"Papa, Mama, izinkan aku sebagai putri kalian, untuk mengejar dan merasakan kebahagiaannya." —Di dalam selimut hangat milikku, 5 menit sebelum aku tertidur.
Nadine 's POV
"Kamu darimana?" Pertanyaan tajam papa seketika membuatku terdiam.
Aku mematung, menatap ke bawah. Sungguh, aku lelah mengenakan topeng. Ingin rasanya aku berlari ke dalam dekapan hangat papa. Berkata padanya bahwa aku begitu merindukannya. Namun egoku terus saja menyerang. Bagai deras hujan yang mematikan api kecil pada lilin. Deras hujan itu egoku, dan api pada lilin tersebut adalah keinginanku. Tentu saja, api pada lilin itu padam. Sekali lagi, hujan deras itu menang.
Aku mengangkat wajah, memperlihatkan ekspresi datar tidak terbaca pada papa. "Kenapa? Nadine cuma abis jalan-jalan cari angin." Aku menjawab dengan tenang.
"Cuma kamu bilang? Kamu tau sekarang pukul berapa?"
Aku mengangkat pergelangan tanganku malas, kulihat waktu yang ditunjukkan oleh jam. "Hampir jam 2. Kenapa?"
"Nadine!" teriak papa membuatku sedikit gugup.
"Apa, Pa?! Papa mau marahin Nadine karena baru pulang sekarang? Papa mau marahin Nadine karna pergi nggak pamit? Atau, Papa mau hukum Nadine karena nggak dengerin panggilan Papa tadi?" Aku ikut menambah volume pada suara, tanpa memperdulikan apakah orang rumah akan mendengar suaraku atau tidak.
"Kenapa kamu malah jadi kayak gini, Nak?" Dapat kulihat pancaran sinar kasihan dari mata papa. Sudah pernahkan kukatakan bahwa aku benci ditatap seperti itu?
"Papa nanya aku? Serius Papa nanya aku kenapa aku berubah? Papa tau pasti jawabannya, Pa. Kalau Papa sama Mama yang buat aku berubah. Kalian yang buat aku ngambil langkah kayak gini, berubah jadi monster yang selalu dibenci sama orang-orang." Aku berteriak, lalu berjalan ke arah tangga untuk menuju kamar.
Aku menutup pintu kamar dengan keras, lalu kusandarkan badanku pada pintu dan duduk perlahan. Aku membenci diriku yang palsu seperti ini. Aku membenci keluargaku yang berantakan. Aku membenci pekerjaan papa yang membuatnya harus pergi jauh. Dan, aku membenci pekerjaan mama. Yang dimana setiap paginya mama akan berdandan cantik untuk ke kantor dan melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu.
Terlebih lagi, aku membenci teman pria mama. Pria yang membuat mama berpaling dari papa. Namun sebisa mungkin, aku berpura-pura tidak tahu. Memilih terus mengenakan topeng dan terus menghormati mama sebagaimana mestinya. Karena jika aku buka suara, papa akan murka. Dan kemungkinan yang tidak aku inginkan bisa saja terjadi. Perceraian.
Aku tidak ingin papa meninggalkan mama, dan aku juga tidak ingin mama menghianati papa. Tapi aku lebih tidak menginginkan kata cerai terucap. Biarkan dulu seperti ini. Aku akan melakukan sesuatu untuk membuat p****************g itu enyah dari kehidupan mama. Akan kubuat dia membayar semuanya.
* * *
"Kamu harus ikut Papa, Nad." Aku yang baru turun dari tangga sukses menatap mama bertanya. Apa maksudnya? Ini masih pagi, aku malas untuk ribut.
"Iya, ada sekolah di Inggris yang cocok buat kamu. Kamu pasti nyaman di sana." Aku makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. Pelan dan dengan pandangan menyelidik aku berjalan ke arah mama dan papa.
"Setelah sekian lama kalian nggak pernah nganggep aku, kalian malah mau depak aku dari rumah. Keren banget!" Aku tersenyum sinis menatap mama dan papa bergantian.
"Disini enggak aman buat kamu, Nadine," ujar papa pelan. “Kamu pernah nggak kepikiran gimana misalnya semalam ada orang yang pengen jahatin kamu semalam. Kamu putri Papa, Papa berhak marah sama tingkah kamu yang kayak gitu. Papa punya hak buat keras sama putri Papa sendiri.”
“Khawatirnya Papa tuh udah nggak ada gunanya buat Nadine.” Aku tertawa meremehkan semua kalimat panjang milik papa. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu dan bukannya melulu menyakitiku."Dan Papa pikir, di tempat Papa buang aku nanti bakal lebih aman dari sini? Kalau niat kalian cuma buat nyingkirin aku, aku bisa pergi tanpa kalian minta." Dadaku sesak, memikirkan rencana gila kedua orang tuaku.
"Nadine, ini semua demi kamu," ucap papa berdiri, berjalan ke arahku.
"Berhenti disitu dan jangan lanjutin langkah Papa," ucapku tajam. "Aku gede di sini, bareng Mbak Hike, aku diajarin jadi manusia. Kalian? Kalian sibuk buat harta kalian sampai lupa sama aku dan Aqila. Aku dapetin temen yang tulus sama aku di sini. Orang yang selalu ngehibur aku nggak peduli apapun. Orang yang bakal selalu ngulurin tangannya buat aku. Walapun banyak yang benci aku, tapi dia dengan senyum yakinin aku, kalau semuanya bakal baik-baik aja." Aku menghirup udara yang terasa hilang.
"Dan sekarang kalian mau ngirim aku ke tempat yang aku sendiripun nggak tau. Kalian nyuruh aku ninggalin kebahagiaan aku? Pa, Ma, ini hidup aku. Cukup sama semua kebahagiaan aku yang udah kalian rampas dari aku kecil. Kebahagiaan aku sekarang, jangan ikut dirampas. Karena akhirnya aku bisa ketemu sama orang yang bisa ngajarin aku kuat sampai di titik sekarang. Orang yang berkali-kali kasih tau ke aku kalau hidup aku berguna. Aku akhirnya mulai mau berjuang buat sesuatu—akhirnya aku mau berjuang buat bahagia." Aku memejamkan mata, menahan helaan napasku sembari menenangkan diri. Aku meninggalkan ruang makan, tidak peduli dengan isi pikiran kedua orangtuaku.
* * *
Aku berjalan menahan sesak, ini masih pagi dan rasanya aku akan berubah jadi gila. Aku keluar dari gerbang perumahan menuju halte. Menatap suasana ramai pagi ini. Memikirkan percakapan tadi membuatku kembali kesal. Apa yang akan aku lakukan jika aku terpisah dari mama? Dari Aqila? dan terlebih, Aldric.
Harus seperti apa kujelaskan, bahwa mereka yang aku inginkan. Aku ingin di rumah, bersama mama dan papa. Merasakan keluarga yang semestinya. Tetapi malah sebaliknya, aku seperti dibuang. Suatu tempat di Inggris? Jangan gila. Aku tidak akan kesana.
"Lu kenapa?" Jantungku berdetak sedikit cepat saat kaget menyerang. Kenapa banyak sekali orang yang senang membuat jantungku melakukan senam.
"Nyawa gue cuma satu, Bego!"
"Lah, emangnya gue ngapain?" tanya lelaki ini dengan wajah dungu.
"Sean, lo harusnya sadar kalau lo barusan ngagetin gue."
"Dasar alay! Gitu doang kaget." Kupukul lengannya sekuat tenaga, membuat Sean mengaduh kesakitan lalu menatapku kesal.
"Lo kenapa, sih?" tanyanya lagi sambil mengusap lengan.
"Gue mau dipindahin ke Inggris. Sinting nggak?" Kulihat dahi Sean yang mengernyit, tanda sedang berfikir.
"Nggak akan bisa," jawab Sean terdengar serius, seperti sudah mengerti maksud kalimat yang kukatakan. Aku menatap Sean bertanya.
"Kok lo bisa bilang begitu?" tanyaku penasaran.
"Lo pikir opa bakal biarin?" Aku menatap Sean sambil tersenyum penuh kemenangan. Ya, opa tidak akan membiarkan aku dibuang sejauh itu.
Oh, mungkin aku lupa memberi tahu. Aku dan Sean adalah saudara sepupu. Papa Sean adalah abang dari mamaku. Dan mama memiliki satu adik laki-laki. Hanya itu, hanya tiga bersaudara. Aku menatap Sean yang sedang fokus pada ponselnya. Lelaki ini, walaupun menyebalkan, namun sangat peduli padaku. Saat kecil kami sangat dekat, Sean baik dan sering membuat candaan. Namun saat SMP hingga sekarang, Sean berubah menjadi cuek menyebalkan. Entah apa alasannya.
Sedikit tentang opa, opa adalah pemilik yayasan tempatku dan Sean sekarang menuntut ilmu. Namun yang mengurus semuanya adalah papa Sean dan adik bungsunya. Mama tidak akan mau repot-repot, hanya membantu sekenanya. Sementara papa memilih membantu dengan menjadi donatur.
Opa pernah berkata padaku, bahwa harta yang dia kumpulkan semata-mata hanya untuk anak dan cucunya kelak. Sekarang, opa hanya menikmati. Tinggal dirumah sederhana bersama oma dengan lingkungan asri yang berada lumayan jauh dari hingar bingar kota. Namun opa telah membangun satu rumah, khusus untuk opa, anak dan cucunya berkumpul bersama setiap acara-acara penting yang bersifat kekeluargaan.
Sudah sangat lama, namun aku masih mengingatnya. Mama pernah berkata bahwa sifat, sikap, serta kebiasaan opa jatuh padaku. Sederhana. Mama sempat marah padaku karna sepatu sekolah yang sudah robek tetap aku gunakan. "Kamu boleh sederhana, tapi kalau Mama masih bisa beliin kamu yang baru, kamu harus minta." Aku merasa sangat bahagia saat mama memperhatikan hal kecil seperti itu dariku.
Sama seperti kaus kaki yang sering aku gunakan di rumah. Pernah secara tidak sengaja aku membuat kaus kakiku bolong, dan saat berjalan di depan mama, aku langsung diberi ceramah panjang. "Mama bingung, kamu itu anak mama, bukannya anak opa." Aku kembali bahagia, saat mama mengatakan aku adalah anaknya. Dan dengan wajah berbinar aku menjawab, "Tapikan Nadine cucu opa, Ma."
"Lo nggak lupakan sama sabtu ini?" Suara tanya Sean membuatku tersadar, aku mengingat tanggal.
"Oh iya, gue baru inget."
"Masalah lo sebanyak itu sampai lupa sama acara sabtu depan?" tanya Sean dengan wajah cemas dibuat-buat. Lagi, aku memukul lengannya sekuat tenaga.
"Sialan lo!” semprotku lalu memasuki bus yang sudah datang.
* * *
Anak-anak Cakrawala terlihat ramai bercanda, berteriak, dan asik melempar obrolan ketika keluar dari gerbang sekolah---membuat jam pulang sekolah terlihat sangat rusuh layaknya demo. Kebanyakan dari siswa memang memutuskan membeli jajanan kecil dulu sebelum pulang. Begitupun aku dan Aldric yang ikut memesan cookies di salah satu stand makanan. Sesekali kami melihat ke jalanan, takut-takut kalau Aqila datang dan dia tidak melihat keberadaan kami.
"Aqila nanti jadi lanjutin sekolah di sini?" tanya Aldric dengan santai, namun berhasil menghancurkan moodku yang baru akan berjalan bagus.
"Lo inget, nggak? Terakhir kita bahas ini, gue ninggalin lo di kantin karna sebel. Jadi jangan buat gue sebel lagi. Aqila nggak mungkin mau nyambung disini. Dia punya pilihan sendiri." Aku menjawab sembari asik melihat ke kanan dan ke kiri.
"Sinis amat, sih!” cibir Aldric yang malah sukses aku pelototi. “Senyum dong biar cantik. Muka lo udah kayak bebek kejepit." Kutatap Aldric ganas, lalu kupukul kepalanya sehingga ia sukses mengaduh kesakitan.
"Lo pada mau pergi?" Suara Sean terdengar tiba-tiba. Aku dan Aldric menoleh ke arahnya yang sedang asik mengunyah bakso goreng. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat sosok Sean sekarang. Lelaki ini memang manusia paling santai di seantero sekolah. Bukannya sibuk dengan urusan-urusan yang bersangkutan dengan kelas dua belas, Sean malah bisa dibilang melebihi anak kelas sepuluh. Dia tidak terlihat stress sama sekali dan itu membuatku bertanya-tanya.
"Iyalah." Suara Aldric yang penuh semangat membuatku tersentak dari lamunan. Sean melemparkan tatapan penuh tanya padaku, mungkin takut kalau aku tengah memikirkan hal-hal yang pada akhirnya hanya akan menyakiti diriku sendiri.
"Berdua doang?" Sean mengalihkan tatapannya dariku, kini bertanya pada Aldric dengan nada penasaran.
"Aqila ikutan, nih,” jawab Aldric sembari memainkan alisnya naik turun. “Lo kalau ada apa-apa jangan gangguin gue, ya. Lagi ngedate soalnya."
Kulihat Sean mengernyit, kentara sekali tidak suka pada jawaban yang dilontarkan oleh sahabatnya itu. "Lu pasang dua? Gila juga lu bisa dapetin dua sepupu cakep gue." Aku hanya diam sambil menatap jalanan, lebih baik mencari keberadaan mobil Aqila ketimbang mendengar dua obrolan lelaki di sekitarku.
"Masa gue sama Nadine? Gila lu, Yan! Daripada sama Nadine, mending gue sama kucingnya Kak Zeydan! Yakan, Nad?" Dadaku tiba-tiba sesak. Oh Tuhan, mendadak aku ingin pulang.
"Lah, emang kenapa? Kalau gue bukan saudaranya Nadine, udah gue pacarin kali,” tutur Sean membuatku yang seketika membuatku merinding.
"Gila lu! Lagian, mana mungkin Nadine suka gue." Ucapan Aldric terdengar lirih. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya bercampur pura-pura tidak peduli. Batinku bergejolak, ‘Andai lo tau, Al.’
"Udah, Yan, sana pulang, tuh jemputan lo." Aku tersenyum hambar pada Sean, sementara lelaki itu masih mencoba membuatku tegar dengan menepuk pelan bahuku sambil tersenyum.
"Gue duluan." Pamit Sean melambaikan tangannya pada kami berdua.
"Hati-hati, Yan,” teriak Aldric di sebelahku. Dia sepertinya tidak lagi memikirkan obrolan kami sebelumnya. Bak angin lalu, aku tahu bahwa Aldric tidak akan pernah peduli. Aku paham bahwa statusku tidak lebih dari sekedar sahabat yang pada akhirnya hanya akan menampung keluh dan bahagianya tanpa bisa mengharapkan sesuatu yang lebih dari ini menjadi nyata.
Aku menghela napas, merasa bodoh untuk kesian kalinya karena pada akhirnya harapanku tetap akan dipatahkan oleh ulahku sendiri yang tidak pernah sadar diri.
...t b c...