B A B 13

1676 Kata
"Keluarga, tempat aku akhirnya pulang. Keluarga itu rumah, tempat teraman di dunia." —Teras rumah opa, pukul 21.00. NADINE 'S POV Aku menatap pantulan bayanganku pada cermin. Celana longgar warna abu-abu dan kaos longgar merah maroon bertulisan gap. Rambut hitamku, kubiarkan tergerai menyentuh punggung. Kurasa sudah cukup penampilanku di malam minggu ini. Aku keluar dari kamar setelah mengambil sneakers abu-abu, bertepatan dengan itu, Aqila juga keluar dari kamarnya. Seperti langit dan bumi,  Aqila benar-benar terlihat cantik dengan dress pink yang kalau tidak salah mama belikan seminggu lalu. Dia mengikat rambutnya dan meletakkannya di sisi kanan. Flat shoes hitam membalut kakinya untuk menyempurnakan penampilannya. "Lo mau kemana, Kak? Lari marathon?" Aqila sepertinya tampak bingung dengan penampilanku. Oh ayolah, ini hanya makan malam keluarga besar. Sepertinya harus kuberi tahu. Setiap hari sabtu di penghujung bulan, keluarga besar kami akan selalu melakukan kegiatan makan malam bersama di rumah opa---yang berada di kota tentunya. Lalu menghabiskan waktu untuk bercerita satu sama lain, menginap dan akan pulang pada minggu sore. Ya, seperti itulah cara opa membuat anak dan cucunya agar tetap dekat satu sama lain. Dan inilah satu-satunya kegiatan yang paling aku tunggu-tunggu karena kami akhirnya dapat berkumpul sebagai keluarga setelah sibuk dengan kegiatan masing-masing. "Nggak mau ribet,” jawabku berjalan menuju tangga. "Ih, tapikan mama udah beliin dress kembar buat kita. Dress lu warna coklat, kan? Pakai dong, kan lucu kalau kita kembaran, Kak." "Males, kaki gue nggak bebas." Aku meneruskan langkah untuk menuruni tangga, sedangkan Aqila tampaknya tengah mencibir karena aku yang terlampau malas mengikuti keinginannya. "Udah semuanya?" Papa menatap kami tersenyum. Tunggu, sepertinya ada yang kulupakan. Oh tasku. Semua benda yang kuperlukan berada di tas tersebut. Aku berlari cepat kembali ke kamar untuk mengambil tas. Setibanya kembali di ruang tamu, sudah sepi---sepertinya sudah berada di luar. Aku berjalan, melewati mama yang ternyata berada di sebelah pintu. Ketika aku keluar, mama lalu menutup dan mengunci pintu. Aku menatap jam di pergelangan, masih pukul tujuh. Kuambil ponsel di dalam tas, mengecek beberapa sosial media. Notif chat yang berasal dari Aldric membuatku membukanya cepat. Aldric: Tunggu gue rabu depan di pagar rumah lo, ya, Nad. Aku membalas pesan tersebut, namun tidak ada jawaban dari Aldric. Namun dengan beraninya dia muncul di dalam roomchat group kelas, saling membalas chat dengan yang lain. Karena tidak sabar, akhirnya kukirim pesan di group kelas. Nadine Sava: Al chat gue dibales, jangan dianggurin g****k. Dirma Akbar: Asik, Azka lu bales dong chat cewek lo. Kiyara Alinda: Wes! Azka sama Nadine lagi berantem, ya? Nggak boleh berantem, ntar masuk BK, loh…. Dirma Akbar: g****k sia. Lu pikir elu, tiap minggu nyapa pak Aris di ruang BK. Kiyara Alinda: Kasar banget, ya, kamu, Pak Ketua Kelas. Kiyara Alinda: Eh, Ka, si uler kenapa nempel bangetsih sama lu? Lu kena pelet apa, sih? Aldric pea: Apaan? Kiyara Alinda: Bales chat Nadine sono, Ka, jangan dianggurin. Ciri-ciri cowok b******k tu ya begitu. Muncul di group tapi personal message nggak dibales. Ampas kamu nak. Aldric pea: Diem lo. Kiyara Alinda: Ish. Aku mulai kesal, Aldric tetap tidak membalas pesanku. Dia malah asik membalas chat di group kelas. Akhirnya kumatikan ponselku dan memilih menatap keluar jendela. "Nad." Panggilan mama membuatku tersentak. "Ya?" responku dengan suara kecil. "Kok nggak pakai dress yang mama beliin, sih." Aku menahan senyum, ternyata mama perhatian juga. "Kan lucu kalau anak-anak mama keliatan kembar gitu. Mama padahal susah cariin warna coklat buat kamu." Aku menunduk, perasaan campur aduk karena bersalah menyerangku. "Hm, itu Ma, dressnya kena tumpahan kopi. Jadi kotor." Aku berbohong, kulihat Aqila yang menatapku penuh tanya, lalu mencibir. "Oh," gumam mama. Aku bernapas lega, untung saja mama tidak melanjutkan rasa penasarannya. "Nad." Kini papa yang memanggil. "Kamu bener nggak mau ikut Papa? Hari selasa kemungkinan Papa balik." Aku menghela napas panjang, sepertinya papa benar-benar sulit menerima keputusanku. Toh, berpindah-pindah seperti itu bukanlah hal yang mudah walaupun sebenarnya akan mudah bagi papa untuk mengurusnya. Aku tahu itu. Hanya saja, siapa yang mau meninggalkan tempat paling nyaman berjudul keluarga hanya untuk menyendiri di negara orang lain. Itu sama saja dengan menyiksa diri. "Pa, Nadine nggak minat ikut sama Papa. Jangan paksa Nadine. Gimana kalau Papa aja yang pindah kerja di sini?" Papa diam tidak menjawabku, suasana hening. Aqila sibuk pada ponselnya, kuperhatikan dia yang asik tersenyum sendiri. Dan aku hanya dapat memandangnya penuh tanya. * * * Kami sampai di kediaman opa. Di halaman rumah, sudah terlihat mobil –mobil yang lain. Papa memarkirkan mobil, baru setelah itu kami semua turun. Aku membiarkan papa dan yang lain masuk terlebih dulu, sedangkan aku harus terjebak dihalaman karena ada panggilan yang masuk. Nomor asing. "Halo?" sapaku. "Halo ini siapa?" tanyaku, karena penelepon di seberang sana tidak kunjung bersuara. "Ok, maaf mungkin anda salah sambung." Aku memutuskan panggilan dan memilih masuk ke rumah. Saat langkahku memasuki pintu utama, suara gelak tawa langsung terdengar, yang kuyakini berasal dari ruang keluarga. Seorang anak kecil perempuan berlari ke ruang tamu, seakan menyambut kedatanganku. Dengan sigap aku memeluk lalu menggendongnya. "Lulu!” ucapku sambil mencubit pipi gembilnya. "Lulu apa kabar? Kangen sama Nadine, nggak?" tanyaku sembari tertawa, gemas sekali dengan Lulu! Seharusnya dia memanggilku aunty, namun aku mengajarkannya untuk memanggilku dengan nama saja. "Na." Dia memukul kepalaku. "Na kha ha Na,” cakapnya yang hanya kubalas dengan mencium terus pipi gembilnya. "Eh, Nad, ayo kesini." Aku tersenyum menatap Kak Fiko, kakak lelaki Sean. Jarak umurnya cukup jauh dengan Sean, sehingga sekarang dia sudah memiliki keluarga. Lulu masih menjadi anak satu-satunya sampai saat ini. "Lulu kayaknya kangen sama kamu, sampai ngejar kamu gitu." Aku tertawa, entah kenapa setiap nama Lulu disebut aku sering sekali tertawa. "Kak Riri dimana, Kak?" Aku menanyakan keberadaan Mama Lulu. "Ada, disana." Aku mengangguk, lalu berjalan ke ruang keluarga. Semuanya disana, aku menatap opa dan oma yang sedang duduk di sofa. Lalu berjalan ke arah mereka untuk bersalaman. Setelah selesai, aku memilih duduk diantara Sean dan Erik, masih dengan menggendong Lulu. Ok perkenalan lagi, Erik adalah anak dari Om Arya dan Om Arya adalah adik bungsu mama. "Ih kok Lulu mau sama Nadine? Sama Om Iyan sini." Sean merentangkan tangan, namun Lulu menolak. "Sok imut banget, sih, dipanggil Iyan. Mau muntah, ni." Aku mengejek Sean, membuat ekspresi seolah aku sedang muntah. Tanpa diduga, Lulu malah mengikuti gerakanku. "Tau lu, Bang, geli ni ketek gue." Erik menambahkan. Lalu aku dan Erik ber-highfive. "Heh lu berdua hormat, dong, sama gue. Masih kelas 11 aja belagu." Sean berucap sambil berapi-api. "Bodo, nggak denger." Aku memainkan kedua tangan Lulu lalu meletakkannya di telinga. Kami kembali asik melontarkan ejekan, sampai suara dari Om Rega---papa Sean terdengar. "Ayo ke meja makan." Opa dan oma dibantu oleh mama dan papa Sean untuk berjalan. Kami semua menuju pada meja makan dan duduk pada kursi masing-masing. "Sini ayo Lulu." Kak Riri merentangkan tangan dan Lulu dengan semangat juga menjulurkan kedua tangannya. "Dadah Lulu, Nadine mau makan dulu." Aku melambaikan tangan dan Lulu tertawa. Beberapa saat kemudian, sepi sebentar. Opa memimpin doa. Dan setelah itu makan malampun dimulai. "Gimana sekolah kalian?" tanya opa disela kegiatan makannya. Kami menjawab pertanyaan opa dengan mengangguk serempak, sekolah kami baik. "Aqila sama Zifana, nanti mau sambung dimana?" Zifana---adik Erik, ia menggeleng pelan. "Zifa belum tau, Opa." "Aqila juga, Opa, tapi kata Mama--" Kalimat Aqila terpotong. "Jangan memaksakan anakmu, Rika. Cukup hanya Nadine yang kamu suruh bersekolah disana,” tutur opa dengan tegas. "Ingat, Rik, Papa tidak suka kalau kamu terus memaksa anak-anak kamu buat sekolah di sekolah itu." Mama menatap makanannya lalu menatap opa meminta maaf. "Rika cuma mau Nadine aman, Pa, dan bisa punya banyak temen." Jawaban mama membuatku terpaku. "Sudah pernah melihat Nadine ke sekolah?" Mama menggeleng pelan. "Kamu, Yo? Sudah pernah?" Papa mengangguk. "Saya kesana waktu pengambilan rapot semester 2 Nadine, Pa. Kebetulan lagi disini waktu itu." "Selalu sibuk, berubahlah sedikit, Tyo. Demi anak dan keluarga kamu. Kamu bekerja terlalu jauh bahkan jarang untuk pulang. Papa dengar kamu mau bawa Nadine ke Inggris? Papa tidak kasih izin." Aku menatap opa penuh rasa terkejut. Opa sudah tahu? "Jika kalian ingin membawanya, lebih baik Papa bawa Nadine tinggal bersama kami." "Enggak, Pa, Nadine enggak akan ikut Tyo. Dia udah nolak. Mungkin beberapa bulan lagi, Tyo akan pindah ke Indonesia." Aku mengerjap mendengar tuturan papa. Pindah ke Indonesia? Tuhan, semoga hal itu bukanlah bualan semata untuk membuat pembelaan di depan opa. Samar, aku mulai tersenyum dan mengaminkan ucapan itu dalam hati. * * * "Sendirian aja, Neng cantik." Aku menoleh ke belakang, om Arya berdiri sambil tersenyum padaku. Malam ini, aku duduk di bangku teras rumah opa. Om Arya yang sepertinya ingin menikmati angin juga ikut duduk di sampingku. Paman termudaku ini memang senang sekali menganggap kami yang masih remaja sebagai teman. Juga paling sering menjadi korban dari kelakuan Aqila, Zifana, dan Sean ketika mereka memesan makanan begitu banyak. "Lagi mikirin cowok, ya?" Aku menatap Om Arya tidak percaya. Seram juga apabila Om Arya mengetahui isi kepalaku. "Apaansih, Om, orang lagi duduk doang,” jawabku terkekeh. "Malah Om nggak yakin kamu duduk doang. Siapa, Nad?" Om Arya mulai membujukku, namun aku hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. "Temen." "Kok temen?" "Ya karna ga pacaranlah om." "Belom ditembak?" "Dianya nggak suka Nadine." "Kok kamu tau?" "Dianya suka sama adik Nadine." "Aqila?" tanya Om Arya terkejut dan aku dengan sok ide menjadi tegar mulai mengangguk. "Kamu yakin?" tanya Om Arya tersenyum. "Maksudnya?" "Kamu yakin kalau dia suka sama Aqila itu bukan alibi doang? Mungkin dia suka sama kamu, tapi pakau nama Aqila buat nutupin semuanya." "Lah enggak, Om, orang dianya emang suka sama Aqila." "Nad, dia ngabisin waktu lebih banyak sama kamu, kan? Cowok kebanyakan bakalan milih perempuan yang bikin dia nyaman, bikin dia jadi diri dia sendiri. Emangnya si cowok sering ngabisin waktu sama Aqila?" Aku mengedikkan bahu perlahan, "Nggak tau, malah menurut aku, dia selalu jadi orang lain kalau deketan sama Aqila. Intinya ya, kayak lupa sama keberadaan aku. Dia berubah." "Itu karna dia mau buat kamu cemburu, Nad. Mau tau gimana reaksi kamu." Aku makin mengernyit bingung. Jantungku berdegub sedikit lebih cepat. Benarkah semua analisis konyol milik Om Arya? “Percaya sama, Om, dia sukanya sama kamu. Sayangnya juga sama kamu!” ...t b c...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN