"Baik-baik di Jakarta. Nanti, akan saya kalahkan jarak ini demi kita. Akan saya berikan semua rindu padamu tanpa terkecuali." —Balkon kamar, pukul 20.09.
Nadine's POV
Aku baru saja selesai mandi. Mengeringkan rambutku dengan handuk sambil mencari sepasang kaus kaki di dalam koper. Aku belum sempat menyusun barang-barangku. Setelah kutemukan kaus kaki yang aku cari, aku duduk ditepi ranjang, memasang kaus kaki bercorak jerapah itu pada kakiku.
Setelah selesai, aku berjalan ke arah balkon kamar. Kuperhatikan sekeliling, lingkungan ini begitu asing bagiku. Aku menghela napas, kembali memikirkan hal apa yang telah berhasil membuatku sampai ke tempat ini.
Mama?
Aqila?
Aldric?
Perempuan badut?
Aku tersenyum miris, bukan seperti ini cara memainkannya. Aku salah. Seharusnya tidak kuikuti amarahku. Namun, bukankah karena ini semua aku jadi mengetahui apa yang mama sembunyikan? Hal ini membuat perasaanku kembali campur aduk. Aku lega dan lelah disaat bersamaan. Lega karena mama dan lelah karena drama.
Aku memainkan jemariku, pikiranku terbang pada lelaki itu. Harusnya aku tahu, sejauh apapun aku berlari dari kenyataan, aku akan tetap kalah. Sejauh apapun aku menghindar, aku akan tetap ketahuan.
Sekian lama aku bersabar. Rasa sakit hati akibat terasingkan oleh keluarga membuatku tumbuh menjadi makhluk anti sosial. Aku tidak peduli pada orang-orang di sekolah. Aku lebih peduli pada kebebasanku.
Sikapku membuat banyak orang menimbulkan rasa tidak suka. Entah apa salahku. Sepertinya sikap anti social tersebut membuat orang-orang disekitar menganggapku gila. Namun, jika aku memikirkan apa yang mereka pikir tentang diriku, aku hanya kembali ke sikap awal. Tidak peduli.
Semua cercaan mereka hanya kutanggapi dengan diam. Hingga pada akhirnya, aku sampai pada titik lelah. Semua tenagaku habis. Aku seperti kosong. Dan aku memilih melarikan diri.
Katakan aku pengecut, harusnya kuhadapi mereka. Namun aku tidak ingin menjadi iblis jahat. Karena jika aku biarkan iblis jahat mempengaruhiku, mereka semua akan habis dalam waktu sekejap.
"Nad!" Panggilan papa membuatku menoleh.
Papa berdiri di belakangku, menatapku bertanya. "Kenapa di sini? Ayo makan malem, Nad." Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah papa.
Aku kembali memperhatikan rumah ini. Rumah yang terlihat begitu sederhana dari luar, tetapi memiliki banyak ruangan di dalamnya. Aku bingung kenapa papa mengambil rumah seperti ini. Karena rumah ini terlihat begitu luas jika hanya diisi oleh papa sendiri.
"Kamu nyamankan, Nad?" tanya papa saat kami berdua sudah duduk berhadapan di meja makan.
Aku hanya mengangguk, lalu melihat makanan di depanku. Tatapanku berganti melihat papa, dan kembali lagi pada makanan. "Jangan bilang kalau Papa makan ginian setiap hari?" Suaraku berubah serak karena rasa tidak percaya, menerka apa yang sering papa lakukan selama tinggal di sini.
Kulihat anggukan lemah dari papa, jantungku seketika mencelos. "Kamu tau, Papa nggak bisa masak, Nadine." Suara papa pelan.
"Pa, tapi ngga mesti makan ginian."
"Biasanya Mrs. Anna yang ngasih Papa makan malem. Kalau pagi sama siang, papa lebih sering makan di luar."
"Mrs. Anna?"
"Ya, tetangga kita."
"Ok, dan aku gamau liat mie lagi." Papa menanggapi ucapanku dengan senyum masam miliknya. Kenapa sepertinya papa begitu kesusahan disini?
Aku menarik mangkuk milikku dan mulai makan. Aku menutup mataku, bahkan rasa mie buatan papa begitu buruk. Saat aku membuka mata, papa tengah menatapku.
"Enak, pa! Enak banget asli, pa! Nadine aja gabisa buat yang kayak gini nih." Aku kembali menyuapkan mie tersebut. Namun tangan papa bergerak menarik mangkuk milikku menjauh.
"Bahkan kucing mungkin gamau makan ini, Nad." Papa meletakkan kedua mangkuk tersebut dan masuk ke kamarnya.
Aku hanya dapat mengela napas. Aku dan papa sama saja, aku tidak bisa memasak. Menyedihkan sekali, bukan? Namun untuk memasak mie, kurasa aku bisa.
Papa keluar kamar, tidak tau apa yang dia ambil disana. Lalu mematikan beberapa lampu dan mengambil payung dari tempatnya.
"Mau kemana, Pa? Dan kayaknya di luar lagi nggak hujan." Aku menatap papa dengan pandangan bingung.
"Kita makan di luar, Nad. Kemungkinan juga malam ini bakal hujan."
"Ok, Nadine siap-siap dulu kalau gitu."
"Jangan lupa jaket kamu,” teriak papa.
Setelah bersiap, aku turun ke bawah. Papa sedang berdiri di teras, sedang berbicara dengan seseorang. Aku mengintip, terlihat wanita yang sudah berumur dengan wajah bersahabat miliknya.
"Is she your daughter?" Aksen british yang terdengar begitu kental membuat telingaku seperti dihibur. Aku menyukai aksen ini.
"Oh, ya, she's my daughter,” jawab papa, aku berjalan pelan sambil tersenyum.
"What's your name, Dear?" tanya wanita itu padaku.
"Oh, my name’s Nadine,” jawabku sambil tersenyum. "My dad told me about you before, Mrs. Anna."
"Oh?"
"Yeah! And thank you so much for everything that you’ve done to my dad."
Mrs. Anna terkekeh, seperti mengerti apa maksud kalimatku. "Your father is my son, Dear. It's okay." Mrs. Anna tersenyum lembut.
"Alright Mrs. Anna, I think me and her have to go now, see ya!" Papa berpamitan, dan Mrs. Anna melambaikan tangannya sedangkan aku hanya tersenyum menanggapi.
"Mrs. Anna tinggal sendiri, Pa?" Kami berjalan menyusuri jalanan di antara lautan manusia di sekitar.
"Ya, suaminya udah meninggal, dan anak juga dia nggak punya." Aku terdiam mendengar jawaban papa.
Aku bingung harus menanggapi seperti apa, namun di dalam hati, aku sungguh kagum atas kuatnya Mrs. Anna.
"Jangan dipikirin, Nad. Lebih baik kamu pikirin tentang apa yang bakal kamu lakuin di sini. Mau ngelanjut pendidikan? Papa bakal bantuin. Mau liburan doang? Papa nggak masalah, asal kamu bisa ngejar pelajaran yang udah kamu lewatin. Papa tau kamu udah dewasa, Nadine. Semua pilihan ada di tangan kamu."
Aku tersenyum melihat papa, kupeluk lengan papa lalu menyenderkan kepalaku pada bahunya. "Nadine sayang papa." Aku berkata dengan ringan tanpa beban walau pelan, berharap papa mampu mendengarnya.
"Papa lebih sayang anak-anak papa." Papa membelai pelan rambutku.
Aku tersenyum dalam diam. Jika saja dari awal aku berdamai pada keadaan, semuanya tidak akan sesulit ini. Namun, dari ini semua banyak kuambil pelajaran.
"Gimana kamu sama laki-laki itu?" Aku menatap papa bertanya. "Azka, ya Azka."
Aku menggeleng lemah, "Kita cuma temen, Pa."
"Kamu yakin?"
"Kenapa aku mesti nggak yakin? Emang nyatanya aku sama dia cuma temen."
"Kalian bisa jadi lebih, Nad."
"Ya, dari temen jadi sahabat." Aku tertawa hambar. Miris sekali.
"Papa dan Azka itu sama-sama lelaki, Nadine. Harusnya kamu liat gimana cara dia ngomong kalau kamu adalah hal yang wajib dia jagain. Udah kewajiban dia jaga kamu. Masih ragu sama dia?"
"Semuanya nggak semudah itu, Pa. Dia kayak gitu karena Nadine butuh dia, karena dia tau luka Nadine. Lagian dia juga udah punya pilihannya sendiri, pa." Aku menjelaskan pada papa dengan sedikit emosi, itu mengapa suaraku jadi naik.
Seketika aku tersadar oleh tempat. Kulihat sekeliling, dan menarik napas lega saat tahu ternyata orang-orang lebih sibuk pada diri mereka sendiri.
"Luka kamu? Kamu terluka?"
"Nadine baik-baik aja,” ucapku berjalan lebih dulu.
"Nadine tunggu papa, nanti kamu nyasar." Langkahku seketika terhenti.
Oh Nadine, ini London, bukan komplek perumahan kamu, batinku berteriak.
…t b c…