"Kalau boleh, saya ingin memberi tahukan sesuatu. Untukmu, pangeran es dari kutub. Seorang putri dari padang pasir telah jatuh hati padamu. Akankah kau tangkap dia? Atau kau biarkan dia jatuh sendiri?"—tengah malam, 00.00.
AQILA 'S POV
Aku baru saja selesai bersiap-siap. Hari ini jadwal latihan musik. Aku menuruni tangga dan melihat Kak Nadine yang tampak serius dengan papa. Karena penasaran, aku berjalan mendekat. "Lagi ngobrol apaan? Kok kayaknya serius banget?!" tanyaku saat berada dekat Kak Nadine dan papa.
"Apaan, sih kepo, udah sana lu pergi aja." Aku menatap kak Nadine bingung.
"Dasar pelit." Kataku sengit. "Pa, Aqila pergi les musik dulu, ya." Setelah bersalaman dengan papa, aku berjalan keluar rumah.
Di mobil, aku sibuk memikirkan Kak Nadine dan papa. Terlihat sangat aneh saat mereka duduk dan tampak terlibat sebuah obrolan. Apa ada yang mereka rencanakan? Aku menghela napas dan memilih memainkan ponsel.
Sesampainya di tempat les, aku langsung mencari kelas. Kulihat Razza yang sedang duduk diam di kursinya. Perlahan, aku mendekat. Memilih duduk di sebelahnya. Sepertinya dia belum sadar akan keberadaanku. Karena sedari tadi dia hanya menunduk menatap ponsel. Kenapa terlihat begitu serius?
"Lagi chattan sama siapa, Kak?" Bukan bermaksud ingin tahu, hanya saja aku ingin membuat lelaki ini sadar bahwa aku ada.
"Eh, kamu." Aku mengangguk pelan, namun tak lama, ponselnya berbunyi. Sebuah guratan lega terlihat jelas di wajah itu.
“Apa yang sedang terjadi?” pikirku.
"Ada apa, Kak?" tanyaku lagi.
"Enggak, bukan apa-apa,” jawab Razza menyimpan ponselnya.
Aku diam, menatap ke depan. Razza pun tidak bersuara lagi. Aku menghela napas dengan pelan. Aku tidak berminat pada musik. Alasanku mengikuti les musik hanya karena lelaki ini. Selalu seperti ini, apa yang lelaki ini suka, aku selalu berusaha menyukainya. Sama seperti basket.
Satu jam berlalu, dan les hari ini berakhir. Aku menunggu Razza berdiri dan setelah itu kami berjalan bersama keluar.
Suara hujan terdengar, membuat senyumku merekah. Sedetik kemudian aku sadar, Razza pasti membenci hal ini.
"Kesini pake apaan, Kak?"
"Mau Kakak ke sini pake motor atau mobil, tetep bakal sama, kakak nggak akan mau bawa kendaraan di bawah hujan, Aqila. Kamu tau itu, kan?" Aku mengangguk perlahan sambil menggigit bibir bagian dalam. Aku membuang muka ke arah lain. Kulihat mobilku sedang terparkir di bawah hujan.
Aku teringat Pak Ujang yang tentu saja sedang berada di dalam mobil. Aku segera meneleponnya dan mengatakan aku akan pulang hanya saat hujan reda.
"Udah sana, kamu pulang, aja." Aku menggeleng pelan merespon perintah Razza.
"Aku nungguin Kakak aja. Lagian juga nggak bakal aman kalau pulang hujan begini. Pak Ujang juga bisa istirahat dulu." Aku tersenyum lalu memilih duduk.
Razza berjalan menjauh, entah pergi kemana. Aku menatap ponsel dan sibuk bertukar pesan dengan teman-temanku. Tidak lama, sebuah tangan terulur di depanku. Aku mendongak, dan menemukan wajah Razza menatapku seperti, entahlah, aku sulit membaca tatapannya.
"Ayo,” ajaknya pada akhirnya.
"Mau kemana, Kak?"
"Kita nunggu di tempat lain aja."
"Kakak yakin mau jalan di bawah hujan cuma pake payung doang? Ntar kakak basah loh."
"Nggak bakal basah banyak. Udah ayo." Dia menangkap tanganku, lalu menariknya.
Sepayung berdua?! Oh, rasanya hatiku benar-benar ingin meledak karena bahagia. Razza merangkul pundakku erat, dan aku memegang bagian pinggangnya tak kalah erat.
"Kak,” panggilku pelan padanya. Dia menatapku. Oh Tuhan, jarak kami begitu dekat. Tatapannya padaku sungguh membuatku terjatuh, terjerat dan susah untuk lepas.
"Ya?" Napasku seperti tersangkut. Aku berusaha menemukan suaraku.
"Ki---kita mau k---kemana?" tanyaku akhirnya.
Degub jantungku membuatku takut. Aku takut lelaki ini mendengarnya.
"Mobil kakak." Aku mengangguk paham.
Beberapa langkah lagi hingga akhirnya kami sampai. Razza membuka pintu mobilnya untukku. Seperti takut aku akan terjatuh, dia menggenggam tanganku erat bahkan saat aku sudah duduk. Setelah menutup pintuku dia berjalan berputar, menuju pintu sebelah kanan. Saat sudah masuk, Razza sibuk menepuk jacket miliknya. Warna babyblue tersebut tampak cocok untuknya.
"Tuhkan, Kak, Kakak basah."
"Ini cuma sedikit, Aqila." Aku tertawa menanggapi kalimatnya. "Kenapa ketawa?" tanya Razza tiba-tiba.
"Lucu aja liat Kakak basah gini." Aku tersenyum padanya.
Aku seperti ingin pingsan saat Razza menunjukkan cengiran miliknya. Cengiran yang hanya akan ia tunjukkan sekali dalam seratus tahun. Dan sekarang, di dalam mobilnya, di bawah ribuan air yang jatuh ke bumi, di bawah awan hitam tanpa matahari, dia menunjukkan cengirannya padaku. Aku ulangi, sebuah cengiran. Hal yang begitu langka.
"Oh iya, Kak," Razza tiba-tiba berhenti bergerak, dan menatapku penuh tanya. "Tadi di sekolah, Kak Nadine gimana?"
"Dia, ngeluarin emosinya,” jawab Razza pelan.
"Ke siapa?"
"Perempuan yang kamu liat waktu itu."
"Boleh tau sebenernya dia siapa?"
"Dia anak kelas dua belas. Yang Kakak tau, dia suka sama Azka. Namanya Sofi."
"Sofi?" Kulihat Razza mengangguk dan akupun sibuk dengan pikiranku.
"Terus tentang Kak Nadine yang ngeluarin emosinya tadi, kenapa dia bisa kayak gitu? Setau aku, Kak Nadine itu bisa banget buat nahan emosinya."
"Sofi mancing emosi Nadine lagi. Awalnya suara Nadine emang kecil waktu ngebales kata-kata Sofi. Tapi di akhir, Nadine teriak. Abis itu dia pergi."
"Kak Azka ngejar Kak Nadine?"
"No."
"Bener-bener nggak ngejar?" Razza menggeleng. "Jadi dia ngapain aja?" teriakku tiba-tiba. "Hubungan Kak Azka sama Kak Nadine gimana di sekolah?"
"Tenang, kamu tenang dulu. Hubungan Azka sama Nadine keliatan nggak baik sampai hari ini. Tapi percaya sama Kakak, pasti ada alasan dari itu semua." Aku mencoba menahan emosi dengan menarik napas dan mencoba menahannya, lalu dengan pelan, aku menghembuskannya. "Hujannya udah reda, ayo Kakak anterin ke mobil kamu." Aku melihat keluar dan benar, hujan sudah reda. Kenapa cepat sekali?
"Aku pulang sama Kakak, ya," pintaku padanya.
"Kakak mesti jemput Nara di sekolahannya." Sepertinya aku memang harus pulang sendiri. Tentu saja Razza akan memilih adik perempuannya daripada mengantarkanku ke rumah. Lagipula, pak Ujang sedang menungguku.
"Oh gitu, yaudah, deh, aku pulang dulu, Kak. Kakak hati-hati." Dengan cepat aku keluar dari mobilnya dan segera berlari ke arah mobilku.
***
"Ma, nanti Aqila pulang telat banget, ya."
"Kamu mau kemana?" tanya mama lembut.
"Itu, temen aku hari ini ulang tahun. Terus aku sama yang lain niat ngerjain dia. Jadi mungkin aku bakal pulang larut banget."
"Yakin nggak mau pulang lebih awal?" tanya mama seperti memastikan.
"Emangnya Mama mau pergi? Atau aku bisa pulang sore kalau Mama emang mau pergi."
"Oh enggak, kamu nanti hati-hati. Inget jangan pecicilan."
"Sip boss,” ujarku semangat.
"Kak Nadine sama Papa mana, Ma?"
"Udah pergi duluan."
"Barengan?"
"Enggak."
"Sudah kuduga."
"Udah sana berangkat nanti kamu telat." Aku mengangguk dan setelah itu pamit.
***
Suasana ramai yang terjadi di sekitarku membuat tawaku pecah. Ini sudah larut malam, namun kami belum memutuskan untuk pulang. Sekitar pukul sebelas, panggilan dari mama pada ponselku masuk. Segera kujawab, dan perintah mama agar aku pulang langsung aku lakukan.
Aku pamit pada seluruh temanku, dan ternyata mereka juga memustuskan untuk pulang. Aku mendekati mobil dan segera berkata pada pak Ujang bahwa aku ingin pulang. Sesampainya di rumah, kulihat keadaan gelap dan lampu dapur menyala.
"Ma."
"Kamu udah pulang?" Aku tidak menjawab perkataan mama dan memilih duduk pada kursi meja makan. "Sebentar Mama bikinin susunya."
"Kak Nadine sama Papa dimana, Ma?"
Suara sendok yang terjatuh membuatku menatap mama penuh tanya. "Ka---kak kamu lagi keluar tadi sama papa."
Aku mengangguk, lalu seperti teringat sesuatu, aku kembali bertanya. "Papa sama Kak Nadine sekarang udah deket ya, Ma?”
"Iya."
"Mama nangis?" Sepertinya tadi aku mendengar suara mama yang bergetar.
"Enggak, ini mama cuma flu."
"Emang iya kalau flu mata ikutan basah?" Kini aku berdiri di samping mama, memperhatikan mama yang sedang membuatkan s**u untukku.
"Aqila,” panggil mama lemah.
"Kenapa, Ma?" tanyaku.
"Kamu tidur sama Mama ya mulai hari ini?" Tak bisa kusembunyikan rasa kagetku. Mama memintaku tidur bersamanya dan juga ,,, papa?!
"Papa gimana, Ma?"
"Papa kamu kita suruh tidur diluar aja. Mama mau tidur sama kamu. Sana mandi." Penjelasan mama hanya kuterima tanpa berpikir panjang. Aku segera naik ke kamarku dan memilih bersih-bersih.
***
"Ada seorang wanita yang mempunyai dua orang anak perempuan. Anak-anaknya begitu cantik. Dia juga memiliki seorang suami, namun suaminya bekerja sangat jauh. Meninggalkan si wanita dan anak-anaknya." Aku hanya bisa mendengarkan cerita mama tanpa ada niat ingin berkomentar. "Karena merasa rindu pada sang suami, wanita itu memilih bekerja. Dia terus bekerja hingga lupa bahwa anak-anaknya membutuhkan perhatian darinya. Hingga pada suatu hari, wanita itu menyesali sesuatu. Saat pada akhirnya salah satu putri dan suaminya memilih pergi. Entah pergi lama atau sebentar, wanita itu tidak tau. Dan sekarang, dia hanya ditemani si bungsu. Dan dia akan menjaga bungsunya dan berusaha menjadi ibu yang baik."
Aku berpikir tentang cerita tersebut. Itu tentang mama bukan? Namun bagian penyesalan, tentu saja itu bukan mama. Karena mama tidak ditinggalkan. Kak Nadine disini, aku disini, dan begitupun papa.
Tapi tunggu, sedari pagi aku memang tidak melihat kak Nadine dan papa. Apa mereka pergi? Aku ingin bangun dan mengecek keadaan. Namun rasa letih membuatku mengurungkan niat dan akan mengecek esok hari.
...t b c...