"Astagfirullah, Boy!" Aku memekik kaget ketika mendengar suara benda pecah. Ternyata Boy yang sedang belajar berjalan, meraih gelas di atas meja. Akibatnya gelas itu jatuh ke lantai. Berserakan, bercampur dengan air kopi. Untungnya kopi itu sudah dingin. "Yayaya, papapa," ujar anak itu. Seakan dia sedang menceritakan kronologi kejadian sesungguhnya. "Minggir dulu." Kuangkat tubuhnya, mendudukkan di atas kasur. "Diem. Jangan turun," peringatku. "Papapa, yayaya," ujarnya lagi sambil menunjuk ke arah lantai yang kotor karena ulahnya. "Iya, bentar. Dibersihin dulu." Aku berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil kain lap. Kubersihkan tumpahan air kopi, memungut satu persatu pecahan gelas dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. "Astagfirullah, Boy!" Aku menjerit lagi karena melihatny

