14

1915 Kata
Padahal semua anak itu berharga. Padahal semua anak itu terlahir dengan berbagai tujuan yang telah di rancang Tuhan. Padahal semua anak—sekecil apapun umurnya—sudah memiliki banyak angan yang ingin dilakukannya di masa mendatang nanti. Padahal semua anak itu berhak mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya. Makna demokrasi bukan untuk negara saja. Asal fungsi mulutnya bisa digunakan dengan seyogyanya, meminimalisir kekecewaan salah satunya. Tapi mengapa peran orangtua tidak bisa di katakana baik? Kenapa hanya tahunya berbicara, menentukan seolah-olah ‘anak’ bidak-bidak dalam catur? Lalu, di mana letak suara seorang anak untuk berkembang dengan baik. Faktanya, data yang tertulis di BPS, masalah putus sekolah di Indonesia masih menjadi yang terbesar. Faktor utamanya bukan hanya lingkungan. Namun peran penting orangtua yang harusnya mengarahkan menjadi memaksa. Menjadi otoriter untuk cita-cita anaknya. Meski tiap anak di dasari permasalahan yang berbeda, tapi dukungan orangtua tidak bisa di sepelekan. Begitu juga Barella. Yang sedang berdiri dan menangis. Sampai terlintas di otaknya; jadi seperti itu arti seorang anak? Oh jadi semua orangtua itu sama? Menggunakan anaknya sebagai alat untuk mencapai apa yang mereka inginkan? Sampai keinginan untuk menghilangkan nyawa sang janin ingin Barella lakukan. Rasanya … sakit sekali. Mendengar langsung apa yang di katakana orangtuanya. Dirinya pernah hancur. Namun bangkit juga bukan perkara yang mudah. Ada banyak rintangan yang membawanya pada titik ini. Ada banyak cobaan sehingga menguatkan kedua kakinya, meneguhkan hatinya. Tapi tetap saja Barella hancur. Tetap saja rasa sakitnya melebihi luka gores pisau. Goresannya belum kering, perasan air lemon dan garam yang dicampur mengguyurnya. Apa dirinya benar tidak seberharga itu? Apa dirinya sangat salah di lahirkan di dunia ini? Apa dirinya sungguh sangat tidak diinginkan sampai di sakiti begininya? Barella tidak pernah memintanya. TIDAK! Sekali pun dirinya bahagia di pertemukan dengan Sagitarius tidak hanya sekali namun berkali-kali, tapi apa artinya ketika di lain pihak tidak ada yang menginginkan dirinya? Benci. Barella benci sekali pada hidupnya. Merasa jijik pada dirinya sendiri. Tapi lebih dari itu, percikan dendam menggerogoti. Keinginan untuk menghancurkan mencuat bagai bom atom. Jadi, kalau ingin hancur, Barella tidak ingin hancur sendiri. Kalau sakit, Barella tidak ingin sakit sendiri. Dan kalau pun harus mati, Barella tidak ingin mati sendiri. Itu konyol. *** “Aku sudah cek kandungan lagi,” kata Barella begitu menyambut suaminya pulang. “Kamu nggak ngajakin aku?” Sagi tidak terima. Tapi suaranya tetap tenang. Istrinya tidak tertebak. Rautnya datar, tapi moodnya selalu kacau. “Kamu, kan sibuk. Aku nggak mau manja.” Nah, apa Sagi bilang. “Kaya aku nggak punya kaki saja buat jalan.” Melantur menjadi hobi Barella akhir-akhir ini. “Oke-oke aku ngalah.” Putus Sagi segera. Berdebat dengan Barella bukan solusi yang tepat. Di samping sulit tertandingi, Sagi tidak biasa berbuat kasar terhadap istrinya. “Kamu mau makan sesuatu?” Sagi lelah sesungguhnya. Tapi menyenangkan istri beserta calon anaknya, kapan lagi? “Yang segar-segar boleh?” Lihat saja ekspresi wajahnya. Sagi sampai mendengus ketika pertanyaannya di respon dengan baik. Barella bahkan merangkulnya dengan mesra. “Es krim.” Panjangkan saja usus 12 jari Sagi. Istrinya unik. Sedetik misuh, sedetik baik, sedetik ke depan macam kucing garong kurang kawin. “Aku siapin dulu. Kamu duduk saja.” *** Hormon perempuan hamil ternyata dua kali lipat lebih sangar dari PMS. Jika PMS, kehadiran lelaki saja salah, maka untuk perempuan yang sedang mengandung, bernapasnya seorang lelaki sudah sangat salah. Sagi mengalami itu. Yang sejak tadi sudah mengumpat dan mengabsen jajaran kawannya di kebun binatang. Tapi Barella sangat enteng berkata, “yang bikin aku melendung siapa?” Skakmat langsung. Sagi tidak bisa berbuat apa-apa selain mengerang. “Es krimnya kemanisan.” “Tadi bilangnya minta yang manis.” “Jangan dijawab!” Astaga, astaga, astaga. Sagi ingin mengganti jantungnya. Tenggelam di Danau Toba jika perlu. “Aku diam salah. Ngomong salah.” “Kamu napas saja salah. Ngerti!” “Jadi kamu mau aku mati?” “Jangan di jawab!” Barella berteriak. Hampir-hampir gelas es krimnya retak. Suara istrinya nggak kaleng-kaleng. Tanpa toak tetangga sebelah gagal masuk kendang untuk bermain colok mencolok. Angkat tangan, Sagi menggeleng, lantas pergi. Langkahnya terbilang cepat namun rungunya dengan jelas mendengar mana kala rintihan tangis Barella berkumandang. Lebih gawat lagi, jantungnya ingin meletup dan mencokol di mulutnya. “Papi …” Ya Tuhan! Cobaan apalagi ini. “Gendong.” *** Jika kemarin terlintas di benak Barella untuk meluruhkan janinnya, kini ia tepis jauh-jauh. Seolah terbangun dari mimpi buruknya, Barella merutuki niatannya yang buruk. Karena mempertahankan kewarasan sungguh sulit, bukan berarti jalan pintasnya adalah membunuh. Benar, kan dirinya hampir menjadi pembunuh? Bagi darah dagingnya sendiri. Sampai sini Barella semakin membenci hidupnya. Menyalahkan kehadiran dirinya di dunia. Mendadak teringat dengan kunjungan beberapa hari yang lalu sebelum dirinya di nyatakan hamil. Sebuah keluarga kecil milik Anggoro yang terlihat bahagia—meski Barella yakin ada banyak ujian yang mengiringi untuk diarungi. Kehadiran dua sosok bayi kembar berbeda jenis kelamin, sudah menyihir hati bekunya Barella. Secara tiba-tiba ia ingin melihat janinnya tumbuh. Sekilas berharap bahwa bayinya akan cepat tumbuh untuk bisa Barella limpahi kasih sayang. Tanpa memberinya tekanan. Tanpa membentaknya ketika bersalah nanti. Tanpa menuntut. Tanpa menghakimi. Dan Barella ingin hidup lebih lama dari ini untuk bisa melahirkan bayi-bayi yang lainnya. Tidak! Kali ini akan Barella tegaskan bahwa dirinya benar. Kehadiran dirinya sudah sangat benar. Andai jika bukan dirinya yang hadir di keluarga Yudhistira, artinya akan ada anak lain yang menjalani kesakitannya. Merasakan bagaimana kecewa tapi tidak mampu mengungkapkan. Merasakan banyaknya tekanan. Perbandingan. Tidak pernah di dengarkan dan semua yang menjurus pada kegilaan. Di sini, dalam dunia yang kejam, fakta selalu benar di atas semua asumsi manusia sendiri. Barella juga sama. Merasakan bagaimana sakitnya sebuah penolakan ketika harapan sedang dirinya rangkai. Merasakan patahnya ketika bangkit saja rasanya sangat sakit. Di tumpas habis hanya karena dirinya tidak berharga. Serendah itu dirinya di mata keluarga. Dan rasa syukur yang harus Barella panjatkan ialah, hadirnya Sagitarius dalam hidupnya. Lelaki itu—akan Barella akui—selalu hadir di saat dirinya terjatuh. Sejak dulu hingga sekarang tidak pernah meninggalkan—meski pernah berpisak. Tapi Sagitarius berperan penting dalam hidupnya. Yang lalu, di saat dirinya tahu kebenaran yang terungkap, Sagitarius juga datang. Entah memang takdir atau sudah menjadi rencana. Yang pasti, Barella mensyukuri semuanya. Sagitarius menyelamatkan dari jurang kehancuran yang kian mendalam. Kini, Barella tahu caranya. Barella memegang kuncinya. Ia hanya perlu melemparkan percikan bom yang sudah di raciknya. Dan semuanya akan berserakan sesuai keinginannya. *** Liana tak pernah mau memikirkan kemungkinan terburuknya. Karena suka sekali berpikir positif dan optimis. Ia pikir, menaklukan perusahaan sebesar milik Sagitarius Yudantha adalah sebuah kemudahan. Tanpa ia sadari di balik semuanya ada campur tangan yang berperan. Jelas! Kemarahan sedang merundungnya. Sagi benar-benar manusia tak berperasaan. Lelaki berparas tampan namun bermulut iblis. Bisa-bisanya dalam satu kali pertemuan, di lemparkannya pernyataan jika Liana bukanlah perempuan baik-baik. Lihat saja. Akan Liana balas setelah ini. Penghinaan ini. Pelecehan menyoal dirinya yang di klaim sebagai ‘perempuan perebut suami orang’. Akan Liana balas sampai rontok tulang-tulangnya. “Nggak perlu sekesal itu. Gagal, coba lagi.” Yang Liana balas dengan dengusan. Perkara ngomong selalu enteng. Prakteknya naudzubillah. Lagi pula, setelah tersadar akan apa yang dirinya lakukan, kenapa justru terdampar di sini? Di lapas, menemui pacarnya yang tidak berguna sama sekali. Liana mendengkus sekali lagi. “Kesempatan akan datang di lain hari.” “Nggak bakal sama dengan kesempatan pertama.” Liana terus pancarkan aura suramnya. Acuh pada helaan napas yang Damika embuskan. Menyesal, jika Liana boleh mengeluh. Lelaki ini bisa apa selain membuatnya susah. Tanpa kata Liana hengkang. Ada baiknya ia bertemu papanya. Itu jauh lebih baik. *** “Gagal?” Kasih tag saja, hari ini judulnya gagal. Baik Damika mau pun Papanya, Cakra, sama-sama menanyakan hal yang serupa. Bagi Liana, itu sangat menyentil egonya. Harga dirinya tenggelam di rawa-rawa sejak Sagi menolak proposal kerja samanya. Anggukan yang Liana berikan membuat Yudhistira paham. “Kamu anak sulung. Yang mengemban segala kesusahan keluarga.” Liana mendengus lagi entah untuk yang keberapa kalinya. “Beban keluarga patut kamu pikul. Kamu papa sembunyikan bukan untuk menjadi gagal. Tapi menghindari kecacatan agar tidak sama seperti Barella.” Sejatinya manusia di samping serakah dan selalu merasa kurang, menghancurkan jiwa orang lain adalah hal biasa. Cacat mental sudah cukup membuat seseorang minder, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri yang berakhir dengan self injured. “Nama belakangmu mungkin masih tersembunyi, tapi urusan yang lainnya kamu yang pertama. Liana berjuanglah.” Begitu saja Liana sudah memancarkan sejuta dendam yang terpancar lewat binary matanya. Lantas, bagaimana dengan Barella yang mencoba sembuh dari kecacatannya? “Kamu sulung. Kamu harus mendapatkan lebih dari apa yang semestinya. Tidak ada berbagi di sini. Kamu harus meraup segalanya dengan kedua tanganmu. Kamu harus melawan mereka yang membangkang tanpa terkecuali.” Tanpa terkecuali, ya? Wah, Cakra memberikan dukungan di awal tapi siapa yang tahu di belakang nanti akan datang kejutan, 'kan? *** Tahukah kalian wahai para orangtua? Yang mulutnya lebih tajam dari silet dan nyinyiran netijen. Yang sedang kalian bentuk kepribadiannya adalah anak kalian sendiri. Darah daging yang selama Sembilan bulan sepuluh hari nanti. Lantas, pantaskah ketika segumpal darah yang berganti janji membentuk sebuah nyawa kalian sakiti ketika terlahir? Masalahnya, kalian menyakiti tidak secara fisiknya. Namun mental yang lemah justru kalian hancurkan bersama harapan yang tengah di rangkai. Kalian para orangtua tidak tahu saja apa yang ada di benak mereka. Apa yang menjadi angan mereka. Apa yang mereka mau tapi kalian tumpas begitu rata dengan sebuah perbandingan. Wahai para orangtua, hendaknya, jika memiliki dua anak saja di jadikan ajak untuk balapan bahwa si sulung dengan si bungsu masih unggul si bungsu, kenapa kalian rawat si sulung? Pernahkah kalian terlintas atau baca saja di beberapa artikel beban anak sulung? Mungkin tidak semua anak merasakannya. Tidak semua anak menanggung beban ekonomi atau semua yang sedang di alami per masing-masing keluarga. Tapi, apakah harus di bandingkan sedang anak kembar saja memiliki perbedaan karakter yang mencolok? Barella diam-diam menangis. Ia membenci hidupnya. Pertanyaan yang terus bercokol; kenapa aku harus terlahir hanya untuk di sakiti? Untuk apa aku ada hanya untuk di buat sebagai perbandingan. Mentalnya sudah rusak dengan berbagai tekanan. Kini, mendapati apapun yang dirinya lakukan salah, jelas pukulan telak tiada banding. Rasa sakitnya melebihi hujaman pisau yang berkali-kali mengoyak perutnya. Sakitnya tiada banding sehingga luka yang belum mengering kembali tersiram air cuka. “Kamu … hamil?” Pertanyaan itu entah kenapa terdengar seperti cercaan. Padahal sudah jelas Barella tekankan dirinya keluar dari rumah yang berarti tidak punya sangkut paut apapun lagi dengan keluarga Yudhistira. Bahkan, dengan kekuasaan yang suaminya miliki, nama itu belakangnya akan segera berganti. “Siapa Bapaknya? Kamu minggat dari rumah cuma buat lempar kotoran ke muka keluarga?!” Decihan yang Barella keluarkan? Apa tidak salah dengar dirinya? “Keluarga, ya?” Yang Barella balikkan tubuhnya. Ia elusi perut ratanya. “Saya sudah menikah.” Nyonya Yudhistira yang terkenal angkuh terperanjat. Kedua tangannya membekap mulutnya dan matanya membelalak kaget. “Me-menikah?” “Ya. Saya sudah menikah.” Kali ini Barella angkat tangan kanannya. Mempertontonkan di jari manisnya tersemat cincin berlian yang Sagitarius berikan. “Berapa lama?” “Apanya?” “Pernikahannya?” “Tidak terhitung berapa lama—” “Ceraikan!” Jilid II dalam decakan yang Barella lakukan terdengar. Kembali ia pandangi ibunya yang menatapnya bengis. “Kamu sudah Mama jodohkan dengan yang lebih layak.” “Siapa yang mama maksud lebih layak?” Balasan Barella di luar dugaan. Ratin pikir putri sulungnya memang sangat penurut. Tapi melihat Barella yang memberontak, Ratin terkejut. “Aku bukan anak sulung yang sesungguhnya. Jadi Mama nggak perlu repot-repot. Aku punya pilihan yang bagi aku terbaik. Bukan baik dalam pandangan mama atau pilihan mama.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN