[AQILA 'S POV - 3]

2707 Kata
"Jangan buat dia kecewa lagi.Karna dia sudah cukup sering dikecewakan." —Kamar Kak Nadine, pukul 23.34. AQILA 'S POV "Ma, papa sama Kak Nadine dimana?" "Udah pergi duluan." "Nggak mungkin." Kali ini aku menatap jam. Yang benar saja, ini masih subuh untuk pergi ke sekolah. "Kalau Mama nggak mau kasih tau aku, aku bakal mogok makan." Aku berkata tegas. Aku benar-benar penasaran dimana Kak Nadine dan papa setelah mendengar tuturan mama sebelum tidur. "Jangan begitu. Kamu mau sekurus apalagi? Makan kamu itu udah sedikit, jangan pakai mogok makan." Mama membalas sambil sibuk dengan penampilannya. "Makanya kasih tau Aqila." "Mereka pergi." "Pergi kemana?" "Ke tempat papa kamu." "HA?!" Aku benar-benar tidak dapat mengontrol suaraku akibat terkejut. "Jangan bilang kalau Kak Nadine pergi karena---" "Kenapa? Kakak kamu kenapa?" Mama memotong kalimatku. Aku langsung kikuk dan bingung harus menjawab apa. Apa ini ada hubungannya dengan Sofi? Jika benar Kak Nadine pergi karena perempuan sakit jiwa itu, aku pastikan Sofi akan botak dalam sekejap! "Kak Nadine pergi kapan? Kok nggak pamit sama Aqila?" Aku lantas kesal pada mama. "Dia takut kamu nahan dia." Aku menghembuskan napas kesal. "Mungkin kakak kamu nggak bakal lama disana." Aku memperhatikan ekspresi mama yang tampak sendu. "Kalau Kak Nadine pilih pindah sekolah gimana?" Aku menutup mata karena begitu banyak pikiran berkecamuk. "Kita berdoa semoga enggak." Aku memutuskan untuk menyudahi sarapan, kemudian berjalan keluar rumah setelah pamit pada mama. Pikiran tentang Kak Nadine masih memenuhi kepalaku. Aku sudah banyak mengirim pesan padanya, namun tak kunjung ada balasan. Aku hanya tinggal memasuki mobil. Namun kedatangan seseorang menarik perhatianku. Aku berjalan mendekat, melihatnya sibuk menunduk menatap ponsel. "Elo? Ngapain di sini?" tanyaku membuatnya mengangkat kepala. "Eh, elo." "Ngapain di sini?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku. "Nadine ada?" "Nggak!" "Dia udah pergi duluan? Chat gue nggak dibales sama dia." "Mana gue tau," jawabku berjalan menjauh. "Udah, ah, ntar gue telat." "Aqila." Panggilan lelaki itu membuatku menoleh. "Apaan?" "Pulang sekolah ntar, gue jemput, ya?" tawarnya. Aku menatap lelaki ini penuh tanya. Pergi dengan kakakku dan pulang mengajakku. Gila! "Gue nggak mau." Aku menggeleng pelan lalu dengan cepat masuk ke mobil. Oh Tuhan. Hampir saja aku menampar wajah lelaki itu. Karena dia Kak Nadine memilih pergi. Sikap lemahnya membuatku muak. Apa yang membuatnya jatuh pada Sofi dan meninggalkan Kak Nadine begitu saja. Bukannya aku tidak tahu. Aku tau. Aku jelas-jelas tau. Kak Nadine, kakakku yang bodoh itu menyukai lelaki gila itu. Dan lelaki itu dengan tidak berpikir sering berbicara tentangku pada kak Nadine. Semua asumsiku diperkuat karena kak Nadine yang berminat pada tema radio G-love malam itu. Ayolah, kak Nadine bukan pecinta radio. Dan tiba tiba saja dia menambah volume radio dan beralasan bahwa dia benci suasana yang sepi. Kak Nadine pencinta suasana yang hening. Lagi-lagi, pikiranku bertambah. Membuatku ingin menenggelamkan diri di laut lepas. *** Sore hari, aku pulang. Satpam yang menjaga rumah membuka pagar untukku. Bayangan percakapan aku dan kak Azka kembali datang. Lelaki itu mendatangi sekolahku dan menyerbuku dengan pertanyannya. Jawabanku membuatnya terdiam. Dan aku meninggalkannya dan membiarkannya termenung di samping motornya. "Kak Nadine pergi. Puas lo, kak? Karna elo, dia ninggalin gue sama mama dan pergi ikut papa. Karna elo, dia milih pergi ke London." "Baru pulang, Non?" Tanya satpam rumahku membuat lamunanku buyar. "Hm, Bang, mama ada?" tanyaku duduk di kursi di samping Bang Igo. "Belum pulang, Non." "Serius?" "Iyak." Aku melepaskan tas dan membiarkannya jatuh ke bawah. Punggungku serasa ingin lepas. "Mau Bang Igo ambilin minum?" Tawar bang Igo. "Nggak usah," tolakku. "Oh iya, mama udah bilangkan kalau lo bakal kerja full dulu seminggu ini?" Bang Igo mengangguk dan aku pun ikut mengangguk. "Non Nadine emangnya kemana?" tanya Bang Igo. "Dia lagi liburan." Aku membuka sepatu sehingga hanya menyisakan kaus kaki. Aku mengambil tas dan berjalan memasuki rumah. Seketika, aku langsung disambut leh situasi sepi yang begitu aku benci. Sehabis mandi, aku hanya duduk termenung di atas tempat tidur. Aku menangis karena kesal. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Perasaan lega menghampiri karena ternyata Kak Nadine membalas pesanku. Aku membalas pesan Kak Nadine dengan kesal yang bertambah. Apa tadi? Mencari pokemon? Dasar orang gila. Aku mengajak Kak Nadine untuk berkomunikasi lewat video call. Wajah Kak Nadine dan papa memenuhi layar ponselku. Aku makin berteriak kesal. Tangisanku tak juga kunjung berhenti karena mengingat mama yang belum juga pulang. Aku melihat di layar papa yang sibuk dengan ponselnya. Saat setelah papa mematikan ponsel, papa memperlihatkan senyumnya. Dan berkata bahwa mama sudah berhenti bekerja. Aku melompat kegirangan, papa menyuruhku menghubungi mama namun aku tidak melakukannya. Aku melompat dari tempat tidur dengan sisa air mata yang menghiasi wajah. Aku berjalan kearah ruang tamu, dan membuka pintu utama. Di bawah langit yang sudah mulai gelap, Bang Igo dan Pak Ujang terlihat mengobrol ringan. Aku berjalan mendekat dan bergabung bersama mereka. Tatapan khawatir terlihat jelas di mata kedua priabeda usia itu. Tiba-tiba, aku berteriak girang. Membuat mereka terlihat semakin penasaran. "Tau nggak?" Bang Igo dan Pak Ujang menggeleng serempak. "Mama udah nggak kerja lagi mulai besok!!!" Aku berteriak lebih girang. Dapat kulihat ekpresi lega dari mereka. Mereka ikut menari bersamaku yang sudah gila sejak tadi. Kami bertiga berpengangan tangan dan terus bergoyang. "Aqila seneng banget! Mama nggak kerja lagi. Artinya Aqila nggak bakal kesepian lagi kalau pulang sekolah." Pak Ujang dan Bang Igo tampak mengangguk. "Iya, Non, Bapak juga seneng dengernya. Ternyata Ibu milih berhenti dan jadi banyak waktu sama keluarga." "Sama, Non, Bang Igo juga seneng. Lagian kadang Bang Igo kasian liat Ibu, pulang kerja mukanya capek terus." "Nah, Aqila punya ide!" Lalu aku pun mulai membisikkan ideku pada mereka berdua. *** Semuanya sudah disiapkan. Makanan-makanan ringan untuk menjadi teman saat nonton film. Aku dan Bang Igo serta Pak Ujang memilih untuk pergi ke supermarket dan membeli makanan ringan. Setelah itu, kami menyusunnya di meja yang terdapat di depan televisi. Tidak lama setelah itu, terdengar suara klackson yang membuat Bang Igo berlari membuka pintu. Aku dan pak Ujang berlari ke ruang tamu dan kami menyambut mama dengan terompet. Mama yang baru keluar dari mobil menatap kami tidak percaya. "Selamet Mama! Ini kejutan buat Mama karna Mama udah nggak kerja lagi." Aku dan Pak Ujang ber-highfive semangat. "Ya ampun!" teriak mama sambil geleng kepala. "Sampai disambut kayak gini. Pak Ujang sama Igo malah ikut-ikutan." "Iya, Buk, abisnya kita berdua juga nggak kalah seneng." "Segitu bahagianya ya karena saya udah nggak kerja lagi. Kalian aja bahagia gini, gimana Nadine di sana." Mama tampak menunduk. Aku yang tidak akan membiarkan mama sedih segera memikirkan solusi. "Ma, kita movie marathon, ya." Mama tampak bingung, lalu aku dengan cepat merangkul mama dan mengajak mama masuk ke rumah. Bang Igo mematikan lampu dan hanya cahaya televisi yang menjadi penerangan. Aku dan mama duduk di sofa sedangkan Pak Ujang dan Bang Igo duduk di lantai yang sudah dialas karpet. Aku terbangun entah pada di film keberapa. Aku menggeliat dan ternyata mama sudah tidak ada di sampingku. Selimut yang kurasakan menutup tubuhku membuatku tersenyum. Mama memberi kami masing-masing sebuah selimut. Aku pelan-pelan meninggalkan ruang keluarga. Berjalan menuju kamar. Aku menghempas tubuhku di tempat tidur. Tak lupa, aku mengecek ponsel dan membuka sebuah aplikasi chatting. Aku mengigit bibir bagian dalam, merasa sedikit kecewa karena pesan yang aku kirim dari siang pada Razza, tidak mendapat balasan apapun hingga sekarang. Aku mematikan ponsel dan duduk. Aku rindu perempuan gila yang kini sedang melarikan diri ke negara orang. Aku berjalan keluar kamar dan pelan-pelan masuk ke kamar kak Nadine. Hei, dia tidak akan memarahiku. Dia tidak disini. Batinku merasa menang. Aku memperhatikan setiap sudut ruang kamarnya. Berbeda sekali denganku yang lebih dominan dengan warna pink. Aku duduk pada tempat tidurnya. Melihat ke arah rak panjang yang menempel ke dinding. Begitu banyak buku yang kuyakini sebuah novel tersusun di sana. Aku mendekati kumpulan novel itu dan membaca tiap judulnya. Mataku menyipit ke arah novel yang masih terbungkus rapi oleh plastik. k****a pelan judulnya dan aku tersentak. Ya Tuhan, perempuan itu benar-benar mencintai sahabatnya. Batinku tak kuasa. Aku mengambil novel itu, membaca informasi yang berada di cover bagian belakangnya. Hai sahabatku, tahukah kau aku mencintaimu? Hai sahabatku, tahukah kau bahwa telah kuberikan hatiku untukmu? Hai sahabatku, matahari saja tahu aku menunggu. Bulan saja tahu aku terus menangis. Bintang saja tahu aku selalu kecewa. Tapi kenapa kau tidak pernah tahu? Aku meringis sambil menggigit bibir bagian dalam. Setelah kuletakkan novel itu, aku berjalan ke mejanya. Menatap tumpukan buku yang terdapat disana. Perhatianku ditarik oleh sebuah buku tipis. Begitu banyak penanda warna warni yang terdapat di sana. Aku tersenyum, ternyata kak Nadine begitu rajin dalam belajar. Aku membuka buku tersebut. Jidatku mengernyit bingung. Ini bukan buku dengan kumpulan catatan rumus atau apapun. Ini buku dengan kumpulan kata-kata yang membuatku tertarik membacanya. Aku berjalan menuju balkon, merasakan angin dan mulai membuka buku tersebut. Aku membacanya, pelan-pelan, karena dapat kurasakan sakitnya. "Dan pada akhirnya, hanya senyum penuh kepalsuan yang dapat aku tunjukkan. Membiarkan hatiku remuk di dalam. Membiarkan kau menghancurkannya secara perlahan. Dan itu, amat menyakitkan." "Jika mencintai diam-diam dapat menghasilkan uang, maka aku sudah akan sangat kaya sekarang." "Aku, kamu, akankah jadi kita?" "Papa, mama, izinkan aku sebagai putrimu, untuk mengejar dan merasakan kebahagiaannya." "Kau, aku, dan dia. Kita bertiga terjebak dalam sebuah lingkaran yang hanya menerima dua hati. Dimana salah satunya terpaksa harus keluar. Kalian yang membaca, bisa beritahu pada kami siapa yang harus mengalah dan keluar dari lingkaran kejam ini?" Aku berhenti membaca. Akukah orang yang Kak Nadine maksud dalam kalimat itu? Oh Tuhan. Apa yang telah aku lakukan pada kakakku sendiri? Aku terduduk di lantai balkon. Pikiranku penuh dengan Kak Nadine. Dia sakit, dia kecewa, dia rapuh, dia menjerit dalam hati. Aku tidak akan tinggal diam. Aku seketika berdiri, setelah kuletakkan buku milik Kak Nadine, aku meninggalkan kamarnya. *** Aku berjalan di lingkungan SMA Cakrawala dengan langkah pasti. Dapat kurasakan pandangan siswa dan siswi disini padaku. Ya, mereka pasti bingung melihat ada yang masuk dengan membawa tas dengan warna seragam yang berbeda. Tetapi aku tidak peduli, tetap berjalan mencari deretan kelas XII. XII IPS 1. Aku memasuki kelas itu dengan sambutan tatapan bingung dari setiap manusianya. Kuedarkan pandangan sekilas, dan dapat kulihat Sean yang kini menatapku bingung penuh tanya. Aku berhenti, berdiri di depan mereka semua. Aku masih berusaha menahan emosiku. "Wes, siapa lu? Anak baru?" Aku menatap lelaki yang barusan bersuara itu sinis. "Lo siapa woi?" Terdengar suara perempuan yang berteriak. "Boleh gue tau, Sofi yang mana?" tanyaku dengan tenang. "Lo nyari gue? Ada urusan apaan sama gue?" Jadi dia? Jadi perempuan ini? Aku menatapnya dari atas hingga bawah dengan senyum sinis. "Lo ada masalah apaan sama gue?" Perempuan itu mendekat, aku masih menatapnya. "SMP? Lo masih SMP? Waw!" Aku memperlihatkan senyum manisku untuk perempuan ini. Saat ingin bersuara, kurasakan sesuatu memegang pergelangan tanganku. Aku menoleh ke belakang dan kulihat Sean ingin menarikku, langsung saja aku menyentak tangannya dan membuat pegangannya terlepas. "Lo diem," ucapku pelan pada Sean. Aku kembali menatap Sofi yang kini tengah menatapku bingung. "Jadi elo?" ucapku padanya tanpa memperlihatkan sopanku. "Nabrak Kak Nadine, ancem dia, bikin dia malu sama satu sekolahan, cuma karena cowok." "Lo siapa?" tanya perempuan itu penuh penekanan. "Lo masih nanya? Harusnya gue yang nanya, lo siapa? Apa hak lo buat nindas Kakak gue?" Aku masih berusaha menahan emosi. "Dan juga, lo nggak berhak ngina kakak gue dengan kata-kata yang nggak pantes. Kalau Kak Nadine pergi sekolah pakai bis, berarti dia miskin? Kalau sepatunya kucel, berarti dia miskin? Kalau dia punya barang-barang bagus, berarti lo nuduh dia minjem barang orang dong, ya?! Kenapa, sih, lo terlalu ngurusin hidup kakak gue?!" Perempuan itu diam, tidak menjawab, sepertinya dia sedang berpikir bagaimana membalas kata-kataku. "Jangan lo pikir gue nggak tau. Jangan lo pikir karena lo lebih tua dari gue, gue bakalan takut. Enggak kayak gitu." "Jadi lo juru bicaranya dia? Dia punya uang juga ternyata buat bayar lo." Ucapan perempuan ini benar-benar begitu miris. Kenapa sepertinya hidupnya hanya membahas uang. "Mungkin butuh pengenalan kali, ya. Jadi, lo tau siapa Sean? Dia anaknya Pak Rega, kan? Gue keponakannya Pak Rega. Orang tuanya Pak Rega itu, opa sama oma gue. Gue, cucu dari pemilik yayasan tempat lo sekarang lagi sok jadi penguasa. Kak Nadine, dia kakak gue. Ngerti lo? Udah taukan Kak Nadine siapa?" Dapat kudengar bisikan-bisikan di sekitar. Jadi benar, mereka belum tahu Kak Nadine siapa selama ini. Perempuan itu diam, aku menatapnya tajam dan dia mengalihkan pandangan. "Aqila." Kudengar suara Sean dan aku tidak peduli. "Jangan pernah lagi hina kakak gue. Jangan pernah lagi lo deketin kaki lo buat jalan ke arah dia. Jangan pernah lagi lo gunain tangan lo buat narik rambutnya atau nyakitin wajahnya." "Aqila?" Kudengar suara lain dari arah pintu. Kak Azka datang dengan napas tersengal. "Dia, kan?" Aku membentak Sofi sambil menunjuk Aldric. "Kak Azka, diakan alasan kenapa lo nyakitin kakak gue? Kenapa harus kakak gue yang jadi serangan lo? Kenapa bukan orang lain aja? Oh, karna Kak Nadine terlalu deket sama Kak Azka, makanya lo jealous? Kasian." "Aqila ayo ikut kakak. Kamu bisa dimarahin sama guru di sini." Suara kak Azka terdengar. "Guru lo pada lagi rapat, ngerti?" kataku ketus. Aku berjalan mendekati kak Azka. "Karnea lo," tunjukku pada Kak Azka. "Dan lo!" Aku kemudian menunjuk Sofi. "Kakak gue jadi kenapa-napa. Dan jangan lo pikir gue bakal tinggal diem." "Aqila cukup." Teriakan Sean terdengar. "Lo diem. Lo belom tau aja dimana Kak Nadine sekarang," ucapku sinis pada Sean. "Maksud lo apa? Nadine dimana?" Wajah Sean mendadak berubah, sementara aku hanya tersenyum menatapnya. "Buat lo, hati-hati," ucapku tajam pada Sofi. Aku kemudian meninggalkan kelas, meninggalkan ruangan dimana semua orang masih sangat terkejut. "Aqila!" "Aqila!" "Aqila!!!" Sean, kak Azka, dan Razza. Aku mendengar panggilan mereka. Aku terus berjalan hingga tempat parkir. Dan teriakan tersebut belum juga hilang. Saat aku ingin memasuki mobil, tanganku dipegang erat dan badanku langsung saja berbalik menjadi menatap mereka bertiga. "Apaansih lo, Yan," ketusku pada Sean. "Kasih tau gue Nadine dimana!" "London." Aku menatap Kak Azka yang ternyata menjawab pertanyaan Sean. "Dia di London." "Apa?! Nggak usah bercanda woi." "Siapa yang bercanda?" tanyaku tiba-tiba. "Jadi beneran?" "Menurut lo?" "Nggak bener." Jawaban Sean membuatku ingin menendangnya. "Goblok." Aku menghardiknya. "Kapan Nadine pulang?" tanya Azka. "Tanyain dia." "Dia nggak bales chat gue." "Enak? Enak dicuekin gitu?" Kak Azka hanya diam. "Lo ngapain disini, Za?" tanya Kak Azka tiba-tiba. "Lo khawatir Nadine pergi juga?" "Lo suka sama Nadine, Za?" Tanya Sean tiba-tiba, aku mengernyit. Langsung saja aku membentak kak Azka dan Sean lalu mengusir mereka. Kutatap Razza yang hanya memperlihatkan ekspresi bingungnya. Ketika hanya tinggal kami berdua, Razza mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Aku menatapnya bingung. "Kenapa bolos lagi?" tanya Razza membuatku tersenyum masam. "Nggak seharusnya kamu kayak gini. Nanti kakak kamu marah." "Aku bakal lebih kecewa sama diri aku sendiri kalau ternyata aku cuma diem aja, Kak." "Kakak ngerti." "Bagus kalau kakak ngerti," ujarku tersenyum terpaksa. Kenapa lelaki ini seperti tidak terima dengan perbuatanku tadi. "Kakak cuman, kakak cuman khawatir sama kamu. Banyak banget tadi anak kelas dua belas yang liatin kamu." Aku tersentak. Apa tadi katanya? Khawatir? Apa aku sedang bermimpi? "Kak, Aqila udah gede. Bentar lagi Aqila bakal masuk SMA. Nggak lama lagi Aqila juga bakal ujian kelulusan. Abis itu Aqila lanjut sekolah di sini." "Di sini?" "Ya." "Bukannya kamu mau tinggal sama eyang kamu di Jogja? Kamu nggak jadi lanjutin SMA kamu disana?" "Enggak. Aqila pengen di sini aja." "Kenapa?" Karena elo, Razza g****k. "Pengen aja." "Jangan sia-siain mimpi kamu, Aqila. Kamu tau kakak dukung banget kamu lanjutin SMA kamu di sana." "Tapi aku berubah pikiran, Kak. Aku pengen di sini aja. Lagian juga, SMA inikan termasuk SMA favorit, banyak banget orang yang pengen ke sini." "Kamu udah pikirin ini mateng-mateng?" "Udah mateng, Kak!" "Kakak emang nggak bisa maksa kamu. Yaudah balik sana, nanti kamu di hukum lagi. Janji, ini terakhir kalinya kamu bolos." Aku menunjukkan cengiran lebarku dan setelah itu berpamitan pada Razza. Lelaki itu, entahlah, sangat sulit dibaca. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, banyak chat yang masuk. Shelby A: Woi g****k anak orang lo kemana? Shelby A: Mampus dah, alamat dipanggil nyokap lo ini mah. Shelby A: Lo kemana, sih? Shelby A: Ini sekolahan bukan punya elu g****k. Shelby A: Jangan bilang lo ke ckrwl lagi? Lo liatin kak Razza lagi? Aqila Filia Heidi: kepo! Shelby A: Sial! Buruan dateng!!! Gue tungguin di pagar belakang sekolah, lo masuk dari sono. Gercep, 15 menit dari sekarang. Aqila Filia Heidi: Y mks. Shelby A: Heh!!! Aku tertawa membaca pesan Shelby. Dia memang luar biasa. ...t b c...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN