"Wuih, emang ganteng dah, anak Papa James mah," pujiku setelah menyisir rambut Boy. "Eelen," timpal Boy sambil mengacungkan jempol. "Ya iya dong, keren. Anak siapa dulu, dong?" Aku mencubit hidung mancung itu. "Nak Papa, nak Enda," sahut Boy. Lalu berlari ke luar rumah. "Ahid, ain, yu!" teriaknya kemudian. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Jangan-jangan bener itu dipikiran Boy, gue sama Maudy itu orang tuanya? Dah, lah. Enggak usah terlalu dipikirin, James. Toh, dia masih kecil. Percuma dijelasin juga. Kagak bakal ngarti. Aku melirik jam tangan di lengan. Udah jam tujuh lebih sepuluh menit, tapi Maudy belum ada jemput. Gimana, nih? Apa gue tinggal aja Boy sama Teh Nurul? Ponsel di atas kasur berdering. Segera aku raih. Panjang umur ibu satu anak ini. Baru juga dipikirin udah nong

