42. Gara-gara Jalan-jalan (2)

1463 Kata

"Papa ulis?" tanya Boy setelah duduk di sampingku. "Iya, lagi nulis skripsi," sahutku, menatapnya sejenak lalu kembali berpaling ke arah layar laptop. "Papa aus?" tanya Boy lagi. "Ambilin jamu-jamu dari Om Faris aja, ya?" pintaku. "Ote!" Boy berdiri segera, lalu mengambil botol di atas meja. "Nih, Pa." "Terima kasih," ucapku sambil menerimanya. "Ma-ama." Boy menjawab disertai senyum lebar. "Tuh, Nda, Pa." Kali ini dia menunjuk ke arah pintu. Aku pun menoleh dengan cepat. "Mbak Maudy? Udah lama? Maaf, aku kok enggak denger suara langkah kakinya, ya?" "Enggak apa. Mungkin kamu terlalu fokus nulis skripsi-nya," sahutnya diakhiri senyum. "Boy, ini. Bunda bawain cemilan buat kamu sama Papa." Pipiku terasa panas seketika. Elah, kenapa dia harus manggil Papa juga? Gue 'kan jadi malu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN