“Beb, buruan! Bapak Abdilah udah rewel bangat ini, masa dia nelponin aku setiap dua menit sekali terus pas aku angkat dia matiin, maksdunya apa!” Adnan berseru dengan heboh di pintu masuk. Adnan sudah siap sejak setengah jam yang lalu sedangkan Aileena masih sibuk melukis wajahnya di depan meja riasnya. “BEB, BURUAN DONG CINTAHH, KAMU NGGAK MAU KAN PAPI HITZ KAMU ITU NGAMUK KAYAK KEMARIN DAN MAKSA KITA GOYANG MAMAH MUDA?!” Adnan kembali berseru, dia menatap layar ponsel barunya dengan logo apel di gigit itu. Tentu ponsel itu adalah ponsel bekas Aileena sedangkan wanita itu kemarin membeli seri terbaru dari ponsel apel di gigit itu. “BENTAR DULU, LIPSTIK AKU KELUAR JALUR GARA-GARA SUARA JELEK KAMU!” seru Aileena dari dalam kamar, Adnan mengehela napasnya. Jarum jam terus berg

