"Sekarang pertanyaan saya sederhana saja. Saya, kamu, kalau tetap ada dia, akankah berhasil jadi kita?" —Sabtu malam ramai!
Nadine's POV
Aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang di sebelah Aqila sibuk menatap ke arah jalanan. Suara penyiar radio malam ini terdengar lembut. Wanita, tentu saja penyiar radio tersebut seorang wanita.
“Sahabat G-Love, kan Abel udah nanyain kabar kalian malem ini nih. Yang bahagia, pasti lagi bahagia juga bareng soulmatenya. Yang baru jadian, pasti lagi makan-makan enak bareng temen yang lain sambil ngerayain. Nah, di sini Abel mau nemenin kalian yang mungkin lagi ngobrol sama kesedihan di hati kalian masing-masing. Faktornya pasti banyak banget! Dan salah satu yang mau Abel sebut, it’s called friendzone! Pasti banyak banget nih sahabat G-Love yang lagi ada di posisi ini. Kita nganggepnya mereka lebih, eh mereka nggak gitu.”
Aku menajamkan telinga, benar-benar tercubit oleh topik yang diangkat oleh si Abel. “Disaat kamu sahabatan sama orang, dan ternyata kamu malah naruh perasaan ke sahabat kamu sendiri. Ini berlaku buat cewek sama cowok yang terikat dalam hubungan sahabatan itu. Karena diantara cewek sama cowok, itu susah banget kalau udah ada di lingkaran ini. Bukan berarti nggak bisa ditepis ya, Sahabat G-Love, cuma ya emang sulit aja mengingat kebanyakan kita kaum perempuan selalu ngerespon semuanya pakai hati.” Reflek aku menaiki volume radio, membuat Aqila menyadari adanya gerakan dariku, dia menoleh. Keningnya tampak berkerut, bertanya.
"Lo minat kak sama tema malam ini?" Aqila bertanya dengan muka polos. Aku tau dia, dia sedang memperhatikan raut wajahku. Lalu dengan segera aku membuat mukaku terlihat lebih polos.
"Nggak, biasa aja,” jawabku sok santai. “Soalnya sepi, enakan kalo ada yang ngomongkan." Aku kembali mengalihkan pandangan ke depan.
Kuperhatikan Aqila yang kembali menatap keluar jendela. Aku menarik nafas perlahan. Takut apabila Aqila mengetahui rahasiaku.
"Mungkin emang susah sahabat G-love, tapi kadang, lebih baik diam daripada ngasih tau yang sebenernya ke sahabat sendiri. Karena bisa aja dari pengakuan itu, hubungan persahabatan jadi hancur. Pasti banyak banget dari kalian diluar sana yang mikirin kemungkinan ini." Aku membenarkan ucapan Abel, semuanya akan hancur saat aku mengaku. Aku yakin itu.
"Aku disini mau ngasih saran. Kalau semisalnya sahabat kamu nggak ada kode apa apa ke kamu, dan ternyata sahabat kamu suka sama yang lain, lebih baik sahabat G-love ngelakuin sesuatu yang dikenal dengan nama moveon. Sulit iya, sakit tentu aja. Tapi, kasih kesempatan buat waktu ngobatin luka itu. Karna jawaban terbaik adalah saat kalian mau menunggu. Semua orang pasti ngerasain luka masing-masing. Jadi jangan ngerasa kalau kalian itu orang paling sial karna suka sama sahabat sendiri. Jadiin itu pelajaran. Ok ini aku kasih lagu dari One Direction, A.M!!"
Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Menjalankan mobilku sedikit, karena jalanan sangat padat. Sabtu malam, disaat semua pasangan keluar rumah dan memperlihatkan keromantisan mereka.
Won't you stay 'til the A.M?
Aku teringat, aku dan Aldric sering sekali bergadang bersama, biasanya menggunakan fitur video call. Kami bergadang untuk menyelesaikan tugas biasanya. Atau bicara hal tidak penting. Tentu saja, Aldric akan menemaniku. Lalu menungguku hingga tertidur.
All my favourite conversations always made in the A.M.
Aku tersenyum tipis, mengingat Aldric sering mengatakan kalau kami tidak akan berpisah. Membuaiku dengan janji manisnya yang aku tanggapi dengan wajah datar. Dia berbohong, tentu saja. Karena suatu saat, kami akan berpisah. Dia pergi bersama Aqila, dan aku sendirian, mengambil langkah melanjutkan hidup dengan tetap tersenyum berusaha kuat.
"Kak!" Aku menoleh cepat pada Aqila. "Itu jalan!" Aku melihat ke depan, dan tersadar bahwa aku harus menjalankan mobil.
Akhirnya mobil ini keluar dari sarang macet tersebut. Membuatku dapat dengan santai mengendarai. Aku menoleh pada Aqila yang sedang sibuk dengan ponselnya. Aku langsung teringat pembicaraan tadi pagi, mengenai barang yang akan dia beli.
"Lo beli apaan, sih?" tanyaku tanpa menoleh.
"Nanti lo juga tau." Ok aku menyerah. Aqila tidak akan memberi tahu, walaupun aku menyogoknya dengan kumpulan kaus kaki lucu milikku. Mungkin, dapat kucoba dulu.
"Gue kasih tiga kaus kaki mahal gue."
"Kak, gue bisa beli kaus kakinya sendiri." Bodoh! Kenapa aku harus menawarinya kaus kaki. Tidak adakah yang lebih baik dari itu?
"Jajan seminggu gue buat lo."
"Gue bisa minta mama sama papa." Baiklah, aku selesai dengannya.
* * *
Aku dan Aqila berjalan beriringan melewati toko dengan etalase kaca yang menampilkan banyak barang mahal dan indah. Walaupun begitu, aku tetap saja tidak begitu tertarik berbelanja dikarenakan perutku yang lapar.
"Disini?" tanyaku lebih kepada diri sendiri. Sebuah tempat yang aku yakini berisikan baju-baju mahal. Baju apa yang ingin dibeli oleh bocah gila ini? Mengabaikan Aqila, aku memilih asik dengan ponsel dan duduk di sofa yang disediakan. Malas juga melihat-lihat walau kuakui koleksi pakaian disini memang bagus.
Aku sibuk membalas pesan Aldric sambil menunggu Aqila. Badanku kian lemas saja karena perut yang semakin lapar. Aqila lama sekali!
“Kak?” Aku mendongak, menatap Aqila yang berdiri di hadapanku dengan senyum lebar, tangan cantiknya sudah memegang paper bag bermerk. "Lo laper ya, Kak?" tanya Aqila dan aku sontak mengangguk.
"Adek gue emang pinter. Ayo makan!" Lalu dengan cepat aku menarik tangan Aqila untuk keluar dari toko. Kalau Aqila jago memilih toko baju, maka aku ahlinya memilih tempat untuk makan. Banyak tempat makan di dalam mall ini yang sudah aku datangi bersama Aldric dan cukup banyak yang cocok di lidah kami. Namun kali ini aku ingin membawa Aqila pada salah satu restoran Korea.
Restoran yang kami datangi cukup ramai, dari dalam dapat aku tangkap musik KPOP yang tengah diputar. Kami mengambil tempat di salah satu meja yang berada di sudut ruangan. Kami memesan makanan porsi besar untuk berdua walaupun Aqila sebenarnya enggan. Dia ingin makanan tanpa lemak dengan porsi kecil saja. Untungnya segala bujukanku diterima.
"Kak gue toilet dulu, ya." Aku mengangguk tanpa menoleh pada Aqila yang bersuara dan tetap melihat ponselku.
Aku memutuskan untuk membalas lagi pesan Aldric sembari menunggu pesanan kami datang. Hingga suara berat seseorang yang kali ini familiar di telingaku terdengar. "Lo, yang tadi sore di café kan?" Aku mendongak, mencurahkan segala perhatian pada sosok di depanku sekarang.
"Lo?---” ujarku tertahan untuk melanjutkan kalimat---karena terlalu terkejut bisa bertemu kembali dengannya. “---cowok pembenci hujan itukan?" Aku melanjutkan tanya. Tentu saja dia lelaki itu, si pembenci hujan.
Aku mendapatinya tengah tertawa ringan, lantas kulemparkan tatapan bingung padanya.
Lelaki itu berdehem, mencoba menormalkan lagi bahasa tubuhnya dan menyudahi tawanya. "Lo sendirian?" Dia bertanya.
"Nggak, bareng pacar,” jawabku tersenyu dengan gelengan beberapa kali.
"Pacar?" Melihat ekspresi kagetnya membuatku makin tersenyum geli.
"Kenapa sekaget itu?"
"Nggak, gue biasa aja,” katanya terlihat santai. “Pacar lo yang tadi sama lo di café?" Aku terdiam. Sah-sah saja bukan apabila hatiku langsung mengaminkan perkataan lelaki ini. Namun aku tidak mengangguk. Aku tidak mnugkin mengaku-ngaku sejauh itu karena bagaimanapun, bagiku harga diri tetaplah nomor satu.
Aku tertawa hambar menanggapi pertanyaannya pada akhirnya, lalu kuberikan padanya gelengan pelan. “Bukan dia, kok.” Aku mengalihkan tatapan ke sekitar, dan melihat Aqila sudah berjalan hendak kemari. "Tu pacar gue." Kulihat lelaki ini menoleh cepat pada Aqila, dan dengan pandangan bertanya kembali menatap ke arahku.
"Lo? Dia? Pacaran?" tanyanya dengan raut kaget bercampur ngeri. Dan tawaku akhirnya meledak.
...t b c...