Aku mengantar kepulangan Liana hingga depan gang. Kunjungannya tidak lama, bahkan air yang kusuguhkan pun tak sempat diminumnya. Itu karena Sari datang dan ikut duduk bersama kami. Seketika raut wajah Liana tampak berubah semakin tak nyaman. Akhirnya dia pun berpamitan pulang. "Dah ...." Boy melambaikan tangannya pada perempuan itu sebelum dia melajukan mobilnya. "Itu cewek yang anterin Abang malam itu, 'kan?" Aku yang sempat terkejut hanya bisa mengembuskan napas. "Pasti cewek kaya," tukas Sari lagi. Sebenarnya ingin menegur, dan memberi peringatan agar dia tidak bersikap begitu. Namun, mengingat seperti apa kebaikannya juga perasaannya itu padaku--karena aku yakin dia masih menyukaiku--, akhirnya aku hanya bisa mengembuskan napas lalu berjalan kembali memasuki gang. . Aku baru se

