Saya yakin saya sudah gila. Gila karena terus mengacuhkanmu. Gila karena jarak yang saya sendiri ciptakan. Gila karena sepertinya kita tidak dapat seperti dulu. Saya gila, Aldric. Kamu dengar? Saya gila. —Dalam selimut, bersama isak tangis. NADINE'S POV Aku berlari memasuki rumah, tanpa peduli teriakan khawatir Bang Igo dan Pak Ujang. Menaiki tiap anak tangga dan masuk ke kamar. Kupeluk guling dan kubiarkan air mataku mengalir. Semuanya terasa menyakitkan. Dari awal, terus saja kukatakan pada diriku, bahwa aku bisa melalui ini. Semuanya tidak akan sesakit ini. Namun ternyata, menghilang adalah keinginan utamaku sekarang. Kapan hati dan perasaan ini akan sejalan dan kompak? Suara pintu yang terbuka membuatku dengan sigap menghapus air mata. "Nduk." Eyang. Aku perlahan memilih duduk dan

