku melakukan kesalahan, menyembunyikan penyakit Livia dari Ashraf dan menyebabkan seorang gadis remaja hamil,” tutur Kalila cepat sambil memejamkan mata, tidak berani melihat pada Deon yang membelalakkan mata mendengar pengakuan yang meluncur mulus dari mulut istrinya.
Deon menepikan mobilnya, membawa kendaraan saat pikiran kacau akan membahayakan mereka berdua. Sebenarnya, ia juga belum terlalu mengerti apa yang diucapkan Kalila, tetapi mendengar istrinya menyebabkan seorang gadis remaja hamil, ini bukan masalah kecil yang bisa didengar sambil lewat.
“Bisa lebih spesifik,” pinta Deon, menatap dalam pada manik mata istrinya.
“Livia sedang sakit parah, ia tidak bisa bertahan lama tetapi sangat ingin memberikan anak untuk Ashraf, dan aku membantunya memanipulasi data kesehatan,” tutur Kalila penuh penyesalan. “Namun, tanpa sengaja datanya tertukar dengan seorang gadis remaja dan dugaanku gadis itu hamil, akibat ....” Ucapan Kalila menggantung begitu saja. Rasa bersalah, cemas, dan tidak enak hati, membaur jadi satu.
Deon menatap tak percaya pada kalila, wanita cantik dan pintar yang ia nikahi ternyata masih bisa melakukan kebodohan dalam bertindak. Deon mengkhawatirkan Kalila, jika gadis itu hamil dan seluruh keluarganya tidak terima, istrinya bisa terkena kasus malapraktik. Selain sanksi Kalila juga bisa terjerat hukum.
“Sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Deon, berusaha menenangkan diri walaupun sebenarnya dia agak marah dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh Kalila. Melakukan hal bodoh tanpa meminta izin padanya terlebih dulu.
“Aku sudah melakukan janji temu dengan gadis itu. Mas, mau temani aku besok?” tanya Kalila ragu.
Dia membutuhkan seseorang untuk mensuport dan menemaninya. Kalila pikir, suaminya orang yang tepat untuk diajak bertemu dengan Anulika, sebagai seorang pebisnis, Deon adalah pelobby handal dalam menggaet customer. Jika Deon bersedia meyakinkan Anulika, ke depannya akan menjadi lebih mudah.
Deon mengacak rambut Kalila sayang, gemas melihat istrinya memohon dengan sinar mata yang terlihat kekanak-kanakkan. “Pukul berapa janji temu kalian?” tanya Deon, sambil menjalankan kembali mobilnya.
“Besok siang setelah anak itu pulang sekolah di Aqila Cafe, milikmu.” Kalila tertawa, kebetulan yang sangat menguntungkan mereka. Cafe yang dipilih Anulika adalah milik suaminya.
Deon ikut tertawa kecil, “Kau menggiringnya ke sana?”
“Tidak! Anak itu yang memilih tempatnya, aku cuma mengiyakan,” bantah Kalila keras, menghadirkan tawa kedua suami istri itu.
“Sebenarnya Livia sakit apa, dan sudah berapa lama. Kenapa kalian menutupinya dari Ashraf?” Wajah Deon terlihat serius, berita besar yang baru saja didengarnya.
“Livia yang meminta agar penyakitnya dirahasiankan dari Ashraf,” jelas Kalila pelan. “ Livia terkena kanker serviks. Karena prediksi waktunya tidak lama lagi, ia ingin meninggalkan kenangan terindah untuk Ashraf, seorang buah cinta mereka.”
Helaan napas berat terdengar dari mulut mereka berdua, kehidupan rumah tangga sahabatnya selama tujuh tahun berjalan harmonis walaupun tanpa anak, tetapi cinta mereka di uji dengan kesehatan Livia yang semakin memburuk. Namun yang lebih buruk, suami istri itu saling menutupi keadaan masing-masing.
Livia yang berteman akrab dengan Kalila menutupi kesehatannya yang semakin menurun, Ashraf yang bersahabat dekat dengan Deon, selalu mengkhawatirkan Livia yang semakin hari semakin kurus.
Deon melirik Pada istrinya yang sibuk bermain gawai, membalas banyak pesan masuk. Kalila wanita yang sangat peka dan mudah tersentuh, ia tidak bisa menyalakan istrinya yang rela bertindak bodoh demi menolong Livia. Jika Deon berada di posisi Kalila, ia pun akan melakukan hal yang sama.
“Kita harus membantu mereka berdua,” ucap Deon sambil menggenggam tangan istrinya erat.
Kalila tersenyum hangat, bersyukur Deon mau mengerti keputusan yang ia ambil demi memenuhi keinginan Livia. Setidaknya mereka sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua sahabat yang sedang berusaha saling membahagiakan satu sama lain. Baik Ashraf atau pun Livia, contoh nyata untuk cinta sejati di mana zaman ini, cinta tulus sangat langka di temukan.