10. Kembali Ke Jakarta

1234 Kata

"Jamal! Buka pintunya!" Aku mengerjapkan mata. Ada apa Teh Syifa teriak-teriak? "Ada apa, Teh?" tanyaku setelah membuka pintu. "Kamu tau enggak, sekarang para tetangga lagi pada ngomongin kamu gara-gara pulang kampung bawa anak?!" Aku mengembuskan napas pendek. "Ya, bagus lah. Hitung-hitung ngurangin dosa," sahutku tak acuh. "Ngurangin dosa apa? Teteh yang malu. Mana dibahasnya pas lagi makan-makan di rumah Bu Lurah lagi." Kedua tangannya kini berkacak pinggang. "Terus Teteh bilang apa sama mereka? Teteh belain Jamal, atau malah ikut-ikutan ngejelekin," tukasku. Teh Syifa terdiam. Ekspresinya kini berubah gelisah, seperti merasa tak nyaman dengan pertanyaanku barusan. "Makasih udah bangunin, ya. Permisi, Jamal mau solat Duhur dulu," ujarku. "Eh, tuh anak. Jamal! Jamal!" . "Ass

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN