Pada akhirnya, Barella tahu betapa b****k keluarganya. Meski sejak awal ia hengkang dari rumahnya sudah mulai mengendus borok yang tersimpan rapi, tetap saja, mendengar susunan rencana yang akan segera terjadi benar-benar pukulan telak untuk jantungnya.
Pikirnya, sebegitu tidak berhargakah kebahagiaan seseorang sehingga mengambil yang bukan haknya menjadi suatu kebiasaan? Barella tidak habis pikir.
Pertama, pada Damika yang dirinya anggap sebagai sahabat, sebagai lelaki yang menyatakan cinta tulus untuknya. Tapi faktanya jauh dari sebuah kejujuran. Damika tidak setulus itu untuk memilihnya.
Kedua, Liana sudah cukup pantas menjadi seorang anak sulung. Hanya terlalu lama di sembunyikan oleh ayahnya. Bukan berarti leluasa merampas yang bukan haknya.
Tidak boleh menyentuh miliknya.
Barella berdecih jijik. Dua orang di hadapannya ini adalah manusia munafik. Pantas jika mereka tampak serasi. Otaknya sudah terancang untuk berbuat kejahatan. Menghilangkan empati yang seharusnya tertanam dan menyakiti orang sekitarnya.
“Kita bermain peran. Itu mudah.” Ungkapan yang Liana lontarkan Damika dengarkan dengan saksama. “Gue gantiin posisi Bare dan lo gantiin posisi Sagi. Kita saling menguntungkan.”
Apa-apaan itu?! Sinting! Otak keduanya tidak ada yang waras. Barella geram. Hatinya sakit. Disebut dengan panggilan nama yang teramat keramat. Bumbungan bencinya kian tinggi sejak detik di mana ada niatan mereka untuk menghancurkan. Tidak! Sagitarius miliknya. Sejak dulu hingga sekarang mutlak miliknya.
“Gue juga dengar, ada proyek baru yang Sagi tangani. Nominalnya fantastis. Kita di posisi mengambil atau di ambil, mana yang bakal lu pilih?”
Liana sadar, caranya dalam meminta sangat salah. Caranya dalam mencintai juga salah. Tapi, tiap-tiap orang memiliki cara tersendiri dalam mencintai. Dan itu caranya; merebut setelah apa yang menjadi keinginannya untuk segera terwujud.
Sedang Barella. Perempuan berbadan dua itu pun masih menyangkal. Mencoba memaklumi seperti apa derita yang di jalani Liana tanpa mau memikirkan dampak untuknya. Hati kecilnya memberontak. Mengukung Sagi bahwa lelaki itu utuh miliknya. Tapi Liana saudara satu darahnya. Jadi, mana yang lebih penting untuk Barella pertahankan?
***
Teruntuk Sagitarius yang sedang merenung. Calon Papi itu terpekur. Berbagai pelik tengah menyambangi otaknya. Pikirannya di peras untuk berjalan mencari solusi. Kasusnya, Sagi amat memahami watak Barella yang ‘sudahlah’ lalu mundur.
Tidak akan! Menggapai Barella untuk bisa bersanding dengan dirinya bukan harga murah yang harus dirinya lakoni. Semuanya jelas dan nyata. Ketika dunia pundi-pundi uang terlepas dari tangannya di saat itu juga Barella terhempas.
Siapa yang bilang jika Barella mudah di raih? Hanya orang bodoh yang berbicara. Sekelas orang gila pun tahu, Barella tak tersentuh sedikit pun. Terlalu jauh dan kelam. Terjebak dalam gelap dan terkunci rapat.
Sialan!
“Mereka nggak bakal kapok. Kita mesti cepetan nyampe di garis finish buat menang.”
Tidak akan Sagi sangkal. Perkataan Arsen benar adanya. Istilahnya, setelah bisa berjalan harus tahu cara berlari. Siapa cepat dia dapat. Siapa yang menapaki garis paling depan dialah pemenangnya. Dan Sagitarius Yudantha penuh ambisi untuk bisa berada di garis terdepan.
“Kita manfaatkan proyek yang kemarin Dewa bisa gue handle.” Pasalnya, menghadapi seorang Dewa Atmowidjojo terbilang mudah ketimbang menaklukan setan dalam diri Liana. “Mereka mengejar target yang salah.”
Lalu pintu terbuka. Barella yang datang dengan menahan tangis. Menghampiri Sagi dan memeluk tanpa peduli eksistensi Arsen. Membuat lelaki bermata minus itu meringis ngilu. Sejailangkung itu dirinya di mata Barella yang bucin.
“Dia hamil.” Itu suara Sagi yang rendah. Bibirnya komat-kamit dan Arsen undur diri.
“Kalau ketemu kamu lagi cuma buat rasain perpisahan lagi aku nggak mau.” Barella meracau.
“Kamu ngomong apa?” Sagi terus berpikir tanpa mau menebak apa yang istrinya alami.
“Aku nggak mau pisah!”
Pelukan Barella mengetat. Hampir-hampir Sagi sesak napas. Tapi tidak selebay itu untuk menggambarkan kronologinya.
“Aku nggak mau pisah. Aku nggak mau!”
Makin runyam saja racauan Barella. Tangisnya berubah sesenggukan. Seratus persen Sagi belum mengerti apa yang terjadi. Hanya elusan halus di punggung Barella yang dirinya salurkan. Meraup udara sebanyak mungkin sembari menunggu.
“Aku nggak mau pisah!”
Ayolah! Perempuan suka sekali meribetkan persoalan gampang seperti ‘tinggal ngomong nggak akan keluar tenaga berton-ton.’
Sampai warna langit berubah gelap. Gemuruh petir menggelegar. Nyatanya Barella tertidur dengan lelap. Wajah bayinya imut ketika matanya terpejam. Wajah putih sebening s**u tanpa cela yang Sagi pandangi tanpa bosan.
“Jadi?” Vokalnya merendah. Membuka pintu balkon dan menelepon di sana. “Ah … dua orang itu pelakunya.” Karena Barella terus meracau ‘aku nggak mau pisah!’ sampai terlelap, jadilah Sagi mencari info dari orang kepercayaannya. Kamu harus di hukum sayang. Buat patuh ke aku. Ingatkan Sagi untuk melakukan itu nanti pada Barella.
“Siapkan kontraknya. Hubungi Dewa dan kita berunding untuk masalah ini.”
***
Ini caranya berlari bagi Sagitarius.
Pagi-pagi sekali setelah berpamitan pada Barella dengan alasan rapat pagi, tubuhnya sudah mejeng di depan pintu rumah orang. Bahkan sebelum sang empu terbangun, dirinya sudah duduk manis dengan suguhan kopi panas di meja ruang tamu.
“Bapak sedang mandi,” tutur seorang perempuan—cantik tentu saja—yang menjadi asisten Dewa.
“It’s okay.” Sagi sok yes sekali. Sok cool padahal gugup setengah mati. Bagaimana jika rencananya di tolak Dewa? Bagaimana jika perusahaan Dewa tak mau melanjutkan kerja sama setelah apa yang akan dirinya sampaikan.
Tapi sebagai manusia baik, hal baik pun menyambangi. “Aku bergabung.” Sagi tak mau percaya namun Dewa tertawa keras. “Kita teman. Kamu yang membantu aku menemukan dia dan aku yang membantumu membangkitkan kehancuran. Secara nggak sengaja kita saling bergantung dan menguntungkan.”
Dia yang dimaksud Dewa Atmowidjojo jelas Sagi tahu.
“Makasih, Wa. Ini nggak bakal jadi berharga tanpa kamu yang berkecimpung.”
Setelahnya obrolan diselingi tawa yang mendominasi.
***
Manusia tempatnya salah.
Jadi tidak apa-apa berbuat salah sesekali. Yang terpenting dalam hari-hari, sudah kita lakukan yang terbaik.
Pelukan yang sesungguhnya adalah bonus untuk menguatkan semuanya.
Begitu saja Barella sudah tenang setengah mati. Berada dalam pelukan Sagi, ia tenang. Mendengar embusan napas Sagi, Barella suka. Mendapat elusan di rambutnya, Barella ketagihan.
“Aku tahu kamu dengar semuanya.” Tidak Barella iyakan ataupun menyanggahnya. “Rencananya sudah tersusun. Tapi tolong sabar. Setelah ini kamu siap dengan risikonya.”
Namanya barang bagus ada harga mahal yang harus di bayar. Nominal uang menjadi penentu di tiap apa yang akan kita ambil.
Pun dengan Barella yang paham maksud sang suami. Siap tidak siap. Suka tidak suka. Semuanya sudah tergaris sempurna maka selain menyiapkan mentalnya, Barella tidak punya pilihan lain.
“Aku siap. Apa pun itu aku siap. Asal …” Sangat jarang Barella ungkapkan. “Kamu bersama aku itu lebih dari cukup.”
“Dan anak kita. Makasih, kamu yang terbaik.”
Karena menyimpan ego terlalu tinggi bukan tidak mungkin mencelahkan pintu kesakitan yang lainnya. Barella sudah cukup merasakan sakit akibat perbuatan keluarganya. Di pandang menjadi orang lain dengan terbunuhnya karakter, baginya sudah cukup menyiksanya. Jika sekarang harus di tambah dengan pupukan benci, hanya dendam yang tersisa.
Selama ini, dua puluh lima tahun ia berdiri hanya ada kesia-siaan belaka yang dirinya jalani. Kesakitan yang dirinya pendam. Dianggap sakit jiwa. Berbeda dari yang lain menjadi sebuah perbandingan yang mencolok. Berhenti. Itu saja yang Barella inginkan. Dan Sagitarius mengambil alih semua kesakitannya.
Yang tidak pernah Barella bayangkan sebelumnya jika lelaki ini akan kembali menyatu bersama kisahnya. Merajut rasa yang menjadi asa. Meleburkan benci yang menjadi kasih. Pantaskah untuk Barella ucapkan syukur?
***
Liana layaknya manusia pada umumnya.
Punya rasa untuk cinta. Punya sakit ketika di tusuk. Punya ekspresi untuk iri. Punya dendam yang timbul akibat penyakit di hatinya. Namun diantara itu semua, yang tidak bisa Liana dapatkan hanyalah pemujaan yang sesungguhnya. Entah dari orangtuanya, orang terdekatnya atau seluruh jajaran temannya.
Seperti pasir yang terseret ombak, dunianya seolah terpusat pada satu waktu saja. Di mana dirinya seorang sulung yang di sembunyikan. Sedang peran aslinya di gantikan. Tapi tidak tahukah Liana jika sakit sama-sama di rasakan?
Sebebal itu Liana dalam menyangkal. Baginya, hanya dirinya yang tersakiti. Ketika posisi yang semestinya dan apa yang menjadi miliknya jatuh pada orang lain, Liana gelap mata. Karena yang dirinya tahu hanyalah membenci. Yang dirinya lakukan hanyalah merebut tanpa bisa mempertahankan.
Maka, dengan sombong hati ia angkat tinggi-tinggi dagunya. Ia tampilkan seringai bengis di sudut bibirnya. Dan ketika kucing sudah masuk ke dalam perangkapnya—yang dirinya kira itu sudah benar. Nyatanya lawan tandingnya tidak sebanding.
“Saya suka.” Suara dinginnya Liana acuhkan. “Proposal ini akan di pelajari lebih lanjut dan kita bisa memulai tanda tangan hari ini.”
Tolong. Pada jumlah kapasitas dari sebuah kuantitas di perhitungkan, gunakan rumus yang paling mudah. Agar ketika meleset dari jumlah yang sesungguhnya, rugi telak tidak begitu memusingkan.
“Deal!” Liana pasti terburu-buru mengambil keputusan. Tetapi lelaki di depannya bukan tipikal yang mudah di taklukan. Jadi Liana pengikut setia ungkapan ‘kesempatan tidak datang dua kali.’
Di menit berikutnya yang melantun kalimat, “semuanya sesuai rencana.” Laporan untuk sambungan nirkabel di seberang. Perusahaan Cakra Indo memainkan peran yang sesungguhnya.
Terhitung sejak detik di mana tanda tangan kontrak dilakukan, perusahaan Sagi tersamarkan. Liana berkuasa tanpa perlu susah-susah mengeluarkan keringat. Begitu saja, semua tender dalam proyek yang Sagi menangkan, jatuh di tangan Liana. Yang sayang seribu kali sayang, tamat riwayatnya menyertai.
Liana terlalu menyepelekan siapa Sagitarius Yudantha yang sebenarnya. Tapi tak apa, menang di awal untuk kalah di belakang jauh lebih menantang, begitu kiranya dalam benak Sagi.
***
“Segampang itu?”
Pertanyaan penuh ketidakpercayaan datang dari bibir mungil Barella. Keseksian perempuan hamil memang tiada duanya. Sagi gemas sehingga ingin menunggangi istrinya tiap malam—per jam jika bisa. Kalau dokter tidak memberinya jeda dengan t***k bengek masuknya trimester kehamilan.
“Jawab?!”
Sagi terkekeh. Istrinya berubah garang acap kali Sagi lelet dalam memberi tanggapan. Cerewet di saat yang tidak tepat tapi Sagi suka. Mendumel karena hal-hal sepele dan Sagi makin cinta.
“Ya, Sayang. Secepat yang kamu mau.”