B A B 9

1330 Kata
"Kamu, saya, dan dia. Kita bertiga terjebak dalam sebuah lingkaran yang hanya menerima dua hati. Dimana salah satunya terpaksa harus angkat kaki. Beritahu kami, siapa yang harus mengalah dan hengkang dari lingkaran kejam ini…." —Sekarang ada Aqila, senyum Aldric aku perhatikan jadi semakin manis. NADINE 'S POV "Kak Azka tungguin gue, Monyet!" Teriakan Aqila dan semangat langkah kakinya mengejar Aldric menjadi pemandanganku sore ini. Mereka baru saja membeli minuman, sedangkan aku hanya duduk di rumput taman dengan alasan terlalu lelah. Padahal, aku hanya ingin memberikan kesempatan untuk mereka berdua. "Pelan-pelan, dong!" Aku berteriak pada Aqila yang berlari. Aku takut dia terjatuh dan minuman ditangannya ikut tumpah. “Pelan kok, ih!” “Ya santai aja kenapa, sih? Ntar jatoh yang ribet siapa? Gue ogah ngurusinnya.” “Ya percuma dong kita ajakin Kak Azka kalau nggak dimanfaatin!” "Brisik ya lo berdua!" Aldric melerai perdebatan kami karena sadar bahwa namanya sudah mulai terseret---pertanda tidak baik. Lelaki itu mulai mengambil posisi di sampingku alih-alih berdekatan bersama Aqila yang memilih berada di seberang kami. Aku bertanya-tanya, mengapa Aldric tidak memanfaatkan situasi ini untuk mendekati adikku padahal dia memiliki kesempatan besar yang secara cuma-cuma aku berikan untuknya. Sudah kucatat pada diri sendiri sebelum memutuskan untuk kemari; kalau aku siap sakit hati. "Tai lo nggak nungguin gue," teriak Aqila masih kesal. Aldric tertawa, terus memperhatikan Aqila yang tengah asik minum. Dia tidak membalas ucapan kasar milik adikku. Aku mengabaikan keduanya, memilih menyeruput minumanku sembari menatap ke langit sore. Hari ini cuacanya lumayan, angin cukup mendukung sehingga kami tidak kepanasan. "Enak ya lo berdua, bisa pergian kayak gini setiap hari.” Tiba-tiba Aqila bersuara, memandang kami berganti. “Ah, andai kita seumuran, pasti kita bertiga bisa ngabisin waktu bareng terus, kan?" Tatapan Aqila membuatku diam tidak bisa merespon apapun. Apa dia tengah menaruh rasa iri terhadapku? "Gue bisa ajakin lo terus,” jawab Aldric sehingga aku menoleh cepat padanya. “Lo cuma tinggal bilang ke gue mau kemana, terus kita kesana." Aku menghela napas mendengar kalimat Aldric untuk Aqila. Dia selalu saja seperti ini kalau sudah bersangkutan dengan Aqila. "Kalau gue bilang, gue mau tidur di jalanan sampai pagi, lo juga mau nemenin gue, Kak?" tanya Aqila semangat pada Aldric. "Maulah! Dengan senang hati malah gue terima ajakan lo,” ucap Aldric tetap terlihat santai. "Sayangnya gue nggak minat juga ngajakin lo sih, Kak. Apalagi ngelakuin hal freak kaya gitu. Gue pengennya sama temen cewe juga, seru-seruan bareng." Aqila tertawa keras sambil memeletkan lidahnya pada Aldric. Kulihat Aldric tertawa ringan menanggapi tingkah Aqila. "Kok lo diem aja?" Aku yang sedang sibuk menjadi nyamuk pada akhirnya ditembak juga dengan pertanyaan oleh Aldric. Aku menatapnya dengan wajah datar seakan menunjukkan bahwa aku sedang malas. "Emang gue harus ngomong apaan?" Aldric mencebik kesal, kemudian ia mulai meletakkan kedua ibu jarinya di sudut kanan dan kiri bibirku, lalu menariknya ke atas. "Senyum dong, biar cantik!" "Lo nggak capek datar terus? Senyum dong, biar cantik." Aku mengingat kata-kata Aldric saat pertama kali kami bertemu dan bercerita. Masih dengan kedua ibu jari yang berada di samping bibirku, aku berkata, "Gue bakal tetep cantik mau ekspresi gue kayak gimana juga," masih dengan nada jutek. "Kak Nadine emang begitu, Kak. Pagi-pagi aja dia udah nggak enak diliat." Aqila berkata dengan tenang. Ikut-ikutan mengusikku. Aldric tertawa, dan aku menatapnya kian kesal. Kemudian kucubit lengannya dan tawanya mendadak berhenti. Keadaan berbalik, aku yang kali ini tertawa. "Dasar kejam!” keluh Aldric sambil mengusap lengannya. “Tadi kepala gue lo pukulin, sekarang lengan gue lo cubitin. Kalau begini gue jadi nggak mau nikah sama lo, ntar gue malah babak belur." Ucapan Aldric berhasil membuatku membeku. Aku tau itu bercanda, tetapi entah kenapa malah membuat hatiku sesak. "Lo pikir gue mau nikah sama lo?” balasku tidak kalah pedas. “Pacaran aja ogah." Tuhan, maafkan aku karena sudah berbohong…. "Gue tembak juga, pasti lo bakal nerima gue. Iyakan?" Aku meminum minumanku frustrasi, kemudian menggeleng keras. Kenapa topik pembicaraan ini malah lari kesini? "Kak Nadine nggak doyan cowok, Kak." Ucapan Aqila sederhana, namun berhasil membuat Aldric tertawa. "Kalau lo doyan cowok nggak?" Aldric bertanya pada Aqila, dan tentu saja Aqila mengangguk cepat. "Ini gue cowok,” ucap Aldric semangat. "Terus?" Aqila menaikkan satu alisnya, bertanya kelanjutan kalimat Aldric. Saat aku mengalihkan pandangan pada Aldric, pundaknya sudah turun menandakan dia menyerah. Aku tersenyum tipis menatap ekspresi itu. * * * "Lo mau masuk dulu?" tawarku pada Aldric. Aqila sudah memasuki rumah lebih dulu beberapa saat lalu. "Nggak usah, Nad. Gue langsung pulang aja. Oh iya, salam buat mama papa lo ya, gue lagi keringetan nggak enak nemuin orangtua lo." "Azka!" Baru saja aku ingin menjawab kalimat Aldric, terdengar suara mama dari belakang. Aku membalikkan badan, mama tersenyum kevarah Aldric diikuti papa. Aku hanya diam memandang orangtuaku. Apa yang akan mereka lakukan? "Eh, halo, Tante, Om! Maaf tadi Azka mau langsung pulang aja soalnya keringetan, nggak enak." Aldric berbicara dengan nada ramahnya. "Ini temennya Nadine?" Suara tanya papa terdengar dengan nada terkontrol pada Aldric. "Iya, Om, saya temennya Nadine. Kita udah deket dari awal sekolah." Aldric lagi-lagi dapat mengontrol sifatnya, membuatku menahan senyum. "Makasih, ya, udah jagain dua anak Om." Papa tertawa renyah, membuatku kaget pada tawa itu. Otakku seperti berputar, kapan terakhir papa tertawa seperti itu? Aslikah tawa itu? "Udah kewajiban saya juga kok, Om. Apalagi buat Nadine, jagain dia udah kayak tugas wajib buat saya." Aku sukses memandang Aldric---yang kini tampaknya memang sengaja tidak menatapku---tanpa mampu mengucapkan apa-apa lagi. Kalimat itu benar-benar menjentik hatiku. Terkadang inilah yang membuatku bersyukur dengan status persahabatan ini. Aku selalu merasa menjadi bagian terpenting untuknya dimana aku yakin bahwa dia tidak akan pernah pergi. Tapi mustahil sekali rasanya kalau di masa depan kami akan tetap bersama-sama. Sebab kelak, aku dan lelaki ini, pasti akan berpisah entah untuk alasan seperti apa. "Udah mau pulang, ya? Nggak mau makan disini dulu?" tawar mama lembut. "Nggak usah, Tante, tapi makasih buat tawarannya. Kalau gitu Azka pamit ya, Om, Tante.” Aldric mengangguk dengan sopan. Kemudian beralih menatapku dengan senyum lembut. “Bye, Nad!" Aku mengikuti langkah Aldric hingga keluar pagar. Sadar dengan apa yang aku lakukan, Aldric lantas berhenti melangkah dan bertanya. "Mau kemana lo?" "Anterin lo ampe luar,” jawabku tenang. "Nggak usah, udah sana masuk.” Aldric mendorong bahuku agar kembali masuk ke halaman. Kemudian dia berlari menjauh sembari melambaikan tangan padaku. Senyumnya terukir sempurna di bawah cahaya bulan. “Makasih buat hari ini, ya! Bye, gue pulang." "Bye Al, hati-hati!" teriakku juga ikut melambaikan tangan. ‘Gue yang harusnya bilang makasih banyak buat hari ini.’ Lagi-lagi batinku bersuara. * * * "Dia temen kamu, Nad?" Aku kembali ditembak oleh pertanyaan papa tepat ketika aku memasuki rumah. Aku mengangguk santai, "Iya, dia temen Nadine." "Dia yang kamu maksud di kalimat kamu tadi pagi?" Aku diam sesaat, seketika mengingat debatku tadi pagi bersama mama dan papa. Tebakan papa seratus persen benar. Namun aku memilih diam, tidak berniat menjawab. "Kayaknya dia anak baik, sampai bisa luluhin anak papa." Aku menatap papa menahan sesak, entah kenapa aku tersentuh dengan kalimat sesederhana itu. "Papa seneng karena kamu nggak salah milih temen." "Aldric? Bukan aku yang milih dia, tapi dia yang dateng ke aku." Egoku lagi-lagi memenangkan obrolan. "Nadine capek, mau istirahat." Aku berlalu meninggalkan papa dan naik menuju kamar. Ketika melewati kamar Aqila, kulihat dia tengah berdiri di ambang pintu seakan memang tengah menunggu kedatanganku. "Kak." Benar saja, dia memanggil. "Kenapa?" tanyaku dengan wajah sudah lemas. "Gue ikutan les musik mulai besok, lo mau ikutan juga, nggak?" Ekpresi kagetku tidak tertutupi, apa yang membuat Aqila berminat untuk mengikuti les musik? Terlebih pakai mengajakku segala. "Lo ikutan les, karena kemauan lo sendiri atau … ada alesan lain?" Penasaranku sulit ditahan. Aku berusaha menyelidik Aqila lewat gerak-geriknya, namun nihil! Aku tidak dapat menyimpulkan apa-apa. "Nggak tau.” Aqila menggeleng cepat. “Gue nggak tau." "Sorry, gue nggak minat ikutan." Menghapus rasa penasaranku yang tampaknya hanya membuang waktu, aku memilih menyudahi obrolan kami. Aku lanjut berjalan menuju kamar, meninggalkan Aqila bersama pikirannya sendiri. ...t b c...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN