Kaidan dan Lutfi baru saja keluar dari mobil Kaidan. Mereka sampai di depan sebuah apartemen, tempat tinggal Kaidan. Kaidan mengambil sebuah kantung plastik berisi makanan dari dalam mobil untuk dibawa masuk ke dalam.
"Ee ... eh, Dan! Sini, biar aku yang bawakan untukmu!" kata Lutfi yang mengambil kantung plastik dari tangan Kaidan begitu saja.
Membuat Kaidan langsung menautkan kedua alis heran melihatnya. Namun, Kaidan memilih untuk mengabaikannya dengan menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Keduanya lalu berjalan masuk ke dalam dan menuju lift.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin makan malam di tempatku?" tanya Kaidan di dalam lift.
"Jangan begitu! Bukankah kita sudah jarang makan bersama?" jawab Lutfi sembari menaikkan salah satu alisnya. Kaidan menanggapi dengan memutar bola mata ke atas tanda malas. Sebenarnya, dia sudah bisa menebak apa keinginan Lutfi untuk makan di tempatnya.
"Ngomong-ngomong bagaimana tadi kerjaan Zara di hari pertama? Apa dia terlihat baik?" tanya Lutfi akhirnya.
"Benar dugaanku," gumam Kaidan dalam hati sembari menghela nafas.
"Biasa saja. Sama seperti karyawan baru pada umumnya," jawab Kaidan nampak tidak acuh.
"Lalu, apa tadi kau sudah mendapat nomornya?"
"Untuk apa aku meminta nomornya? Secara otomatis Bobby sudah langsung memberiku nomor semua karyawan baru."
"Oooh ... benar juga, ya? Aku tadi belum sempat ketemu Bobby! Kau menyuruhku keluar sampai malam! Aku jadi tidak sempat ke kantor lagi dan menemui Zara, kan?!"
"Aku sengaja melakukannya."
"Apa?! Kenapa?!"
"Sudahlah! Jangan ganggu dia dulu! Apa kau tahu di hari pertamanya tadi, dia terus saja terlihat tertekan saat bekerja. Kau membuatnya tidak nyaman dengan mengingatkannya pada kejadian tiga tahun lalu! Bukankah dulu kau yang paling parah mengoloknya?"
"Siapa bilang?! Aku tidak begitu!"
"Tapi kau tetap mengoloknya, bukan?! Tentu saja seharusnya kau minta maaf!"
"Aku tahu .. Aku tahu! Makannya aku ingin minta nomornya untuk minta maaf! Ayolah, beri nomor Zara padaku ...!" kata Lutfi sambil memohon.
"Aku tidak percaya padamu!" jawab Kaidan sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ayolah, Dan ...! Tolonglah aku." Lutfi masih terus memohon meski Kaidan terus mengabaikannya.
Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Kaidan dan Lutfi akan berjalan keluar lift. Namun, begitu akan keluar mereka setengah terhenyak. Banyak sekali kardus-kardus bertumpuk di sekitar area depan pintu apartemen.
"Kardus milik siapa ini?" tanya Lutfi seolah berbicara sendiri.
Kaidan pun heran melihat kardus-kardus yang lumayan banyak itu. Mendadak ia teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah apartemen seberangnya, yang sudah lama kosong.
"Sepertinya milik penghuni apartemen baru?" kata Kaidan menunjuk ke arah pintu apartemen baru di seberangnya.
"Benarkah?" Lutfi pun juga menoleh ke pintu apartemen depan Kaidan yang tertutup.
"Beberapa waktu lalu, pemilik apartemen ke sini untuk memperlihatkannya pada seseorang. Mungkin dia jadi tinggal di sini."
"Syukurlah! Akhirnya kau memiliki tetangga. Lebih bagus lagi kalau tetanggamu perempuan!" ujar Lutfi.
"Kau mulai lagi!" kata Kaidan berdecak sebal.
"Hei, lihat!" seru Lutfi tiba-tiba menunjuk ke arah salah satu kardus berwarna merah muda.
"Kenapa?"
"Bukankah kardus ini seperti kardus milik perempuan? Warnanya pink. Sudah pasti penghuninya perempuan! Apa kau tidak ingin menyapanya?" tanya Lutfi lagi. Kaidan berdecak pelan.
"Tidak perlu! Ayo masuk saja!" ajak Kaidan malas.
Kaidan lalu kembali melanjutkan langkah menuju ke apartemennya. Lutfi pun terpaksa mengikuti Kaidan dari belakang. Namun, baru satu langkah tiba-tiba pintu lift kembali terbuka. Seseorang perempuan dengan membawa kardus tiga tumpuk menutupi wajahnya keluar dari dalam lift.
Perempuan itu pasti penghuni baru di apartemen seberang Kaidan. Karena wajahnya tertutup kardus, sehingga Kaidan dan Lutfi tidak bisa melihatnya.
Lutfi pun segera merapikan rambutnya dan memberikan kantung plastik berisi makanan tadi pada Kaidan begitu saja! Kaidan hanya mengkerutkan kening sambil menggelengkan kepala beberapa kali melihat sikap Lutfi yang sudah sering seperti itu.
"Permisi? Apa kamu butuh bantuan? Kami akan membantumu," kata Lutfi pada gadis itu.
Sang gadis memutar badannya ke arah lain, sambil melihat siapa yang berbicara dengannya. Ketika si gadis baru menunjukkan wajahnya, betapa terkejutnya Kaidan dan Lutfi. Rupanya dia adalah Zara. Zara pun juga sama kagetnya.
"Zara?!" sapa Lutfi. Kaidan masih terdiam kaku mencoba memproses di dalam kepalanya kalau yang dilihatnya nyata. Lutfi melihat Zara membawa kardus-kardus itu, lalu melihat ke arah apartemen calon tempat tinggal Nada.
"Jadi, penghuni baru itu kamu?!" tanya Lutfi dengan wajah sumringah.
Zara pun menautkan kedua alis mendengar pernyataan Lutfi. Ia juga menoleh ke arah apartemen Kaidan. Membuatnya merasa benar-benar sial.
"Apa kalian tinggal di sebelah?" Zara balik bertanya sembari menahan gigi gerahamnya.
"Oh! Kaidan yang tinggal di sebelah! Tapi jangan khawatir! Aku sangat sering datang ke sini! Bahkan, hampir tiap hari!" jawab Lutfi lagi masih dengan senyum lebarnya.
Kaidan menoleh ke arah Lutfi dengan tatapan malasnya. Ia memutar bola matanya ke atas sembari menggelengkan pelan tidak habis pikir. Kenapa temannya itu amat percaya diri sekali?
"Permisi, aku mau lewat!" kata Zara yang berusaha menghindar dengan masih membawa tiga kardus itu. Lutfi pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Zara, biarkan aku membantumu! Aku bisa—"
"Tidak usah!" seru Zara tidak sadar sedang berteriak. Membuat Lutfi dan Kaidan terkejut. "Barangku cukup banyak! Kalian adalah atasanku! Mana mungkin aku meminta bantuan!" kata Zara tetap berjalan ke arah apartemennya. Namun, Lutfi tetap tidak menyerah. Ia menyusul Zara dan langsung mengambil kardus yang dibawa Zara begitu saja.
"Tidak apa-apa, Zara!" kata Lutfi yang sudah berhasil mengambil kardus Zara. "Tenang saja! Dunia itu kejam. Masak iya, kami laki-laki melihatmu mengangkat barang seperti ini sendirian?" ujar Lutfi lagi menjadi sok pahlawan. Zara mendengkus pelan sambil melihat Lutfi dengan tatapan malasnya.
"Mau diletakkan di mana?" tanya Lutfi lagi.
"Di situ saja!" Zara menunjuk ke arah lantai tepat di bawah kaki Lutfi. Membuat Lutfi menautkan kedua alis heran.
"Haaah? Kenapa tidak dibawa masuk?" Lutfi memandangi lantai bawah kakinya dengan bingung.
"Letakkan saja di situ, aku akan membawanya masuk sendiri!" kata Zara sembari menyedekapkan kedua tangan menahan rasa kesal.
Kaidan yang melihatnya hanya menahan tawa. Lutfi pun masih berdiri mematung seperti orang bodoh. Karena sama saja ia tidak membantu Zara.
"Benar. Dunia memang kejam. Aku tidak menyangka dulu ada seorang gadis berpenampilan sederhana yang di bully satu kampus! Sekarang, begitu gadis itu sudah merubah penampilannya, ia mudah sekali mendapat bantuan meski ia tidak mau," kata Zara dengan nada angkuh. Lutfi pun nampak salah tingkah.
"Zara, waktu itu—"
"Kira-kira apa kamu tetap akan membantuku saat penampilanku masih seperti jaman kuliah dulu?" tanya Zara memotong kalimat Lutfi dengan tatapan tajamnya.
Membuat Lutfi tercekat terdiam. Setelah itu Zara berjalan masuk ke dalam apartemennya dan membanting pintunya dengan suara amat kencang. Membuat Kaidan dan Lutfi tersentak. Kaidan lalu berjalan mendekati Lutfi yang hanya mengerjap kebingungan itu.
"Sudahlah! Apa aku bilang. Jangan mengganggunya dulu," kata Kaidan menepuk pundak Lutfi.
"Kenapa dia bisa berubah terbalik seperti itu?" gumam Lutfi pelan masih tidak menyangka.
"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar," tanggap Kaidan.
"Benar! Sekarang dia terlihat sangat angkuh dan keras," kata Lutfi tetap memandangi pintu apartemen Zara yang masih tertutup itu dengan tatapan bodohnya. "Tapi justru itu yang membuatnya semakin cantik!" lanjutnya yang langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum terpana.
Lutfi lalu meletakkan kardusnya di depan pintu Zara. Setelah itu ia baru berjalan ke arah apartemen Kaidan. Kaidan mendadak terhening memandangi pintu apartemen Zara.
Yaa ... Lutfi memang ada benarnya, juga. Zara justru terlihat lebih cantik saat ia bersikap angkuh seperti tadi. Kaidan lalu mengulas senyum tipisnya membayangkan sikap angkuh Zara tadi. Namun, sekian detik kemudian ia tersadar dan jadi bingung sendiri.
"Ada apa denganku ini?" gumam Kaidan dalam hati bingung sendiri dengan sikapnya.