B A B 6

2067 Kata
"Aku mau minta maaf sama hatiku sendiri. Maaf karena terus menambah luka, maaf karena aku belum mampu buat sembuhin semuanya. Karena aku belum ketemu obat buat hilangin lukanya secara sempurna. Sampai detik ini, aku cuma tahu cara hilangin nyerinya. Senyuman dia, ternyata mampu hilangin nyeri dari luka yang mungkin akan jadi permanen." —Café biasa, ketika lagu Tulus lagi diputar. NADINE 'S POV Aku menatap senja dari balik jendela bis. Langit sudah berubah warnanya, matahari sebentar lagi juga akan pulang ke peraduan. Namun aku masih setia di luar, enggan untuk pulang karena rumah tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Lebih nyaman di sini, seakan damai yang tengah aku cari berada di tengah hiruk pikuk dunia yang ribut. Sepasang mataku memperhatikan satu-satu kepala berpenampilan berbeda, mereka semua tampaknya sedang berlomba agar sampai di rumah lebih awal. Senyum miris untuk diri sendiripun terbit. Aku ingin sekali, ada rasa yang dapat membuatku tertarik pulang pada rumah berpilar dingin yang hanya menaungi daging busuk bernyawa seperti kami---aku, Aqila, dan mama. Aku masih asik berkutat dengan pikiranku sendiri, sampai getaran ponsel membuatku tersadar. Dapat kulihat nama Aldric tertera pada layar. Dengan sedikit malas aku menerima panggilannya. "Kena---" Baru saja hendak bertanya kenapa, Aldric langsung memotongku. "Lo dimana, Nad? Please, jangan ilang-ilangan lagi. Kasih tau gue lo dimana." Suara Aldric terdengar tegas namun getaran panik pun sama sekali tidak bisa ia tutupi. "Gue nggak kemana-mana, Al,” jawabku lemah sambil tersenyum tipis. Inilah alasan mengapa aku selalu ingin Aldric ada di sampingku, sebab aku memang membutuhkan sosok perhatian seperti dia. "Ini yang ngebuat gue selalu pengen anter lo pulang, Nad. Biar lo aman sampai rumah. Tapi lo selalu nggak mau." Aldric menjawab dengan volume suara masih tegas. "Cukup dulu aja lo sering anter jemput gue, sekarang nggak usah,” tuturku pelan. "Jangan pergi, Nad." Suara miliknya terdengar memohon. Dan nyeri di dadaku kian terasa. Coba saja kalimat Aldric bukan untuk kasus kaburnya aku sekarang. Coba saja makna dari ucapan lelaki itu lebih dalam lagi. Aku akan dengan senang hati menjawab bahwa aku tidak akan pergi. Aku akan bertahan. Aku buru-buru menyadarkan diri, teringat bahwa masih terhubung bersama Aldric. "Gue nggak pergi, bego. Gue tau lo bakalan kangen sama gue kalau gue pergi." Ucapku tertawa. "Lo dimana sekarang?” tanya Aldric mengabaikan banyolanku. “Gue jemput lo. Tunggu disana." "Gue lagi mau ke café biasa, ketemuan disana aja,” ucapku cepat lantas memutuskan panggilan lebih dulu. Toh, nanti pasti Aldric akan memborbardirku dengan banyak pertanyaan. Jadi lebih baik jawabanku disimpan saja untuk nanti ketika kami bertemu. Aku memilih memainkan ponsel sejenak untuk menghilangkan bosan menjelang bus tiba di halte yang berada tidak jauh dari café. Aku tengah membaca sebuah artikel perihal kesehatan, sampai sebuah panggilan masuk menginterupsi kegiatan ringanku. Papa. Itu nama yang tertera di layar. Kalau sudah menghilang tanpa kabar saja, pasti papa baru akan meneleponku. Mau tidak mau, aku mengusap tanda hijau di layar bermaksud menerima panggilan dari papa. "Nadine dimana, Sayang?” tanya papa dengan nada panic. “Nak, lagi dimana?" "Nadine nggak kemana-mana.” Aku menghela napas, capek juga, ya, berbohong. Tetapi jujur rasanya juga akan percuma sebab tidak akan ada yang benar-benar peduli. “Cuma jalan-jalan cari angin." Aku meneruskan jawaban. "Lagian cuma kayak ginikan cara supaya Papa mau nelpon Nadine? Nadine harus buat Papa khawatir dulu." Aku tertawa hambar. Membayangkan papa yang selama ini jarang sekali menghubungiku. "Nadine, kamu kan tau Papa sibuk." Aku menggeleng dengan jelas ketika mendengar perkataan papa. "Sesibuk apasih, Pa, sampai nggak pernah bisa nelfon Nadine? Bahkan buat satu menit, atau malah setengah menit. Emangnya waktu papa dipakai buat kerjaan semua?" tanyaku terpancing emosi, kesal mendengar alasan papa. "Nadine…," panggil Papa terdengar lemah dan lirih. "Bahkan telpon dari Nadine nggak pernah Papa gubris. Papa tau Nadine nelpon Papa, tapi Papa nggak pernah punya inisiatif buat nelpon balik ke Nadine. Sesibuk apa, sih, Pa?" tanyaku dengan d**a sesak. "Nadine kamu jangan kekanak-kanakan!" Suara papa yang berubah tegas jelas membuatku bertambah kesal. Kekanak-kanakan? Aku? "Siapa yang ngasih tau ke Papa kalau aku nggak di rumah?" tanyaku datar seketika. "Mbak Hi--" belum sempat papa melengkapi katanya, aku langsung memotong. "Oh. Bahkan mbak Hike lebih perhatian sama aku dibanding sama semua makhluk yang ada di rumah itu," ucapku dingin. Yang merawatku sedari kecil, memang hanya dia yang selama ini perhatian pada keadaanku. Mama sedari tadi memang meneleponku, tapi tidak aku pedulikan. Karena itu juga pasti pemberitahuan dari Mbak Hike. Sedangkan aku, aku hanya mengirimkan pesan singkat untuk mama, dan hal tersebut nyatanya malah membuat mama tidak menghubungiku lagi. "Nadine, kamu harus tau gimana pekerjaan Papa. Mbak Hike bisa Papa percaya, Sayang." "Tapi aku lebih pengen kalau Mama yang tau keadaan aku, bukannya mbak Hike,” kataku tidak mau mengalah. Sekali saja, aku ingin mama berhenti, aku ingin mama mengerti keadaanku, bahwa aku membutuhkan mama. "Mama kamu sibuk, Nak, sama seperti papa." Emosiku kian memuncak. Bukan respon seperti itu yang aku harapkan dari papa. "Iya, Papa sama Mama emang manusia paling sibuk. Mama sibuk sampai nggak bisa masakin Nadine dan Aqila sarapan pagi, makan siang sama malam. Papa apalagi, orang paling sibuk di muka bumi. Buktinya Papa nggak pernah punya waktu buat pulang, kan? Mungkin---" Aku terdiam sebentar, seujurnya malas melanjutkan kalimat. "Mungkin Nadine udah lupa sama mukanya Papa." Lalu kuputuskan sambungan. Aku marah pada mereka. Marah pada keadaan. Bukan ini yang aku inginkan, bukan harta melimpah. Aku lebih memilih hidup dalam lingkungan sederhana, dengan perhatian kedua orangtua. * * * Aroma yang berasal dari coklat panas ini berhasil membuatku tenang. Telapak tanganku yang sedang memegang cangkir coklat panas terasa lebih hangat. Tidak sedingin tadi. Perasaanku juga juga berubah sedikit lebih tenang. Tiba-tiba saja, bayangan kejadian tadi siang kembali mampir di kepalaku. Tentang lelaki pembenci hujan. Aku bertanya-tanya, sebenarnya skenario menakjubkan apa yang tengah Tuhan persiapkan. "Hai, Semua! Nama gue Ourazza Favian Kelvin. Lo semua bisa panggil gue Razza." "Arti nama lo apaan?" Terdengar pertanyaan dari sudut kelas. "Namanya bagus." "Jangan acuhkan, Razza. Kamu boleh duduk kalau tidak ingin menjawab pertanyaan Dirma.” Pak Jamil menatap Dirma sambil tersenyum lalu tertawa, karena muka Dirma terlihat kesal. "Ourazza itu maksudnya Razza kami, Razza kita, Our itu maksudnya dua orang tua gue. Kalau buat Favian, artinya dapat dimengerti. Kelvin, itu gabungan nama orang tua gue. Jadi kayak, Razza kita, anaknya Kefa sama Alvin yang semoga dapat mengerti orang lain dan dimengerti oleh orang lain." Entah kenapa aku tersenyum menatap lelaki itu. Dia tampak lucu saat menjelaskan arti namanya. Saat menyebut nama orang tuanya, mukanya seperti menahan sesuatu. "Ok, Razza, terimakasih untuk penjelasan panjangnya. Nama kamu bagus! Sekarang kamu bisa duduk di kursi kosong disebelah Dirma." Razza mengangguk, lalu berjalan ke arah kursinya yang berada pada sudut paling belakang. Tepatnya, dia duduk dibelakang Aldric. "Waw, akhirnya kesendirian Dirma berakhir. Sujud sukur sono lu," ejek salah satu temanku dan diikuti gelak tawa seisi kelas. Kulihat wajah Razza mengernyit bingung. "Woi kasian anaknya Om Alvin sama Tante Kefa jadi takut ama lo, Dir." Terdengar suara lagi, kali ini perempuan. "Mending lo duduk sama gue sini, Za." Razza bergidik dan kemudian satu kelas kembali tertawa. "Sudah-sudah” Pak Jamil mencoba menenangkan. “Bapak permisi dulu, jangan bandel. Jagain nama baik kelas kita. Guru selanjutnya kamu yang panggil, Dirma." Kemudian kelas kembali rusuh saat Pak Jamil keluar. "Nggak usah dipanggil, Dir. Gue masih nyalin tugas, bentar lagi baru dipanggil." Kiya bersuara dengan lantang. Perempuan gila yang sangat hobi masuk keluar ruang BK. Dandanannya mengerikan. Namun, dia sangat baik hati pada orang-orang terdekat. "Ikutin kata-kata lo aja, deh, ya, Bu Negara." Lalu Dirma memilih mengobrol santai bersama Razza, Aldric, dan Aksa. "Razza natapin lo mulu dari tadi, Nad, mana senyum-senyum."  Adel---teman perempuan yang duduk di sebelahku---tiba-tiiba saja berceletuk. Aku menatapnya dengan raut bertanya, lalu tertawa. "Apaan, sih, Del. Ngaco lu, ah!" Kemudian aku memilih membuka buku. * * * "Gue duduk disini, ya? Yang lain penuh." Aku mendongak, terlihat Razza dengan sebuah buku tulis ditangannya. Lantas aku mengangguk. "Gue nggak nyangka bisa satu sekolah sama lo. Oh iya, ini pertemuan ketiga kita dan gue baru sadar kalau gue nggak tau siapa nama lo." Aku tersenyum, "Beneran lo nggak tau nama gue? Emang nggak ada yang kasih tau?" Razza menggeleng. "Gue juga ngak mau nanya, gue kepengen nanya langsung," ucapnya tersenyum manis. Aku mengulurkan tangan kearahnya, lalu dengan semangat mengenalkan diri. "Nama gue, Nadine Sava, lo bisa panggil gue Nadine." "Shhhhh!" Desis halus suara penjaga perpustakaan terdengar. Sontak aku menutup mulutku dengan tangan, menatap dengan rasa bersalah pada bapak penjaga ruangan. "Ooh Nadine … oiya gue Razza." Dia berbisik sambil menahan tawa. Mengabaikan tatapan bingungku, Razza memilih membuka buku catatan miliknya dan mulai menyalin catatan orang lain. "Oh iya, kok muka lo aneh waktu jelasin arti nama lo yang bagian Kelvin?" tanyaku menahan senyum. "Orang tua gue---ya sebenernya nggak masalah juga, sih. Tapi kadang gue ngerasa nama gue terkesan lembut dan lebih kayak cewe? Karena ada gabungan-gabungan nama ortu. Ya tapi itu pemikiran gue waktu SD, cuma kebiasa aja sampai sekarang setiap gue harus ngenalin diri pakai nama lengkap ke orang-orang.” Penjelasan itu tampak ringan, namun mampu memukul hatiku telak. Menambah lagi luka cemburu pada orang dengan keluarga bahagia utuh. "Ayo pulang!" Genggaman tangan seseorang membuat lamunanku sukses buyar. Aldric. Dia menatapku tajam. "Al, coklat panas gue belum abis." Seakan tidak mendengar, Aldric memasukkan aku dengan sedikit pemaksaan ke dalam mobilnya. Aku menatap Aldric yang memutari mobil, wajahnya tampak keras seperti sedang menahan emosi. Lalu dia menyusul masuk, duduk di belakang setir dan langsung mengendarai mobil. Aku diam, membiarkan Aldric yang juga terdiam. Ini bukan arah menuju rumahku. Ini arah menuju tempat kami bersembunyi. Sebuah lapangan besar dengan rumput hijau. Ketika kami tiba, Aldric memberhentikan mobilnya, ia pada akhirnya keluar dan berdiri di kap mobilnya. Aku mengikuti langkah Aldric, berdiri di sebelahnya sambil menatap datar ke depan. "Keluarin emosi lo," ucapnya dingin, namun menghadapkan dirinya kepadaku dengan tatapan pedulinya. Aku sukses menatap Aldric nanar, mataku sudah panas sejak tadi. Lelaki ini, selalu mengetahui luka itu. Luka lama yang kian membesar akibat keluarga. Pertahananku pada akhirnya hancur. Aku menangis dan membiarkan emosiku lebur bersama air mata yang luruh ke pipi. Kini Aldric menatapku lebih lembut, lalu menarik bahuku untuk ditenangkan dalam pelukannya. "Keluarin semuanya, sampai lo bener-bener lega." Aku mengeratkan pelukan kami. Tangisku malah menjadi tangis bersuara, berteriak, kupukul punggung tegap Aldric yang tak bersalah sama sekali. Luka itu kembali mengeluarkan darah. Terasa sakit, namun lelaki ini membuat nyerinya berkurang. Kurasakan tangannya mengelus rambutku. Dan tak lupa mengatakan mantra miliknya. "Gue selalu disini, Nad. Apapun yang terjadi, gue nggak akan ninggalin lo. Genggam tangan gue, lewatin ini bareng-bareng sama gue, ya?" Aldric melepaskan pelukan itu saat merasa tangisku mereda. Dia menghapus air mataku, memparbaiki keadaan rambutku yang kacau balau. Bahkan membersihkan ingusku dengan kemeja yang dia kenakan. 'Oh Tuhan, bagaimana aku tidak jatuh pada lelaki ini, jika sikapnya padaku seperti ini.' "Anterin gue pulang, Al,” ucapku menatap Aldric dengan wajah masih sendu, memang tidak perlu berbohong jika sudah bersamanya. Aldric pun lantas mengangguk, mengiyakan permintaanku yang entah untuk ke berapa kalinya. Kemudian lelaki itu mengajakku untuk kembali masuk ke dalam mobil. * * * "Gue anter sampe dalem, ya?" tawar Aldric yang langsung saja kutolak dengan senyuman. "Pasti nyokap bakalan marahlah, Nad, sama lo. Seenggaknya gue ikutan masuk biar bisa bantu bikin alasan." Aku lagi-lagi menggeleng. "Makasih tumpangannya,” ucapku mengabaikan pendapat Aldric, lalu memilih keluar dari mobil. Aku memasuki rumah, namun langkahku terhenti ketika kulihat mama dan papa tengah duduk di sofa ruang tamu dengan ekspresi yang sulit sekali untuk dijelaskan. Aku sendiripun bahkan terlampau terkejut ketika tahu papa ada di rumah. Ini kejutan, namun sudah menjadi basi dan aku tidak tertarik lagi. "Masih inget rumah?" tanya mama sambil menatapku dengan tajam. "Masih inget kalau orang tuanya khawatir?" Aku tidak perduli dengan pertanyaan itu. "Nadine!" Suara mama terdengar kuat. Aku berhenti sejenak, menatap mama dan papa. "Mama sama Papa, masih inget kalau Nadine masih napas sampai sekarang?" tanyaku dengan d**a sesak. “Kemarin-kemarin kemana aja? Nadine nggak butuh khawatirnya kalian, urusin aja dokumen-dokumen di kantor Mama sama Papa.” Aku memutuskan untuk berlalu meninggalkan ruang tamu tanpa menunggu balasan dari mama dan papa yang tentu saja tengah menahan emosi mereka. Oh, mungkin mereka lupa satu hal. Bahwa aku juga manusia sama seperti mereka dan aku tentu juga ditekan oleh emosi beserta rasa sakit. Aku meneruskan langkah untuk naik ke lantai dua, memasuki kamar setelah kututup pintu sehingga benda panjang itu sukses berdentum keras. Kujatuhkan diri di tempat tidur. Aku lelah, ingin istirahat. ...t b c...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN