"Yang bandel itu kaki saya. Udah saya bilangin selalu, kok, buat jangan kejar kamu lagi. Ya, tapi memang dasarnya kaki saya saja yang enggak punya telinga." —Coretan ke-sekian, kamu masih jadi juara bertahan.
NADINE 'S POV
Aku berjalan santai sambil memegang segelas minuman dingin yang baru saja aku beli dari kantin. Bibirku sibuk bersenandung pelan berusaha damai dengan panasnya cuaca hari ini. Tidak jauh di depanku, ada pohon besar dengan kursi disediakan di bawahnya. Memang tempat yang paling cocok untuk mengistirahatkan diri dari penatnya aktivitas ulang matematika tadi.
Baru melanjutkan beberapa langkah untuk mendekati kursi tersebut, ikatan pada tali sepatuku mendadak terlepas. Aku mendecak kesal dan terpaksa berjongkok untuk membuat kembali simpulnya. Selesai dengan tali sepatu, aku yang berharap dapat berdiri dengan nyaman, malah merasakan hantaman keras pada tubuhku. Minuman yang aku pegang pun ikut tumpah, mengenai seragamku dan seragam seseorang yang entah sengaja atau tidak melakukan hal menyebalkan barusan. Aku membeku untuk beberapa saat, terlalu terkejut dengan situasi.
"Woi!" teriak dari seseorang di depanku. Bodoh! Aku jelas-jelas sedang melihatnya, seharusnya dia tidak perlu berteriak seperti itu. Kami sudah menjadi bahan tontonan di sekitar, dan teriakan bodoh tadi hanya menambah banyak pasang mata untuk datang menikmati drama yang sudah aku tebak akan terjadi.
Kalau sudah perempuan ini yang datang, maka tentu tidak akan jauh-jauh dari drama murahan. Dia kakak kelas tempo hari yang mendatangiku di café dan faktor terbesar penghancur moodku di sore itu.
"Lo jalan pake apaan, sih?" Dia bersuara lagi karena aku belum kunjung mengeluarkan suara.
"Kaki,” ujarku tenang.
"Lo bego, ya? Selain pakai kaki, harusnya lo gunain mata lo. Kenapa lo bisa sekolah disini, sih, dasar pengganggu!" Aku menatapnya penuh tanya, terlebih ingin sekali tertawa akan argument tidak nyambung yang barusan ia lontarkan lewat bibir berlipstick tersebut.
Namun bukan Nadine namanya kalau malah memperpanjang masalah selagi mengalah masih dapat dilakukan. Aku menghela napas, kemudian menatap kakak kelas tersebut lebih tenang lagi. "Gue minta maaf, lagian baju kita sama-sama kotor, kan?"
Guratan sinis itu terlihat jelas terlempar padaku. Dia melangkah maju untuk mendekat. Kutatap matanya dengan pandangan datar, tidak berminat untuk mengetahui apa yang selanjutnya hendak ia perbuat.
Setelah berada sangat dekat, dia menarik rambutku kasar, membuatku meringis. Dia memperlihatkan senyum sinisnya. "See? Orang yang lo anggep peduli bahkan nggak muncul sekarang. Azka nggak peduli sama lo. Lo pikir dong, lo nggak punya apa-apa, jangan mimpi bisa dapetin Azka." Dia melepaskan genggamannya pada rambutku, nyerinya masih terasa.
Tidak sampai disitu, dia menyentuh bahuku dengan tangannya dan mulai mendorongku berkali-kali. Dia mengambil minuman temannya, dan dengan senyum iblis menumpahkan minuman itu di atas rambutku. Aku mengigit bibir berusaha sabar.
Aku menatap sekitar, mereka semua lebih kejam dari yang aku kira. Tidak ada satu orang pun yang berniat menolongku. Mereka hanya melihat; dengan ekspresi berminat, kasihan, jijik, bahkan ada yang menertawakan kejadian ini. Disini aku tau, siapa yang tulus padaku dan siapa yang tidak. Dan buktinya, mereka semua tidak peduli pada keadaanku. Sekolah ini hanya dipenuhi oleh daging busuk bernyawa tidak berguna!
Aku menatap perempuan jahat ini dengan emosi yang mati-matian aku tahan. Dia tidak akan pernah tahu bagaimana gejolak api di dalam diriku. Aku tidak mau apabila status tersangka yang kini disandangnya malah berubah menjadi korban hanya karena aku melawan. Dia akan habis karena mulutku yang bisa berubah jahat, oleh tanganku yang kasar, dan oleh kekuasaan yang sebenarnya bisa aku manfaatkan untuk mendepaknya dari sekolah.
Aku sedang tidak berakting menjadi lemah. Namun aku tengah belajar menjadi baik disaat hatiku berteriak ingin marah. Aku terbiasa menyimpan semuanya di dalam hati sehingga untuk menghadapi kesetanan perempuan ini bukanlah hal yang sulit.
Dia kembali berjalan mendekat, mulai mencengkeram daguku lumayan keras. "Jauhin Azka, atau lo bakal ngerasain yang lebih dari ini." Dia berbisik tajam di telingaku.
"Woi santai-santai!” Cengkraman itu terlepas dan sosok Kiya muncul dari belakang. Aku tersenyum tipis menatap perempuan ini. Kalian ingat dia? Perempuan yang sering masuk keluar ruang BK. “Lo pikir lo siapa, hah?!”
"Lo yang siapa?" teriak kakak kelasku tidak terima.
"Eh, Neng, lo tanya ke semua guru, mereka pasti pada kenal sama gue. Lah lo siapa? Yakin lo siswi di sini kalau tingkah lo aja sarapnya ngelebihin iblis tau, nggak? Tampilan udah kaya badut, aroma parfum lo juga nggak enak! Jangankan buat dikenal, orang-orang mandangin lo aja males, mual duluan." Kiya menyemprot kakak kelas itu dengan mulut dan tatapan tajamnya. "Lo kelas 12, kan? Nggak usah buat dosa. Nggak lulus baru tau rasa lo. Gue ingetin juga, ya, jangan karena lo kakak kelas lo bisa seenaknya. Gue yakin lo nggak pernah masuk ruang BK karena judul kasus sampah kayak gini. Dan gue, gue orang yang bakalan bisa bikin lo masuk sekarang." Kiya masih berucap sambil memegang lenganku.
"Lo mau bawa gue masuk ruang BK? Please, lo juga bakal ikutan masuk." Senyum menantang tampak pada wajah jahatnya.
"Lo pikir gue takut? Pak Aris juga udah bosen liat gue karena sering masuk ruang BK, terus karena hal ini lo pikir gue nggak berani buat masuk lagi?" Tantang Kiya membuat kakak kelas tersebut jadi mengangkat tangannya dan ingin melayangkannya pada wajah Kiya. Namun sebelum mengenai pipi gadis pemberani itu, tangan si kakak kelas badut tersebut sudah ditahan oleh seseorang.
Sean.
"Lo sentuh mereka, tulang lo gue buat patah,” ucap Sean terdengar menyeramkan.
Tangan kakak kelasku meronta minta dilepaskan, dan dengan kasar Sean menghentak tangannya. "Lo pikir ini hiburan?" teriak Sean pada mereka yang menonton sejak tadi. "Lo, ikut gue." Sean menarik tangan perempuan itu, sepertinya akan pergi ke ruang BK.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Kiya memastikan kondisiku. Aku mengangguk cepat sambil tersenyum. "Cucu pemilik yayasan plus anak donatur terbesar di-bully pake minuman goceng? Wah, harusnya dia lemparin makanan mahal ke elo, Nad." Aku tertawa seketika, Kiya, dia tidak pernah mencari muka padaku. Sehingga itulah alasan mengapa aku nyaman pada sikapnya. "Nggak modal banget, sih, tuh orang, masa pake minuman goceng doang." Langkahku seketika terhenti, dan Kiya menyadari. "Ok, gue pamit undur diri, bakso semangkok, ye, Nad." Bahkan perempuan gila itu tidak menyuruhku untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan langsung saja meminta semangkuk bakso.
"Lo kenapa?!” Pertanyaan bernada panik itu muncul dari seseorang yang wujudnya tidak tampak sejak tadi. “Nadine lo kenapa?" Aldric terlihat kebingungan sekali. Ia lantas membuka sweater-nya dan dengan cepat memasangkannya padaku. Aldric menatap sekitar, mencari tahu apa yang baru saja terjadi.
"Barusan ada apa? Kenapa lo jadi kayak gini?" tanya Aldric lagi.
"Lo darimana?" tanyaku pelan berusaha mengalihkan topik. Aku tidak ingin membahas masalah tadi, biarlah, anggap saja masalah tadi tidak pernah ada.
"Gue abis dari toilet, mules." Aku menahan tawa yang akhirnya meledak. "Nggak usah ketawa, sekarang jawab jujur ke gue lo kenapa!”
Aku diam dan menggeleng. Namun bukan Aldric namanya jika dia tidak mencari tahu. Dia tidak akan bertanya lagi padaku karena sadar bahwa tidak akan ada jawaban yang bisa dia peroleh. Dia akan memilih mencari informasi dari orang lain lalu akan menyelesaikan masalah tersebut tanpa melibatkanku. Itulah Aldric.
Setelah membeli seragam baru, Aldric mengantarkanku pada masjid sekolah. Disana terdapat kamar mandi yang bisa aku gunakan untuk membersihkan diri. Aku menyuruh Aldric pergi dan setelah itu dia berlalu. Aku berharap dia tidak mencari tau kejadian tadi.
* * *
Aku memakai seragam yang baru saja dibeli, dan tidak lupa mengenakan kembali sweater milik Aldric. Setelah selesai, aku keluar, berjalan ke arah kelas. Di sepanjang koridor, dapat kudengar hinaan serta tatapan kasihan yang begitu aku benci.
Tidak jauh dari tempatku, Razza berdiri menatapku. Matanya menatapku dalam, seperti penasaran. Aku membuang muka, meneruskan langkah. Aku memasuki kelas dan menemukan Aldric dengan muka datar seperti memikirkan sesuatu. Ketika mata kami bertemu, Aldric dengan cepat membuang muka. Dahiku mengernyit, memikirkan apa yang terjadi pada Aldric.
Kemudian aku duduk di kursiku, Adel menatapku khawatir. Aku tersenyum tipis padanya seakan sedang memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Dan tanpa kuminta, Adel menjulurkan tangannya, memberkan aku sebotol air mineral. Tanpa berbicara apapun, aku menerima dan meminum air mineral tersebut. Merilekskan tubuh dengan mencium aroma yang berasal dari sweater milik Aldric.
* * *
Pagi ini, setelah turun dari bus dan berjalan ke arah gerbang, aku melihat sesuatu yang tidak asing. Ninja hitam, yang aku yakin milik Aldric, tampak melewati halte bus. Tetapi, bukan Aldric dan motornya yang membuatku bingung. Namun, seorang perempuan dengan seragam yang sama sedang duduk sambil memeluk pinggang Aldric.
Dahiku mengernyit, siapa yang Aldric bawa? Apa saudaranya ada yang menjadi anak baru? Atau siapa?
Aku sibuk memikirkan banyak kemungkinan sembari mempercepat langkah, memasuki gerbang dan dengan cepat melihat ke arah parkiran. Dan saat melihat perempuan yang Aldric bawa, aku seketika lupa cara berdiri. Tubuhku jatuh, tapi beruntung tidak sampai menyentuh tanah karena ada seseorang yang berhasil menopang tubuhku.
Pikiranku mendadak tidak fokus, aku dengan cepat menatap ke belakang. Razza disana, membantuku berdiri dengan ekspresi khawatir yang kentara. Saat aku kembali melihat ke depan, kutemukan Aldric yang berjalan sambil menatapku datar. Perempuan badut yang sedang memeluk lengan Aldric menatapku penuh kemenangan.
Aku berdiri, memposisikan tubuhku agar tidak kembali jatuh. Lo ngapain lagi, sih, Azka Aldric? batinku berteriak tidak terima.
...t b c...