55. Tuan James

1681 Kata

"Maudy House. Bener, ini nama butiknya, James," ucap Faris setelah menghentikan motornya. "Iya, bener. Tuh, mobilnya," tunjukku pada kendaraan hitam metalik yang terparkir di depannya. Aku turun, lalu melepas helm. Menatap bangunan berwarna putih dengan jendela kaca besar yang memperlihatkan beberapa manekin berdiri tegak memakai gaun-gaun indah dan cantik. Mahal-mahal pasti. Pantesan dia sanggup nafkahin Boy tanpa bantuan mantan suaminya. "Ya udah, buruan sonoh masuk. Lo bawa Boy ke sini, biasanya dia suka ngebet pengen jalan-jalan kalo lihat gue bawa motor." Faris yang juga sudah turun, mendorong-dorong bahuku. "Ish, bentaran. Gue 'kan butuh persiapan. Masa main nyelonong aja," sungutku. Padahal sebenarnya merasa gugup karena sudah dua minggu lebih belum bertemu Boy. Iya, dua minggu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN