"Teh, kalau terlalu manis enggak akan enak. Kopi, kalau terlalu pait juga rasanya mengganggu. Bandrek, kalau terlalu panas juga enggak akan bisa diminum. Paham, kan sekarang? Bahwa sesuatu apabila terlalu berlebihan akan banyak enggak baiknya. Persis aku, karena terlalu sayang, jadinya sering berkorban, sampai lupa, kalau aku sendiripun seharusnya layak buat bahagia." —Dalam dekapanmu, masih dengan status berteman.
NADINE ‘S POV
Aku menatap jalanan dengan pandangan datar, duduk di bangku halte sembari menunggu bus datang. Kepalaku masih sedikit pusing akibat memikirkan mimpi aneh yang mampir di tidurku semalam. Belum lagi memikirkan sifat Aldric dihari minggu kemarin. Dia dengan santai datang ke rumahku, bercanda bersama Aqila dan melupakan kehadiranku.
Mungkin ini yang menyebabkanku bermimpi aneh minggu malam, karena pada siang hari, aku terlalu terbawa emosi oleh Aldric dan Aqila. Aku tidak suka melihat mereka sibuk berdua dan melupakan bahwa aku juga duduk diantara mereka. Dalam mimpi itu, ada seorang laki-laki asing yang datang menghampiriku di saat semua orang perlahan mulai menghilang---termasuk Aldric yang juga ikut pergi. Entah mimpi itu hanya sekedar bunga tidur, atau memang ada makna, aku sendiri juga tidak ingin menerka-nerka terlalu jauh.
Bus yang kutunggu akhirnya datang, namun aku membiarkan orang-orang tua naik terlebih dahulu. Setelah itu, aku menaiki bus dan melihat adakah tempat kosong. Senyumku merekah, kursi favoritku kosong, dengan cepat aku menempatkan diriku disana.
Aku menghirup udara, cuaca dingin pagi ini. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku sambil meniupnya. Aku menatap sekitar, mndapati lumayan banyak pekerja kantoran. Dan juga seorang wanita bersama anak perempuan dengan seragam putih merah, terlihat lucu. Mungkin akan mengantar anaknya ke sekolah.
Aku teringat saat umurku sepantaran dengan anak perempuan itu. Aku tidak pernah mau diantar oleh supir, alhasil seorang perempuan yang bertugas menjagaku akan mengantarku ke sekolah, menaiki bus. Mama tidak mungkin mengantarku, dia sibuk dengan pekerjannya. Aqila? Dia diantar oleh mama, karena kantor mama dan sekolah Aqila searah. Jadi tidak akan membuang waktu mama.
Ya, walau mama tetap berusaha agar hubungan kami tetap baik, aku sangat menghargai hal tersebut. Namun terkadang, aku tetap merasakan kurang. Bukan hanya uang yang aku inginkan dari mama, melainkan sebuah pelukan yang hangat. Aku juga ingin mendengar kata-kata semangat dari mama untukku. Membuat dunia iri dengan melihat kekompakan kami, namun sepertinya itu adalah angan tak berguna. Tidak akan pernah menjadi nyata.
Kuhela napas yang terasa berat. Dari aku kecil, aku terlihat seperti tidak mempunyai hubungan dengan keluargaku. Aku selalu bersama wanita yang bertugas menjagaku. Hingga saat aku masuk sekolah menengah pertama, aku tidak bersedia dijaga atau diantar lagi. Dan sekarang, wanita itu hanya bertugas membuat makanan pada pagi, siang, dan malam untuk kami.
Aku jarang memakan masakan mama, selalu masakan wanita itu yang masuk ke perutku. Oleh karena itu, aku sering memilih pergi. Makan di warung pinggir jalan. Tidur sebentar di dalam studio bioskop, hingga membuat pekerja disana kenal denganku.
Pernah beberapa hari aku tidak pulang, mama panik, begitupun papa. Panggilan masuk pada ponselku yang berasal dari mama dan papa tidak aku tanggapi. Malam itu, aku memilih terus berjalan, tak ada kantuk menyerangku. Dan aku sangat menyukai keadaan itu. Sepi, hanya ada aku, hanya deru napasku yang terdengar. Namun satu hal, bagaimanapun aku menyukai kesendirian, tetapi aku sangat benci bila ditinggalkan.
Hingga hari itu datang. Lelaki itu, dia menghampiriku dengan senyum cerahnya. Awalnya aku tidak tertarik. Namun semakin lama, aku sukses merasa nyaman saat bersamanya. Dia sering mengantarku pulang dengan motornya. Main ke rumahku dan membawa makanan untuk mama. Harusnya aku sadar saat itu, harusnya aku sadar mengapa ia memilih untuk mengantarku pulang. Hingga pada akhirnya, dia jujur padaku.
"Gue lagi suka sama seseorang, Nad." Jantungku berdetak cukup kencang, apakah namaku akan keluar dari mulutnya?
"Siapa?" tanyaku takut.
"Dia, Aqila!!" Harapanku hancur seketika. Ternyata bukan aku.
Aku takut suatu saat dia akan meninggalkanku, sama seperti yang lain. Dia yang datang menghampiriku hari itu, memberi senyumnya untuk membuatku ikut tersenyum. Memberi warna pada hidupku yang kelam. Dan aku berharap, dia tidak akan pernah mengambil langkah untuk pergi. Karena jika itu terjadi, entahlah, aku bahkan tidak berani untuk memikirkan kemungkinan itu.
Bahkan aku rela mendengarkannya berbicara tentang Aqila, asal aku tetap dapat mendengar suara miliknya. Bahagia serta perih yang aku rasakan disaat bersamaan.
Aku tersadar, kembali menatap sekitar. Bus ini sebentar lagi akan sampai di dekat halte sekolahku. Aku mengeluarkan uang lebih lalu mengedipkan mata pada pekerja yang meminta uang bayar bus. Dia tersenyum senang lalu mengucapkan terima kasih.
"Mbak Nadine ngasih lebih mulu," katanya sambil mengusap tengkuknya. Aku tertawa geli, lalu seketika menatapnya datar.
"Gue bukan mbak lo." Lalu kutepuk bahunya pelan dan langsung keluar bus karena bus sudah berhenti.
"Hati-hati, Mbak,” teriaknya membuatku tertawa. Entah berapa kali harus aku beritahu bahwa ia bisa memanggilku dengan nama saja, tidak perlu dengan embel-embel ‘mbak’ yang menurutku kurang cocok.
Aku berjalan santai memasuki gerbang, beberapa kali mendapati tatapan kurang bersahabat dari anak perempuan yang lain. Aku mendengus, mereka pastilah kelompok pengagum Aldric secara diam-diam.
"Selamat pagi, Bidadari SMA." Aku menoleh dan melihat Bang Ponik tersenyum ke arahku, aku membalasnya dengan cengiran lebar.
"Ntar siang cari gue, ya." Lalu senyum satpam itu semakin merekah.
* * *
"Woi!" Aku membalikkan badan dan melihat Aldric tertawa menatapku.
"Kenapa lo? Abis dapat apaan?" tanyaku penasaran. Aldric mulai merangkul bahuku, namun cepat-cepat kutepis sembari melemparkan tatapan tajam padanya. Ini koridor kelas, bisa-bisa aku diterkam dan dituduh gatal sebagai perempuan. Walaupun sejujurnya hati kecilku tidak menolak, tetapi tetap saja otakku harus terus bekerja.
"Setiap hari, setiap jam makan siang, lo bakal ngasih uang ke Bang Ponik. Hati lo kebuat dari apaan, sih?" tanya Aldric lalu seenaknya menjentik dahiku.
"Aw!” rintihku kesakitan. “Sakit bego." Kuusap dahiku pelan. "Itu juga uangnya mama, Al, mama minta gue ngasihin bang Ponik," perjelasku seraya kembali berjalan.
"Gue nggak percaya,” balas Aldric dan aku hanya melemparkan tatapan tidak peduli. Suka-suka dia sajalah! “Itu pasti uang jajan lo, kan? Jujur aja."
"Al.” Aku memberhentikan langkah, kemudian menatap Aldric serius.
"Apaan?" balasnya ogah-ogahan.
"Mata lo," kutahan sebentar ucapanku, ekspresi Aldric semakin terlihat lucu dan aku harus sekuat tenaga menahan tawa, "ada beleknya." Setelah mengucapkan omong kosong tersebut, aku langsung saja mengambil langkah seribu menuju kelas. Meninggalkan Aldric yang pasti sedang mengutuk kesal. Matanya bersih, tentu saja.
Aku memasuki kelas dan duduk langsung di kursiku. Napasku masih pendek akibat berlari. Selalu saja begini, jogging sehat karena dikejar Aldric. Aku melihat Aldric masuk kelas dan tampaknya akan menghampiriku. Ia memberikan tatapan tidak bersahabat hingga akhirnya, jemarinya menjewer telingaku.
"Aw!!! Sakit, Al! Udahan ih sakit, ntar telinga gue ilang lo mau ganti pake apaan?" teriakku memegang tangan Aldric yang sedang menghukum telingaku.
"Siapa suruh ngerjain gue?"
Belum sempat aku menjawab, bel tanda upacara terdengar. Membuatku dengan cepat melepaskan diri. Dasar lelaki kejam. Aku mengusap telingaku pelan. Sakitnya masih terasa. Jeweran Aldric nyatanya bukan kaleng-kaleng!
* * *
"Duduk-duduk." Ucapan Pak Jamil membuat kelas seketika hening. Aku yang sedari tadi sudah duduk memilih tidak peduli dengan kedatangan pak Jamil, dan tetap berjuang mengacak isi tasku. Dimana tugasku? Aku ingat sekali bahwa aku sudah memasukkannya ke dalam tas tadi malam.
"Nad, Nad.” Sebuah bisikan membuatku sontak menoleh ke belakang. Disana, kulihat Robi memegang buku tugas milikku sambil tersenyum malu.
"ROBI GALILEO!!! Gue kirain tugas gue ketinggalan dirumah, taunya sama lo kunyuk!" Teriakanku lumayan besar, sehingga membuat banyak perhatian jadi tertuju ke arahku.
Aku terdiam, dengan tidak enak hati perlahan mulai memutar badan ke depan. Aku benar-benar lupa dengan keberadaan Pak Jamil selaku wali kelasku. Tatapan Pak Jamil jelas juga tertuju padaku, tidak kalah tajamnya dengan pisau. Namun, tiba-tiba saja seperti ada logam berat yang menghantam perutku tepat ketika mataku menangkap sosok lelaki di sebelah Pak Jamil. Bukankah dia lelaki pembenci hujan tersebut? Diakah anak baru yang dimaksud oleh Mere hari itu?
Aku terdiam dan membeku, namun lelaki itu malah menatapku sambil tersenyum manis. Ini, tepat pertemuan ketiga untuk kami.
...t b c...