B A B 11

1406 Kata
"Mungkin ada satu pertanyaan yang terlupa. Pedulimu itu sungguhan atau pura-pura saja?" —Perpustakaan sekolah, pukul 10.50. NADINE 'S POV Perempuan paruh baya yang dikenal dengan guru pencinta warna pink tersebut sedang sibu menjelaskan materi di depan kelas. Aku memperhatikannya sedikit malas. Hari ini mendadak kelabu dan berbeda. Moodku hancur lebur tidak bersisa akibat ulah gila dari orang-orang gila pula. Entah ada apa, Aldric tiba-tiba saja menjauh, terlihat dingin, dan tidak terjangkau lagi. Bahkan mata kami saja sulit untuk bertatapan. Bisa kalian bayangkan? Teman yang selalu ada dan menghibur, kini tengah akting ikut-ikutan menjadi badut. Perpustakaan ini terasa menjenuhkan. Jika biasanya aku dan Aldric akan duduk bersama, namun tidak kali ini. Aldric duduk di bagian paling depan, sehingga aku hanya dapat melihat punggung tegapnya. "Pertemuan selanjutnya, kita adakan pengambilan nilai. Untuk hari ini kita lakukan dulu latihan kecil-kecilan." Guru pink tersebut mengeluarkan jar berukuran kecil, di dalamnya terdapat beberapa gulungan kertas. Aku malas memperhatikan, lebih memilih memandang keluar perpustakaan. Bulu mata ini sepertinya sudah berubah menjadi besi, rasanya berat sekali! "Kamu, Nadine!" Aku tersentak saat teriakan itu terdengar. Aku menatap ke depan, guru pink tersebut sedang menatapku buas. Ah, aku lupa. Guru pink ini sangat membenci murid yang tidak memperhatikannya. "Maju ke depan!" perintahnya masih keras. Aku menghelas napas, tidak tahukah dia bahwa aku sedang dalam kondisi teramat buruk sekarang? Oh, guru pink, kapan dia mau perhatian barang sedikit saja padaku…. "Ambil gulungan kertasnya,” katanya jutek ketika aku sudah berada di depan. Sedikit cemas aku mencoba memasukkan tanganku untuk memilih gulungan kertas. Semoga perintah yang tertulis tidak membuat bulu kudukku berdiri akibat merinding. Aku membuka pelan gulungan kertas di tangan. Mataku sedikit membesar karena tidak terima dengan apa yang tertulis di sana. Keluarga. "Baik, sekarang ceritakan pada kami semua tentang keluarga kamu." Aku merutuki diri karena kesal. "Jangan membuang waktu, Nadine. Jika kamu tidak mau menceritakan tentang keluarga kamu, lebih baik kamu keluar dan nilai kamu akan saya pastikan tidak tuntas di bab ini." Tidak! Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh ini! Menceritakan bagian apa? Mamaku yang berselingkuh? Papaku yang bekerja sangat jauh dan telah dibodohi oleh mamaku sendiri? Atau nasibku yang kekurangan kasih sayang sedari kecil? Apa yang diharapkan dari bagian menyakitkan itu? Aku menatap ke depan, memperhatikan teman-temanku yang sepertinya berminat. Namun saat mataku bertemu dengan Aldric, jantungku berdegub kencang lagi. Aku menggeleng pelan ke arahnya. Namun sia-sia, Aldric seperti tidak peduli. "Segera Nadine!" "Sa---saya---saya anak pertama, dari dua bersaudara. Saya, punya adik perempuan, cantik, mirip sama mama." Aku berhenti. Kenapa aku berbicara gagap? Aku mencoba membuang napas perlahan untuk menenangkan diri. Nadine, ini mudah! "Orang tua saya, sangat-sangat menyayangi kami berdua. Memberikan apapun yang saya mau. Kasih sayang yang setiap detiknya selalu saya rasakan. Menemani saya kapanpun ketika saya butuh mereka. Seperti superhero, bahkan mungkin lebih." Aku menahan sesak di d**a. Sulit rasanya merangkai sebuah kalimat dusta. "Memiliki papa yang selalu menepati janjinya pada saya. Dia, orang yang begitu saya cintao serta hormati. Papa kerja di salah satu negara maju di dunia, kalau mama kerja di perusahaan dalam negeri, tapi enggak pernah absen buat kasih perhatian ke saya dan adik.” Maafkan lidah tidak bertulang ini, Wahai Semesta. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, sesak di d**a kian menerjangku dengan rasa sakit yang bertambah. Luka di hati itu semakin banyak. Sedang aku tidak memiliki obat untuk menghilangkan nyerinya. Penawar rasa sakit itu kini menjauh dengan alasan yang tidak kuketahui. "Tetapi, jika kalian berpikir kalian ingin menjadi saya, buang jauh-jauh pikiran itu. Percaya sama saya, untuk satu jam atau mungkin kurang dari itu, kalian enggak akan sanggup buat jadi saya. Namanya hidup nggak mungkin bebas dari masalah, kan? Selagi hidup, berarti yang namanya bahu, pasti terus mikul beban. Sayangnya, beban saya enggak akan cocok buat kalian." Jujurku pada mereka. Kini aku benar-benar ingin meninggalkan perpustakaan. Persetan pada nilai. Hatiku ingin meledak rasanya. Aku menunduk, berusaha menenangkan diri. "Maaf, Bu, saya rasa nggak ada pelajaran dari apa yang saya sampaikan. Saya minta maaf. Saya permisi." Aku segera keluar perpustakaan, berlari meninggalkan gedung untuk mencari gedung kelasku. Aku masuk ke dalam kelas yang kosong, lantas duduk di kursiku dengan tangis pecah. Oh Tuhan, kenapa berbohong rasanya begitu menyakitkan?! Aku tidak berteriak selama menangisi kebodohanku. Namun sepertinya mulai hari ini akan banyak hal berbeda. Tidak ada pelukan, tidak ada mantra penguat. Aku sendiri, sedangkan dia telah melangkah pergi. Aku tidak mungkin mencegahnya. Bukan gayaku untuk menahan kepergian seseorang yang ingin keluar dari zona hidupku. Mungkin selama ini, Aldric muak dengan semua sikapku. Lalu memilih menjauh karena malu memiliki teman seperti aku. "Kalau lo nggak kuat, kenapa lo lakuin hal tadi?" Aku menoleh, menemukan Aldric yang baru melewati ambang pintu kelas. Tatapannya kali ini misterius dan tidak terbaca. "Kenapa lo mesti bohong? Kenapa lo mesti nyakitin diri lo sendiri? Kemana Nadine gue yang kuat?" Bisakah dia tidak terus berbicara? Mendengar suara peduli Aldric namun ekspresi wajahnya tetap datar membuatku kesal. "Terus kemana Aldric gue yang sebenernya?" teriakku penuh emosi. "Lo kenapa, Al?" "Untuk sekarang lo nggak perlu tau, Nad. Cuma 7 hari, Nad. Gue minta lo sabar. Jangan kalah! Tunjukin lo kuat di depan mereka." Aldric lantas melangkah pergi. Apa yang dia bicarakan? 7 hari untuk apa? * * * Aku duduk di depan kelas, tepatnya pada bangku yang dibuat menempel pada dinding tiap-tiap kelas. Aku tidak melakukan apapun selain diam dan memperhatikan orang-orang dengan segala aktivitas mengasikkan milik mereka. Aku jadi mengingat saat-saat aku mulai masuk sekolah, TK hingga SD, aku selalu seperti ini; menyendiri. Tidak ingin berteman dengan siapapun. Helaan napas beratku keluar lagi. Kurutuki diri sendiri karena lagi-lagi mencoba mengulang masa lalu yang seharusnya tidak perlu aku bahas. Aku baru akan beranjak dari duduk, ketika sebuah minuman kaleng muncul di depanku bersamaan dengan tangan seseorang. Aku mendongak untuk mencari wajah pemberi. Razza memainkan alisnya melihatku. Lalu tanpa aba, aku mengambil minuman tersebut tidak lupa dengan senyum tipis sebagai ungkapan terimakasih. Razza memilih ikut duduk disampingku padahal ia jelas-jelas bisa bergabung dengan tim basket yang sekarang sedang asik memantulkan bola di tengah lapangan. "Haduh!" Aku menoleh pada Razza bingung sebab keluhannya yang tiba-tiba. "Kenapa lo?" Lantas aku bertanya. “Sakit?” "Liat tuh langit, udah mendung aja." Aku langsung saja tersenyum geli, jadi teringat akan pertemuan pertama kami. Razza ternyata benar-benar tidak senang dengan yang namanya rintik air. "Nikmatin aja kali, lagian ini suasananya adem juga." "Gue nggak pernah bisa nikmatin hujan.” Razza tampak menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu. “Nggak tau kenapa gue benci basah karna air hujan." Tutur Razza menatap ke langit atas. Suasana mendung saat ini menurutku sangat menyenangkan. Anak-anak malah terlihat makin bersemangat main di lapangan. Ah, sepertinya aku mengerti mengapa Razza lebih memilih duduk disini. "Lo tuh harus coba buat sekali aja nikmatin hujan. Lari-larian dibawah airnya. Itu nyenengin banget, Za." Aku menatap manik mata milik Razza. Pertanda aku sedang berbicara dengan serius kali ini. "Atau makan mie rebus dibalik kaca kamar lo sambil dipeluk selimut. Itu surga dunia tau!" Kulihat Razza tertawa kecil. Aku ikut tertawa lalu kembali melihat ke depan. Kuteguk lagi minuman dari Razza. Namun suara cekikikan aneh yang rasa-rasanya akan merusak udara di sekitar malah membuatku menoleh. Dari arah kanan, kakak kelas gila itu berjalan bersama Aldric. Dia menatapku sinis, sepertinya dia merasa sangat menang. Aldric menatapku dengan ekspresi yang sulit aku tebak. Aku bertanya-tanya apa sebenarnya rencana mereka. Kenapa sangat kekanakan sekali sampai Aldric rela mengorbankan pertemanan kami. Bukankah terlalu jahat dan tidak masuk akal? Dia seharusnya berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu semacam ini. Kutatap punggung mereka yang menjauh, mencoba bertahan dengan sesak yang menyerbu. Dari sekian banyak lelaki di sekolah ini, mengapa perempuan badut itu harus memilih Aldric?! "Lo kenapa? Eh---" Kalimat Razza terputus karena dia sudah kaget lebih dulu. Hujan deras memacu begitu saja ke bumi. Membuat anak-anak di lapangan semakin bersemangat berlarian seperti orang gila. Mereka terus saja bermain tidak peduli dengan seragam yang basah. Pwittttt!!!!!! Suara panjang peluit terdengar. Pak Adam, guru olahraga tampak turun tangan untuk meneriaki murid-murid nakal yang berlari kesana kemari. Namun mereka tidak peduli dan tetap melanjutkan aksi bersama bola basket. "Andai aja gue nggak sebenci itu sama hujan, gue pasti bisa ikutan ngebasket bareng mereka sekarang." Aku menatap Razza sedikit tidak enak, bingung juga harus mengatakan apa. "Hm, coba deh, Za, belajar buat nyaman sama hujan. Jangan benci, kasihan hujannya nggak salah apa-apa." "Hujan ngambil kebahagiaan gue, Nad." Aku sontak penuh Razza bertanya. Penasaran apa maksud dari kalimat barusan. "Nggak, bukan apa-apa." Razza berdiri, kemudian berlalu meninggalkanku kebingungan. …t b c…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN