"Saya tidak pernah berharap bahwa pergi adalah jalan terbaik. Karena saya ingin tetap di sini, bertahan untukmu." —pukul 20.49. Dibawah cahaya bulan di balkon kamarku.
Nadine's POV
"Papa beneran nggak apa-apa berangkatnya dimundurin?" tanyaku pelan pada papa. Aku sedang duduk di ruang keluarga bersama papa dan pada akhirnya juga membahas perihal keberangkatanku menuju Inggris.
"Nggak apa-apa, Papa bisa nunggu." Papa menatapku tersenyum.
Sepulang sekolah, aku segera membersihkan diri. Lalu dengan cepat menyusul papa yang sedang menonton televisi. Ada hal penting yang harus aku bicarakan. Dan aku bersyukur karena papa mengizinkanku, dengan sangat senang hati mengizinkanku.
Suasana awkward yang terjadi begitu aku rasakan. Keadaan membuat kami merasa begitu jauh. Semua yang terjadi sejak aku kecil membuat aku dan papa harus berakhir seperti ini. Papa seperti tidak terjangkau. Tidak seperti orang tua lain yang mudah akrab dengan anak mereka, papa berbeda, dia terlalu dingin. Aku tau bahwa papa sangat menyayangi aku dan Aqila. Namun, jarak membuat kami kadang ragu. Mungkin sekarang jarakku dengan papa hanya 30 cm, namun hati kami? Bisa saja berjarak sangat jauh.
Aku tidak ingin keluargaku tetap seperti ini. Aku ingin mempunyai hubungan yang baik dengan papa. Aku ingin mama berhenti bekerja. Mungkin benar apa yang Om Arya katakan, dan pernyataan papa tentang dia yang akan pindah bekerja di Indonesia membuatku memiliki harapan.
Aku menatap televisi dengan pikiran yang terbang kemana-mana. Benarkah pilihanku ini?
"Lagi ngobrolin apaan? Kok kayaknya serius banget?!" Suara Aqila terdengar, membuatku langsung melihat kearahnya.
Sebelum menjawab pertanyaannya, fokusku teralih pada penampilannya. Dress putih s**u sepanjang betis, dan lengan dengan panjang tiga per empat. Lalu flatshoes berwarna coklat dan rambut yang dikucir asal membuatnya terlihat begitu natural. Mungkinkah ini alasan kenapa Aldric menyukai Aqila?
Aku tersadar dari lamunanku ketika tanya Aqila terdengar lagi. Aku mencibir, "Apaan, sih, kepo! Udah sana lu pergi aja, “ usirku cepat padanya.
"Dasar pelit,” hardiknya padaku. "Pa, Aqila pergi les musik dulu, ya." Setelah bersalaman, Aqila pergi begitu saja.
"Sejak kapan adik kamu ikut les musik?" Pertanyaan papa membuatku tersadar akan tujuan Aqila.
"Eh? Nggak tau Nadine.," jawabku menghindar. "Nadine naik dulu, Pa, mau ngepack barang." Dan berakhirlah, selalu aku yang menghindar saat rasa ketidaknyamanan itu menyerangku.
Aku memasuki kamar dan menutup pintu. Setelah itu kubaringkan badanku di ranjang sambil tanganku bergerak mencari letak ponsel.
Kulihat notif pesan yang masuk dari Razza. Sekitar dua jam lalu.
Razza Favian K: Lo nggak apa-apa, kan?
Razza Favian K: Lo kemana, Nad? Kok tiba tiba ngilang?
Razza Favian K: Lo cabut?
Razza Favian K: Lo sakit?
Razza Favian K: Gue udah nyari lo kemana-mana tapi ga ketemu.
Razza Favian K: Jangan ngelakuin hal-hal aneh, ya, Nad.
Razza Favian K: Nad, gue tau lo nggak bakal seputus asa itu cuma karna Sofi.
Aku refleks tertawa membaca pesan konyol dari Razza. Hey! Aku tidak mungkin segila itu. Aku memang pulang lebih awal, dan menghabiskan waktu pada café yang sering aku kunjungi. Dengan tersenyum, kuketik balasan untuk Razza.
Nadine Sava: g****k ya lo! Gue nggak mungkin se-desperate itu. Sofi doang kok, dia nggak bakal bisa bikin gue jatuh, gue pergi dari kantin karena gue emang harus pergi, karena lo bakalan kaget sama apa yang terjadi kalau gue tetep milih buat ada di kantin dan ngerespon Sofi terus-terusan.
Tidak lama, pesan dari Razza kembali masuk.
Razza Favian K: Alhamdulillah, kalau gitu, ini gue les musik dulu wk bye, Nad.!
Kata 'ok' menjadi balasan terakhirku untuk Razza. Setelah itu, kurasakan gelap yang kian menarikku makin dalam.
* * *
Aku berjalan dari halte bus menuju gedung sekolah, dimana ketika langkahku tiba di gerbang sekolah, Bang Ponik mulai menyapaku seperti biasa. Dan dengan senyum kubalas sapaannya.
Aku mendatangi ruang guru, mencari wali kelasku, pak Jamil. Aku tersenyum, karena guru yang kuharapkan sedang mengaduk kopi di meja miliknya.
"Pagi, Pak," sapaku, Pak Jamil menatapku kaget penuh tanya. Lalu tanpa disuruh, aku langsung duduk pada kursi di depan meja Pak Jamil.
"Eh, kamu? Kenapa?"
"Hm saya---" Aku mulai memberitahu pada Pak Jamil semuanya, cukup hanya Pak Jamil yang akan mengetahui hal ini. Setelah mendapatkan persetujuan dari Pak Jamil, dengan senyum sopan, aku berjalan keluar menuju kelasku.
Disepanjang koridor, dapat kudengar kata-kata kasar dari siswa lain untukku. Aku hanya terus berjalan tanpa peduli pada mereka. Toh apa yang mereka katakan tidak benar sama sekali.
Tepat saat di depan kelas, kulihat Aldric dan Sofi tengah berdiri. Tangan perempuan jadi-jadian itu tidak pernah lepas dari lengan Aldric. Membuatku begitu ingin memberikan kotoran badak padanya.
"Eh, hai!" sapa Sofi terdengar sangat lembut. Aku memberhentikan langkah menatap perempuan itu bertanya. "Buat yang kemarin, gue udah maafin lo." Kuyakini jidatku penuh lipatan sekarang. Perempuan ini sepertinya tidak pernah waras. "Oh iya, nanti malem, dirumah gue, gue sama Aldric adain acara gitu. Lo dateng, ya, itung-itung ngeramein suasanalah." Dia menunjukkan wajah angkuh, tangannya kian erat memeluk Aldric. “Oh iya, lo bakalan nyesel kalau nggak datang, soalnya Aldric bakalan ngasih gue kejutan." Sofi terdengar girang hingga ia sukses tertawa. Sepertinya perempuan itu memang seratus persen gila. Darimana dia mengetahui bahwa Aldric akan memberinya kejutan? Dan satu lagi, aku membencinya saat dia juga memanggil Aldric dengan panggilan yang sama sepertiku.
"Woi, Monyet Topeng, eh Topeng Monyet. Nggak usah teriak-teriak, upil gue pada rontok karena denger suara lo." Kiya berteriak keras membalas Sofi.
"Lo bisa sopan sedikit nggak, sih? Siapa yang lo panggil monyet? Gue?!" Sofi berjalan angkuh mendekati Kiya yang tengah sibuk membuat tugasnya.
"Lo ngerasa kalau gue ngatain monyet tadi buat lo? Orang gue ngatain Dirma, yakan Dir?" Dirma yang sepertinya mendapatkan tatapan pemaksaan milik Kiya langsung saja mengangguk cepat.
"Iya, lu tadikan ngatain monyet buat gue." Kalimat itu terucap dan disambung oleh tawa garing bin hambar milik Dirma.
"Lo bisa keluar? Lo punya kelas sendiri, kan? Jangan sampai gue kaduin lo ke guru piket karena udah buat gaduh di kelas gue." Aku memperingatkan Sofi, kemudian kutatap Aldric tidak bersahabat. “Tolong bawa cewe gila lo keluar, jadi polusi di dalem kelas soalnya.” Aku tadinya baru akan berjalan, ketika ingat harus ada sesuatu yang aku sampaikan pada si b******k Aldric. “Oh, iya, lo nikmatin aja malam kalian berdua. Besok, nggak perlu dateng ke rumah gue.”
…t b c…