AQILA 'S POV
Hari itu, disaat aku harus menemui Om Rega di sekolahan---sekolah kak Nadine, SMA Cakrawala.
Setelah aku turun di parkiran dan meminta Pak Ujang menungguku, aku langsung berjalan masuk.
Saat sudah berada pada perkarangan sekolah, dapat kulihat Kak Nadine yang berjalan santai sambil memegang minumannya. Aku ingin bertemu dengannya sebentar, maka dari itu aku mempercepat langkahku.
Namun baru beberapa detik, aku tercengang. Kak Nadine ditabrak oleh seorang perempuan gila. Aku bersumpah demi semua celana dalam Sean, perempuan itu menabrak kakakku yang sedang menunduk. Padahal jika dilihat, perempuan itu berjalan cukup jauh dari Kak Nadine. Kenapa seperti disengaja?
Aku mendengar teriakan perempuan itu, membuat semua mata memandang ke arah mereka. Saat rambut kak Nadine ditarik olehnya, aku tidak bisa berdiam diri. Namun sesuatu memegang lenganku. Aku membalikkan badan dan melihat lelaki itu menggeleng pelan padaku.
"Kakak tau kamu pasti nggak bakal tinggal diem liat hal kayak gitu. Tapi itu masalah Nadine, kamu nggak bisa ikut campur." Ucapannya membuatku kembali melihat ke arah tadi. Aku menahan sesuatu di d**a, kenapa mereka begitu keterlaluan? Kenapa tidak ada yang membantu Kak Nadine? Apa mereka tidak tahu siapa Kak Nadine?
"Ayo ikut Kakak." Lelaki itu menggenggam tanganku, membuat jantungku tidak karuan sedari tadi.
Aku memberhentikan langkah sebab ingin meminta penjelasan terlebih dahulu. "Kenapa Kak Nadine bisa-bisanya diperlakuin kayak gitu, kak?"
"Kakak nggak tau." Lelaki itu menggeleng.
"Apa mereka nggak tau Kak Nadine siapa?"
"Kayaknya enggak, cuma satu kelas yang tau Nadine siapa."
"Kak, aku mohon jagain Kak Nadine buat aku."
"Kenapa harus Kakak? Nadine punya Azka."
"Masalah ini pasti ada sangkut pautnya sama Kak Azka." Aku berujar dengan nada yakin.
"Kenapa kamu bisa mikir kayak gitu?" Aku mengangkat bahu merespon tanya lelaki di depanku.
"Aku pergi dulu, ada urusan penting di sini."
"Janji kalau kamu nggak akan deketin kerumunan itu, Aqila. Janji sama Kakak."
"You know, Razza. I'm not good at making promises." Aku tersenyum masam lalu meninggalkan lelaki itu. Ourazza.
***
Aku masih berada di ruangan Om Rega. Om Rega sudah berulang kali memintaku untuk kembali ke sekolah. Namun aku menolak, aku masih ingin berada di sini.
Saat jam pulang sekolah, aku pamit. Aku berjalan pelan tidak peduli dengan tatapan penuh tanya orang-orang terhadapku.
"Anaknya Pak Rega?"
"Adeknya Sean, dong."
"Bukannya Sean bungsu?"
"Keluarga sempurna banget, ya."
Jidatku mengernyit, kenapa sepertinya senang sekali rasanya membicarakan seseorang dengan suara keras? Aku menatap beberapa perempuan yang tadi berbicara, mereka langsung saja melakukan hal lain. Aku lanjut berjalan ke parkiran, dengan cepat mengetuk jendela mobil. Sepertinya Pak Ujang tertidur, aku memang cukup lama pergi sehingga Pak Ujang jadi kelelahan ketika menunggu.
Setelah duduk di dalam mobil, aku meminta maaf pada Pak Ujang. Seperti biasa, Pak Ujang hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Menunggu itu tidak enak, jadi jangan membuat orang menunggu. Itu yang selalu aku pikirkan.
Saat mobilku ingin keluar gerbang, sebuah mobil yang tidak asing untukku keluar lebih dulu. Apa dia pulang bersama Kak Nadine? pikirku bertanya.
Aku ingin membawa Kak Nadine pulang bersamaku, namun akan seperti biasa, dia pasti menolak.
***
Aku memakan sarapanku sambil membalas chat dari seseorang. Kak Nadine yang sedang diam menatap sarapannya seperti tidak menyadari keberadaanku. Ingin sekali aku bertanya padanya tentang kejadian kemarin, namun dia akan sangat marah jika aku mencampuri urusannya.
Aku meminum s**u cokelat milikku hingga tandas, setelah itu bersiap untuk pergi ke sekolah. Tidak ingin memikirkan masalah Kak Nadine dan menganggap hal itu tidak pernah terjadi. Namun semakin aku membuang pikiran tersebut, aku menjadi semakin penasaran.
Apa kak Azka penyebab semua ini? Tapi apa yang lelaki itu perbuat? Kenapa kak Nadine yang menjadi korban? Bukankah kak Nadine dan kak Azka hanya sahabat? Aku berpikir terlalu keras hingga tidak menyadari bahwa kak Nadine sudah hilang entah sejak kapan.
Aku mengirim pesan pada temanku, mengatakan bahwa aku akan datang terlambat. Dia membalas pesanku dan mengatakan bahwa aku tidak bisa seenaknya. Oh ayolah, aku bisa membuat alasan apa saja saat menjawab pertanyaan guru piket.
Aku meminta Pak Ujang mengantarku ke SMACakrawala. Dia menatapku bingung tapi tidak bertanya selain mengiyakan saja.
Aku sibuk dengan ponsel hingga tak sadar bahwa aku telah sampai. Aku keluar mobil dan berjalan ke arah gerbang. Aku duduk di dalam ruang kecil post satpam, bersama Bang Ponik yang dari tadi sibuk bertanya.
"Eh bentar-bentar," ucapku pelan pada Bang Ponik agar dia diam. Aku mengintip dari jendela post satpam, melihat sesuatu yang ganjal
Bukankah itu Kak Azka? Lalu perempuan yang berada di samping Kak Azka, bukankah dia perempuan yang berurusan dengan Kak Nadine kemarin?
Kepalaku sibuk berpikir, apa yang sebenarnya terjadi. Aku hampir saja berteriak saat melihat kak Nadine yang hampir terjatuh. Ya hampir, karena ada seseorang yang menolongnya.
Sepertinya aku tidak asing dengan lelaki yang menolong kak Nadine. Ya itu dia. Itu Razza.
***
"Kakak jagain kakak aku," ucapku pelan saat kami sedang duduk di sebuah tempat makan pinggir jalan.
Lelaki itu sibuk memakan makanannya. Seperti tidak peduli dengan keberadaanku di depannya. Aku menghela napas pelan. Lelaki ini, kenapa seperti ini? Dingin dan tidak pernah terjangkau.
"Kak," panggilku padanya. Dia menatapku, tapi tidak berbicara.
"Kakak nggak jagain dia, Aqila," jawabnya kemudian kembali makan.
"Jagain Kak Nadine, Kak. Aku mohon."
"Dia punya malaikat penolongnya sendiri."
"Malaikat penolong nggak mungkin buat orang yang dia jaga jadi terluka."
Lelaki ini diam, seperti bingung menjawab seperti apa.
"Apa Kakak juga segini dinginnya sama Kak Nadine?" tanyaku getir, dadaku sesak. Aku menunduk dan sibuk mengaduk minuman di depanku.
Dia diam, rasanya ingin kubalikkan meja ini. Terasa begitu aneh. Aku mengenalnya tidak sebentar. Kami berada di sekolah menengah pertama yang sama.
Aku mengagumi lelaki ini saat dia sibuk mendribble bola di lapangan basket sekolah. Saat itu aku masih gadis polos yang hanya bisa bersembunyi. Dan demi agar dekat dengannya, aku mengikuti ekstrakurikuler basket. Aku belajar dan terus latihan. Hingga suatu hari, saat matahari begitu semangat bersinar, aku latihan mendribble bola. Begitu panas, keringat banyak mengucur dari kepalaku. Membasahi rambut yang hanya kuikat secara asal.
Tiba-tiba, sebuah tangan merebut bola. Aku terkejut dan menoleh ke samping. Kakak kelasku, kapten basket tim putra di sekolah. Dia menatapku dengan pandangan yang sulit aku baca. Aku bingung harus melakukan apa, dan akhirnya aku berjalan ke tepi lapangan memilih duduk.
Aku tahu dia mengikuti langkahku, namun aku berusaha tidak peduli. Aku duduk di tepi lapangan dan mengambil botol air mineral milikku. Sialnya, airnya sudah tandas. Tanpa aku duga, sebuah tangan terulur ke arahku. Kakak kelas tersebut memberiku air mineral yang sepertinya sudah dia minum sebagian. Aku berpikir berulang kali sebelum menerima botol tersebut.
"Kakak nggak punya penyakit, santai aja." Aku diam dan menanggapi kalimatnya dengan senyum tipis. Ini pertama kalinya dia berbicara seperti ini, kepadaku.
Aku tetap diam, lalu memalingkan wajah ke arah lapangan sambil mengipasi leher dengan tangan. Suara langkah menjauh membuatku menoleh, kakak kelas itu pergi. Aku tersenyum lalu menghela napas pelan.
Aku mengambil kembali bola basket dan mencoba memasukkannya ke ring dengan cara lay-up. Berulang kali aku mencoba, dan hanya sekali bola berhasil masuk ke dalam ring. Aku terduduk di tengah lapangan, memejamkan mata dan mencoba menarik napas lalu membuangnya perlahan. Saat mataku terbuka, air mineral dengan tutup yang masih disegel terdapat di depanku.
Aku melihat sekeliling, kulihat kakak kelas tersebut sedang berkemas. Memasang sweater miliknya dan berjalan menjauhi lapangan. Refleks aku berdiri, berlari mengejar kakak kelas tersebut.
"Kak." Dia membalikkan badan, dan aku langsung diserang perasaan gugup. Lidahku kelu, aku tidak tahu harus berkata apa. Begitu lama hingga akhirnya dua kata berhasil aku sebut. "Ma---makasih, kak." Aku tersenyum malu.
Tanggapannya begitu jauh dari yang aku kira. Aku berpikir bahwa dia akan menjawab dengan 'Sama-sama' 'Bukan apa-apa' 'Ok'. Ternyata yang aku dapati hanya alis yang bergerak melihatkan ekspresi bertanya. Kemudian ia berbalik dan pergi.
Aku menatap botol minuman di tanganku. Apa benar minuman ini dari kakak kelas tersebut? batinku bertanya. Karena tidak dapat menahan haus, akhirnya aku membuka botol tersebut dan meminumnya. Tidak peduli dari siapa minuman tersebut.
"Hei." Aku tersentak saat lelaki ini memanggilku. Membawaku kembali bangun dari kenangan masa lalu.
"Kamu sakit?" Aku diam menatapnya, lalu menggeleng pelan. "Ok, kakak bakal jagain dia. Dan janji, jangan bolos atau telat sekolah lagi." Baru ingin membuka mulut, dia kembali bersuara. "Makan makanan kamu."
"Kakak kaget nggak waktu tau aku adiknya Kak Nadine? Jujur waktu liat kakak di Mall, aku kirain Kakak pacaran sama Kak Nadine."
"Emang kenapa kalau kita pacaran?" Aku terdiam, bingung menjawab pertanyaannya.
"Enggak, lagian kalau Kakak nembak Kak Nadine, dia juga pasti nolak. Dia nggak suka cowok." Aku tertawa memikirkan raut kesal Kak Nadine apabila aku berkata dia tidak normal.
"Kalau dia nggak normal, Kakak yang bakal buat dia normal." Tanganku berhenti bergerak. Perasaanku tiba-tiba saja tidak enak.
Aku memaksakan senyum, dan berusaha menetralkan degub jantungku. "Kakak suka sama Kak Nadine?" tanyaku pelan, butuh keberanian untuk bertanya hal ini.
Dia tidak menjawab, hanya diam menatapku. "Kamu udah selesai?" tanya lelaki ini tiba-tiba.
"Udah, kok."
Aku berjalan lebih dulu ke arah mobil. Masuk dan dengan cepat mengambil tisu. Tidak lama, lelaki itu menyusul masuk.
"Kakak anterin pulang, ya?" Aku mengangguk patuh, enggan melawan.
Saat mobilnya sudah berada di depan rumahku, aku bersiap turun. Namun sentuhan di pergelangan tanganku membuatku berhenti bergerak. Aku menatap ke samping dan lelaki itu menatapku tersenyum. Hanya sebuah senyum tipis.
"Jangan kemana-mana nanti malam, istirahat aja." Senyumku merekah, aku mengangguk dan segera pamit.
Lelaki itu, lelaki yang telah berhasil merebut hatiku. Dan entah dimana diletakkannya hati tersebut.
Aku hanya bisa bersabar terhadapnya, karena aku sadar, aku masih terlalu kecil untuk menuntut hal yang lebih dari seharusnya.
"Ourazza Favian Kelvin, lelaki kejam yang memiliki hati sedingin es. Hah, dasar tidak berperasaan!" batinku berteriak.
...t b c...