"Bukankah kita ini simbiosis mutualisme? Kamu lebahnya, dan saya bunganya? Bukankah kita ini adalah simbiosis komensalisme? Kamu si ikan besar dan aku ikan kecilnya, sisa makananmu akan kumakan tanpa merugikanmu. Atau ternyata, kita ini adalah simbiosis parasitisme? Kamu si pohon besar, dan aku benalunya. Maaf, karena selalu menjadi parasit pada hidupmu. Benalu ini akan pergi. Pergi jauh." —Sungai Thames. Sendirian.
NADINE 'S POV
Ketukan pintu kamar mampu membuatku terbangun dengan keadaan terkejut. Aku mengucek mataku, lalu berjalan pelan ke arah jendela. Kusingkap kain gorden bewarna merah maroon yang menutupi jendela, sehingga dapat kulihat pemandangan di luar. Aku tersenyum tipis, saat melihat sebuah benda besar berwarna kuning tersebut berhenti di salah satu rumah. Seorang anak lelaki dengan baju berwarna hijau dan celana sebetis berwarna putih berlari ke arah benda itu. Tidak lupa diberikannya lambaian tangan pada sang ibu. Benda kuning itu---merupakan bus sekolah yang dulu kala pernah aku harapkan agar ada di Jakarta. Biar aku tidak kesulitan menuju halte bersama Mbak Hike hanya untuk menunggu bus. Benda itu berjalan, dapat kulihat anak-anak yang sibuk bercengkerama di dalamnya. Masa kecil mereka tampaknya menyenangkan karena mereka mampu bersosialisasi dengan baik.
Suara ketukan dan panggilan papa kembali terdengar. "Iya, Pa, sebentar," jawabku dengan suara masih serak.
Aku mengucek mata, kemudian merapikan rambut yang berantakan sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya. Papa sudah rapi dengan setelan kerjanya.
"Papa pergi sekarang?" tanyaku mengikuti langkah papa untuk turun ke bawah.
"Iya.” Papa mengangguk menatapku. “Kamu nggak apa-apa Papa tinggal?"
"Udah biasa," jawabku tenang. Papa membalikkan badan lagi dan menatapku dengan ekspresi bersalah. Seketika aku tersadar dengan ucapanku tadi. "Eh maksud Nadine, nggak apa-apa. Lagian Nadine udah biasa sendiri di rumah kalau mama sama Aqila pergi bareng." Aku tersenyum meyakinkan papa.
Papa tersenyum tipis, lalu kembali berjalan. Saat sudah di meja makan, papa menatapku. "Mrs. Anna tadi kasih pancake ini. Kalau kamu ada waktu, sempetin datang ke rumah dia nanti. Kamu mau kemana hari ini?"
"Nggak tau." Aku menggeleng.
"Ada niatan jalan-jalan?" Aku kemudian mengangguk sambil duduk pada kursi makan.
"Ngapain Nadine diem aja di rumah?" Aku memotong pancake tersebut dan mulai memakannya. Buah strawberry dan selainya membelai lidahku. Ini begitu lezat. Jarang-jarang aku memakan pancake, biasanya Mbak Hike hanya membuatkan kami roti bakar. Bukan karena Mbak Hike tidak bisa membuatkan kami makanan yang beragam, hanya saja memang aku dan Aqila cukup sadar untuk tidak terlalu memberatkan Mbak Hike apabila akhirnya kami lebih memilih untuk makan malam di luar. Aqila pergi bersama temannya, dan aku biasanya akan ditemani oleh Aldric.
Ah, lagi-lagi Aldric. Tujuanku kemari kan salah satunya untuk tidak menyinggung perihal lelaki itu lagi.
"Bagus kalau gitu. Kalau kamu ngerasa butuh sesuatu, segera telpon papa. Papa udah tinggalin uang di dekat piano, kamu tinggal ambil."
Aku mengangguk, masih sibuk dengan pancakeku. "Ok, papa pikir semuanya udah. Inget jangan masak, kalau kamu udah pergi, kuncinya dibawa, karna Papa juga bawa kunci. Kabarin Papa kalau kamu udah pergi. Satu jam sekali kasih tau Papa dimana posisi kamu. Kamera ada di lemari samping piano. Kalau kamu butuh sesuatu yang lain, coba cek di ruang kerja papa." Aku terperangah mendengar kalimat panjang papa. Inikah sifat asli papa? Begitu cerewet dan protective.
"Iya, Papa." Aku tersenyum lalu lanjut memakan pancakeku.
"Kayaknya Papa harus berangkat sekarang. Mobil bakal Papa bawa. Papa biasanya pulang jam 5 sore, gimana kalau jam 5.15 kita ketemu di Big Ben?" Papa menawarkan. Aku mendongak seraya berpikir, lantas mengangguk. Big Ben akan semakin indah kala hari kian menyentuh gelap.
Aku tertawa kecil, papa menatapku bingung. "Papa ngajak aku kencan?" tanyaku masih tertawa.
"Bisa dibilang begitu.” Papa tersenyum padaku. “Ok, Papa pergi, assalamualaikum." Suara pintu tertutup menandakan bahwa aku sendirian sekarang.
Beberapa detik kemudian, terdengar kembali suara pintu. Papa berjalan kearahku dan secara tiba-tiba mencium puncak kepalaku. "Jangan nakal, Nadine!" Lalu papa kembali pergi.
Kurasakan mataku yang memanas, berpikir barangkali aku masih mimpi. Hal yang begitu aku inginkan dari aku kecil. Papa memerankan posisi ayah dengan baik sekarang.
Setelah selesai makan, aku berjalan melihat rumah ini. Saat memasuki ruang keluarga, aku seperti dihipnotis. Begitu banyak---maksudku sangat banyak foto keluarga kami disini. Bahkan ada foto keluarga besar. Aku mengingat salah satu moment itu. Saat lebaran, opa dan oma mengenakan pakaian berwarna putih. Sedangkan anak-anak opa dan menantunya berwarna maroon. Dan kami para cucu serta Lulu mengenakan baju berwarna pink.
Fotoku dan Aqila yang paling banyak di sini. Bahkan ada candidku serta Aqila yang entah kapan diambil terdapat juga di sini. Apakah mama yang mengambil gambar? Langkahku terhenti, ketika melihat foto seorang bayi dengan mulut seperti menguap. Akukah itu? Kemudian aku menoleh ke arah lain, dan menemukan sebuah piano. Apa papa yang memainkan ini? Atau hanya sebuah hiasan rumah? Aku berjalan mendekati piano tersebut, melihat uang terdapat disana. Aku mengernyit, uang ini tidak sedikit. Dalam hati aku tentu saja bersyukur dan segera mengambil uang tersebut.
Sebelum meninggalkan ruang keluarga, aku membuka lemari dan mengambil kamera. Aku menghelas napas pelan, ada beberapa kamera disini. Apa satu saja tidak cukup? Kenapa papa bisa membeli barang seperti ini, tetapi untuk makan malam ternyata hanya mie instan. Aku menggelengkan kepala, begitu bingung.
Aku kembali melihat keadaan rumah sambil mencari ruang kerja papa. Kubuka salah satu pintu, kamar papakah ini? Terlihat potret pernikahan dengan frame besar tertempel di dinding. Senyumku merekah tanpa diminta.
Aku teringat bahwa aku harus mencari ruang kerja papa. Aku menemukan pintu lain dan membukanya. Aku berjalan melihat-lihat. Di sini juga terdapat banyak fotoku dan Aqila. Membuat aku kembali menggeleng pelan. Ternyata aku salah menilai papa selama ini.
Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku langsung keluar. Berjalan menuju kamar dan bersiap-siap untuk memulai hari.
* * *
Aku berjalan menjauhi rumah Mrs. Anna setelah selesai mengunjunginya. Sambil mengecek kamera, aku melihat foto-foto yang terdapat disini. Masih sama seperti dulu, berisi fotoku dan Aqila dengan gaya menjijikan milik kami.
Aku merasakan ponsel yang bergetar, dengan cepat kuambil benda itu dari saku jaketku. Lalu kujawab panggilan yang ternyata dari papa.
"Halo, Pa," sapaku duluan.
"Kamu dimana?"
"Jalan."
"Mau kemana?"
"Nggak tau, Big Ben mungkin?" jawabku terdengar seperti bertanya.
"Ok, hati-hati, ya, Papa lanjut kerja dulu." Kemudian sambungan telepon terputus.
Aku tidak menyimpan ponsel melainkan membuka sebuah aplikasi. Begitu banyak chat yang masuk. Kubuka bagian group kelas lantas k****a chat teman-temanku dengan minat, ternyata banyak yang bertanya aku kemana.
Aldric: Woi!
Chintya Amelia: Kenapa Ka?
Mere Adinda: Ngapa lu, Ka? Kangen Nadine? Kemarin aja dia lu anggurin. Tai, ah, lu.
Aldric: Lu nggak tau ceritanya, Mer.
Kiyara Alinda: Emang ceritanya gimana? Lu dijebak ama tu senior gila? Masa, sih, lo nya nurut-nurut aja?
Aldric: Lo nggak tau apa apa, Ki.
Mere Adinda: Nggak tegas banget sih lo, Ka.
Kiyara Alinda: Nadine acara keluarga dimana, sih? Luar kota? Negri?
Dirma Akbar: Kejauhan anjir kalau luar negri. Bandung kali, ya?
Aldric: Doain aja dia cepet balik.
Kiyara Alinda: Wkwk Azka kangen Nadinenya.
Dirma Akbar: Wkwk Azka kangen Nadinenya.(2)
Derby pratama: Wkwk Azka kangen Nadinenya.(3)
Aldric: Terusin aja terus. Iya gue kangen Nadine, mau apa lo semua?
Kiyara Alinda: Traktir!!!
Aldric pea: Ogah, makan lu banyak.
Kiyara Alinda: Dasar ketiak berbenak:-)
Jantungku berdetak lebih cepat saat membaca kalimat yang Aldric kirim. Dia tidak sedang bercanda, kan? Atau ini hanya jebakannya agar aku mau muncul di grup kelas. Jangan harap! Aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa sekarang.
Aku masih sibuk membaca pesan tidak penting milik teman-temanku. Apa aku salah lihat atau memang benar, sepertinya ada nama Aqila yang disebut-sebut oleh mereka. Aku tidak dapat membaca kelanjutan pesan karena panggilan berupa video call baru saja masuk.
Arjuna Sean.
"Mantep, ya, lo pake acara kabur-kaburan." Kalimat pertama dari Sean saat kuterima panggilannya. "Lo itu udah gede, kalau punya masalah itu dihadepin, bukannya sembunyi." Sean menatapku seperti malas. "Apa, sih, yang lo takutin? Sofi? Lo takut sama dia? Jangan becanda lo." Sean tampaknya benar-benar marah dengan kelakuanku sekarang. "Lo taukan, lo selalu punya gue. Gue nggak suka liat lo kabur-kaburan kayak gini. Kemana Nadine sepupu gue yang kuat, hah? Jangan sampai lo gue jemput kesana, ya. Cepetan balik, karna masalah lo nggak bakalan pernah selesai mau sejauh apapun lo kabur." Sean tampak membuang napas berat, sementara aku masih belum mampu menjawab amarahnya.
"Satu lagi, lo bakalan kaget sama apa yang barusan kejadian di sini. Lo udah nggak bisa sembunyi, sekarang satu sekolahan tau kalau lo cucu pemilik dan juga anak donatur. Yang lain udah pada tau kalau kita sepupuan. Gue tau pasti lo bakalan marah denger ini. Tapi mau gimana lagi, gue nggak bisa cegah adik lo. Aqila kayak orang kesetanan waktu dia numpahin semua emosinya ke Sofi." Aku mengernyit bingung.
"Maksud lo apaan? Aqila ngapain?" tanyaku bingung.
"Aqila dateng ke sekolah, dan bikin geger satu sekolahan."
Aku tidak bisa menyembunyikan kagetku. Jantungku berdetak lebih cepat akibat ulah Aqila. Aku benar-benar marah sekarang. Kenapa Aqila malah mencampuri urusanku? Oh Tuhan!
"Jangan marahin dia sekarang, kalau bisa ya jangan dimarahin karena gimanapun gue juga dukung aksi bar-barnya dia. Ok, gue pergi dulu. Kalau gitu nikmatin liburan lo, Sayang." Sambungan terputus sebelum aku sempat menjawab. Aku ingin sekali berteriak, namun tidak enak dengan keramaian di sekitarku.
* * *
Berdiri sendirian, pandangan jauh ke arah sungai Thames. Berpikir hal-hal yang begitu banyak aku lewatkan. Aldric merindukanku, dan Aqila baru saja membuka sesuatu tentang diriku yang tidak aku ingin untuk diketahui oleh banyak orang.
Jujur aku marah. Seharusnya Aqila tidak mencampuri urusanku begini. Semuanya mungkin akan berjalan sedikit sulit setelah ini, entahlah. Namun aku bertanya-tanya, dengan cara apa Aqila menyerang Sofi? Pun, darimana dia bisa mengetahui hal ini? Apa dia menyerang Sofi secara fisik? Padahal aku baru saja berpikir untuk melakukan sesuatu agar Sofi tidak mengganggu kehidupanku lagi.
Baru sebentar aku di sini, pikiran untuk segera pulang memenuhi otakku. Banyak yang harus aku selesaikan. Alasan pertamaku memilih pergi, benar karena ingin bersembunyi. Menjauhi semuanya. Tapi aku sudah berada di sini, bukankah sia-sia jika aku pulang begitu saja? Pikiranku saling berdebat. Antara ingin agar tetap disini atau segera pulang. Lagipula aku sudah mengatakan pada Pak Jamil bahwa aku akan mengambil izin untuk tujuh hari.
Aku membalikkan badan, dapat kulihat Big Ben yang selalu berdiri megah.
Kalimat yang pernah Aldric ucapkan tiba-tiba berputar di otakku. Membuatku lagi-lagi menahan sesak di d**a.
"Nanti, kalau udah lulus, kita liburan bareng ya, Nad. Gue pengen ngabisin waktu gue bareng lo.”
…t b c…