Menikah Lagi ( Pov Danu)

1385 Kata
Bagaimana bisa kau tidak menyentuhnya, Mas! Dia masih muda, suatu saat kau pasti akan tergoda. Mengapa dia mau Mas ajak menikah, apa alasannya?" cecar wanita yang sangat kucintai ini penuh dengan emosi dan air mata. "Dia butuh banyak biaya untuk mengobati adiknya. Karena itu kutawarkan bantuan dan memintanya menikah denganku. Dan kukatakan sumber permasalahan kita. Dia bisa mengerti dan mau membantu, Sayang. Percaya padaku, hati ini selalu utuh buatmu," Aku kembali memeluk Yura erat. *** Pulang bekerja aku mampir ke sebuah mushola untuk melaksanakan shalat Magrib dan Isya sekaligus menenangkan hati. Mobil kuparkir agak jauh dari Mushola karena halamannya tidak luas. Kutengadahkan tangan memohon petunjuk pada yang maha tahu. Suasana rumah sedang sangat kacau. Papa selalu memaksaku menikah lagi, meskipun aku menolak berulang kali. Puncaknya kemarin malam, ketika aku pulang bekerja, Yura menangis sesenggukan di hadapan Papa. Sungguh sakit aku melihat istriku tersiksa batin seperti itu. Yura kembali ke kamar dan Papa mengancamku akan memberitahu semuanya jika aku tidak segera menikah lagi. Aku tidak mau Yura mengetahui kebenarannya. Jika dia tahu entah bagaimana nanti jadinya. Aku tahu aku salah sudah membohonginya selama ini, tapi semua itu kulakukan hanya untuk menjaga hatinya. Aku tidak mau dia terluka, dia kecewa bahkan bisa jadi dia akan meninggalkanku jika dia tahu semuanya. Aku berusaha menutup rapat rahasia ini, sayangnya hari itu Papa datang ke kantor tanpa sepengetahuanku. Dia menemukan hasil lab yang asli, karena selama ini aku memberikan padanya yang palsu. Hanya untuk melindungi istriku. Dan tidak ingin membuat wanita yang aku cintai hancur. Aku tidak punya pilihan. Ema gadis berusia 23 tahun, pegawaiku di kantor menjadi pilihan. Dia butuh banyak uang untuk mengobati penyakit Minginitis yang menyerang adiknya. Dia sholehah dan lembut, aku rasa tidak akan sulit menjadikan Yura dan Ema sebagai sahabat. Pertama kali kutawarkan kerja sama, dia terlihat ragu, tapi karena keadaan mendesak akhirnya dia menerima tawaranku. Aku berjanji tidak akan menyentuhnya dan hanya akan menganggapnya saudara saja. Aku memberanikan diri bicara lagi dengan wanita yang sangat aku kasihi kemarin malam. Memberitahu rencanaku agar Papa tidak lagi mengganggunya. Meskipun awalnya dia terlihat syok ketika tahu siapa gadis yang akan aku nikahi. Namun, kini keadaannya sudah lebih baik. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, aku mengusap wajahku secara kasar. Kemudian beranjak pulang. Di tengah perjalanan aku melihat tukang sate berjualan di pinggir jalan. Aku ingat istriku sangat suka makan sate. Karena itu aku stop dan membelinya terlebih dahulu. "Berapa, Mas?" tanya tukang sate. "Beli dua porsi ya, Bang," jawabku. "Buat siapa, Mas?" "Buat istri di rumah, Bang. Dia sangat suka makan sate madura." "Wah, beruntungnya si Mbak dapet suami seperti Mas. Selalu ingat sama Istri di rumah," kata Abang sate. Aku hanya tertawa kecil mendengar pujian yang terlontar darinya. Selesai aku langsung melesat pulang. *** Sampai di rumah, keadaan seperti biasa. Papa menggedor-gedor pintu memaki Yura. Aku bingung harus bagaimana, di satu sisi tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Terlebih takut Papa akan membongkar rahasia dan akan membuat yura hancur. Di sisi lain aku tidak tahan melihat Yura selalu di sudutkan. "Pa, tidak bisakah sekali saja membiarkan kami tenang berada di rumah ini?" ucapku setelah sampai di depan kamar. "Terus saja bela, si mandul itu. Setiap kali melihat wajahnya darahku langsung naik ke ubun-ubun. Mengapa aku bisa mendapatkan menantu seperti dia?" Aku menarik tangan Papa supaya menjauh dari kamar. "Pa, aku berjanji akan menikah lagi. Tapi tolong jaga sikap Papa terhadap Yura dong. Jangan siksa dia seperti itu. Dia tidak memiliki siapapun di dunia ini selain kita, Pa. Seharusnya kita membuat dia bahagia bukan menderita." "Alah, persetan sama semua itu. Awas kalau kamu bohongin Papa. Semua kebenaran tentang dia akan Papa bongkar," "Pa, please bersabarlah sedikit saja." "Jangan lama-lama keburu Papa mati*, baru kamu tau rasa!" "Astagfirullahalazim, Pa. Jangan bicara seperti itu." "Ah, sudahlah Papa ngantuk, mau tidur!" Papa meninggalkanku yang berdiri mematung. Sumpah, kepala rasanya mau pecah. Aku buru-buru berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar. Perlahan membuka pintu dan melihat pemilik hatiku sudah duduk di bawah ranjang menyembunyikan wajahnya yang basah. "Sayang, aku bawa sate buat kamu. Makan, ya?" "Mas... " Dia mengangkat wajah dan menghambur memelukku. Tangisnya membuat hatiku ikut meringis. Aku tahu batinnya tersiksa berada di sini. "Kita akan segera pindah, Sayang," kataku menghapus air matanya dengan lembut. "Kapan, Mas?" tanyanya dengan tatapan sendu. "Secepatnya Mas janji," Kembali kami berpelukan. Sate yang kuharap bisa membuat hatinya sedikit terhibur hanya tergeletak di atas meja. *** "Saya Terima nikah dan kawinnya Ema Kusama Andini binti Sukaryo dengan Mas Kawin seperangkat alat shalat di bayar Tunai!" "Sah?" tanya Pak penghulu ke saksi. "Sah!" "Alhamdulillaah.... " Yura yang duduk di samping tetangga lainnya tampak terlihat sangat muram. Sedangkan Papa terlihat sangat bahagia dengan pernikahan ini. Ema langsung mengambil punggung tanganku dan menciumnya. Aku hanya menepuk kepalanya beberapa kali. Gadis ini tersenyum padaku dan bergeser ke arah Yura lalu duduk di sampingnya. Dia juga mengajak Yura bersalaman. "Mbak, anggap saya sebagai adikmu," kata Ema memeluk Yura dengan hangat. Yura hanya tersenyum kecil sambil melihat kearahku beberapa kali. Suasana rumah sudah sepi, tinggal kami berlima di rumah ini. Ema sama seperti Yura tidak memiliki keluarga, tinggal adiknya yang bernama Yudha yang kini sedang sakit keras dan mengalami koma. "Pa, kami akan pindah malam ini," kataku membuka obrolan ketika kami berdua sedang duduk di ruang keluarga. Sedangkan Ema dan Yura sudah kuminta masuk ke kamar. "Mengapa harus pindah?" tanya Papa. Bik Katemi, asisten rumah tangga yang sudah bekerja 10 tahun di rumah ini mengantar dua cangkir teh hangat di atas meja. "Aku sudah menuruti kemauan Papa, jadi biarkan kami hidup tenang bertiga. Membangun rumah tangga kami dengan bahagia," ucapku meyakinkan. "Baiklah, jangan lupa penuhi janjimu. Berikan aku cucu. Wanita itu terlihat lebih baik dari istrimu, kenapa tidak kau ceraikan saja dia?" "Pa, cukup! Aku ingin mengatur hidupku sendiri. Tolong jangan lagi campuri urusan rumah tanggaku." "Terserah kamu saja, yang penting jangan lupa berikan aku cucu secepatnya." Aku diam saja, berdiri dan melangkah menuju kamar. Yura dan Ema sudah membereskan semuanya. Aku mengajak mereka turun ke bawah untuk berpamitan. Ema menyalami Papa, dia menyambutnya dengan hangat. Sedangkan saat Yura kan bersalaman Papa menepis tangannya. Aku beristighfar berkali-kali melihat istriku di perlakukan tidak adil oleh ayahku sendiri. Bergegas kami menuju garasi mobil, Aku tidak ingin membuat hati istriku terluka lebih dalam lagi. Di perjalanan Yura terus menyandarkan kepalanya di pundakku. Dia memakai jilbab berwarna kuning, terlihat sangat cantik. Sedangkan Ema tertidur di kursi belakang. Memakai jilbab berwarna Pink, gadis itu sebenarnya cukup manis dan cantik. semoga dia mendapatkan jodoh yang baik suatu saat nanti. Dan mudah-mudahakan setelah hari ini keadaan rumah tanggaku lebih baik lagi. *** Kami sampai di rumah dua lantai yang sudah aku beli satu bulan yang lalu. Rumah berbentuk mini manis bercat hijau ini akan menjadi cerita baru dalam hidup kami. Aku membangunkan Yura dengan mengecup keningnya. Sedangkan Ema sudah turun lebih dulu membereskan semua barang. "Dek, ini kuncinya." kataku melempar kunci ke arah Ema. Dia tersenyum menerimanya. "Hampir jatoh loh Mas," katanya terkikik tertawa. Aku hanya tersenyum melihatnya. "Sayang, udah sampe," kataku membangunkan Yura dengan lembut. "Udah sampe, Mas?" Dia mengedipkan mata beberapa kali. "Iya, yuk bangun," ajakku merapikan jilbabnya. Aku turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Kemudian berjalan beriringan memasuki rumah. "Kamarku yang mana, Mas?" tanya Ema di sela kesibukannya membereskan semuanya. "Terserah kamu, Dek. Mau kamar yang mana?" jawabku tersenyum. "Aku nggak mau kamarnya yang deket-deket kalian. Nanti mengganggu. Hehehe," sahutnya terkekeh. "Ya udah kalau gitu kamarmu yang di bawah aja, ya. Kamar kami yang di atas." Aku menawarkan. "Yo Wes, Mas. Oke waelah," sahutnya kembali tertawa. Ema memang di kenal sebagai gadis yang riang dan lincah. Semua orang di kantor sering tersenyum di buatnya. Ema menggeret kopernya ke arah kamar. Kemudian menghilang dari pandangan. Sedangkan Yura duduk diam di sofa. Memperhatikan kami yang sedang bercanda berdua. "Sayang, yuk kita ke kamar," ajakku. Dia diam saja menatap dengan tatapan tajam. "Mas, jangan sampe salah masuk kamar, ya!" katanya mengingatkan dengan mata melotot dan bibir mengerucut kesal. Aku tertawa melihat kecemburuannya. Perlahan aku mendekat dan duduk di sisinya. "Ya Allah Sayang. Nggak boleh suudzon sama suami sendiri. InsyaAllah iman Mas kuat. Mas itu mencintaimu, bukan yang lainnya." "Mas, kata orang cinta tumbuh karena terbiasa. Tapi aku percaya Mas tidak akan seperti itu, kan?" "InsyaAllah tidak Sayang. Sudah ngambeknya? Kalau sudah ayo kita istirahat di kamar, Mas capek Sayang," ucapku menarik tangannya supaya dia mengikutiku naik ke atas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN