Spaces between us, keep getting deeper, it's harder to reach you, even though I try. [One Direction, Spaces.]
NADINE 'S POV
Aku menatap pertandingan kecil di tengah lapangan sedikit berminat. Ini jam pelajaran olahraga, namun aku dan anak-anak perempuan yang lain memilih untuk duduk di tepi lapangan untuk menjadi penonton dari pertandingan basket kecil yang dilakukan oleh anak laki-laki. Mereka membagi tim menjadi dua, dimana Aldric dan Aksa sebagai kapten masing-masing tim.
"Dirma!!!" teriak salah satu temanku sembari mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Razza ayo, dong, masukin bolanya buat gue." Aku menatap ngeri teman perempuanku yang lain karena teriakannya yang memekakkan telinga.
"Azka, Azka, Azka!" Beberapa teman yang lain berteriak sambil bertepuk tangan. Aku hanya diam, tidak berminat mengikuti teman-temanku yang terlampau bersemangat.
"Aksa mainnya hati-hati." Aku menoleh menatap seorang perempuan, sepertinya kakak kelas. Aksa yang merasa disebut hanya diam tidak peduli, sibuk mendribble bola.
"Azka, Azka, Azka." Lagi-lagi aku menoleh pada gerombolan teman perempuanku. Aku ingin sekali meneriaki mereka supaya dapat berhenti menyebut nama Aldric. Baru hendak membuka suara, pekikan berat seseorang terhadap namaku terdengar begitu lantang. Aku menoleh, namun---
Bugh! Seketika semuanya gelap.
* * *
Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Mataku menatap kiri dan kanan, mencari kalau barang kali ada seseorang yang menungguku di sini. Kosong. Tidak ada siapapun kecuali aku. Bahkan Aldric, kemana dia?
Aku duduk perlahan, menatap ke samping. Terdapat sekotak s**u dengan tempelan notes berwarna biru, "Drink me!" ujarku pelan membaca tulisan pada notes. Senyumku muncul, apa ini Aldric? Kemudian kuambil roti yang juga diberi notes, "Eat me!" bacaku lagi.
Aku membuka bungkus roti itu dan mulai memakannya perlahan. Seketika aku teringat bahwa sejak pagi aku belum memakan apapun dari meja makan di rumah. Aku perlahan turun, namun sebuah tangan berhasil mencegah gerakanku.
Aku menoleh, menatap sosok yang tiba-tiba menyentuh tanganku dengan wajah datar. "Kenapa lo?"
"Istirahat!" katanya penuh perintah.
"Gue laper,” ujarku setelah melepaskan pegangan tangannya dan mengusap perutku.
"Yaudah, lo mau apa? Biar gue beliin." Sean, aku tersenyum menatapnya karena ia langsung menawarkan diri. Senang sekali karena lelaki ini langsung menangkap signalku.
"Gue kepengen soto, Yan." Aku menatap Sean memohon.
"Lo tunggu di sini, jangan kemana-mana.” Sean berjalan ke pintu, ketika tiba diambangnya, lelaki itu berhenti dan melihat ke arahku lagi. “Harus istirahat! Udah ada orang yang nitipin lo ke gue, karena katanya, dia lagi nggak bisa jagain lo." Aku mengernyit bingung, sedangkan Sean telah menutup pintu ruang UKS.
Akhirnya aku memilih untuk tiduran lagi, memijit kepalaku yang masih terasa pusing. Suara kenop pintu disusul pintu yang terbuka membuatku menoleh ke samping. Aku kembali duduk, melemparkan tatapan penuh tanya.
"Lo nggak apa-apa, Nad?" Pertanyaan itu hanya kutanggapi dengan anggukan ringan. "Gue nggak sengaja, Nad." Dahiku mengernyit, mencoba menebak-nebak kemana arah pembicaraan ini. "Gue yang bikin lo kayak gini, Nad. Gue minta maaf."
"Santai aja, Razza,” kataku memang merasa tidak apa-apa. Toh, aku tidak sampai geger otak atau amnesia. Sementara wajah Razza benar-benar terlihat khawatir. “Nggak apa-apa, Za, lagian lo juga udah minta maaf, kan?" Aku tersenyum pada Razza. Lucu sekali karena malah aku yang mencoba menenangkan lelaki pembenci hujan ini.
"Harusnya gue berenti aja kali ya ngebasket…," kata Razza lirih sambil duduk pada salah satu kursi.
"Maksud lo?" tanyaku penasaran.
"Bahkan gue nggak becus ngepassing, sampai lo jadi korban begini."
"Enggak, Za. Gue nggak apa-apa, kok. Jangan cuma karna lo ngelempar bola asal, lo jadi pengen berhenti ngebasket."
"Bukan, Nad,” geleng Razza dengan senyum terpaksa yang terbiat sesaat. “Sebenernya gue udah nggak punya alasan buat main basket lagi." Mata itu berubah sendu. Ada apa dengan Razza?
"Emangnya alasan lo main basket apaan?"
"Nyokap." Aku tersentak, makin bingung dengan pembicaraan ini.
Seketika Razza berdiri, melangkah pergi tanpa suara. Aku sendiripun tidak berminat untuk menahan keberadaan lelaki itu lebih lama. Tidak lama berselang, soto pesananku pun datang beserta babuku.
"Makasih, Mas,” ucapku terkekeh.
"Seneng ya lo bisa nyuruh-nyuruh gue. Kalau bukan karna Azka gue ogah ngurus lo, Nad."
"Aldric?"
"Iyalah, emang siapa lagi. Tadi juga dia yang gendong lo kesini."
Aku sukses membeku. Namun buru-buru tersadar dan mencoba membuat topik lain. "Lo ga belajar?"
"Bolos. Demi lo."
"Halah, lo nya juga seneng, kan?" Sean terkekeh pelan. "Aldric belajar?" Sean mengangguk sehingga membuatku lebih tenang.
"Yan," panggilku pada Sean yang sibuk dengan ponselnya. "Sean!" panggilku lagi. "Woi, Bang!!" teriakku akhirnya.
"Apa?"
"Si Razza, dia bagus basketnya?" Entah kenapa aku penasaran dengan hal tersebut.
"Bagus, punya peluang kayaknya buat jadi kapten. Kayak Azka, lah."
"Dia baru gabung di tim basket sekolah, dan lo udah bisa nilai dia bagus?"
"Hari senin, dia minta masuk tim. Gue sama Pak Adam langsung liatin cara dia main. Kalau dia menye nggak bisa ini itu, juga Pak Adam nggak mungkin masukin dia ke tim. Palingan dia bakal disuruh latihan lagi di rumah."
"Jadi dia beneran bagus?"
"Iya, Cerewet," jawab Sean tampak kesal.
"Waktu itu, dia ada minta permintaan aneh gitu, nggak?" tanyaku memastikan.
"Dia bilang beberapa, sih, kayak dia nggak bisa latihan kalau hujan. Pokoknya yang berbau hujan dia nggak bisa. Kalau misalnya lagi tanding, terus hujan, dia kepaksa gabisa ikutan tanding. Pak Adam ngeiyain,sih." Sean berbicara begitu lamban dan pelan, terlihat sangat berpikir keras untuk mengingat.
Benar, Razza memang begitu membenci hujan. Dan aku harus mencari tahu kenapa dia seperti itu. 'Hujan ambil kebahagiaan gue, Nad.' Kalimat itu kembali berputar di kepalaku. Tunggu, kenapa aku harus peduli?
Aku menggelengkan kepala pelan, menatap Sean yang sibuk dengan ponselnya. Kepalaku sudah baikan, namun kantuk menyerangku. Ini kesempatan emas bukan? Kuletakkan mangkuk sotoku pada meja di samping, lalu membaringkan badan. Memilih tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pada Sean yang sibuk dengan games di ponselnya.
* * *
Sean mengantarku ke kelas ketika keadaanku sudah jauh lebih baik. Bangun dari tidur membuatku lebih segar jauh dari sebelumnya, ditambah juga perutku sudah kenyang. Sesampainya di depan pintu kelas, kulihat kakak kelas badut itu sedang berdiri di ambang pintu namun dalam posisi membelakangi kami. Aku menatap punggungnya tanpa minat. Ketika kulihat Sean yang mengernyit ke arahnya, aku tiba-tiba saja teringat akan sesuatu.
"Yan, ni cewek namanya siapasih?" Aku berbisik pelan pada Sean.
"Sofi,” jawab Sean datar.
"Oh." Baik, namanya adalah Sofi.
Sofi berbalik, dan sedikit kaget saat melihat keberadaanku dan juga Sean. Namun saat Aldric muncul dari dalam kelas, Sofi langsung saja memeluk lengan lelaki itu. Ingin rasanya aku meneriaki perempuan ini. Nama sebagus Sofi nyatanya tidak cocok disematkan untuk dirinya yang tidak tahu malu.
"Ayo, Al, kita jalan." Apa aku salah dengar? Al? Dia memanggil Aldric dengan sebutan apa tadi? Aku seketika menatapnya tajam. Perasaan ingin menenggelamkan Sofi di laut selalu ada. Biarlah dia mati ditelan ikan hiu.
"Hai, Nad. Maaf, ya, buat yang kemarin-kemarin. Sekarang gue nggak bakalan ganggu lo lagi, kok. Aldric selalu bisa bikin gue tenang, jadi nggak mudah emosian." Oh, aku benar-benar ingin muntah! Mendengarnya memanggil Aldric sama sepertiku membuat hatiku panas. "Oh iya, lo sama Sean pacaran, ya?” Mulut perempuan itu masih asik mengucapkan hal-hal tidak berguna. “Selamet, ya! Kapan-kapan double date, dong." Aku menatap Sofi makin bingung. Demi dewa, aku begitu ingin membakar perempuan gila ini!
"Lo kalau nggak tau apa-apa, mending diem," ujar Sean tajam. “Lo juga, Ka, kenapa diem aja? Gue nggak tau apa yang udah lo lakuin di belakang sampai-sampai lo tega kayak gini. Gue bilangin aja sama lo, ya, jangan sampai lo nyesel cuma karna ngikutin nih kata-kata dia.” Sean menatap Sofi tajam, benar-benar sepemikiran denganku.
Aku juga paham mengapa Sean jadi semarah ini pada Aldric. Mereka bersahabat sudah sejak lama walaupun berbeda tingkatan kelas. Tidak seperti kakak dan adik kelas lagi, melainkan sudah lebih dari itu. Mungkin, dibanding teman-teman sekelasnya, Sean memang lebih dekat dengan Aldric. Walaupun kadang kala mereka terlihat senang beradu bacot perihal hal tidak berguna dan saling menghina, namun aku paham bahwa keduanya memang akan saling ada untuk satu sama lain.
"Oh nggak pacaran, ya?” kata Sofi sembari membuat ekspresinya seakan ia tengah kecewa. Aku melemparkan tatapan jijik, sudah tidak kuat lagi rasanya menahan. “Maaf deh, Yan, gue tau kok kalau selera lo bukan kayak dia. Maaf, ya, udah ngirain kalau Nadine pacar lo."
"Kalau lo masih ngomong, gue pastiin besok lo nggak bisa ngomong lagi." Sofi seperti takut, karena dia tampak mundur beberapa langkah. “Ini yang lo deketin, Ka? Cewek kayak gini yang lo temenin kemana-mana sedangkan Nadine lo tinggal.”
Aku menghela napas berat, kemudian maju mendekati Sofi tanpa gentar sedikit pun. Dia sudah terlalu jauh memancingku. Dibanding dengan perlakuannya kemarin, aku sangat geram dengan ucapan-ucapan jahatnya. Seolah selama ini hidupnya memang menjadi pemeran antagonis bagi orang lain.
Aku tersenyum tipis, melemparkan ejekan menyedihkan padanya. "Nama lo Sofi, kan? Tiga kali, termasuk sekarang, lo udah cari ribut sama gue. Lo nggak perlu pamer apa-apa ke gue karena apapun yang lo lakuin nggak bakalan kasih pengaruh apa-apa ke gue! Oh iya, lo sama Azka Aldric emangnya udah jadian? Pakai cara apaan lo nembak nih cowo? Maksa? Bikin janji selama 7 hari? Kasian banget sih, lo, bukannya berubah jadi baik malah jadi makin gila." Sofi menatapku tak percaya. "Satu doang, kok, jangan mancing gue lagi! Jangan pernah pancing amarah gue. Kalau Sean cuma bikin lo bisu, gue nggak kayak gitu. Gue lebih parah dari itu. Gue nggak selemah yang lo pikir, Sofi. Gue bisa depak lo kapan aja dari sini." Aku meninggalkannya, menyenggol sedikit bahunya lalu masuk ke dalam kelas.
Aldric yang aku tahu tengah melihatku pun tidak aku pedulikan lagi. Terserah dengan semua permainan sampah mereka. Sudah aku yang tersakiti secara fisik dan batin, kini apalagi yang ingin mereka sakiti? Ingin aku keluar dari Cakrawala dan mencari sekolah lain? Jangan harap! Aku bisa jadi jahat jika aku ingin.
Aku berjalan ke arah kursiku, mengabaikan batinku yang sibuk berteriak sakit.
...t b c...