"Malam itu bukan sesuatu yang menakutkan. Bulan saja enggak pernah ngeluh ketika bintang enggak ada. Karena bagi Bulan, udah cukup dengan keberadaan malam itu sendiri. Itu kenapa, ketika bersama malam, saya sudah seperti menemukan teman. Karena langit malam enggak pernah ingkar janji, dia cuma bakal pergi kalau yakin fajar udah siap gantiin posisinya buat nemenin saya. Karena langit malam enggak mau saya kesepian." —Pukul 01.00 dini hari, di bawah lampu jalanan.
NADINE 'S POV
"Nadine!” Ketukan pada pintu kamar terdengar disusul dengan teriakan tegas papa. “Nadine! Nadine, keluar dulu, Nak, Papa mau bicara sama kamu." Aku menutup telinga, lanntas berjalan ke kamar mandi untu membersihkan diri. Badanku sudah sangat bau efek kesana kemari.
"Nadine!" Samar-samar masih kudengar teriakan papa.
Di dalam kamar mandi, aku menatap pantulan diriku pada kaca, terlihat menyedihkan sekali. Pergelangan tanganku pun ikut-ikutan berubah merah akibat cengkeraman Aldric sebelumnya. Sedikit nyeri, namun entah mengapa senyum tipisku malah terbit. Walaupun secara tidak langsung Aldric selalu membuatku kecewa tentang Aqila, namun lelaki itu memang tidak pernah mengecawakanku dalam hubungan persahabatan kami---berbeda jauh denganku yang memang kerap sekali menyemprotnya di segala situasi.
Aku menghela napas berat untuk mengeluarkan beban di hari ini. Aku sudah terlalu banyak menebar kebohongan sejak pagi---berakting baik-baik saja padahal aku jauh dari kondisi tersebut. Kubilas wajah dengan air segar, berharap dengan begitu topengku lepas. Aku sadar, seberapa naifnya aku menjadi manusia. Seberapa pengecutnya aku karena selalu bersembunyi dibalik lukaku sendiri. Padahal, aku punya hak untuk berbicara. Namun rasa takutku mengalahkan semuanya.
Aku keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan badan, samar kini mendengar percakapan di luar.
"Biarin kak Nadine istirahat, Pa," ucap Aqila terdengar tegas.
"Papa mau bicara dulu sama kakak kamu,” kudengar jawaban papa dan aku sukses mendegus sebal. Siapa pula yang mau berbicara? Aku tidak akan keluar dari kamar ini terlebih berhadapan dengan wajah pria yang sudah hampir aku lupakan.
"Papa tunggu sampai tengah malem juga, Kak Nadine nggak bakal keluar kamar." Aqila menjelaskan dan aku hampir saja tertawa. Dia memang sangat berani sekali untuk berbicara. Sebenarnya kami sama saja. Namun Aqila lebih ke versi yang ingin menanggapi sementara aku tentu akan memilih untuk tidak peduli ketika moodku sudah dibuat hancur lebur---sekalipun itu penting.
"Nadine pasti keluar waktu makan malam nanti." Papa masih berbicara dengan nada penuh harap. Aku mulai mengabaikan, namun jawaban Aqila yang panjang masih dapat kudengar.
"Nggak akan! Kak Nadine punya banyak persediaan makanan di kamarnya. Papa nggak akan bisa maksa dia, karena semakin Papa maksa, Kak Nadine bakalan makin nggak mau buat ngomong sama Papa." Aqila mengetahui sikapku dengan baik. "Yaudah, deh, terserah Papa mau gimana." Lalu kudengar suara dentuman pintu berbunyi keras, pertanda Aqila sudah berada dikamarnya.
Hapeku berbunyi, muncul pesan baru dari Aqila.
Aqila Filia Heidi: Ini nggak gratis, kak.
Aku mendengus sambil tertawa membaca pesan konyolnya.
Nadine Sava: Besok pulang sekolah gue ajakin lo jalan,ok?
Aqila Filia Heidi: ASIK! Naik bus kayak lo biasa, kan?
Nadine Sava: Lo mau? Boleh-boleh aja kalau lo nya nyaman.
Aqila Filia Heidi: Kak Azka ikut atau enggak?
Nadine Sava: Ngapain ajakin dia? Nggak perlu.
Aqila Filia Heidi: Biar rame aja, kan biasanya lo nggak suka sepi.
Nadine Sava: Liat ntar, deh.
Tidak sampai satu menit, pesan baru dari Aqila kembali masuk.
Aqila Filia Heidi: KAK AZKA MAU! Gue abis nge-chat dia nanyain, dia jawab iya.
Nadine Sava: Oh yaudah. Gue mau keluar dulu cari makan, dah!
Aku mematikan ponsel setelah menghela napas berkali-kali. Membayangkan apa yang akan terjadi besok sore, entahlah, aku sendiri juga tidak mau menebak-nebak dan membuat diriku sendiri terluka malam ini. Aku kemudian berjalan ke sebuah box berukuran lumayan besar dimana makanan simpananku tersimpan. Tidak istimewa, hanya makanan ringan yang sebenarnya kusiapkan untuk temanku jika sedang menonton.
Namun malam ini perutku tidak berminat memakan makanan ringan semacam ini. Aku lapar, ingin makan nasi. Aku menatap jendela kamar, memandang pemandangan di luar. Sepi. Di lingkungan ini jarang kutemukan orang berlalu-lalang. Yang sering kulihat hanyalah mobil, mobil, mobil, yang selalu bergerak keluar masuk area perumahan. Jika pagi, hanya ada beberapa orang yang lari pagi bersama peliharaan mereka.
Haruskah aku pergi malam ini dan kembali dini hari nanti? Senyumku merekah tanpa diminta. Langsung saja kukenakan jeans dan kaus polos berwarna hitam, kubalut lagi tubuhku dengan jacket agar tidak masuk angin selama berada di luar nanti. Setelah mengenakan sepatu, aku dengan cepat mengambil tas yang sudah terisi dengan perlengkapanku.
Aku membuka jendela, angin malam langsung saja menyapu wajahku. Hampir terlupa, langsung kuambil topi yang berada pada gantungan disamping jendela, lalu sepasang sarung tangan. Aku berjalan ke sudut balkon, dimana sudah tersedia kain panjang yang aku gulung pada pagar balkon. Langsung saja kubuka gulungan tersebut, dan tali itu terjatuh indah menyentuh tanah dibawah.
Aku mengingat lagi, ya kunci pintu samping dan kunci pagar bagian belakang. Aku kembali masuk ke kamar untuk mengambil kunci tersebut, yang pastinya sudah aku duplikat sejak lama. Mematikan lampu kamarku, dan keluar lagi melalui jendela. Setelah semua beres dan jendela sudah kututup, aku berjalan kembali ke sudut balkon.
Perlahan namun pasti, aku turun ke bawah. Sarung tangan yang kugunakan berfungsi untuk melindungi telapak tanganku saat menggenggam kain tersebut. Aku memijak tanah tanpa terjatuh, sudah terbiasa seperti ini. Pada awal aku mencoba kabur, aku terjatuh sebelum memijak tanah, dan itu lumayan menyakitkan. Namun hingga sekarang, satu yang menjadi kelemahanku; aku hanya bisa turun dan tidak bisa naik lagi dengan tali tersebut. Itu kenapa aku memilih untuk menduplikat kunci pintu samping rumah.
Aku melepaskan sarung tanganku, memasukkannya ke dalam tas lalu mengenakan topiku. Aku berjalan mengendap melewati pagar belakang. Dengan pelan kubuka gembok pagar, berhasil. Setelah itu aku berjalan keluar, menggembok kembali pagarku.
Kubuang napas lega sambil berjalan menikmati angin malam. Aku tersenyum. Namun suara perutku yang meronta membuat senyumku hilang. Aku berjalan lebih cepat lagi. Saat sampai pada gerbang perumahan, aku menyapa satpam tersebut.
"Gue pergi ya, gue pulang kok, tapi kayaknya bakal lewat jam 12,” jelasku pada satpam tersebut. Dia memang menjaga di sini dari sore hingga pagi.
"Sip, Neng. Tapi inget, hati-hati." Aku tersenyum, mengajak satpam tersebut untuk ber-highfive.
Aku kembali berjalan karena kondisi perutku mendesak. Tidak jauh dari perumahanku, ada tempat makan yang menyediakan makanan rumahan. Lima menit kemudian, aku sampai. Aku memasuki tempat makan tersebut dan langsung disapa oleh pelayannya. Aku tersenyum membalas sapaan mereka, lalu mencari tempat kosong.
"Pesanannya Mbak Nadine, seperti biasa," ujar pelayan pria paruh baya di depanku, dia sedang meletakkan pesananku. Aku tersenyum lalu mematikan ponsel.
"Oh iya, Pak, aku pesen es jeruknya, ya."
Bapak tersebut mengangguk lalu berteriak. "Es jeruknya satu." Dia menatapku tersenyum ramah, "Ditunggu sebentar ya, Mbak." Aku mengangguk tanda setuju. Lalu dengan cepat menyentuh makananku.
"Banyak juga makan lo." Aku tercekik, suara ini aku sudah hapal! Aku menatap ke depan, mendapati Razza tengah menatapku tidak percaya.
"Sumpah! Lo itu ngelebihin setan, Za,” kataku menatapnya takjub.
"Gue lagi nemenin adik, dia lagi pesen makanan. Orangtua kita lagi ada acara dari tadi pagi, jadi nggak sempet masak buat makan malem. Yaudah karna adik gue lumayan sering kesini, kita milih disini karna tadi sekalian lewat juga."
Aku menatap Razza mengernyit bingung. "Perasaan … gue nggak ada nanya apa-apa ke elo. Kenapa lo jadi jelasin panjang lebar banget." Aku membalasnya dengan jujur kemudian meneguk air mineralku.
"Oh iya." Lalu Razza tertawa garing, sendiri.
Aku hanya menggelengkan kepala lalu lanjut makan. Tidak memperdulikan Razza yang kini pasti tengah menatapku. Aku risih sebenarnya, hanya saja perutku lebih penting di saat seperti ini.
"Oh iya, lo sendirian?” tanya Razza tiba-tiba setelah diam beberapa saat. “Pacar pura-pura lo mana?---Maksud gue adik lo, yang lo bilang pacar lo waktu itu." Ah, Aku mengerti.
"Oh, dia lagi di rumah, dan ya, gue sendirian."
"Mau gue temenin?" tawar Razza membuatku mencibir dan tentu saja menolaknya dengan cepat.
"Nggaklah." Lalu aku kembali melanjutkan kesibukanku.
"Ini es jeruknya, Mbak Nadine." Bapak pelayan tadi kembali ke mejaku dengan jus jeruk di tangannya. Aku menerimanya sambil tersenyum lalu meminumnya. Sangat menyengarkan.
"Pelayan disini kenal sama lo?"
"Hm,” anggukku malas. Tidak taukah Razza bahwa aku masih lapar? Aku ingin makan dengan tenang kalau dia tidak ingin menjadi korbanku malam ini. Tidak-tidak, aku bercanda. Aku bukan vampire.
"Wah, hebat juga!"
"Hm.” Aku mengangguk lagi hanya dengan deheman singkat. Ingin memberi kode pada Razza bahwa aku sedang tidak bisa diganggu.
"Eh Nad, gue duluan, ya. Adik gue udah selesai. Lo jangan kelayapan ini udah malem."
"Hm." Lalu kulambaikan tangan tanpa menatap Razza. Sekali lagi kukatakan, aku lapar.
* * *
Setelah memasuki swalayan dan membeli beberapa kaleng minuman bersoda , aku berjalan di jalanan sepi yang hanya ditemani oleh lampu di sepanjangnya. Aku menatap ke atas, tidak terlalu banyak bintang. Lalu aku duduk di tepi jalan, memilih mengistirahatkan kakiku. Kuteguk lagi minuman di tangan.
"Ma, Pa, Nadine salah apa, sih?" Suara tanyaku yang sendu mendadak hilang terbawa angin malam.
"Papa janji, liburan sekolah nanti, kita bakal pergi ke Jepang." Suara pekikan girang Aqila terdengar. Aku hanya tersenyum, membayangkan akan seperti apa liburan keluarga nanti.
Waktu bergerak maju. Hingga pada akhirnya liburan yang aku dan Aqila nantikan tiba. Kami sudah siap dengan beberapa koper. Aqila sibuk memperlihatkan sarung tangganya padaku. Aku tertawa, lalu menunjukkan kaus bercorak binatang yang baru kemarin aku beli bersama Mbak Hike.
“Mbak, Papa sama Mama mana? Kok pergi dari pagi nggak pulang-pulang?” tanya Aqila pada Mbak Hike. Akupun ikutan tersadar. Papa dan mama memang belum kembali sejak tadi pagi mereka pergi terburu-buru. Namun aku tetap yakin kalau mereka akan segera datang. Mungkin jalanan sedikit macet hingga membuat mereka terlambat.
Namun ternyata, saat hari kian berubah gelap pun, papa dan mama tidak kunjung pulang. Aku menunduk dengan wajah sendu, menatap kaus kakiku dengan tidak lagi bersemangat. Sedangkan Aqila sudah tertidur di sofa, bajunya sudah terlihat acak-acakan.
"Non Nadine tidur aja ya?" Aku menatap Mbak Hike dengan pandangan sendu. Seharusnya sekarang aku sedang berada di dalam pesawat, bersama mama, papa, dan juga Aqila.
Aku menggeleng pelan menatap Mbak Hike, “Nadine mau nunggu Mama Papa aja di sini.” Suaraku sudah berubah pelan. Aku kemudian berjalan ke arah teras rumah. Aku berjongkok di sana, mulai berdoa semoga mama dan papa akan segera pulang dan kami dapat segera pergi ke bandara.
“Non Nadine udah kelamaan di luar, ayo masuk aja.” Mbak Hike mencoba meraih lenganku, namun aku menolak. Kemudian wanita itu mencoba untuk ikut berjongkok bersama denganku. Aku menatap Mbak Hike nanar, tangisku sulit sekali rasanya untuk ditahan. “Udah setengah jam, Non, masuk aja, ya? Mbak bikini s**u. Non Aqila juga udah tidur di kamarnya.” Aku lagi-lagi menggeleng. Aku ingin menunggu. Aku ingin berlibur bersama mama dan papa.
“Nanti kalau Non Nadine sakit malah enggak bisa pergi liburan, iyakan?” Aku menatap Mbak Hike penuh tanya. “Iya, kalau kelamaan di luar bakal bikin sakit. Terus nanti Non Nadine nggak bisa pergi liburan.”
Seketika aku berdiri, aku tidak mau sakit! "Nadine nggak mau sakit, Mbak Hike. Nadine mau liburan." Aku mulai merengek
“Iya, jadi Non Nadine harus masuk dulu. Kita nunggu di dalem aja sambil minum s**u, ya?” Aku mengangguk, lalu menerima ulura tangan Mbak Hike.
Keesokan harinya, saat aku bangun dari tidurku, aku langsung berlari keluar kamar. Berlari cepat menuruni tangga. Kulihat Aqila yang berdiam diri diujung tangga. Saat hendak memukul pundaknya, aku melihat apa yang Aqila lihat---mama dan papa, sedang sibuk dengan telepon di telinga, dan mereka mengenakan pakaian kerja.
Aqila menatapku bertanya, sayangnya aku juga tidak tahu cara untuk menjelaskan situasi seperti ini pada adik kecilku.
"Kita nggak jadi liburan, ya, Kak?" tanya Aqila.
Aku menggeleng lemah, "Kakak nggak tau."
Aku masih melihat ke arah ruang makan, sampai akhirnya papa menoleh ke belakang dan melihat kami. Dia seketika berdiri disusul cepat oleh mama.
"Sayang maafin Papa sama Mama, ya," ucap papa sambil mencoba memeluk kami berdua. "Papa sama Mama belum bisa bawa kalian ke Jepang."
Aqila melepas pelukan papa dengan paksaan, membuatku juga ikut terlepas dari pelukan tersebut. "Kita nggak jadi liburan? Padahal Aqila udah beli sarung tangan, Pa!" Rengek Aqila membuat muka papa tampak kebingungan harus menjawab apa.
"Kalau kalian liburannya di deket sini aja mau? Bandung mau?" tanya papa juga menatapku.
"Sama Papa Mama, kan?" tanyaku cepat.
"Sama mbak Hike dulu, ya?" Aku terdiam sebab terlalu terkejut dengan jawaban papa yang terkesan santai. Padahal, papa sudah berjanji. Walaupun liburan kali ini hanya sekedar mendatangi pasar malam, aku sudah sangat bersyukur asalkan kami bersama-sama.
"Tapi Papa kan udah janji." Aku berkata sendu.
"Papa bakal bawa kalian liburan kesana lain waktu." Papa mencoba membujuk lagi.
"Nadine nggak peduli kita bakal kemana, Pa. Yang Nadine mau itu, habisin liburan Nadine sama keluarga. Semua temen-temen Nadine pada jalan-jalan sama keluarga mereka. Pergi ke mall, picnic, lari pagi sama-sama, bahkan ada yang pergi ke pasar malem. Tapi Nadine sama Aqila nggak pernah kayak gitu. Papa padahal udah janji. Kemarin Nadine sama Aqila nungguin Papa Mama sampai malem. Tapi Papa Mama ngga pulang-pulang!" Aku berteriak kesal karena ternyata kalimat papa hanya kata-kata yang tidak bisa ditepati.
"Nadine, Papa harus pergi sekarang." Aku diam, tidak ingin melawan lagi. Percuma saja anak seumuranku memberontak. Kami tidak akan pernah didengarkan.
"Papa pergi aja,” usirku kemudian. “Nadine sama Aqila nggak butuh janji Papa lagi." Aku membawa Aqila bersama untuk menghabiskan waktu dikamarku.
• • •
"Sayang." Aku menatap ke pintu, mama disana dengan dua gelas s**u cokelat beserta dua piring roti bakar. "Ayo sarapan." Aqila berjalan lebih dulu mendekati mama, meminum s**u cokelat miliknya dengan cepat, tandas seketika. Sedangkan aku masih setia duduk di depan permainan ular tangga, asik mengocok dadu.
"Nadine, ayo dong sarapan dulu, Sayang." Mama duduk disampingku. Kulihat baju mama sudah berganti dengan baju rumahan. Aku menahan senyum karena tahu bahwa mama tidak akan kemana-mana hari ini.
"Mama kita jalan-jalan, ya,” ajakku penuh permohonan pada mama.
"Nadine sama Aqila mau kemana? Ayo mama temenin. Tapi harus janji satu hal dulu---" Mama terdiam, aku dan Aqila menatap mama penasaran. "Maafin papa ya, jangan marah sama papa lagi." Kulihat Aqila mengangguk cepat, sedangkan aku hanya mengedikkan bahu lalu kembali merayu mama untuk pergi jalan-jalan, mengawali hari libur pertama kami.
Pikiranku melayang ke beberapa tahun lalu, saat aku dan Aqila masih mengenakan seragam putih merah. Setelah kejadian itu, aku tidak pernah percaya saat papa berjanji tentang liburan. Aku memilih diam saat papa mulai menyebutkan janjinya. Hanya sekali, akhirnya liburan kami terwujud dengan menghabiskan waktu selama sepuluh hari di Inggris.
Dan di dalam album kenangan yang aku buat sendiri, yang sekarang sudah aku simpan rapi dalam kotak. Walaupun hanya ada beberapa kenangan yang tersimpan di dalamnya, namun aku sudah sangat bersyukur. Sepertinya ketika aku, mama, dan Aqila menghabiskan waktu di mall. Berbelanja, makan di restoran, menonton di cinema. Aku memotret semua kenangan itu. Lalu pada saat aku dan Aqila bermain sepeda berdua, sedangkan mama dan papa juga berdua. Aku lagi-lagi memotret semuanya. Kemudian, kenangan saat kami mengabiskan waktu di negara yang dijuluki Black Country tersebut. Aku mengambil semua gambar, karena aku tau, hal seperti itu tidak jelas akan terulang kapan.
Mungkin ada kenangan lain yang lupa aku potret. Entahlah. Aku sendiri juga sudah lupa. Yang paling aku ingat hanya kejadian di dalam album kenangan itu.
Aku kembali menghela napas, menatap jam di pergelangan tangan. Sudah pukul setengah dua. Sebaiknya aku pulang. Aku berjalan, semuanya sepi. Saat melihat sekumpulan preman sangar, aku memilih berlari. Hingga akhirnya gerbang besar perumahan terlihat.
Aku menatap satpam penjaga yang tertidur pulas, lalu membangunkannya. Satpam itu bangun dengan cepat, ia lantas membukakan gerbang untukku. Aku mengucapkan terima kasih lalu lanjut berjalan. Menuju pagar belakang rumah. Semuanya berjalan lancar hingga aku membuka pintu rumah. Dan saat langkah ketigaku, lampu di tempatku berdiri sukses menyala terang. Membuatku mematung. Papa disana, menatapku dengan tatapan yang sulit aku baca.
...t b c...