Bab 1. Keretakan di Malam Anniversary
Lilin angka 3 tampak cantik berdiri menyala di atas kue berbentuk hati. Warna pink menjadi ciri khas Latisha karena perempuan itu sangat suka berbau merah jambu.
Terkesiap saat pintu rumahnya dibuka, Latisha sengaja tidak menguncinya karena dia memang terbiasa menunggu kepulangan Naka—suaminya. Buru-buru dia mengangkat kue yang sudah dinyalakan lilinnya. Langkahnya dengan ceria menuju ke depan, bibirnya berseru heboh. “Happy—” Namun, suaranya tercekat saat berhadapan dengan sosok suami yang menggandeng perempuan hamil.
Benar. Mata Latisha tidak mungkin salah melihat, genggaman tangan yang terlihat erat dan berani.
“Mas Naka?” tanya Latisha, bahkan dia tidak tahu kenapa memanggil suaminya dengan nada bertanya. Dia hanya ingin tahu maksud suaminya membawa serta sahabat masa kecilnya. “Mbak Anin …?” Kalimat Latisha tak sanggup selesai. Kue di tangannya hampir jatuh, tetapi buru-buru Latisha sadarkan dirinya agar tidak membuat kekacauan.
“Duduk dulu, sini,” katanya mencoba biasa saja. Dia meletakkan kue di atas meja, menatapnya dengan nanar. Sayang sekali malam ini gagal merayakan hari jadi pernikahan mereka. Latisha kira tahun ini berhasil karena tahun kedua juga gagal sebab Naka memilih menemui Anin yang opname karena suaminya KDRT. Ah, mengingatnya membuat mata Latisha berkaca-kaca, ingin menangis, tetapi tak sanggup. Apalagi sepertinya kondisi Anin lebih menyedihkan, perempuan hamil yang Latisha tahu sudah menjadi janda.
Latisha balik badan. Dua orang di belakangnya masih berdiri dengan tangan saling menggenggam padahal Latisha sudah mempersilakan duduk. Hal itu membuat Latisha merasa terganggu, tetapi bibirnya menarik senyum. “Aku turut sedih untuk keadaan Mbak—”
“Anin mengandung anakku, Tisha,” serobot Naka seakan tidak mau menunggu terlalu lama.
“Ya, Mas?” Latisha mendekat. Dia mengerjap. “Kayaknya aku salah denger deh, ya?” Lalu tawa kecil menghiasi bibirnya.
“Kamu nggak salah denger. Aku sudah menikah siri dengan Anin lima bulan yang lalu.”
“Ini prank? Kamu sengaja karena tahu malam ini hari jadi pernikahan kita yang ke-3. Aku maafin kalau kamu cuma bercanda—”
“Maaf, Tisha. Anak ini anaknya Naka.”
Namun, pernyataan Anin berhasil membuat telapak tangan Latisha mendarat ke pipi kanan suaminya, Naka sampai menoleh. Suaranya memenuhi ruang tamu. Kekeh mirisnya disertai dengan air mata yang perlahan luruh. Seharusnya malam ini mereka menangis bahagia bukan justru menangis karena keretakan. “Aku salah apa, Mas Naka?”
“Kamu nggak salah.” Naka maju melangkah hendak menghampiri Latisha, tetapi tangan perempuan itu terangkat. Menolak didekati, apalagi Naka bahkan masih menggenggam tangan Anin.
Latisha berdecih. Kepalanya menggeleng-geleng takjub karena rupanya dua orang yang sangat dipercaya dan diizinkan dekat justru menusuknya dari belakang. “Kepercayaanku dipermainkan oleh kalian. Kenapa, Mas? Kamu juga, Mbak Anin, kenapa harus suamiku?” Mata nanar Latisha membuat Naka tertegun, dia ingin mendekat, tetapi genggaman tangan Anin pun semakin erat. Naka berada di dua kubu yang saling bersimpangan.
“Aku paham sekarang,” ujar Latisha mengusap kasar pipinya yang basah. “Bunga yang tertukar, size sepatu yang kekecilan di kakiku, lalu jam pulang yang selalu terlambat, ke mana setiap weekend, Mas? Menemui istri barumu?” Latisha menggeleng. “Aku bahkan nggak pernah curiga soal bau parfum yang bukan punyaku melekat di baju kamu, Mas. Aku bahkan nggak pernah curiga karena terlalu percaya sama kamu. Aku nggak pernah curiga, Mas!” Teriakan Latisha beserta dorongan di d**a Naka. Naka bergeming, tidak menolak, membiarkan istrinya melampiaskan sakit hatinya.
“Maaf, Tisha. Aku bersalah, aku khilaf. Aku nggak bermaksud, mau bagaimana lagi karena semuanya sudah kejadian. Aku dan Anin sudah menikah. Entah persetujuan kamu apa enggak, mama sudah tahu, mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya ke aku—”
“PERSETAN, MAS!” jerit Latisha. “Mama justru senang karena kamu memiliki anak entah dari rahimku atau rahim perempuan lain!” Latisha menuding Anin dengan jadi telunjuk yang gemetaran. Bohong jika dia berani, dia hanya sedang mempertahankan harga dirinya yang tersisa. “Dia hadir dulu, ‘kan? Benar dugaan aku, ‘kan? Makanya kalian menikah siri. Kenapa? Kenapa tidak bilang sejak awal, Mas?! Apakah tanggung jawab identik dengan menikahi? Kamu menikah tanpa persetujuan istri sahmu, Naka!”
Sudah tidak ada panggilan hormat dari Latisha adalah tahap muak yang ingin segera Latisha singkirkan. Dia mundur, menarik taplak meja dengan kencang hingga asbak, vas bunga, dan kue buatannya hancur lebur mengotori lantai. Latisha menunduk, menangis kencang sembari memukul meja kayu. “Ceraikan aku.”
“Jangan gila, Tisha!” bentak Naka, kali ini dengan sadar melepaskan genggaman tangannya dengan Anin. Pria itu menyentuh bahu Latisha yang ditepis kasar. “Aku nggak akan cerain kamu. Atas dasar apa—”
“Perselingkuhan,” potong Latisha, kepalanya menoleh, ingus pun sudah tidak dia hiraukan. Dalam sekali gerak langsung berdiri, menghadap Naka yang terkesiap dengan pergerakan Latisha yang tiba-tiba. “Aku nggak mau dimadu, lepasin aku kalau kamu memang memilih anak itu. Nikahi dia secara resmi,” lanjutnya. Tidak menyebut nama Anin. Lidahnya terlalu kaku menyebut nama perempuan yang menjadi orang ketiga di rumah tangganya.
“Keluar dari rumahku!”
“Tisha, dengar—”
“KELUAR!” bentak Latisha mendorong Naka yang terseok-seok, menggapai Anin agar perempuan itu terlindungi dari amukan Latisha.
Melihatnya Latisha membuang muka. Dia tidak sudi melihat drama pasangan baru di depannya.
Begitu berhasil mengusir Naka dan Anin, Latisha jatuh terduduk di belakang pintu, dia menekuk kakinya, wajahnya tenggelam dengan tangisan kencang.
Tidak pernah terbayangkan akan berada di posisi setrsgis malam ini. Tangisannya sampai tidak bersuara saking sesaknya dengan keadaan yang baru dilalui. Gedoran di pintu pun tak Latisha hiraukan.
“Tisha, ayo bicara dulu. Kita bisa cari jalan keluarganya sama-sama. Jangan begini. Jangan bertingkah kekanakan. Tolong pikirkan kondisi Anin yang sedang hamil, di luar dingin, Tisha.”
Latisha menggigit bibir bawahnya. Dia ngesod membiarkan dress putih gadingnya kotor. Terseok sampai menggapai kaki sofa.
Di rumah peninggalan kedua orangtuanya, saksi bisu keretakan rumah tangga tepat pada malam anniversary.
Latisha malu. Seharusnya dia menurut dengan larangan ibunya. Ibunya yang tidak terlalu suka dengan Naka, Tetapi Latisha memaksanya agar merestui pernikahan mereka.
Rasanya Latisha sangat malu. Mendongak pada dinding, foto keluarga dengan dirinya yang diapit bapak dan ibu. Foto yang seakan sedang meledeknya habis-habisan malam ini. “Bu, … Tisha minta maaf,” lirihnya. “Ibu boleh kecewa. Maaf sudah ngecewain bapak sama ibu. Tisha nggak tahu harus apa setelah ini. Mas Naka nggak sebaik yang Tisha anggap.”
Sedangkan di luar rumah, hujan deras membuat Naka terpaksa meninggalkan rumah mertuanya. Membawa Anin yang mengeluh kedinginan. Latisha mendengar suara mesin mobil Naka meninggalkan rumahnya.
Tangisan yang disamarkan oleh suara hujan, di atas lantai, meringkuk dengan kondisi air mata yang terus turun.