“Hallo, bapak Abdilah, menantu paling hitz dan badai sedjakartah, in here!” seru Adnan dengan heboh di depan pintu yang bejulang tinggi. Aileena yang sudah pegal berdiri memilih duduk di kursi santai yang ada di teras rumah bapak Abdilah. Mereka beru saja sampai setelah menghabiskan waktu hampir satu bulan di Bali untuk memperbaiki semuanya. Adnan bahkan sudah unboxing piyama sepuluh kali tanpa pengaman tapi hasilnya belum juga kelihatan. “BAPAK ABDILAHH, YUHUU!” Adnan kembali berseru di depan pintu tinggi yang tertutup rapat itu. Pria itu bahkan mengetok dan memencet bel berkali-kali namun tidak ada sautan apapun. “Aku bilang juga apa beb, sebaiknya kita pulang ke rumah dulu baru datang ke sini. Aku rasa bapak Abdilah sedang dalam model jual mahal makanya sok-sokan nggak mau

