Putus Asa ( POV Danu)

1260 Kata
Sayang, Mas bisa jelasin," ucapku mempererat pelukan. Ema mengerti, dia langsung berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Aku tahu perasaan yura saat ini. Dia pasti hancur, dia pasti merasa tak bisa membahagiakan aku. Aku terus berusaha menenangkannya. Kutuntun dia masuk ke kamar. Kududukkan dia di sisi ranjang. Tubuhnya bergetar hebat, kuraih kepalanya yang di balut jilbab warna cream lalu kucium keningnya. "Sayang, lihat Mas," ucapku lirih. Kubingkai wajahnya dengan kedua telapak tangan. Matanya masih terpejam, wajah itu basah oleh air mata. "Apa pun yang terjadi sama kamu, Mas tetap sayang sama kamu." Yura membuka mata, dia mencoba bicara. "Ma ... Mas, kenapa Mas bohong sama aku?" "Karena Mas nggak mau lihat kamu hancur, Sayang." Yura semakin tergugu. Aku mencoba memeluk, tapi dia menghindariku. "Mas, dengan seperti ini kamu semakin membuatku hancur. Bagaimana kau memikirkan kebahagiaanku dengan mengorbankan kebahagiaanmu. Mas... Aku MANDUL, Mas. Aku MANDUL!!" ucapnya penuh penekanan. Ia turun dari ranjang dan bersandar ke dinding, di peluknya lutut sangat erat. Wanitaku meraung menangis meratapi kenyataan. Aku mencoba mendekat, mengusap kepalanya, tapi dengan cepat ia menepisnya. "Sayang, maafin Mas." ucapku lirih. "Mas, cari kebahagiaanmu sendiri, Mas. Selamanya aku tidak akan pernah bisa memberimu anak." Yura semakin tergugu. Bahunya semakin bergetar. Aku melangkah keluar mencari Papa. Kulihat dengan santainya dia membaca koran di taman belakang. "Kenapa? Mau marah?" tanyanya santai, matanya masih fokus dengan koran di tangan. "Aku sudah menuruti kemauan Papa untuk menikah lagi. Mengapa Papa mengingkari janji?" suaraku meninggi. "Sudahlah, apa sih lebihnya wanita itu sampai kau habis-habisan membelanya? Pikirkan masa depanmu, masa tuamu. Siapa yang akan mengurusmu esok di hari tua kalau bukan anak?" katanya membolak-balik koran di tangan. "Pa! Jangan lupakan pengorbanannya untuk keluarga kita. Sebelum Mama meninggal, selama enam bulan Yura dengan ikhlas mengurusnya. Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Mama bahkan tidak mau di urus oleh orang lain selain dia. Papa lupa betapa berartinya Yura buat Mama?" "Kebetulan saja, istrimu itu tidak bekerja. Dari pada dia terus di rumah lebih baik bantu-bantu kita ngurus Mama, kan?" "Astagfirullahalazimm ... " Kuusap dadaku berulang kali. Mencoba mengendalikan emosi. Terbuat dari apa hati pria di hadapanku ini. Dia lupa apapun kebaikan yang pernah di torehkan Yura di keluarga ini. Hanya karena Yura tidak bisa memberikan keturunan. Siapa yang mau berada di posisi Yura? Tentu dia pun sangat menginginkan hadirnya seorang anak di tengah-tengah kami. Aku meninggalkan Papa yang masih sibuk membaca koran di taman belakang. Kulihat Ema duduk di ruang tengah, sendirian. Aku mengacuhkannya. Niat awal menikahinya agar Papa tidak bicara perihal sebenarnya pada Yura. Kini setelah pernikahan itu terlanjur terlaksana Papa malah tidak menepati janji. Aku membuat hancur wanita yang sangat kusayangi itu berkali-kali. Kubuka pintu kamar. Dia tidak ada lagi di sana. Aku berlari menuruni anak tangga. Ema yang melihatku berlari segera menyusul dari belakang. Kucari dia di halaman, di berbagai arah. Tak juga kutemukan. "Mas, ada apa?" tanya Ema. "Yura tidak ada lagi di kamar," jawabku cemas. "Mungkin Mbak Yura pulang, Mas. Kita coba cari di rumah, ya." Ema ada benarnya mungkin dia pulang ke rumah. Aku segera berlari menuju arah mobil terparkir kemudian secepat kilat melesat masuk. Sampai di depan Ema melambaikan tangannya. Hampir aku lupa mengajaknya pulang. *** Di perjalanan aku sangat cemas, bagaimana kalau dia berbuat nekat. Dia tidak memiliki keluarga. Hanya aku sandaran hidupnya. Sialnya jalanan macet. Aku menekan bel mobil berulang kali. Rasanya ingin turun dan marah kepada mobil yang berhenti di depanku. "Mas, istighfar Mas... " Ema mengingatkan. "Astagfirullahaladzim," ucapku berulang kali. Beruntung kemacetan tidak berlangsung lama. Aku menyetir mobil dengan kecepatan tinggi sampai Ema yang duduk di belakang terlihat ketakutan. Sampai di rumah aku langsung. Menuju kamar. Sebelumnya kuminta Ema untuk tidak menyusul ke atas. Karena kupikir ini urusan keluargaku. Aku tidak ingin orang luar tahu semuanya. Dia setuju. Kreakk... Kubuka kamar, Yura tidak ada di sini. Aku hendak melangkah keluar, tapi terlihat dari kaca jendela dia mau melompat ke bawah dari balkon rumah. Aku berlari dan memeluknya, meraih tubuhnya yang sudah naik di pembatas besi. "Lepaskan aku, Mas. Lepaskan! Kau berhak bahagia tanpa aku!" teriaknya histeris. Aku menutup semua pintu dan memperhatikannya yang menjerit dan menangis. Tubuhku ambruk di hadapannya bertumpu lutut. "Apa yang kau dapat kalau kau terjun dari sana? Apa?!" bentakku padanya." Apa kau pikir aku akan bahagia bersama Ema?" Teriakku nyaring di telinganya. Ia menutup kedua telinganya dengan telapak tangan seolah tidak ingin mendengar. Ku langkahkan lutut lebih mendekat ke arahnya. Kemudian memegang kedua tangannya. "Aku akan lebih hancur kalau kau meninggalkanku, Sayang ... " lirih kuucapkan sembari menahan air mata yang berebut ingin tumpah. "Tidak ada yang menggantikanmu, percaya padaku. Bagaimanapun kondisimu, kamu yang terbaik." Yura mulai tenang, di hapusnya air mata. Dia mendongak melihat wajahku. "Mas... " "Iya, ada apa, sayang?" "Ma... maafkan aku, Mas... " ucapnya memeluk pinggang. Menyandarkan kepala dan kembali menangis sesenggukan. Aku menuntunnya berdiri dan duduk di ranjang. Kemudian kutatap wajahnya lama, lalu menautkan kening kami berdua. "Kita lewati cobaan ini sama-sama, Sayang." ucapku sembari memeluk erat kepalanya. "Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama." Dia mengangguk lemah. *** Hari ini suasana kantor cukup panas. Entah mengapa aku merasa bahwa beberapa karyawan seperti berbisik ketika aku melintasi mereka. Aku masih teringat kejadian beberapa hari yang lewat, semoga Yura hari ini tidak mencoba bunuh diri lagi. Setelah kejadian itu aku sering mendapati dia mencoba mengakhiri hidup. Berulang kali membuang racun tikus di bawah ranjang. Obat tidur yang di beli secara berlebihan dan pernah memegorki dia nyaris mengiris nadinya di kamar mandi. Aku sudah memperkerjakan Bik Yuni di rumah untuk menjaga yura di rumah, semoga dia baik-baik saja. Dia lebih sering murung sekarang. Aku tahu pasti susah mengembalikan keceriaan nya. Aku harus bicara pada Ema. Akan kukatakan aku akan tetap menanggung biaya rumah sakit adiknya, tapi kami harus bercerai. Karena selain merugikan nya sebagai seorang gadis yang di cap istri orang, juga bisa membuat hati istriku lebih terluka. Jam menunjukkan pukul 16.30. Aku mengirim chat istriku di rumah kalau aku bersiap akan pulang. Kubuka pintu ruangan kemudian memberi salam pada karyawan yang lewat. Tanpa sengaja melihat ke arah ruangan di mana Ema bekerja. Semua temannya seolah menatap heran. Apa mereka mengetahui pernikahan kami? Seharusnya mereka tidak tahu karena kami sepakat menyembunyikan pernikahan ini. Saat aku menghidupkan mesin mobil kulihat Ema yang tampak tergesa berlari ke arah jalan raya. Mukanya terlihat cemas. Apa yang terjadi? Aku menyusulnya kemudian menawarkan mengantarkan ke arah tujuannya. "Mas, tolong ke rumah sakit sekarang," pintanya cepat. Aku segera melesat ke rumah sakit. Dia tampak gelisah menggigit kukunya berulang kali. Sampai di rumah sakit, dia langsung keluar mobil dan berlari ke ruangan di mana adiknya di rawat. Aku menyusulnya dari belakang. Sampai di sana kulihat dia sedang berbincang dengan dokter. Kemudian tubuhnya lemas duduk di ruang tunggu dengan wajah tertunduk. "Kenapa?" tanyaku setelah duduk di sisinya. "Yudha, kritis Mas... " jawabnya dengan suara serak. Kepalanya jatuh di bahuku. Ema mulai terisak. "Kamu yang sabar, berdo'a semoga Yudha baik-baik saja," ucapku berusaha menenangkan. Ku tepuk pundaknya beberapa kali. Setelah menunggu sekitar dua jam dokter keluar. Kami berdiri menunggu penjelasan dari nya. "Maaf, Mbak Ema. Kami tidak bisa menolong Yudha. Dia sudah tidak ada lagi," seketika tubuh Ema ambruk di pelukanku. Dia tak sadarkan diri. Dokter segera memintaku membawanya ke ruang UGD. Ku angkat tubuhnya dan membawanya ke sana. Di sana dia di periksa. "Sepertinya, dia syok Pak." ucap dokter itu. "Kalau boleh tau, anda siapa?" tanyanya. Aku diam sejenak, bingung harus menjawab apa. "Saya... Suaminya, Dok." jawabku singkat. "Baiklah, Pak. untuk sementara tolong di jaga perasaannya. Sepertinya istri anda begitu merasa kehilangan setelah di tinggal adiknya." Aku diam saja mendengar penjelasan dokter. Bagaimana aku akan menceraikannya di saat keadaanya seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN