"Saya berlalu tidak berniat untuk dikejar. Saya bersembunyi pun tidak untuk dicari. Saya pergi tidak untuk membuat kamu menyesal. Saya menghilang karena memang harus. Tempat ini perlahan berubah menjadi keras, hati saya hanya sedang tidak mampu." —Bandara, rabu dini hari.
NADINE 'S POV
"Kamu bilang nggak mau pergi? Kok sekarang jadi berubah?" Kudengar nada sendu dari suara mama. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindari tatapan mama.
"Ma---Mama taukan, orang-orang suka berubah pikiran gitu," jawabku tergagap, tidak ada yang mengetahui alasan pasti kenapa aku ingin pergi. Yang mereka tahu, aku pindah. Itu saja.
"Terus kamu ninggalin Mama?" Nada sendu itu membuat tubuhku bergetar. Aku menunduk, mengedipkan mataku yang memanas berulang kali.
"Mama kan bisa kerja setiap hari, nggak perlu pikirin Nadine lagi, yakan?" Kukutuk diriku berulang kali saat kalimat tersebut meluncur begitu saja. Kenapa mulutku mampu mengeluarkan kalimat seperti itu untuk ibuku sendiri.
"Nadine…." Suara mama terdengar lirih, dan setelah itu mama terjatuh di sofa.
* * *
"Kamu nggak bisa kayak gini, Mas! Kamu nggak boleh bawa Nadine! Jangan pisahin aku sama dia, Mas. Aku mohon sama kamu." Aku berdiri terpaku di depan pintu kamar mama dan papa. Pikiranku seketika beterbangana, apa maksud mama?
"Mas nggak bawa anak kita, Nadine yang mohon ke Mas buat ikut." Suara papa terdengar.
"Gamungkin Nadine minta ikut sama kamu, karna dari kemarin dia selalu nolak ajakan kamu. Mas, kamu harusnya tau gimana leganya aku waktu Nadine nolak buat dibawa kesana. Kamu harusnya tau gimana senengnya aku waktu papa ambil tindakan tentang kamu yang mau bawa Nadine, aku seneng mas papa ngelarang kamu bawa Nadine pergi. Aku seneng."
"Rika, kamu denger dulu. Nadine yang minta ikut, dia mau ngelakuin sesuatu untuk sekarang. Mas nggak tau apa alasan Nadine pengen ikut, karna Nadine nggak mau kasih tau. Mas enggak mungkin nolak permintaan dia. Karna ini pertama kalinya setelah kejadian ingkar janji itu, Nadine mau minta sesuatu lagi ke Mas. Kamu tau, kita tau, Nadine nggak akan pernah minta apa-apa ke kita. Selalu kita duluan yang ngasih ke dia. Kalau kita tungguin Nadine yang minta, kamu tau pasti hal itu nggak akan pernah terjadi." Penjelasan papa membuat dadaku semakin sesak. Air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya meluncur.
"Mas, aku nggak bisa jauh dari Nadine. Cukup kamu yang jauh, dan ngebuat aku kerja terus-terusan. Aku bisa kerja lembur terus kalau kayak gini mas."
"Aku udah minta kamu berhenti, kan? Ini udah nggak lama lagi. Setelah itu aku bakal stay terus disini. Jangan pernah lembur! Ingat, masih ada si bungsu yang harus kamu perhatiin." Isak tangisku makin menjadi, namun selalu kuredam suaranya sebisaku.
"Mas, gimana kalau Nadine betah di sana? Gimana kalau dia nggak mau pulang? Kalau dia lupa ibu dan adiknya gimana, Mas? Masih banyak sesuatu yang harus aku lakuin buat dia mas. Masakin sarapan, bikin bekel, ngabisin hari libur sama dia. Kalau dia ternyata dia lebih milih buat tinggal di sana, aku nggak akan pernah bisa ngelakuin hal itu sama dia." Aku memilih pergi, melangkah menjauh dan memasuki kamarku.
Ini gila bukan? Satu lembar rahasia yang selama ini ditutupi mama terbuka. Membuatku semakin berdosa karena sering berprasangka buruk pada mama. Mama mencintaiku! Mama peduli padaku! Itu kenyataannya.
Aku berbaring pada ranjangku, memegang kepala yang terasa sakit. Memikirkan kembali haruskah aku ikut dengan papa? Namun, ikutnya aku dengan papa adalah sesuatu yang menurutku harus aku lakukan.
Dan inilah jawabannya, bandara. Disinilah aku, melangkahkan kaki dengan perasaan berat. Tanganku menarik koper dan tangan satunya memegang novel yang sudah sangat lama aku beli bersama Aldric.
Aldric, aku penasaran akan seperti apa reaksinya nanti. Aku menghela napas dan memandang papa yang sedang sibuk dengan ponselnya.
* * *
Aku menggeleng pelan sambil menahan senyum mengingat saat aku berpamitan dengan mama. Berat rasanya, dan aku tahu mama sedang berusaha menahanku. Namun inilah pilihanku untuk sementara waktu. Dan untuk Aqila, aku sama sekali tidak berpamitan dengannya. Dari sepulang sekolah, dia mengatakan padaku akan pergi pada acara temannya. Yang aku yakini, acara itu tidaklah sebentar.
Kenyataan yang baru saja kuketahui membuatku lega. Beberapa langkah lagi.
Aku duduk di kursi samping papa, memainkan ponsel dan melihat suatu aplikasi. Aku terpaku. Begitu banyak spam yang masuk, dan itu dikirim oleh Aldric. Aku begitu penasaran! Sayangnya, hanya chat terakhir yang terlihat. Terkirim pukul 20.49. Aku mengernyit. Apa kini Aldric sudah kembali normal?
"Nad." Panggilan papa membuatku mematikan ponsel dan dengan cepat menoleh.
"Kenapa, Pa?"
"Boleh Papa tau kenapa kamu mau ikut Papa?" Aku mengalihkan pandangan, sebenarnya enggan menjawab.
"Papa bilang disana lebih amankan daripada di sini?" tanyaku sambil terkekeh.
"Jangan bohong." Aku terdiam, menatap sneakers hitam yang kini melindungi kakiku.
"Nadine mau---" Aku terdiam, tidak yakin ingin menjawab. Kupejamkan mata dan setelah itu kutatap papa penuh keyakinan. "---perbaiki semuanya."
Papa memandangku penuh tanya. Aku tersenyum tipis. "Nadine nggak mau bohong lagi, Pa," jawabku pelan. "Nadine capek pake topeng terus-terusan. Dari Nadine kecil, Nadine selalu sendirian. Nggak ada Papa, nggak ada Mama, yang ada cuma Mbak Hike. Karna Nadine selalu sendirian, Nadine mikir kalau nggak semua manusia tuh makhluk sosial itu, makhluk social udah jadi omong kosong buat Nadine. Nadine TK nggak punya temen, Pa. Bunda yang jadi guru TK Nadine selalu nanya, kenapa Nadine nggak pernah mau main bareng temen-temen." Kurasakan sesuatu mengalir pada pipiku, kata-kata itu meluncur mudah begitu saja.
"Nadine SD cuma punya beberapa temen. Nadine SD nggak suka sama temen-temennya. Karena mereka selalu bicarain keluarga. Nadine marah. Apalagi waktu tau mama sama papa masukin Aqila di sekolah yang beda sama Nadine. Padahal Nadine udah ngebayangin gimana serunya pulang pergi sekolah sama Aqila. Gimana serunya jajan bareng Aqila di kantin." Aku menunduk menghapus air mata.
Tak lama, kurasakan papa yang mendekapku erat. Dengan cepat aku menyembunyikan kepalaku pada d**a papa. Oh Tuhan, sudah sangat lama aku berharap dapat memeluk kembali tubuh ini. Begitu merindukan aroma parfum papa yang khas. Ucapan maaf papa yang terdengar terus-menerus membuatku menggeleng.
"Nadine marah sama diri Nadine sendiri, Pa. Kenapa Nadine tumbuh jadi manusia yang egois. Nadine makin sadar, kalau Nadine selalu butuh orang-orang disekitar Nadine. Nadine butuh keluarga Nadine. Dan Nadine juga butuh dia, Pa." Papa mengusap rambutku. Ini kedua kalinya aku membawa Aldric dalam kalimatku saat bersama papa.
"Papa janji bakal selalu ada buat keluarga kita. Buat Nadine juga Aqila, buat mama kamu. Papa janji. Dan Papa nggak akan pernah ingkarin janji Papa lagi seperti beberapa tahun lalu."
Aku melepaskan pelukan papa, merapikan keadaan dan tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang sepertinya penasaran. Satu yang aku rasakan, aku begitu lega.
"Nad." Panggil papa lagi, kutatap papa penuh tanya.
"Ya?"
"Jangan pernah keluar tengah malam lagi." Aku terkekeh pada sindiran papa, berikutnya kupeluk lagi papa dengan erat.
* * *
Belasan jam aku duduk di kursi pesawat, hanya kuhabisi dengan tidur, makan, dan menonton beberapa film. Pesawat ini bertolak dari Jakarta menuju Amsterdam, dan dilanjutkan terbang menuju Bandara International Gatwick, London.
Beberapa jam lalu, aku masih berada di Jakarta. Dekat dengan semuanya. Dan sekarang, aku berada di dalam pesawat yang sedang menjelajah angkasa untuk menuju daratan Inggris. Sekitar pukul dua siang waktu setempat, pesawat ini mendarat mulus di Bandara International Gatwick, London. Kedatanganku untuk kedua kalinya di negara ini. Namun sedikit berbeda, aku hanya berdua dengan papa. Dan mungkin, aku hanya akan berjalan-jalan sendiri di sini karena papa akan sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah melewati beberapa hal sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku, aku dan papa segera mencari taksi. Aku yang teringat dengan ponselku langsung saja menghidupkannya. Perasaanku campur aduk, takut, khawatir, sedikit bahagia, cemas, dan semuanya.
Saat sudah hidup, banyak sekali pemberitahuan yang masuk pada ponselku. Langsung saja kubuka aplikasi chat dan mencari nama Aldric. Kekagetanku bertambah saat banyak sekali pesan yang dia kirim. Aku juga mengecek pemberitahuan dari panggilan masuk, terdapat 12 panggilan dari Aldric.
Aku tidak berani membuka roomchat, dan akhirnya, aku memilih mengarsip pesan tersebut.
Aku kembali melihat daftar pesan yang masuk. Dan puluhan pesan dari Aqila membuatku menegang. Aku membuka roomchat tersebut, dan salivaku tiba-tiba saja sulit untuk ditelan. Aqila terlihat begitu marah. Dan dia mengatakan akan menyusulku kesini.
Langsung saja kubalas pesan tersebut.
Nadine Sava: Stt gue ke sini cuma pengen cari pokemon, lo diem aja di sana. Tar lagi gue balik, otw nih.
Tidak berapa lama, pesan baru dari Aqila kembali masuk.
Aqila Filia Heidi: GILA LO TAI PULANG SEKARANG!!!!!
Aqila Filia Heidi: HARUSNYA LO AJAK GUE.
Aqila Filia Heidi: VC!
Aqila menghubungiku, dan saat kuterima, wajah sembabnya menghiasi layar ponselku. Aku dan papa menyapanya dengan tatapan bersalah. Meminta maaf dan mengatakan bahwa kami tidak ingin mengganggu acara Aqila dan teman-temannya. Omong kosong sekali.
Aqila berteriak, marah, dan kembali menangis. Mengatakan bahwa dia hanya sendirian di rumah. Mama belum pulang sejak pagi pergi bekerja. Aku mengernyit bingung. Kemana mama?
"Tadi pagi waktu gue nanya ke mama lo kemana, mama nggak mau jawab, tapi waktu gue ancem gue bakal mogok makan, mama langsung kasih tau. Abis itu mama pergi kerja, gue sekolah. Gue pulang sekolah sorean cuma ada satpam di depan. Katanya mama belom pulang." Aqila menjelaskan dengan napas tidak teratur.
Papa yang sejak mendengar bahwa mama belum pulang langsung saja sibuk dengan ponselnya. Sepertinya sibuk menghubungi mama.
Pikiranku melayang, banyak hal negatif yang muncul pada kepalaku. Aku menggunakan kamera belakang agar Aqila mudah melihat papa. Kami berdua diam, dan saat tahu panggilan papa terjawab, kami bertiga menarik napas lega.
Papa menanyakan segalanya dengan mama, hingga akhirnya panggilan itu terputus.
"Mama lagi ada acara makan malem sama temen-temennya, buat tanda perpisahan katanya. Dia mau ngabarin Aqila tapi kelupaan. Udah sana telfon mama dulu,” perintah papa pada Aqila.
"Tanda perpisahan apa, Pa?" Aku sontak bertanya dengan siaga.
"Mama udah enggak kerja lagi,” jawab papa sambil tersenyum tipis. Mataku membesar dan langsung saja kupeluk papa begitu erat. Kubiarkan ponselku dan Aqila yang sedang berteriak girang. Dan saat aku melihat kembali pada ponsel, panggilan dengan Aqila telah selesai. Aku menghela napas kesal karena anak itu!
"Jadi bener, Pa?” Aku bertanya lagi untuk memastikan. “Ini nggak mimpi, kan?!" tanyaku untuk kesekian kali. Papa hanya menjawab dengan anggukan dan aku kembali tersenyum.
Aku kembali mengecek ponsel dan berniat menghubungi mama, namun terlupa bahwa biaya pulsa tidak akan murah. Saat ingin meminjam ponsel papa, kudengar bunyi dari ponselku. Sebuah pesan baru dari Aldric membuatku membeku.
Aldric: Bener lo lagi di London?
Darimana dia tau…?
…t b c…