"Mimpiku untuk bisa selalu bersamamu. Menghabiskan waktu tanpa tidur dan kita akan terus berbicara tanpa putus. Biarlah saraf kita putus, saya tidak peduli. Karena saya begitu menyukai suaramu." —Zen China Restaurant, saat gelap menyapa.
NADINE 'S POV
"Maaf Papa telat." Aku menatap papa sambil tersenyum. Lantas mengangguk mengerti.
"It's okay, Pa," jawabku sambil terkekeh. Aku mendekati papa dan langsung mengalungkan tanganku pada lengan papa.
"Ayo!” ujar papa, dan kami mulai berlalu meninggalkan Big Ben di belakang.
"Kita mau kemana, Pa?"
"Kencan." Aku terkekeh sambil membuang muka. Lelaki tua di sebelahku ini memang sangat lucu sekarang.
"Nadine serius, Pa."
"London Eye? Mau?"
"Emang sempet?” tanyaku sembari melihat jam di pergelangan tangan. “Kita bakal nunggu lama dong nanti."
"Yaudah kita jalan-jalan aja."
Aku hanya mengangguk. Jika aku dan papa hanya pergi berdua, akan sangat lama mendapatkan tempat untuk berada di London Eye. Jika kami bergabung dalam suatu kelompok tour, mungkin akan lebih cepat. Ya, tempat menakjubkan itu memang diincar semua orang. Namun sayangnya aku memang tidak ingin menaiki kapsul raksasa itu sekarang.
Aku dan papa meneruskan langkah kaki di sepanjang Westminster Bridge. Bergabung di antara banyaknya manusia yang juga turut berlalu lalang.
"Jujur, Papa kangen kita liburan lagi." Aku menatap papa yang kini sedang menatapku dengan senyum samarnya. "Papa seneng bisa sama kamu sekarang. Walaupun cuma berdua sama anak sulung Papa, Papa udah bersyukur. Maaf karna Papa terlalu sibuk selama ini." Aku menatap papa sambil tersenyum.
Kuperhatikan sungai Thames sembari mengucap syukur dalam hati. Kebahagiaan yang begitu luar biasa akhirnya aku rasakan mengalir membasahi setiap seluk beluk hatiku. Seperti baru pertama kali aku merasakan hal ini. Aku menarik napas dalam-dalam sambil menutup mata. Berpikir bahwa sebenarnya aku juga seperti Aqila. Aku juga terlahir beruntung.
"Nanti, Nadine yang bakal bawa keluarga kita keliling dunia." Aku nyengir lebar diikuti tawa kecil.
"Papa tunggu,” ujar papa bersemangat.
Aku dan papa berbelok ke arah The Queen's Walk, menuruni setiap anak tangganya. McDonald yang berada di sana lumayan banyak didatangi pengunjung. Seketika aku langsung merasakan lapar. Lalu aku menoleh pada papa yang kini sedang sibuk menatap ke arah lain.
"Pa,” panggilku pada papa.
"Ya?"
"Nadine laper,” ucapku jujur.
Papa tertawa lalu merangkulku lebih erat. "Ini Papa juga mau ajak kamu makan." Senyumku merekah sempurna.
"Kita makan dimana, Pa?"
"Udah ikut aja."
Berjalan kaki ditemani angin membuatku tidak merasakan lelah sama sekali. Aku menikmati setiap kecil langkah kakiku. Aku menikmati setiap hembusan napasku. Aku bersyukur, untuk kesekian kalinya.
"Wah, kita makan disini, Pa?" Papa mengangguk mantap.
Aku rasa aku akan kenyang malam ini. Aku dan papa memasuki Zen China Restaurant, County Hall. Papa berbicara dengan salah satu staff yang tampak bersahabat. Kami diantar pada salah satu meja yang berada di dekat kaca. Aku menatap sekeliling restaurant. Atmosfir casual, cosy, juga romantic menyatu. Adanya live music membuat aku makin nyaman disini. Aku menyukai tempat ini.
Aku menatap takjub keluar. Pemandangan sungai Thames dan juga Big Ben yang begitu megah tampak di luar kaca. Aku tersenyum menatap papa. Staff yang tadipun ikut tersenyum menatapku.
"Kamu mau pesen apa?" tanya papa padaku.
"Nadine mau---" Aku melihat daftar menu. Begitu banyak makanan yang membuat perutku makin berbunyi. "Chicken with green pepper in sweet and sour sauce. Terus crispy shredded potato with spring onions and salad. Terus juga egg fried rice. Vegetable and sour soupnya juga, deh." Aku menunjukkan cengiran pada papa.
"Kamu yakin bakal habisin semuanya?" Aku menggeleng cepat merespon jawaban papa.
"Kan bareng sama papa." Papa lantas mengangguk mengerti.
Aku kembali menatap keluar dan membiarkan papa membaca ulang pesananku. Perutku tergelitik saat mendengar papa menambah pesanan. Golden crispy king prawn, pecking roast duck, lalu juicy dim sum. Benar-benar surga dunia yang tidak bisa ditolak.
Aku menatap kepergian staff tersebut. Lalu getaran pada ponsel membuatku dengan cepat mengeceknya. Sebuah panggilan dari nomor asing. Dan sepertinya aku mengingat nomor ini. Ini adalah nomor yang pernah menghubungiku saat makan malam di rumah opa. Sebelum aku masuk rumah, aku ingat sekali bahwa aku menjawab panggilan dari nomor ini.
Aku menatap papa sebentar lalu menjawab panggilan tersebut.
"Halo?" sapaku sembari menanti jawaban dari seberang. Namun hening. Tidak ada suara. Tiba-tiba, sebuah alunan lagu terdengar. Lagu yang biasa aku dengar. Lagu ini benar-benar tidak asing. Aku makin bingung pada si penelepon. Ingin kuputuskan sambungan, namun aku terlampau penasaran. Aku menunggu hingga beberapa detik. "Halo?" panggilku lagi. Namun orang di seberang sana tetap bisu.
Sambungan terputus, namun tentu bukan aku yang memutuskan. Si peneleponlah yang memutuskannya. Aku hanya mengangkat bahu lalu meletakkan ponselku di atas meja.
Gelap kian menyapa kota ini. Satu persatu, lampu warna warni tampak menyala. Menghiasi dan memberi warna, membuat keadaan malam ini lebih hidup. Tiba-tiba, bayangan lelaki itu melintasi kepalaku. Gelak tawanya, hentakan kesalnya, ekspresi serius miliknya. Aku merindukan lelaki itu. Aldric, apa kabar dia di sana?
Aku ingin pulang, namun aku juga ingin di sini. Bersama papa, menemani papa, dan memastikan bahwa papa tidak akan memakan mie instan lagi.
Aku hanya takut, jika aku kembali bersekolah, pandangan anak-anak lain terhadapku akan berbeda. Ah, ingin sekali kumaki Aqila. Tapi terkadang, aku tidak dapat melakukan hal itu padanya. Karena anak itu memang setengah gila. Selalu nekat.
"Kamu kenapa?" Suara papa membuatku tersadar dari lamunanku.
"Enggak apa-apa."
"Ada masalah di Jakarta?"
"Semuanya baik. Nadine rasa."
"Coba cerita sama papa."
Aku menghela napas sebelum akhirnya mengatakan yang sebenarnya pada papa. "Satu sekolahan udah tau Nadine siapa. Dan Nadine punya pikiran buat pulang."
"Ada yang salah kalau semuanya tau kamu siapa?"
"Nadine nggak suka saat orang-orang malah hormatin Nadine karna tau Nadine siapa, Pa. Nadine bakalan benci mereka karna mereka pasti lebih hormatin Nadine di depan dan nyatanya ngutuk Nadine di belakang." Aku menarik napas perlahan. "Di sekolah itu, satu orang bisa pakai 100 wajah, kerenkan?"
"Boleh Papa tau gimana kamu di sekolahan?" Aku kini menatap papa lebih serius.
"Semua orang benci Nadine, Pa," ujarku tersenyum kecut. "Tapi Nadine nggak benci mereka balik. Nadine cuma bingung, apa yang udah Nadine perbuat sampai-sampai mereka segitu bencinya ke Nadine."
"Kenapa kamu nggak pernah cerita, Mama tau tentang hal ini?"
Aku menggeleng pelan. "Buat apa? Itu cuma hal kecil yang nggak perlu Nadine sebar ke siapa-siapa."
"Itu kekerasan, Nadine. Om Rega, dia nggak bertindak?"
"Nadine masih sanggup ngelawan, Pa. Dan, Nadine nggak punya hubungan apa-apa sama Om Rega kalau itu di lingkungan sekolah."
"Ya Tuhan, Nadine." Aku mengernyit menatap papa yang kini kelihatan lebih frustrasi. "Papa bener-bener minta maaf karena nggak bisa jaga kamu."
"No.” Aku menggeleng. “Pa, udah cukup bilang maafnya. Lagian mungkin sikap sama sifat Nadine emang buat mereka sakit hati. Terus mungkin, karena Nadine bisa dapetin orang yang nggak bisa mereka dapetin."
"Maksud kamu? Mereka cemburu sama kamu karena seseorang?"
"Siapa tau?"
"Cowok?"
"Ya. Mungkin."
"Azka?"
Aku hanya menatap papa dengan senyum tipis. Aku membuang pandangan dan kembali melihat pemandangan Sungai Thames dan Big Ben serta benda lainnya.
“Yang nelfon tadi, itu elo kan, Al?” batinku bertanya.
…t b c…