“Gue sayang sama lo.” Adnan mengerjabkan matanya ketika mendengar kalimat pembuka yang sangat horor itu. Dia kini bersama dengan Nayara di salah satu tempat makan yang cukup terkenal di Ubud. Adnan terus memperhatikan gadis yang duduk di hadapannya itu dengan mata yang berkedip pelan, Adnan ngeri tiba-tiba Nayara hanya nge-prank saja tapi melihat raut wajah dan tatapan matanya, wanita itu terlihat begitu serius. Adnan melambaikan tangannya di udara seolah dia sedang berusaha mengusir perkataan Nayara kemudian menggeleng pelan. “Kalau mau nge-prank wajahnya jangan seserius itu lah, Nay!” seru Adnan dengan raut wajah jenaka, berusaha menyembunyikan jantungnya yang kini berdebar dengan kencang. Adnan tidak boleh terlihat gila di saat-saat seperti ini. “Gue nggak nge-pr

