"Papa!" Boy turun dari sepedanya, lalu berlari ke arahku. Seperti biasa, dia melingkarkan kedua lengannya di bagian bawah tubuhku. "Eh, Boy lagi apa?" Kuangkat saja tubuhnya, lalu menggendongnya. "Ain ... edah, tuh," tunjuknya. "Udah bisa gowes, ya?" "Udah. Doy alap-alap, atuh. Atit, Pah. Alah-alah." Lalu dia menunjuk lututnya yang ternyata sudah ditempeli plester luka. "Wah, sampai berdarah. Siapa yang pasang plester?" "Om Ais," sahut Boy. "Ulun, Pa," pintanya kemudian. Akhirnya aku turunkan Boy lagi. Dia langsung berlari, naik ke atas sepedanya kembali. "Papa ke rumah dulu, ya," ujarku. "Ote!" teriak Boy. Aku pun melanjutkan langkah kaki menuju rumah. Tampak motor matik hitam besar itu masih terparkir di sana. Faris bilang hari ini dia memang libur, dan tidak membantu orang t

