B A B 14

1405 Kata
Nadine's POV Aku masih menatap Om Arya penuh tanya, sedangkan dia hanya tersenyum misterus. Kenapa aku mendadak jadi menerka-nerka sendiri. Karena selama ini pun, aku tidak pernah memikirkan kemungkinan yang aneh-aneh. Apa yang Aldric katakan, itulah yang aku percaya. Aku tidak mau menciptakan asumsi apapun lalu berakhir dengan menyakiti diriku sendiri. "Nad, jangan benci sama mama kamu." Aku lagi-lagi menatap om Arya penuh tanya. "Om, pernah nggak sih, Om, ngerasa kekurangan kasih sayang?" tanyaku tersenyum penuh paksaan. "Oma pasti selalu merhatiin apapun kan buat Om?" "Nad, itu beda." "Beda gimana, Om? Beda kalau mama seorang pekerja dan oma enggak? Mama bisakan berhenti kerja? Mama berhenti kerja aja aku udah bahagia om!" Aku malah jadi emosian sendiri. "Nad, kamu harus tau satu hal. Menurut kamu, mama kamu sayang nggak sama papa kamu?" Aku membeku, bagaimana caranya kujawab pertanyaan ini. Aku sendiri juga bingung harus mengatakan apa. "Sa---sayang kali, ya?" Aku menoleh, lebih minat melihat pepohonan. "Nah, karena mama kamu sayang sama papa kamu, mama kamu pasti sering yang namanya ngerasain perasaan rindu, Nad." Aku mengernyit, menatap om Arya meminta penjelasan lebih. "Iya, dia bunuh perasaan rindu itu dengan kerja. Kerja terus, supaya mama kamu lupa kalau dia kangen sama papa kamu." Kurasakan mataku memanas. Andai saja memang seperti itu, andai mama memang sangat mencintai papa. Andai mama tidak bermain di belakang, aku pasti akan percaya perkataan Om Arya. "Jarak mereka nggak deket, Nad. Mungkin itu alasan kenapa Tuhan cepet ngasih kamu, biar mama kamu nggak kesepian. Bahkan semasa hamil, papa kamu nggak ada di samping kalian. Bayangin, mama kamu sendiri. Dibantu sama Om terus juga Om Rega, kami berdua yang menuhin semua hal waktu mama kamu ngidam. Harusnya papa kamu, tapi papa kamu terlalu sibuk. Makanya waktu itu, opa sempet nentang hubungan mama sama papa kamu." Air mataku sudah mulai mengalir, benarkah itu? Aku bahkan tidak pernah mendengar ceritaku kala lahir. Inikah alasan mama tidak mau menceritakan kisah itu? Karena itu merasa saaat itu terlalu berat untuk dirinya. "Terus waktu kamu lahir, papa kamu nggak ada saat itu, tapi ada orang lain. Dia nyemangatin mama kamu mati-matian. Terus waktu tangis kamu kedengeran, orang itu pergi gitu aja. Om nggak sempet ajak dia minum kopi." Aku mengernyit, siapa orang itu? "Mama kamu terlalu mencintai papa kamu, Nad. Makanya dia sabar sampai sekarang." Aku terdiam, kepalaku rasanya akan pecah. "Nadine masuk dulu, Om." Aku berlalu meninggalkan om Arya. Kepalaku mendadak pusing karena disuguhi kisah berat semacam tadi. Masuk ke rumah, tidak kupedulikan orang-orang. Aku berjalan cepat menaiki tangga, masuk ke sebuah kamar. Hampir saja jantungku terlepas, saat melihat Sean, Erik, Lulu, Aqila, Zifana, mereka semua memakai pajamas onesie unicorn berwarna pink?! "Naaaaaa." Lulu berteriak, aku menatapnya menahan tawa. "Kak, tuh punya lo." "Lo semua ngapain beli ginian? Lo lagi berdua, ngapain juga beli warna pink sih?!" ucapku gemas kepada Sean dan Erick. "Kan biar kompak, Nad,” jawab Erik. Baiklah, kuambil pajamas onesie milikku, lalu dengan cepat ke kamar mandi untuk mengganti bajuku dan mengenakan pajamas. Setelah selesai, aku keluar dan ikut berkumpul bersama. "Terus, sekarang apa?" tanyaku memandang mereka satu persatu. Lulu melihatku sambil menjulurkan tangannya. Langsung saja aku menggendongnya, membuatnya tertawa. "Naaaaaa." Teriaknya sambil memukul kepalaku. Senang sekali sepertinya dia! "Lulu sayang Nadine, nggak?" tanyaku, dan Lulu hanya menjawab dengan tertawa. "Movie marathon aja, yuk," ajak Zifa. "Boleh, tapi ni bocah gimana?" tanyaku bingung. "Ya lo jagalah, kan dia maunya sama lo." Lulu memeluk leherku, dan meloncat di atas pahaku. Oh Tuhan! "Kampret ya lo semua." Dan disaat mereka sibuk menonton, aku sibuk dengan Lulu. Hingga selesai, ternyata mereka sudah tertidur. Alhasil aku yang harus membereskan semuanya. * * * Senin pagi, sehabis upacara, aku berjalan mendekati Razza di kursinya. Aksa, Dirma, bahkan Aldric menatapku dengan pandangan penuh tanya. "Kenapa lo bertiga?" tanyaku dengan raut sebal karena ditatap serentak seperti itu. "Ngapain lo ke kawasan gue?" tanya Dirma tegas berakting seperti pahlawan. "Orang gue cuma butuh Razza." Razza mendongakkan kepalanya dari buku, baru menatapku penuh tanya. "Ayo, Za." Aku memegang tangan Razza sehingga lelaki itu sukses kaget. Kubawa ia keluar dari kelas tanpa menjelaskan apa-apa terlebih dahulu. Aku mengajak Razza ke kantin. Memesan dua bakso, untukku dan Razza. Razza menatapku penuh tanya. Namun aku hanya tersenyum menatapnya. “Anggep aja buat balasan minuman kemarin.” Saat pesanan bakso tiba, aku langsung saja memakannya. Razza belum memegang sendoknya, sehingga aku harus sedikit memaksa karena sepertinya ia memang masih penasaran dengan alasanku yang tiba-tiba membawanya menuju kemari. "Bentar lagi masuk, Nad." ujar Razza dan aku mengangguk membenarkan. "Tapi guru kita lagi rapat, Za.” Aku mencoba menenangkan rasa takut lelaki itu. "Alasan lo apa bawa gue kesini?" Razza bertanya sambil berhenti makan. "Minta lo nemenin gue makan. Abisan gue nggak tau mau ngajak siapa." Aku tersenyum sedikit memaksa, begitu miris bukan? "Biasanya lo bakal sama Aldric." Aku tertawa, namun tawaku malah terdengar menyedihkan ditelinga. Semenjak kejadian aku melawan Sofi, aku benar-benar menghindar. Kecuali saat Aldric mengirim pesan padaku, karena aku yang bodoh masih begitu penasaran dengan isinya. Namun ketika aku membalas, dia akan menghilang lagi. Hingga akhirnya aku menyerah meminta Aldric membalas pesanku. Tetapi perkataan Om Arya membuatku kembali ragu. Tapi jika dipikir lagi, itu tidak mungkin bukan? "Lo kan tau kalau dia lagi---" kataku terputus karena melihat sepasang manusia yang memasuki kantin. "--sibuk sama pacarnya,” sambungku. "Emang dia sama Kak Sofi beneran?" Aku menatap Razza dengan senyum penuh paksa. Lantas mengedikkan bahu tidak peduli. "Beneran kali, gue nggak tau." Aku kembali memakan baksoku. "Eh ada kalian." Suara Sofi terdengar, aku mendongak malas, menatapnya penuh tanya. "Gue nggak punya urusan apa-apa sama lo, jadi pergi sekarang." Kutatap Sofi tajam. "Lo tuh aneh, ya, waktu kita tabrakan lo sama sekali nggak ngelawan. Terus sekarang, lo acting sok berani kayak gini." Aku terus menatapnya. Pantas saja dia berucap seperti ini, Aldric sedang tak berada di sampingnya, melainkan sedang memesan makanan. "Mending lo pergi, deh." "Oh, lo lagi gebet dia, ya?" tanya Sofi sambil menatap Razza. "Hidup lo kayaknya kurang menarik ya sampai-sampai lo sebegininya ngurusin hidup gue. Kalau gue mau gebet dia kenapa? Lo juga mau gebet dia? Kenapa, sih, lo kayaknya alergi liat orang-orang bahagia? Berhenti maksain ego lo!” "Jaga omongan lo!" teriakan Sofi membuat satu kantin menatap kami penuh minat, lagi. "Kenapa? Lo ngerasa kesindir karna yang gue bilang barusan itu bener?" Aku tertawa sinis menatapnya. "Gue udah pernah bilang sesuatukan sama lo, jangan pernah pancing amarah gue." Aku berucap dengan penuh penekanan di setiap kata. "Lo bisa nggak sih jangan bawa orang tua gue?" Sofi berteriak mulai menciptakan alibi baru yang lagi-lagi memojokkanku. Perempuan ini benar-benar ratu drama. "Kalau lo nggak suka sama gue, lo cukup hina gue. Jangan hina orang tua gue." Aku lagi-lagi mengernyit. Aku menatap sekitar, menemukan banyak sekali siswa siswi yang kini tengah berbisik ria. Menatapku sinis, jijik, bahkan tidak terbaca. Mataku berhenti bergerak, berhenti pada salah satu objek. Aldric disana, berdiri memegang dua minuman. "Lo udah gila?" tanyaku tajam pada Sofi, namun meyakinkan bahwa hanya dia yang dapat mendengar suaraku. "Orang tua gue nggak gila!" Sofi lagi-lagi berteriak. Suaranya begitu keras sehingga aku ingin menutup telingaku sekarang. Aku geram, sangat geram. Aku berjalan beberapa langkah mendekati Sofi. "Udah lo dramanya?" Teriakku seketika. "Udah selesai lo bikin nama gue jelek? Udah selesai lo bikin anak-anak di sini mikir kalau gue hina orang tua lo? Kemana, sih, otak lo? Digigitin tikus? Apa alasan lo benci sama gue?! Apa alasan lo sampe segininya sama gue?! Aldric? Aldric alesan lo? Ambil dia, dan jangan pernah ganggu gue! Satu lagi, gue bahkan nggak tau apa-apa tentang orangtua lo." Aku berlalu, meninggalkan kantin, meninggalkan lelaki itu, meninggalkan orang-orang yang sibuk mencercaku dengan pikiran mereka. Aku lelah dengan semuanya, tidak cukup dengan masalah keluarga, dan perempuan gila itu datang ke kehidupanku untuk memberi masalah baru. Aku sedikit menyesal dengan kalimatku tadi, namun tidak ada yang bisa kusebutkan lagi. Aku harus melindungi diriku sendiri, bukan? Aku lelah direndahkan seolah-olah aku adalah hama pengganggu disini. Karena aku juga tidak ingin masalahku bertambah. Aku menghela napas beberapa kali. Berjalan pelan menaiki tangga. Aku terus berjalan hingga tiba di depan pintu yang akan membawaku pada atap gedung sekolah. Kuhela napas lagi, air mataku menetes. Berada disini memang cukup berat, namun beberapa orang-orang disini adalah alasan kenapa aku tetap ingin berjuang. Tetapi, aku lelah. Aku ingin berhenti berbohong. Aku ingin melepaskan topengku. Aku ingin jujur tentang semuanya, bahkan tentang perasaanku. Lalu setelah itu, menghilang. Aku mengusap wajah, lantas membuang napas berat dari mulut. Haruskah aku ikut dengan papa?... …t b c...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN